Panji & Nadin

Panji & Nadin
Siapa Siluman Panci?


__ADS_3

Panji merasa beban berat yang ia rasakan lepas begitu saja, saat dia berteriak. Dia merasa jauh lebih baik setelahnya.


Saat ini Panji dan Nadin baru saja keluar dari wahan ice age. Panji mengajak Nadin makan, karena dia sudah merasa sangat lapar dan kehausan setelah terus-terusan berteriak.


Panji menatap Nadin seperti biasanya saat mereka sedang menunggu pesanan.


"Kenapa mandangin saya ko?. Saya cantik ya?."Canda Nadin.


Panji tersenyum seraya mengulurkan tangannya menggenggam tangan Nadin


"Kamu senang?." Tanya Panji.


"Saya senang ko. Makasih banyak ya udah mau diajak kesini." Ucap Nadin.


Apa setelah ini dia benar-benar akan bawa aku ke hotel?.


"Aku yang makasih sama kamu, karena kamu ngajak aku kesini. Kamu tahu, terakhir aku kesini mungkin waktu aku masih TK." Ujar Panji.


"Oh ya? Masa sih ko?." Tanya Nadin


Panji mengangguk.


" Hemm iya sih, pasti ko Panji liburanya sering ke luar negeri daripada kesini kan?. Kalau saya terakhir kesini itu waktu SMP. itupun ikut acara sekolah. Ongkosnya juga hasil nyicil hehe. Kalau saya punya banyak uang kayak ko Panji sih, saya pasti sering kesini, bawa keluarga saya."


Percakapan terhenti saat pelayan datang membawakan makanan pesanan mereka.


Selesai makan Panji dan Nadin tidak langsung pulang. Mereka masih betah berjalan-jalan disana.


Panji menggenggam erat tangan Nadin saat dia melihat mata nakal laki-laki melirik kekasihnya. Nadin merasa sangat malu Panji menggandeng mesra tangannya seperti itu. Bukan malu, lebih tepatnya dia tidak percaya diri, karena Nadin merasa tidak se-level dengan Panji. Apalagi disana banyak sekali gadis cantik yang lebih segalanya dibandingkan dirinya.


Rasa cinta yang Panji rasakan pada gadis biasa yang ada disampingnya kini semakin besar. Nadin memang gadis biasa dan sederhana, tapi dia mampu membuatnya merasakan cinta yang luar biasa dan juga mampu membuat dia melupakan rasa sakit yang dia rasakan saat Vanesa mengkhianatinya.


Selain itu, Nadin juga bukan tipe perempuan manja dan matre seperti kebanyakan perempuan yang dia kenal. Walau sekarang dia adalah pacar Panji, tapi Nadin tak pernah meminta apapun padanya.


Bahkan saat Panji menawarinya sesuatu, Nadin selalu menolak. Nadin bersikap dan berpenampilan apa adanya dihadapan Panji, tidak dibuat-buat seperti gadis lainnya, itulah yang difikirkan Panji tentang Nadin. Nadin benar-benar membuat Panji jatuh cinta.


"Kenapa sih ko senyam-senyum terus dari tadi?." Tanya Nadin saat melihat Panji terus menatapnya sambil tersenyum.


"Emang aku gak boleh senyum?." Tanya Panji


"Ga boleh. Senyum ko Panji merepotkan." Jawab Nadin. Panji terkekeh lalu mencubit hidung Nadin karena merasa gemas.


"Awww, sakit ko. Jangan main nyubit aja. Saya tau hidung saya emang gak semancung hidung ko Panji, tapi jangan main nyubit aja. Walau sesering apa ko Panji nyubit hidung saya, tetep gak akan nambah mancung kan?." Protes Nadin


"Kalau gak boleh nyubit, berarti nyium boleh kan?." Goda Panji.


"Enggak." Sahut Nadin


"Boleh?. Oke kalau gitu dengan senang hati."


"Ihh siapa juga yang bilang boleh?. Ngarang banget."


Panji menghentikan langkahnya, saat dia melihat ada beberapa badut yang menjadi maskot tempat itu. Seketika ingatannya kembali ke masa kecilnya dulu, saat pertama dan terakhir kalinya dia datang kesana bersama kedua orang tua dan juga kakaknya Wily.

__ADS_1


Dia masih ingat dengan jelas saat Wily menertawakanya karena melihat dirinya ketakutan melihat badut itu, dan almarhum ibunya yang menenangkannya, hingga dia tidak merasa takut lagi kepada badut itu.


"Kenapa ko?." Tanya Nadin saat melihat Panji tiba-tiba diam menatap badut-badut dihadapan mereka.


"Kita foto sama mereka." Ajak Panji.


"Apaaa??. Foto sama mereka, maksudnya badut-badut itu?."


"Iya."


Hahh apa aku gak salah denger?. Dia ngajak aku foto sama badut?.


"Ayo.!! Panji menarik tangan Nadin menghampiri badut-badut itu lalu berfoto bersama.


Nadin merasa aneh dan tidak percaya Panji melakukan hal itu. Semakin lama, semakin banyak hal yang mengejutkannya dari sifat maupun kepribadian Panji.


"Saya gak percaya ko Panji masih suka sama badut. Kayak anak kecil aja." Ujar Nadin.


"Jujur saja, aku memang lebih suka badut-badut itu daripada kamu." Sahut Panji.


"Masa iya sih?. Kenapa sih lebih suka sama badut dibandingkan sama saya?. Hemm masa kecilnya kurang bahagia ya?." Canda Nadin.


Panji diam.


"Tapi mending kurang bahagia sih, dari pada saya, masa kecil kurang biaya." Imbuh Nadin yang merasa takut Panji tersinggung dengan ucapannya tadi.


"Kalau gitu kamu bahagiain aku, aku biayain kamu, gimana?." Tanya Panji


"Heh...heheh..." Nadin bingung sendiri.


Jangan-jangan dia minta nyium lagi.


"Apa?." Jawab Nadin.


"Kamu jangan panggil aku ko lagi. Gak usah pake ko segala, bisa kan?." Tanya Panji


Hahh aku fikir ...


"Terus saya harus panggil apa?." Tanya Nadin.


"Kamu bisa kan panggil aku sayang, atau apalah seperti orang lain manggil pacarnya."


"Sayang?. Haha enggak ah, geli. Udah enak manggil ko, dari pada sayang." Jawab Nadin.


"Aku gak mau tau, pokoknya kamu harus manggil aku sayang, kalau enggak aku gak akan anterin kamu pulang." Ancam Panji.


"Gapapa kalau gak mau nganterin, saya bisa kok pulang sendiri." Balas Nadin.


"Kamu fikir aku akan biarin kamu pulang? NO."


"Baik, saya gak akan panggil ko lagi, asal ko Panji janji jangan bawa saya ke hotel, gimana?."


"Oke. deal!!.

__ADS_1


"Serius ko, ko Panji gak akan bawa saya ke hotel, janji ya! Awas kalo bohong."


"Kapan aku bercanda?."


Akhir -akhir ini dia kan mulai sering bercanda.


"Ayo panggil aku sayang." Pinta Panji.


"Sayang." Tuh udah kan?." Ujar Nadin


Panji kembali menatap Nadin sambil tersenyum, dia semakin gemas dengan kekasihnya ini.


...


Hari sudah semakin sore, Nadin mengajak Panji pulang. Sejak tadi Hirlan terus mengirimi pesan, menanyakan keberadaannya.


Mereka sudah berada dimobil sekarang, dan Hirlan menelpon Nadin. Nadin menjawab panggilan dari adiknya. Dengan cepat Panji merampas hp Nadin dan dia berbicara pada Hirlan.


Panji mengatakan kalau Nadin sedang bersamanya di dufan, dan akan mengantarkannya pulang. Hirlan mengiyakan, dan percakapan pun berakhir.


Panji tidak langsung memberikan hp Nadin. Dia membuka aplikasi chat di hp kekasihnya, karena penasaran ingin tahu Nadin menyimpan namanya dengan sebutan apa.


"Siluman Panci. Siapa ini siluman panci?." Tanya Panji saat melihat kontaknya dinamai siluman Panci.


Aduuh mati aku. Aku lupa belum ganti nama dia di hp ku.


"Hehehh.....maaf!! Sini biar saya ganti." Ujar Nadin seraya berusaha mengambil hp nya dari Panji, tapi Panji tidak memberikannya. Dia sendiri yang menghapus nama siluman panci, dan menggantinya, setelah itu baru Panji mengembalikan hp Nadin.


"Ini. Awas aja kalau sampai kamu ganti lagi namaku jadi siluman panci, aku gak akan berhenti nyium kamu seharian." Ancam Panji.


"Yang bener ko?. Masa sih bisa nyium saya seharian gak berhenti-berhenti?. Emang ko Panji gak lapar, atau gak pengen ke toilet gitu?."Tanya Nadin.


"Kamu gak percaya sama aku?. Mau bukti?. Dan aku udah bilang jangan panggil aku "ko" lagi. Panggil SAYANG, no debat."


"Hehe...gak kok, saya percaya, asli. Iya baik saya gak akan panggil "ko" lagi, kecuali kalau lupa."


"Sekali kamu panggil "ko" aku cium kamu sepuluh kali."


Ya ampun, ngebet banget yang mau nyium.


"Iya, ampun koko. Eh." Nadin langsung menutup mulutnya, karena keceplosan.


"Nah...nah, kamu pengen aku cium kan?." Tanya Panji dengan senyum nakalnya.


"Enggak ih, siapa bilang. Tadi itu keceplosan. Udah ah Jangan becanda terus, kapan pulangnya?."


"MY LOVELY PANJI." Panji mengganti nama siluman panci dengan nama itu, dan MY SHUNSHINE untuk nama Nadin di hpnya.


Hahaa my lovely, gelay banget sih, bagusan juga siluman panci. Ko Panji kok jadi gini ya? Kayak ada alay-alaynya. Apa karena cinta dia jadi berubah kayak gini?. Atau aslinya dia memang seperti ini?.


Mungkin sikap jaim dan dinginnya selama ini hanya dihadapan orang lain saja. Mungkin dihadapan orang yang dekat dengannya dia tidak sedingin dan sejaim itu. Kata Nadin dalam hati.


.

__ADS_1


.


TBC☘️


__ADS_2