Panji & Nadin

Panji & Nadin
Memuji


__ADS_3

Nadin akan memulai acara masaknya, karena dia ingin secepatnya pulang. Dia tadi membeli semua bahan masakan yang dituliskan oleh Panji, walau ada beberapa bahan yang Panji ambil sendiri.


Nadin memang bisa masak, tapi dia sebenarnya belum pernah memasak makanan yang diminta oleh panji. Tapi masa bodo, yang penting rasanya enak, fikir Nadin.


Dia membersihkan udang terlebih dahulu, lalu mengupas sayuran, dan memotongnya.


Adam menawarkan diri membantu Nadin, tapi bukannya membantu dia malah membuat pekerjaan Nadin jadi lambat, karena Adam tidak melakukan dengan benar, apa yang diinstruksikan olehnya.


"Udah ah mas Adam nggak usah bantuin. Mending sana, temenin belahan jiwa mas Adam. Saya nggak suka diganggu kalau lagi masak." Usir Nadin secara halus.


"Oke chef." Sahut Adam, lalu melangkahkan kakinya dari sana. Namun tak lama kemudian Panji datang, menghampiri Adam dan Nadin. Dia duduk di depan pantry, memperhatikan Nadin yang sedang memotong sayuran. Sedangkan Adam memilih pergi menonton tv, sembari menikmati camilan yang mereka beli tadi.


"Kenapa ko Panji disini? Saya belum selesai masak. Masakannya belum siap." Kata Nadin.


"Aku mau awasi kamu, siapa tahu kamu meracuni makanan itu" Jawab Panji dengan wajah datarnya.


"Astagfirullah....kalau ko Panji tidak percaya sama saya, kenapa nyuruh saya masak? Ya udah kalau gitu, sebaiknya ko Panji masak aja sendiri, saya mau pulang."


"Kamu tidak akan kemana-mana, sebelum aku mengijinkanmu pulang, mengerti? Sekarang cepat selesaikan masakanmu, aku sudah lapar."


"Dasar orang aneh. Apa susahnya sih pesen makan dari luar? Atau pergi ke restoran, daripada nyuruh aku masak, tapi nuduh yang enggak-enggak. Aku racunin beneran, baru nyaho dia."


Nadin memasak sambil terus menggerutu. Sesekali mata Nadin menatap Panji yang sedang duduk memperhatikanya.


Pandangan mereka bertemu beberapa kali, tapi Nadin segera memalingkan wajahnya lebih dulu, karena dia sangat kesal melihat Panji.


"Ngomong apa kamu?." Tanya Panji


"Saya sedang ngobrol sama brokoli ini, ko. Kenapa?Apa ko Panji mau ikut ngobrol?."


Ngapain sih dia disini? Bantuin enggak, nyusahin iya. Walaupun namanya Panci aluminium, tapi tetepkan dia nggak bisa dipake buat masak sayuran ini. xixixixi baru tau aku panci aluminium limited edition, bentukannya kayak gitu. Gumam Nadin dalam hati.


"Kenapa kamu senyam-senyum?.


Ya ampun, ko Panji masih ngeliatin aku? Apa dia bener-bener takut aku ngeracunin masakan ini? Atau jangan-jangan dia jatuh cinta sama aku, lagi. Hahaha....halu banget aku. Lagian kalau bener dia jatuh cinta sama aku, aku juga gak mau sama dia.


Dia ganteng sih, tapi hatinya gak seganteng wajahnya. Ngomong-ngomong, kok aku jadi penasaran pengen lihat senyumnya dia. Hhaha...Apa sih yang aku fikirkan?


"Hey...Kamu belum jawab pertanyaanku. Kenapa kamu senyam-senyum sendiri? Apa kamu sedang merencanakan sesuatu?." Tanya Panji.

__ADS_1


"Apa saya gak boleh senyum? Senyum itu kan ibadah ko. Saya ini memang murah senyum, nggak seperti ko Panji yang tidak pernah tersenyum.


Eh..Iya ya, selama ini saya belum pernah melihat senyum ko Panji. Ko Panji nggak lupa caranya tersenyum kan?." Sahut Nadin.


"Selesaikan saja pekerjaan kamu, jangan banyak bicara."


Dari tadi juga aku pengen cepet-cepet selesai. Dia sendiri yang terus ngajak aku bicara, dasar panci bocor.


Nadin menyelesaikan acara masaknya dengan cepat, tanpa mempedulikan Panji yang masih ada disana. Dia menata masakannya di meja makan.


"Waahh kayaknya enak nih. Kamu ternyata bener-bener bisa masak Nadin." Kata Adam yang sudah duduk dimeja makan, bersama Panji.


"Silahkan ko, mas Adam, makananya sudah siap semua. Apa saya boleh pulang sekarang?."Tanya Nadin.


"Duduk." Perintah Panji, dan Nadin langsung menurutinya. Dia meminta Nadin mengisi piring yang ada didepannya.


"Sekarang kamu makan lebih dulu. Saya nggak mau ambil resiko."


"Maksud ko Panji?."


"Lakukan saja apa yang aku katakan."


"Ko Panji lihat kan, saya baik-baik aja. Itu tandanya tidak ada racun di masakan ini. Sekarang apa saya boleh pulang?." Tanya Nadin.


"Pulanglah." Jawab Panji.


"Akhirnya....makasih ko. Kalo gitu saya pamit ko Panji, mas Adam." Ucap Nadin kegirangan.


"Kamu nggak mau bareng sama aku Nadin?."Tanya Adam.


"Nggak ah mas Adam, saya takut nanti mbak inul salah paham sama saya"


"Mbak Inul?." Gumam Adam yang tak mengerti apa yang dikatakan Nadin.


Panji dan Adam lalu menyantap makan siang bersama. Adam memuji masakan Nadin, begitu pun dengan Panji, walau dia tidak mengatakannya langsung. Dalam hati,


Panji memuji kepintaran memasak Nadin, yang pas dengan seleranya.


Adam tahu maksud Panji sebenarnya, saat dia menyuruh Nadin makan lebih dulu. Semua itu bukan karena Panji takut Nadin meracuninya, karena jelas-jelas Panji ada di sana saat Nadin memasak. Adam tahu, Panji tidak sekejam itu menuduh Nadin ingin meracuninya, itu hanya cara yang di pakai Panji untuk meminta Nadin makan sebelum dia pulang.

__ADS_1


...


Nadin berjalan dengan tergesa-gesa, karena dia ingin segera sampai di rumahnya. Dia sudah sangat merindukan rest area-nya, alias kasur butut yang menurutnya adalah kasur ternyaman sedunia. Sebelum itu, dia mandi terlebih dahulu, lalu sholat dzuhur, barulah dia beristirahat.


Nadin terbangun, saat mendengar suara dering ponselnya. Rupanya Doni sahabatnya yang menelpon. Dia mengajak Nadin jalan-jalan lagi ke mall hari minggu nanti, dan Nadin setuju.


Dia mengirim pesan kepada Panji, berniat meminta ijin libur satu hari pada Panji, dengan alasan ada keperluan, dan setelah Nadin berulang kali memohon, akhirnya Panji pun mengijinkanya.


"Terima kasih ko, ternyata anda tidak sekejam ibu kota. Oh iya saya lupa, terimakasih makan siangnya tadi. Dan, apa saya boleh menanyakan sesuatu?."


"Apa?."


"Sampai kapan saya harus bekerja dirumah ko Panji?."


"Sampai hutang ganti rugi itu lunas. Anggap saja aku bayar kamu seratus ribu sehari, kamu hitung sendiri 10jt, dibagi seratus ribu berapa?."


"Tidak ada toleransikah?."


Panji tidak membalasnya lagi. Nadin menghela nafas dengan lemas. Dia mulai menghitung, kira-kira berapa lama dia harus bekerja dirumah Panji.


"Sepuluh juta dibagi seratus ribu? Itu artinya aku harus bekerja dirumah ko Panji selama 100 hari, dan ini baru hari ke sepuluh. Berarti aku harus bekerja dirumahnya 90 hari lagi. Ahh 90 hari yang akan sangat lama, karena aku hanya datang seminggu sekali kerumahnya, aahhhhh....." Gumamnya.


....


Kenapa gadis nakal itu meminta ijin? Mau kemana sebenarnya dia?. Tanya Panji dalam hatinya.


Panji tidak tahu, kenapa dia merasa mempedulikan Nadin. Mungkin karena usia Nadin yang sebaya dengan adiknya Prisa, atau karena dia tahu bagaimana kehidupan Nadin.


Entahlah, apapun itu, yang jelas Panji merasakan sesuatu yang lain dihatinya, semenjak dia bertemu Nadin, apalagi saat Nadin bekerja dirumahnya, Panji merasa tidak kesepian, dan selalu merasa senang, karena dia bisa mengerjainya.


Nadin gadis yang selalu bisa menyelesaikan pekerjaanya dengan baik, dia juga bisa memasak, dan Nadin tidak pernah sekalipun bersikap genit, apalagi menggoda Panji. Selain itu, ada sesuatu dalam diri gadis itu, yang membuatnya tertarik, dan membuat Panji, ingin tahu lebih banyak tentang Nadin


.


.


.


Tbc🌻

__ADS_1


Like, vote komen, dan pavoritnya jangan lupa ya dears🤗


__ADS_2