Panji & Nadin

Panji & Nadin
Kamu mau nikah sama aku


__ADS_3

Mereka sudah selesai menyantap makan siang. Panji mengajak Nadin ke lantai atas. Ada dua buah kamar tidur yang saling berhadapan, dan satu ruangan serba guna, juga balkon yang lumayan luas.


Panji membuka pintu kamar pertama. Ini adalah kamar utama di vila itu. Kamar yang paling luas diantara tiga kamar lainnya. Panji mengajak Nadin masuk ke kamar itu, Nadin langsung menolaknya. Dia takut Panji melakukan sesuatu yang tidak-tidak kalau mereka hanya berdua masuk ke kamar itu.


Panji meyakinkan Nadin kalau dia tidak akan macam-macam padanya. Panji hanya ingin menunjukan kamar itu.


"Ayo." Panji menarik tangan Nadin lalu membuka pintu kamar.


Kamar bernuansa putih dan hijau pastel itu, memiliki luas yang hampir sama dengan kamar Panji yang ada di rumah pribadinya, begitupun dengan isi kamar dan furniturnya.


Dari kamar itu, mereka berdua bisa melihat pemandangan yang ada dibelakang vila. Ada foto Panji terpajang di dinding kamar tepat diatas ranjang besarnya.


Panji membuka jendela agar udara segar bisa masuk ke sana. Semilir angin sepoi-sepoi seketika menerpa, memenuhi seiisi ruangan.


"Ini kamar siapa?." Tanya Nadin.


"Kamar kita." Jawab Panji.


"Kamar kita?." Tanya Nadin heran, tak mengerti apa maksud Panji.


"Iya. kamar kita. Setelah nanti kita menikah, kita akan tidur bersama dikamar ini." Sahut Panji.


"M-m-m- menikah?." Tanya Nadin terbata.


"Kenapa?. Kamu nggak mau nikah sama aku?."Tanya Panji.


Nadin tersenyum kikuk mendengar pertanyaan Panji. Dia bingung mau menjawab apa. Dia juga sangat terkejut mendengar kata menikah keluar dari mulut Panji.


"Kenapa diam?. Ayo jawab. Kamu gak mau nikah sama aku?." Tanya Panji seraya menarik pinggang Nadin, lalu melingkarkan kedua tangannya disana, mengunci tubuh Nadin dalam pelukannya. Panji menatap Nadin dengan senyum aneh yang belakangan ini selalu Nadin lihat diwajah Panji.


"Kalau nanti kita menikah aku akan bawa kamu ke vila ini. Kita akan melakukan malam pertama kita dikamar ini." Ujar Panji.


Nadin tertawa kecil mendengarnya. Bisa-bisanya Panji membicarakan tentang pernikahan dan malam pertama. Dia tahu Panji hanya asal bicara, karena bagi Nadin itu semua tidak mungkin.


"Kenapa ketawa?." Tanya Panji.


"Gapapa pengen aja, emang gak boleh?." Sahut Nadin.


"Kamu belum jawab pertanyaanku, kamu mau nikah sama aku?."


"Hehehe, gimana ya?."


"Ayo, katakan kamu mau nikah sama aku, kalau nggak, aku cium kamu sekarang juga."


"Kok ngancem sih?. Kebiasaan."


"Kalo gitu ayo, kamu pilih mana, nikah atau cium?."


"Ya udah nikah aja deh." Jawab Nadin pasrah.


"Kamu udah gak sabar pengen ngelakuin malam pertama kita kan?. Tanya Panji dengan senyum nakalnya.


"Idiiiihh siapa bilang?." Elak Nadin.

__ADS_1


Nadin mengajak Panji keluar dari kamar itu, dengan alasan ingin melihat ruangan lainya.


Panji menurut, lalu membawa Nadin ke kamar satunya. Kamar ini memang tidak seluas kamar tadi, walau begitu kamar dengan interior dan dekorasi khas etnik tionghua itu terlihat begitu estetik dan nyaman.


Ada sesuatu yang sangat menarik perhatian Nadin dikamar itu. Sebuah lukisan wanita memakai baju khas tionghua dan memegang payung sedang tersenyum terpajang di dinding kamar. Nadin melangkahkan kakinya ingin melihat lebih dekat lukisan itu.


"Cantik sekali, lukisan siapa ini?." Tanya Nadin menatap penuh kekaguman.


"Itu mamaku." Jawab Panji.


"Mama?." Nadin menoleh ke arah Panji yang ada dibelakangnya.


"Iya ini lukisan mamaku." Terang Panji.


Cantik sekali, pantas aja anaknya bisa setampan ini.


Tatapan Panji berubah sendu saat melihat lukisan itu. Kerinduannya semakin ia rasakan setiap melihat lukisan atau foto ibunya. Nadin pun bisa melihat kerinduan dan kesedihan dimata Panji saat itu.


Dia menggenggam tangan Panji, membuat sang empu menoleh kearahnya. Nadin mengembangkan senyum manisnya untuk Panji, senyum yang begitu tulus dari dalam hatinya, berharap bisa membuat Panji sedikit terhibur.


Panji membalas senyuman Nadin dengan senyumnya yang tak kalah manis. Hatinya menghangat melihat senyum Nadin yang terlihat sangat tulus. Nadin kembali menatap lukisan itu.


"Cantik ya." Ujar Nadin.


"Siapa?." Tanya Panji.


"Mama ko Panji, eh...." Nadin refleks menutup mulutnya.


"Siapa? Coba bilang sekali lagi."


"Kamu kayaknya pengen aku cium ya?. Ngaku."


"Yeee enggak lah, siapa bilang?."


"Sekali lagi kamu panggil aku 'ko', aku akan lakuin adegan malam pertama kita hari ini juga." Ancam Panji.


"Hahhh?. Jangan...jangan ampun. Iya deh iya, koko sayang, maaf."


"Gak usah pake koko segala, kayak baju aja."


"Gapapa dong bagus koko, panggilan kesayangan."


"Panggilan kesayangan itu sayang, bukan koko. Koko itu baju buat sholat."


"Iya...iya terserah." Kata Nadin, lalu kembali menatap lukisan nyonya Lusiana, mama Panji.


"Cantik banget ya beliau." Puji Nadin.


"Ma, mama denger kan apa kata calon menantu mama barusan. Mama cantik banget katanya. " Ujar Panji.


Apa? Calon menantu?. Bisa aja dia.


"Mama lihat kan, calon menantu mama juga sangat cantik. Gadis ini adalah wanita kedua yang aku cintai setelah mama." Kata Panji lagi.

__ADS_1


Nadin merasa tersanjung mendengar ucapan Panji barusan. Dia tak percaya Panji memujinya dihadapan mamanya, walau cuma didepan lukisannya saja.


Panji berucap didepan lukisan ibunya, kalau dia benar-benar mencintai Nadin, dan ingin menikahinya.


Hahhh? Menikah? Dia beneran mau nikah sama aku?. Apa dia berfikir sampai sejauh itu?.


Nadin tak percaya Panji berfikir untuk menikahinya. Tapi jujur saja hatinya merasa bahagia mendengarnya.


Dia sendiri tidak yakin dan tidak pernah berfikir kalau dia dan Panji menikah, mengingat perbedaan status diantara mereka yang teramat jauh. Walau mungkin saja Panji tidak mempedulikan itu, tapi ia tidak yakin dengan keluarga besar Panji.


Selain lukisan, Panji memperlihatkan foto-foto almarhum ibunya, juga foto Panji saat masih kecil. Nadin tertawa geli, melihat foto masa kecil kekasihnya yang sangat lucu.


"Lucu ih, pengen nyubit pipinya. Gemess" Kata Nadin saat melihat foto Panji.


"Pengen nyubit apa pengen nyium?. Tanya Panji.


"Pengen nyubit, sumpah."


"Ya udah, nih cubit kalo bisa." Panji mendekatkan pipinya.


"Kenapa gak bisa?." Kata Nadin sembari mencubit kecil pipi Panji. Mereka berdua saling bercanda dan tertawa bahagia dikamar itu.


Setelah dari sana Panji membawa Nadin ke balkon atas, menikmati pemandangan dan sejuknya udara dari balkon.


Nadin berdiri tepat di dekat pagar balkon, dan Panji dibelakangnya. Kabut mulai turun kala itu, tapi Nadin masih juga betah disana. Dia suka sekali dengan pemandangan dan udara ditempat itu yang sangat jauh berbeda dan tidak akan dia jumpai di Jakarta.


"Dingin ya." Kata Panji, sembari memeluk pinggang Nadin dari belakang. Nadin terkesiap.


"Lepassin ih, malu. Itu ada mas Adam dibawah. Entar dia lihat kita." Kata Nadin.


"Kenapa juga harus malu sama dia?. Dam!! Panggil Panji pada Adam yang sedang berdiri di halaman belakang vila. Adam menoleh ke atas. Panji langsung mengeratkan pelukannya walau Nadin berusaha melepaskannya.


"Disini dingin kan Dam?." Tanya Panji seraya mengeratkan pelukannya pada Nadin.


"Enggak. Kalau kata gue disini panas banget."Sahut Adam sinis.


"Bukan panas Dam, tapi anget." Ralat Panji.


"Iya bener, disini emang anget." Seru Adam, sembari memeluk pohon tabebuya yang ada disekitar halaman belakang vila


Panji dan Nadin tertawa, melihat apa yang dilakukan Adam.


"Lo fikir cuman lo aja yang bisa peluk-pelukkan Ji?. Gue juga bisa keles." Kata Adam.


Panji masih tertawa, saat Nadin mengajaknya masuk. Dia bertanya jam berapa mereka akan pulang. Dia takut bapak atau neneknya khawatir, kalau Nadin pulang terlambat.


Panji meyakinkan Nadin, kalau dirinya sudah meminta ijin pak Samsudin untuk membawa Nadin pergi dan mungkin akan pulang agak malam. Nadin tidak percaya, kapan Panji meminta ijin bapaknya, fikir Nadin.


.


.


TBC.❤️

__ADS_1


Jangan lupa like, vote dan komentarnya ya🤗


__ADS_2