
Panji dan Nadin sedang menonton drakor kesukaan Nadin. Panji sebenarnya tidak terlalu menyukai drakor, yang menurutnya terlalu dramatis dan melow, dia lebih suka menonton film action, atau komedi.
Drttttt....drtttt... Ponsel Panji bergetar, seseorang menghubunginya.
"Hallo."
____________________
"Kamu cari tahu dan selidiki dia?."
_______________________
"Aku tunggu secepatnya." Pungkas Panji lalu mematikan panggilan.
Jadi bener kan dugaanku. Ko Panji pasti nyuruh orang untuk mencari tahu tentang aku dan keluargaku. Tadi itu buktinya. Kepo banget sih jadi orang. Tapi ngomong-ngomong tadi dia nyuruh orangnya itu buat nyelidikin siapa ya?
Ahh bodo amat deh, ngapain juga aku mikirin itu, gak penting.
"Kamu lapar?." Tanya Panji.
"Apa ko Panji sudah lapar?." Nadin balik bertanya.
"Ditanya malah balik nanya."
"Saya kan cuma nanya ko. Kalau ko Panji lapar, saya akan masak sekarang."
"Nggak perlu. Aku udah pesen makanan. Bentar lagi datang."
"Kalau gitu apa saya boleh pulang sekarang?."Tanya Nadin
"Nggak boleh." Jawab Panji.
Nadin berdecak kesal. Dia ingin sekali pergi darisana, karena tidak mau terus berduaan dengan Panji, tanpa melakukan apapun.
Dia fikir kalau hanya sekedar nonton, dia bisa melakukannya di rumah, dan dia bisa nonton sepuasnya tanpa merasa canggung dan diawasi seperti sekarang.
Kalau aku gak boleh beresin rumah ini, ngapain juga ko Panji nyuruh aku kesini? Buang-buang waktu aja.
Makanan pesanan Panji datang. Dia memesan makanan itu untuknya dan untuk Nadin.
Walau merasa tidak enak, tapi Nadin tetap memakan makanan itu. Dari pada mubazir, mending dia makan, lagipula dia memang sudah lapar.
Makin kesini, sikap ko Panji semakin baik tapi semakin aneh. Dia terus maksa aku makan, padahal pas pertama aku kesini, dia gak pernah nawarin aku makan, bahkan minum aja gak pernah.
Apa dia memang butuh teman untuk menemaninya makan?. Dia tinggal sendiri di rumah sebesar ini, pasti dia merasa kesepian. Tapi walaupun benar dia kesepian, kenapa harus aku yang temenin dia?. Mas Adam kemana? Biasanya dia selalu kesini kalau hari minggu.
Jam dua siang, Panji mengijinkan Nadin pulang, tapi dia yang mengantarkanya.
"Ko Panji kenapa repot-repot harus nganterin saya segala ko. Saya nggak enak." Ujar Nadin.
"Kenapa harus nggak enak segala, kamu kan pacar aku." Sahut Panji.
"Udah ah ko jangan becanda terus, nanti kalau ada orang yang denger, entar disangkanya bener lagi." Ujar Nadin, Panji diam saja.
__ADS_1
Panji tidak mengantarkan Nadin sampai ke pinggir jalan rumahnya. Dia menurunkan Nadin, beberapa kilo sebelumnya.
"Kamu gak apa-apa kan turun disini?." Tanya Panji.
"Iya gapapa ko, Saya bisa naik angkot. Makasih banyak udah nganterin saya." Kata Nadin, lalu dia turun.
Mobil Panji melaju meninggalkan Nadin yang keheranan.
Kenapa dia tiba-tiba turunin aku disini?. Apa dia marah?. Tapi marah kenapa?.
Panji memang sengaja melakukannya, karena dia tahu Irma sedang menunggu Nadin di dekat gangnya. Tadi pagi, Irma mengikuti Nadin sampai ke depan gerbang rumah Panji. Bahkan dia sempat memaksa masuk, tapi satpam dirumah Panji tidak mengijinkannya. Panji tahu semua itu dari orang suruhannya.
Irma nekat menunggu diluar, karena dia ingin tahu apa yang Nadin lakukan di dalam rumah mewah itu. Irma semakin yakin, kalau Nadin mungkin saja menemui om-om yang membookingnya.
Karena Nadin tidak juga keluar, Irma pun pergi dari sana, dia memutuskan akan menunggunya di dekat gang, karena dia yakin Nadin akan diantarkan oleh om-omnya itu, tapi ternyata dia melihat Nadin turun dari angkot.
Beberapa hari kemudian, gosip miring tentang Nadin mulai terdengar ditelinga karyawan konveksi. Ada yang percaya gosip itu, ada juga yang tidak peduli.
Nadin tidak tahu kalau dirinya tengah digosipkan jadi simpanan om-om, dan orang yang menyebarkan gosip itu adalah sepupunya sendiri, Irma.
"Kamu jangan sembarangan bicara kalau gak punya bukti, Irma. Nanti jatohnya fitnah. Lagian bukannya Nadin itu sepupu kamu sendiri." Kata salah seorang karyawan konveksi.
"Aku gak sembarangan bicara. Kalau kalian mau bukti, nih aku kasih lihat." Irma menunjukan beberapa foto dan video, saat Nadin masuk ke rumah Panji."
"Itu, Nadin masuk rumah siapa?. Bagus banget."
"Ya ini rumahnya om-om yang booking si Nadin lah."
"Aku emang belum punya fotonya, tapi nanti kalau aku dapet fotonya pasti aku kasih lihat ke kalian."
"Sudahlah, emang harus ya, kita tahu atau ikut campur urusan orang?. Mau apapun Nadin datang ke rumah itu, bukan urusan kita kan?. Kita juga gak tahu Nadin pergi ke rumah itu buat apa?. Belum tentu dia seperti apa yang dikatakan Irma. Jangan suudzon sama orang, gak baik." Kata karyawan lainya.
"Terus kamu fikir dia mau ngapain ke rumah mewah kayak gitu, kalau bukan mau ngelon*e?." Ucap Irma.
"Bisa aja dia punya teman atau kenalan di rumah itu." Jawab karyawan satunya.
"Udah deh ya, coba kamu realistis dikit. Mana mungkin Nadin yang cuma karyawan konveksi punya temen yang tinggal dirumah mewah kayak gitu. Gak mungkin banget kan."
"Eh, tapi ya setahu aku kalau om-om yang suka ngencani abg-abg itu kan gak pernah bawa mereka ke rumahnya. Palingan ke hotel, atau penginapan gak pernah bawa ke rumahnya."
"Ya mungkin aja kan, si om nya itu rumahnya banyak. Dan apa kalian tahu kenapa Nadin bisa diangkat jadi QC?." Tanya Irma.
Mereka diam, lalu menggelengkan kepalanya.
"Dia itu sudah menggoda pak Sambaru. Kalian lihat aja gimana sikap pak Sambaru sama Nadin, beda kan?. Kayak gimana gitu?. Aku juga pernah lihat mereka ngobrol berdua di tempat penyimpanan benang. Mana si Nadin ganjen banget lagi sikapnya."
"Ahh, beda gimana?. Pak Sambaru emang baik kok, ke semua karyawan."
"Iya, tapi kalau sama Nadin, beda kan?."
"Menurut aku sih sama aja. Udah ah mending kita masuk, waktu istirahat bentar lagi habis."
Mereka semua masuk kembali ke gedung kecuali Irma dan Nina.
__ADS_1
"Emang kamu yakin si Nadin bener-bener ada main sama om-om?. Kamu pernah lihat mereka?."Tanya Nina.
"Kalau lihat langsung sih gak pernah, tapi dari gerak-geriknya aku sangat yakin. Coba kamu fikir ngapain dia tiap minggu pergi. Terus pas pulangnya bawa tas mewah, baju mahal, dan kue mahal. Darimana dia dapettin semua itu, kalau bukan dari om-om yang booking dia." Kata Irma penuh keyakinan.
"Mungkin aja sih, tapi kamu tetep belum punya bukti kan?. Aku emang gak suka sama dia, tapi kok aku rasanya gak yakin dia kayak gitu." Kata Nina.
"Hemmm, kamu gak tau aja aslinya dia kayak gimana. Dia tuh bukan gadis baik-baik, kayak ibunya dulu."
"Emang ibunya kenapa?."
"Ya gitu, punya suami tapi masih suka godain suami orang. Dia juga pernah godain bapakku, makanya ibu sama bapakku bercerai. Makanya dia kena azab."
"Serius kamu?."
"Iya. Makannya aku benci banget sama dia."
"Tapi ibu kamu kok bisa baik banget ya sama si Nadin ?. Padahal ibunya sudah menyebabkan perceraian dia dan suaminya."
"Aku juga heran sama ibu, dia tuh kayaknya sayang banget sama di Nadin dan adiknya." Pungkas Irma.
Gosip miring tentang Nadin semakin ramai diperbincangkan diantara karyawan konveksi, terutama dibagian sewing dan cutting.
Selain menjadi simpanan om-om, Nadin juga digosipkan sudah menggoda Sambaru, dan dia disebut-sebut sebagai anak pelakor, tapi gosip itu belum sampai ke telinga Nadin sendiri, karena sekarang dia bekerja diarea packing.
Sampai akhirnya karena penasaran dan tidak tahan mendengar teman baiknya sendiri digosipkan, Novi menanyakannya langsung pada Nadin.
"Apaaaah?. Siapa yang bilang seperi itu Nov?." Tanya Nadin dengan wajah terkejutnya.
"Hampir semua karyawan sewing dan cutting membicarakan ini Nad."
"Terus kamu percaya?."
"Aku juga gak percaya, tapi mereka punya foto kamu?."
"Foto apa?."
"Ini." Novi menunjukan foto-foto Nadin saat dia masuk ke rumah Panji.
"Mereka bilang ini rumah om-om yang ngebooking kamu Nad." Jelas Novi.
Nadin tertawa mendengar perkataan Novi.
"Kamu kok malah ketawa sih Nad?."
"Kamu tuh lucu Nov. Masa cuma karena foto kayak gini aja, kalian bilang aku simpenan om-om."
"Terus ini rumah siapa?. Kamu ngapain pergi ke rumah ini?."
"Itu......Itu rumah....rumah...."
"Rumah siapa?."
☘️☘️☘️☘️☘️TBC☘️☘️☘️☘️
__ADS_1