Panji & Nadin

Panji & Nadin
Kemana sih dia?.


__ADS_3

Minggu pagi Adam sudah datang ke rumah Panji karena mereka akan menemui pak Bahtiar dan bu Soraya.


Hubungan Panji dan orang tuanya memang kurang harmonis, namun sebagai anak, Panji tetap harus menghormati dan menjaga sikapnya. Walau dalam hati Panji merasa enggan menemui mereka, khususnya bu Soraya dia tetap datang.


Sesampainya disana Panji dan kedua orang tuanya saling bertegur sapa. Mereka kelihatan begitu formal dan terkesan seperlunya. Sama sekali tidak terlihat seperti ayah dan anak.


"Bagaimana hubungan kamu dan Jovanka, Panji?." Celetuk bu Soraya, seketika merusak mood Panji.


"Aku tidak ada dan tidak akan pernah ada hubungan dengan dia. Aku datang kesini menemui kalian bukan untuk membahas gadis itu.


Kalau kalian masih berniat menjodohkan aku dengan dia, aku tidak akan pernah lagi menginjakkan kaki di rumah ini." Ujar Panji, lalu meninggalkan pak Bahtiar dan bu Soraya.


"Mama kenapa sih nanyain itu sekarang?.Dia marah kan."Ujar pak Bahtiar


"Kok papa nyalahin mama sih?. Mama kan cuma nanya, dia nya aja yang gak sopan sama orang tua. Ditanya baik-baik, malah emosi. Ajarin anak kamu, biar punya sopan santun sama orang yang lebih tua." Kata bu Soraya.


"Papa bukan nyalahin mama. Papa juga cuma nanya, kenapa mama nanyain itu sekarang?. Panji baru saja datang kesini, sekarang dia pergi lagi kan."


"Terus kapan? Kapan kita mau bicarain hubungan dia dan Jovanka? Papa mau nunggu sampai kapan?. Papa sadar gak sih, berapa umur Panji?.


Harusnya dia itu sudah berumah tangga, mempunyai istri yang bisa mengurus dia dan Mikha. Apa papa gak kasian sama Mikha?. Dia butuh kasih sayang seorang ibu. Papa harusnya mikir kesana."


"Papa tahu itu. Tapi kita juga gak akan bisa maksa Panji kan mah?. Mama tahu sendiri bagaimana dia."


"Alahh papanya aja yang terlalu manjain dia. Coba kalau papa bisa sedikit lebih tegas sama dia, dia gak akan ngebantah kita."


"Mama kok jadi nyalahin papa?."


"Udah ah, mama pusing. Pokoknya mama mau papa bujuk Panji, agar dia mau bertunangan dengan Jovanka, titik."Pungkas bu Soraya.


Panji masih ada dirumah itu. Dia menemui Mikha dan ibu sepuh lebih dulu, sebelum akhirnya dia pergi. Saat membuka pintu, dia berpapasan dengan Bily, yang datang untuk menjemput Prisa.


Mereka saling melempar senyum yang terkesan dipaksakan dan tidak tulus, apalagi senyum Panji yang terkesan mengejek dan meremehkan, Bily merasakan itu.


"Hahaa ketemu saingan nih ye." Cicit Adam saat dia dan Panji sudah berada di dalam mobil.


"Dia bukan saingan gue. Gak level gue saingan ama bocah bau kencur." Kata Panji.


"Hahah bau kencur. Dari mana lo tau dia bau kencur?. Lo udah nyium baunya dia?." Tanya Adam.


"Dia emang masih bau kencur, dan lo bau tanah." Sahut Panji.


"Ya bau tanahlah, manusia kan emang diciptakan dari tanah, dari pada elo bau balsem." Balas Adam.


"Banyak omong lo, cepettan jalan." Titah Panji.


Adam menekan pedal gas, lalu mobil mewah itu melaju meninggalkan kediaman pak Bahtiar.


Panji mengirim pesan pada Nadin. Dia akan menunggu Nadin dijalan depan gangnya.


Nadin melarang Panji menjemputnya disana karena dia takut ada yang melihat dan menggosipkannya lagi.

__ADS_1


Nadin lebih dulu tiba dipinggir jalan. Dia berdiri cukup lama sampai kakinya mulai terasa pegal. Nadin lalu duduk dibangku yang ada di trotoar jalan.


Saat dia menunggu Panji, ada beberapa mobil yang berhenti. Sang pengemudi menanyai dan mengajak Nadin ikut. Nadin tentu saja menolaknya.


"Emang aku cewek apaan?.


Kemana sih dia, lama banget?. Gak tau apa aku kepanasan disini. Mending tadi aku naik angkot daripada nungguin dia. Mana dikira cabe-cabean lagi, huuh." Gerutu Nadin.


Tak lama berselang, suara klakson terdengar begitu nyaring ditelinga Nadin. Nadin tidak menghiraukanya, karena mungkin saja itu mobil yang ingin mengajaknya lagi.


"Mau kemana neng?." Tanya sang pengemudi. Nadin menoleh.


"Mas Adam?. Huuh lama banget sih mas." Ujar Nadin seraya beranjak dari duduknya.


Pintu belakang terbuka, Nadin melihat Panji sedang tersenyum ke arahnya, dia membalas sekilas dengan senyumnya, lalu masuk dan duduk di sebelah Panji, dan mobil pun melaju.


"Udah lama nunggu ya?." Tanya Panji, yang mengerti sepertinya kekasihnya itu merasa kesal karena menunggunya terlalu lama.


"Udah. Ampe kering gini?." Jawab Nadin.


"Gapapa kalau kering, nanti aku basahin." Goda Panji dengan senyum dibibirnya. Nadin yang tadinya merasa sedikit kesal, tersenyum geli sambil menggelengkan kepala mendengar ucapan Panji.


"Jorok ih."


"Jorok apanya?. Siapa yang jorok?. Aku kan cuma bilang mau basahin kamu. Nih minum dulu, kasian tenggorokan kamu pasti kekeringan kan?." Ujar Panji seraya memberikan air mineral pada Nadin.


"Airnya gak dimenyem-menyem dulu kan?."Canda Nadin, lalu meminum air itu.


"Salahin!! Salahin aja gue terus." Timpal Adam.


"Emang darimana dulu sih mas Adam, kok lama banget?." Tanya Nadin.


"Kita nemuin dulu orang tuanya Panji, Nad. Barusan kejebak macet, sebelum lampu merah." Jawab Adam.


"Macet-macet, alesan aja. Kalau saya yang telat hemmm udah pasti deh ada yang langsung marah ama minta ganti rugi." Ujar Nadin menyindir Panji.


"Ohh jadi kamu mau minta ganti rugi sama aku sayang?. Boleh. Kamu mau aku ganti rugi apa?."Tanya Panji.


"Ehh ada yang kesindir!! Siapa juga yang minta rugi?." Kata Nadin


"Apaa??. Apa kamu bilang?.Kamu mau aku nyium kamu?. Siap sayang." Ujar Panji.


"Ih ngadi-ngadi."


"Apa? Sepuluh kali?. Oke-oke, dengan senang hati?."


"Sejak kapan punya masalah sama pendengaran?." Tanya Nadin pada Panji


"Sejak aku jatuh cinta sama kamu." Jawab Panji, sembari menatap Nadin, dan semakin mendekatkan wajahnya. Untuk sesaat Nadin terkesima karena melihat ketampanan Panji saat itu.


Panji memang tampan, tapi entah kenapa, pagi itu dia kelihatan jauh lebih tampan. Nadin benar-benar mengagumi sosok dihadapannya ini. Dia bertanya dalam hati, apa benar lelaki setampan ini jatuh cinta kepadanya?."

__ADS_1


"Ehmm." Suara deheman Adam menyadarkan Nadin dari kekagumannya. Nadin menggeserkan tubuhnya dari Panji, sampai ke pinggir kaca mobil.


"Apaan sih lo?. Gak boleh lihat orang seneng aja." Ujar Panji, lalu dia kembali mendekati Nadin.


"Geserran dikit kenapa sih?. Itu tempat duduknya masih lega." Kata Nadin.


"Gak mau. Aku suka kalau mojok kayak gini sama kamu." Sahut Panji.


Ya ampun, dia gak malu sama mas Adam apa?.


Gimana nanti kalau aku cuma berduaan dirumahnya? . Bisa-bisa dia ....aaaahh mau. Eh...hahaa apasih yang aku fikirkan. Dia udah janji gak akan pernah macem-macem sama aku. Awas aja kalau dia melupakan janjinya sendiri.


"Kamu cantik banget hari ini." Panji merayu Nadin, seraya menggenggam tangannya.


"Dan aku ....suka. Kau lain sekali...dan aku suka." Timpal Adam dengan lirik sebuah lagu.


"Berisik lo." Ujar Panji.


"Gue cuma nyanyi doang dibilang berisik. Lo enak-enakkan pacaran di depan mata dan kepala gue, apa gak berisik tuh?."


Nadin terkekeh.


"Hahaha....bukan di depan mas Adam. Kami pacaran dibelakang mas Adam kok." Ujar Nadin.


"Tau nih, ganggu orang usaha aja." Kata Panji.


"Usaha nyosor bang?." Kata Adam.


"Udah sayang, jangan dengerin dia. Anggep aja dia nggak ada dimuka bumi ini." Kata Panji pada Nadin.


"iya bener, anggap aja gue patung. Silahkan teruskan usaha nyosor lo bang." Pungkas Adam.


Panji-Panji, lo kayaknya udah bener -bener jadi Panji yang dulu. Gue seneng lo udah bisa diajak bercanda kayak gini. Gue do'ain moga hubungan lo gak kayak dulu. Lo orang baik, lo pantes bahagia. Do'a Adam untuk Panji.


Selain sebagai bosnya, bagi Adam, Panji adalah sosok sahabat yang sangat baik. Dulu Panji selalu membantunya saat dia sedang kesusahan. Oleh sebab itu Adam merasa sangat berhutang budi padanya.


Dia ingin melihat bos sekaligus sahabat baiknya itu bahagia. Dia tahu bagaimana perihnya kehidupan Panji, yang tidak banyak diketahui orang.


Panji yang terlihat sempurna dimata orang, tapi tidak dimata Adam. Panji memang memiliki segalanya tapi tidak dengan cinta orang tuanya.


Adam tidak heran kalau Panji bermanja-manja atau bersikap mesra pada wanita orang dicintainya, karena dia hanya ingin diperlakukan sama seperti itu. Dia ingin merasakan hangatnya cinta dan kasih sayang dari orang yang dia cintai dan mencintainya.


.


.


.


TBC.☘️☘️


Terus dukung otor ya dears🤗

__ADS_1


__ADS_2