Panji & Nadin

Panji & Nadin
Kagum


__ADS_3

Dua hari kemudian.


Hari ini Sambaru mengadakan meeting gabung dengan semua karyawan konveksi, setelah jam istirahat selesai. Panji dan Adam juga ada disana saat meeting berlangsung.


Semua karyawan menduga ada sesuatu yang terjadi atau ada masalah dengan produksi, tapi ternyata mereka salah besar. Sambaru tidak membahas tentang produksi atau pekerjaan mereka. Yang dia bahas saat ini adalah masalah etitut.


Sambaru meminta semua karyawan tidak makan dan mengobrol saat sedang bekerja. Dia juga meminta semua karyawan menghormati dan menuruti apapun keputusan pimpinan. Kalaupun karyawan ada yang keberatan, dia meminta karyawan tersebut mengatakan langsung padanya bu Ratna ataupun leader lainya, dimasing-masing bagian.


"Dan perlu anda semua ketahui, kenaikan seorang karyawan itu tidak semata-mata hak dan kewenangan saya, karena ada atasan kita yang lebih berhak, yaitu ko Panji dan ko Wily. Jadi intinya, saya tidak bisa menaikan jabatan atau posisi seseorang tanpa persetujuan ko Panji atau ko Wily.


Dan kami tidak sembarangan menaikan atau memindahkan posisi seseorang. Kami sudah memikirkan dan melihat kinerja orang tersebut. Jadi saya sangat berharap anda semua disini lebih dewasa dan bisa lebih mengerti.


Saya minta anda semua jangan berfikir atau berbicara yang tidak-tidak. Kita semua datang kesini untuk bekerja. Kita ini satu tim yang saling berhubungan satu sama lain, apapun posisi kita disini, sama saja. Kita sama-sama dibayar sesuai skill dan kemampuan kita.


Kalaupun diantara kalian ada yang merasa tidak puas atau keberatan dengan apapun, saya tunggu di ruangan saya. Kita bicarakan baik-baik, dan jangan ngomong dibelakang, karena omongan anda semua itu tetep bisa sampai ke telinga saya. Ada pertanyaan?."


"Kalau tidak ada pertanyaan, mungkin ko Panji ada yang mau disampaikan?." Tanya Sambaru.


Panji maju, dan berdiri dihadapan semua karyawanya.


"Oke selamat siang semuanya.!! Sapa Panji.


"Selamat siang." Jawab semua karyawan.


"Saya disini cuma mau menegaskan kalau saya membayar kalian semua itu untuk bekerja. Bekerja dengan baik mengikuti aturan yang kami buat. Kalau kalian tidak suka dan tidak mau menuruti peraturan kami, pintu keluar selalu terbuka lebar untuk siapapun, tanpa kecuali. Dan saya tidak mau mendengar ada karyawan saya yang suka menyebarkan berita atau gosip yang belum tentu kebenarannya.


Disini kita semua dibayar untuk bekerja, bukan bergosip. Jadi tolong, saya minta kalian bekerja dengan baik, tanpa harus bergosip. Dan seperti apa yang tadi dikatakan oleh pak Sambaru, semua keputusan yang kami ambil, sudah kami pertimbangkan dengan baik. Kami tidak asal mengambil keputusan. Semua kami lakukan semata-mata untuk kemajuan dan kebaikan perusahaan dan kita semua.


Saya tidak mau dengar lagi ada karyawan yang membicarakan atau menggosipkan karyawan lainnya, apalagi menggosipkan pimpinan. Kalau sampai saya mendengar hal itu lagi, saya tidak segan-segan memberi sangsi berat kepada orang itu. Mengerti??."


"Mengerti." Jawab semua karyawan.


"Oke. Terima kasih. Kalian boleh kembali bekerja." Kata Panji lalu berlalu dari sana, dia menatap sekilas ke arah Nadin yang sedang menatap kearahnya.


Semua karyawan membubarkan diri, kecuali Nadin yang masih berdiri ditempatnya. Dia terus menatap Panji, walau saat ini dia hanya bisa menatap punggungnya saja.


Nadin tertegun mendengar semua ucapan Panji saat meeting barusan. Dia terharu karena merasa Panji sedang membelanya, walau dia tidak yakin betul, entah ini hanya perasaanya saja atau memang tadi Panji benar-benar membelanya.


"Kamu sih...Kamu sih." Bisik para karyawan dengan suara pelan, saat bubar meeting.


Semua karyawan konveksi saling berbisik dan saling menyalahkan. Mereka benar-benar tidak menyangka gosip yang mereka dengar bisa sampai ke telinga Sambaru dan Panji.


Mereka yang ikut membicarakan dan percaya gosip itu merasa menyesal dan takut, terutama Irma dan Nina.


Mereka berdua yang paling merasa takut diantara yang lainya, terutama Irma, karena dia adalah orang yang menyebarkan gosip itu.

__ADS_1


Lima belas menit kemudian, Irma dipanggil ke ruangan Sambaru. Demi apapun saat ini dia sangat ketakutan, karena dia yakin Sambaru memanggilnya karena gosip itu.


Irma melangkahkan kakinya dengan ragu, hingga akhirnya dia pun sampai di ruangan Sambaru. Ketakutannya semakin menjadi saat dia melihat Panji ada disana. Dia fikir Panji sudah pergi dari konveksi, ternyata Panji masih ada disana.


Panji menatap Irma dengan tatapan yang sangat dingin membuat Irma semakin ketakutan.


"A-a-aada apa pak?." Tanya Irma terbata.


"Duduk." Titah Panji. Irma pun duduk.


Tak lama kemudian Nadin juga datang kesana, karena dia sama-sama dipanggil oleh Sambaru.


Dia terkejut melihat Irma ada disana.


Panji menyuruh Nadin duduk di sebelah Irma.


"Maaf kalau saya mengganggu waktu kerja kalian. Ada beberapa hal yang harus saya tanyakan pada kalian berdua, terutama kamu Irma.


Degggg..... Jantung Irma.


"Apa benar kalau kamu pernah atau sering melihat Nadin menggoda Sambaru?." Tanya Panji pada Irma. Mulutnya memang tidak menjawab, tapi mimik muka dan gestur tubuhnya sudah memberikan jawabannya.


"Jawab saya Irma. Apa benar kamu sering melihat mereka ngobrol sembunyi-sembunyi di bawah tangga. Dan kamu dengar Nadin meminta pada Sambaru supaya dia dinaikkan menjadi Qc?."


"Ti-ti-tidak ko. Saya...saya gak pernah lihat dan tidak tahu. Saya juga cuma denger dari orang lain."


"emmmmmmhh......"


"Cepat katakan jangan buang waktu ." Teriak Panji, membuat orang yang ada disana terkejut.


"Saya tahu dari Nina ko." Jawab Irma.


Panji meminta Sambaru memanggil Nina.


Tak lama kemudian Nina datang. Panji langsung menanyai Nina dan dia mengelak. Nina mengatakan kalau dia juga tahu semua itu dari mulut Irma. Nina dan Irma saling menuduh.


"Mulai hari ini saya minta sama kalian berdua, jangan pernah lagi menyebarkan gosip di sini. Perbuatan kalian ini bisa merusak nama baik orang dan kalian bisa terjerat hukum, kalian mau dipenjara?."


"Tidak mau ko." Jawab mereka berdua.


"Sekarang kalian minta maaf sama pak Sambaru dan Nadin." Titah Panji.


Nina dan Irma meminta maaf, walau dalam hatinya Irma tidak sudi. Setelah Irma dan Nina minta maaf, Panji menghukum mereka berdua. Irma dan Nina harus membersihkan toilet.


Mau tidak mau mereka menuruti perintah Panji.

__ADS_1


Sekali lagi, Nadin dibuat tertegun dan kagum oleh apa yang dilakukan Panji. Dia tidak menyangka gosip tentang dirinya akan sampai ke telinga Panji


Dan Nadin tidak percaya Panji sampai turun tangan sendiri menyelesaikan masalah yang sedang dia hadapi. Tapi Nadin tidak mau besar kepala dan kegeeran.


Nadin yakin Panji melakukan semua ini karena dia tak ingin mendengar ada gosip di perusahaanya, seperti yang dia katakan saat meeting tadi.


Sambaru juga tidak percaya Panji sampai melakukan hal ini. Dia tidak tahu darimana Panji bisa tahu tentang gosip yang menyebar di konveksi, pasalnya dia juga baru mengetahui semua itu dari Panji, dan sebenarnya Sambaru tidak mau ambil pusing. Dan darimana Panji tahu kalau Irma adalah orang yang menyebarkan gosip itu, fikir Sambaru.


Panji akan kembali ke kantor bersama Adam. Dia berjalan keluar melewati area packing. Panji menolehkan kepalanya ke arah Nadin, yang juga sedang melihat ke arah Panji.


Panji sempat melemparkan senyum tipisnya, membuat Nadin terkejut dan langsung menundukkan kepalanya. Jantungnya tiba-tiba berdegup kencang, melihat senyum di wajah Panji.


Tiga puluh menit kemudian terjadi keributan disana, membuat semua karyawan penasaran dan mencari tahu. Rupanya keributan itu terjadi di toilet. Irma dan Nina bertengkar dan berkelahi. Nina tak terima Irma menyalahkan dan menuduhnya, kalau dia adalah orang yang menggosipkan Nadin dan Sambaru, padahal Irma sendiri orang pertama yang menggosipkan mereka.


Sambaru dan beberapa karyawan lelaki melerai mereka. Untung saja Panji sudah meninggalkan konveksi, kalau tidak, Sambaru tidak tahu apa yang akan terjadi pada mereka berdua.


...


Di mobil Panji.


"Waah hebat juga modus lo Ji." Kata Adam.


"Modus apa?. Siapa yang modus?."


"Elo lah, siapa lagi?. Lo kayaknya udah jadi pahlawan penyelamat silumam ular sekarang. Btw, lo tau darimana kalau Irma yang menggosipkan Nadin?." Tanya Adam


"Andre." Jawab Panji.


"Ohh jadi selama ini diam-diam lo nyuruh si Andre ngawasin si neng siluman ular?. Pantesan aja lo nggak pernah nyuruh gue. Lo bertindak sendiri rupanya. Hemm mengagumkan." Celoteh Adam.


"Lo benerran cinta sama Nadin Ji?." Tanya Adam


"Gue nggak perlu jawab pertanyaan lo kan Dam?. Lo tau gue gimana." Sahut Panji


"Apa lo udah bilang perasaan lo sama dia?."Tanya Adam lagi.


"Belum."


"What?. Belum?. Terus kapan lo mau bilang perasaan lo sama dia?."


Panji diam.


"Kalau gue boleh kasih saran ya mending lo cepet bilang perasaan lo sama dia. Jangan sampai dia salah paham, apalagi keburu digaet orang, nyesel lu nanti." Saran Adam.


.

__ADS_1


.


☘️☘️☘️ TBC☘️☘️☘️


__ADS_2