Panji & Nadin

Panji & Nadin
Kejutan terindah


__ADS_3

Malam itu, Panji dan Nadin menginap di kamar hotel, walau mereka berdua hanya tidur dua jam saja disofa hotel. Walau Panji dan Nadin hanya berduaan disana, mereka tidak melakukan sesuatu hal yang tidak semestinya.


Paginya Nadin mandi terlebih dahulu, dan mengganti pakaian yang memang sudah disediakan dikamar itu, juga baju Panji. Setelah mandi mereka sarapan, dan Panji menagih janji Nadin untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada Nadin dan keluarganya.


"Aku akan cerita, tapi nanti. Ada hal yang jauh lebih penting dari ini. Aku punya kejutan spesial buat koko." Ujar Nadin.


"Kejutan apa?." Tanya Panji.


"Kalau aku bilang sekarang, namanya bukan kejutan lagi dong." Sahut Nadin.


Jam sembilan pagi, Nadin dan Panji keluar dari hotel, bersama dua orang laki-laki yang semalam mengunci mereka didalam kamar hotel. Nadin mengajak Panji ke suatu tempat, menaiki mobil alphard putih yang selama ini selalu mengantarkan Nadin kemana pun. "Sebenernya kita mau kemana sih sayang?." Tanya Panji, saat mobil yang mereka tumpangi sudah masuk gerbang tol.


"Nanti koko juga tahu." Sahut Nadin.


Panji semakin penasaran ingin tahu kemana Nadin akan membawanya. Dia belum tahu dan mengerti dengan apa yang terjadi pada pernikahan David, yang Panji fikir mempelai wanitanya adalah Nadin. Entah kejutan apalagi yang sekarang sedang menantinya.


Jujur saja ada sedikit rasa cemas dalam hatinya, tapi melihat senyum ceria diwajah Nadin, juga sikapnya yang lebih manja daripada biasanya membuat Panji melupakan rasa cemas yang sedang dirasakanya.


Sikap Nadin pagi ini dan tadi malam sangat manis dan juga sangat mesra. Dia tidak segan-segan menunjukan sikapnya itu, walau ada dua orang asing didepan mereka. Sepanjang perjalanan tangannya bergelayut manja dilengan Panji, dengan kepala yang dia sandarkan dibahunya. Panji mengerti Nadin bersikap seperti itu karena dia sangat merindukan dirinya.


Panji Pov.


Aku sangat bahagia mengetahui kalau Salsa ternyata benar-benar Nadin. Gadis yang sangat aku cintai ternyata masih hidup. Rasanya aku belum pernah sebahagia ini sebelumnya.


Nadinku, gadis lucu yang selalu ceria, dan bisa membuatku tersenyum sekaligus gemas, kini berada sangat dekat disisiku. Bahkan saat ini dia masih setia bergelayut manja dan tidak pernah melepaskan rangkulanya di lenganku. Aku tahu dia merindukanku, sama seperti aku yang juga sangat merindukanya.


Jam menunjukan hampir jam dua belas siang, saat mobil yang kami tumpangi tiba di depan vilaku. Iya, Nadin dan dua orang asing yang aku tahu mereka berdua adalah pengawal atau orang bayaran membawaku ke vilaku yang ada di daerah puncak.


Aku tidak tahu kenapa mereka membawaku ke sini. Saat aku bertanya pada Nadin, dia hanya menjawab dengan senyum manisnya, membuatku semakin penasaran.


"Ayo kita turun." Ajak Nadin, aku pun turun, lalu masuk kedalam vilaku, sedangkan dua orang pengawal tadi menunggu diluar. Bi Neneng menyambut kami dengan senyum ramah seperti biasanya.

__ADS_1


Setelah kami beristirahat sebentar di sofa, Nadin mengajakku ke lantai atas, karena dia bilang kejutan yang dia maksud ada disana. Aku menurut saja dan naik ke atas bersamanya.


Entah kenapa hatiku tiba-tiba berdebar kencang saat kami berdua sampai di atas. Dia (Nadin) menuntun tanganku menuju pintu kamar almarhum mamaku. Aku tidak tahu kejutan apa yang dia maksud, sampai-sampai dia membawaku ke kamar itu.


"Ayo buka pintunya. Kejutannya ada didalam." Ujarnya sambil tersenyum, membuatku semakin penasaran.


Tanpa menunggu lama aku pun membuka pintu kamar itu. Aku melebarkan mata menyusuri seluruh penjuru kamar. Pandanganku terhenti, saat melihat sesosok wanita berdiri didekat ranjang. Aku tidak tahu siapa wanita itu, karena dia membelakangiku, dan sepertinya dia sedang memandangi lukisan almarhumah mamaku.


Aku seperti tidak asing dengan sosoknya. Tapi tunggu, kenapa wanita itu bisa masuk ke kamar ini?. Lancang sekali dia. Kenapa bi Neneng sampai mengijinkan orang asing masuk ke kamar ini. Tanyaku dalam hati.


Seketika emosiku mulai naik. "Siapa kamu?." Tanyaku penasaran, wanita itu tidak menjawab, dan masih membelakangiku. Aku menoleh pada Nadin, dia malah tersenyum, aku semakin kesal.


"Siapa kamu?." Tanyaku lagi, kali ini nada bicaraku sudah naik satu oktaf, tapi wanita itu tidak juga menjawab, membuatku semakin kesal.


Aku ingin menghampirinya, namun Nadin mencekal tanganku. Aku menoleh kearahnya, dia tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Aku semakin bingung.


"Panji." Tiba-tiba suara itu terdengar ditelingaku. Wanita itu memanggil namaku dengan lirih. Aku terkejut dan refleks menoleh ke arahnya. Kini aku bisa melihat dengan jelas wajah wanita itu.


Aku tidak asing dengan suara itu. Suara itu seperti suara almarhumah mamaku, tapi bagaimana mungkin itu dia?. Mamaku sudah lama pergi.


"Panji....." Panggilnya lagi, suaranya bergetar lirih dan aku melihat buliran air mata dipipinya. Entah kenapa hatiku terasa berdenyut nyeri saat mendengarnya memanggilku seperti itu. Siapa sebenarnya dia?. Aku menolehkan pandanganku pada Nadin. Dia masih tersenyum namun matanya berkaca-kaca.


"Panji....anakku." ujar wanita itu. Deggg...aku sangat terkejut mendengarnya menyebutku anaknya. Aku kembali menatapnya dengan heran, aku lihat air matanya semakin berjatuhan.


Semakin aku menatapnya, hatiku semakin berdenyut aneh, apalagi dia terus menyebutku sebagai anaknya. Aku baru menyadari sesuatu tentang wanita itu, aku pernah melihatnya.


Ah iya dia itu adalah bu Ana, istri pak Jonathan, dan itu artinya dia ibunya David. Lalu kenapa dia menyebutku sebagai anaknya?. Saat itu aku benar-benar bingung dan tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.


Apa mereka sedang mengerjaiku sekarang?. Apa mungkin ini sebuah permainan yang diciptakan David dan juga wanita itu?.


"Panji!! Anakku. Ini aku, mamamu." Ujarnya lagi dengan berurai air mata. Aku ...aku tidak bisa mencerna semua perkataan wanita itu. Bagaimana mungkin dia mamaku, mamaku sudah meninggal dua puluh tahun yang lalu, dan dia mengaku sebagai mamaku. Dia jelas-jelas ibunya David. Rasanya sangat mustahil.

__ADS_1


"Apa kamu tidak mengenaliku nak?. Mama kamu sendiri?." Tanyanya.


"Tidak...tidak mungkin. Tidak mungkin anda mamaku. Mamaku sudah lama meninggal. Aku tahu anda adalah istri pak Jonathan, anda ibunya David."


"Mama mengerti kamu pasti tidak akan percaya semudah itu. Tapi kamu harus tahu, aku memang mama kamu. Ini mama, Panji." Ujarnya semakin berlinang air mata.


Aku diam mematung tak percaya dengan pengakuan bu Ana.


"Iya ko, beliau memang mama ko Panji. Mama ko Panji belum meninggal. Beliau masih hidup dan kini dia ada disini dihadapan kita." Suara Nadin membuyarkan keterpakuanku. Dan apa katanya tadi, dia mamaku?.


"Mamaku? Tapi...bagaimana mungkin." Jawabku tak percaya. Aku akui wajah bu Ana memang mengingatkanku pada mendiang mamaku, tapi bagaimana mungkin dia mamaku.


"Beliau selamat dari kecelakaan itu, dan selama ini dia sengaja menyembunyikan dirinya karena suatu alasan." Ujar Nadin menjelaskan.


"Lihat ini Panji. Ini adalah bukti kalau aku memang mama kamu." Kata bu Ana sembari menunjukan sebuah liontin, liontin yang sama yang masih aku simpan sampai sekarang. Liontin berisi fotoku dan Wily saat kami masih kecil.


Oh Tuhan...aku tidak percaya dengan semua ini. Dia benar-benar mamaku.


Mataku menatap wajah wanita yang saat ini wajah dan matanya sudah basah oleh air mata. Aku bisa melihat semburat kerinduan di wajah dan matanya.


Sekarang aku benar-benar yakin dia memang mamaku, mama kandungku. Air mataku menetes begitu saja, dan aku langsung memeluknya. "Mama." Panggilku seraya memeluknya dengan sangat erat.


Dia membalas pelukanku tidak kalah erat sambil menangis dan menyebut namaku berulang kali. Walau aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi tapi aku sangat bahagia mengetahui orang yang sangat aku cintai ternyata masih hidup. Pertama Nadin, sekarang mamaku. Ini benar-benar sebuah kejutan terindah sepanjang hidupku.


.


.


.Bersambung💚


Hai semuanya👋

__ADS_1


Maafkan ya karena baru sempat up lagi,, dan baru satu bab🙏😔


__ADS_2