
Panji menidurkan Mikha dikamarnya, sedangkan Nadin pergi ke kamar para art yang berada di belakang rumah pak Bahtiar.
Tadinya Nadin ingin ke kamar Mikha lebih dulu, tapi melihat raut wajah Panji yang sangat tidak bersahabat, Nadin mengurungkan niatnya.
Dewi dan bi Sum sedang mengobrol di teras belakang bersama para art lain juga tukang kebun. Mereka semua memang belum tidur karena sedang mengadakan acara pesta bakar-bakar ala mereka.
"Hay Nadin, baru pulang?."Tanya Dewi.
"Iya."
"Kebetulan kalau gitu, ayo ikutan makan." Ajak Dewi, lalu Nadin pun ikut bergabung bersama grup tagoni ciawitali, eh bukan grup rampak sekar, eh grup art maksudnya✌️.
Mereka semua kelihatan sangat senang malam itu. Ada ikan bakar, ayam bakar juga jagung bakar. Mereka benar-benar menikmati pesta bakar-bakar itu, termasuk Nadin.
Sedangkan disana, Panji yang masih sangat kesal, harus kembali merasakan kekesalan, saat ibu sepuh memintanya mengantarkan Jovanka pulang.
Dia sudah menolaknya, tapi ibu sepuh memaksa dan sedikit mengancamnya. Entah apa yang dikatakan Jovanka pada ibu sepuh, hingga beliau memaksa Panji sendiri yang mengantarkannya pulang.
Padahal selama ini, ibu sepuh tidak pernah seperti ini. Lagipula Jovanka bisa naik taksi atau diantar supir keluarga itu.Tapi ibu sepuh tetap ingin Panji yang mengantarkan Jovanka.
Panji terpaksa menuruti ibu sepuh. Dia mengantarkan Jovanka tanpa sepatah katapun keluar dari mulutnya. Namun ditengah jalan, tiba-tiba saja Panji menghentikan mobilnya.
"Ada apa? Kenapa berhenti disini?." Tanya Jovanka, dan Panji tidak menjawabnya.
Apa jangan-jangan Panji mau....
Tak lama kemudian sebuah mobil minibus, berhenti tepat di belakang mobil Panji.
"Turun." Titah Panji.
"Apa?." Tanya Jovanka.
"Aku bilang turun sekarang juga."
"Enggak, aku gak mau."
"Baiklah kalau kamu ingin aku memaksa kamu."Balas Panji, lalu turun dari mobil, kemudian menarik paksa Jovanka keluar dari dalam mobilnya.
Sekuat tenaga Jovanka berusaha melepaskan tanganya dari tangan Panji, tapi tenaga Panji jauh lebih besar dibandingkan dirinya.
"Ingat Jo, apapun yang kamu lakukan, aku tidak akan pernah tertarik atau menerima kamu. Aku peringatkan sekali lagi jangan pernah melakukan apapun untuk mendekatiku atau mendapatkan cintaku. Cukup....Hentikan, kalau tidak, aku akan membuat kamu menyesal. Ingat itu." Ancam Panji.
Panji membuka pintu mobil minibus tadi, lalu menyuruh Jovanka masuk.
"Enggak...aku gak mau. Lepaskan, apa-apaan sih kamu Panji?." Sahut Jovanka, sambil terus berusaha melepaskan diri. Tapi dia kalah,dan saat ini dia sudah duduk di jok penumpang di dalam mobil minibus, berwarna hitam, yang ternyata taksi online.
__ADS_1
"Antarkan perempuan ini ya pak. Alamatnya sesuai aplikasi. Dan ini ongkosnya, ambil saja kembalianya." Ucap Panji pada sang pengemudi.
"Baik mas." Jawab sang pengemudi, lalu mobil pun melaju membawa Jovanka yang kesal dan tak percaya dengan apa yang di lakukan Panji padanya.
Awas kamu Panji. Aku pastikan kamu akan menyesal. Gumam Jovanka dalam hati.
Panji kembali melajukan mobil menuju rumah pak Bahtiar. Dan tak butuh waktu lama, dia pun sampai dihalaman rumah besar nan mewah itu. Dia turun, dan melangkahkan kakinya dengan cepat menuju halaman belakang.
Saat itu keadaan rumah sudah sepi, begitu juga dihalaman belakang. Para art sepertinya sudah masuk ke kamar masing-masing.
Jam sudah menunjukan pukul 11 malam lebih, Panji mempercepat langkahnya. Dan sampailah ia di halaman belakang, dimana kamar art berada.
Dewi dan mang Komar yang baru saja selesai membereskan sisa pesta bakar-bakar, terkejut melihat kedatangan Panji. Apalagi mereka melihat raut wajah Panji yang tidak bersahabat.
Mereka takut mungkin saja Panji marah kepada mereka, karena pesta bakar-bakar itu.
"Ada yang bisa saya bantu den?." Tanya mang Komar, tukang kebun di rumah itu, sedikit takut. Panji tidak menjawab. Dia berlalu melewati mereka.
Namun tiba-tiba langkah Panji terhenti, lalu dia meminta Dewi dan mang Komar segera masuk ke kamarnya masing-masing. Mereka pun segera masuk.
Panji kembali melangkahkan kakinya, hingga dia sampai di depan kamar art yang berada paling ujung. Panji langsung membuka pintu kamar yang memang tidak terkunci, tanpa dia ketuk terlebih dahulu, membuat orang yang berada di kamar itu tersentak kaget, apalagi saat dia tahu kalau orang yang membuka pintu adalah Panji.
"Ko Pa-Pan-ji." Ucapnya kaget dan sedikit takut, apalagi saat dia melihat air wajah Panji yang tidak bersahabat. Tanpa basa-basi Panji langsung menghampiri penghuni kamar, yang tak lain adalah Nadin.
Dia memundurkan badan, berusaha menghindar saat Panji semakin mendekatinya. Namun usahanya sia-sia, karena Panji kini sudah berada tepat dihadapanya, mengunci pergerakannya, seperti saat di kamar Mikha.
"A-a-apa maksud ko Panji?." Tanya Nadin takut-takut.
"Jangan pura-pura. Aku tahu kamu sengaja melakukannya kan? Jawab." Tanya Panji lagi, kali ini suaranya lebih tinggi dari pohon toge.
Nadin tersentak kaget, saat mendengar teriakan Panji. Sepertinya kali ini Panji benar-benar marah. Apalagi saat dia melihat wajah putih milik Panji yang berubah merah seperti tomat. Dia juga melihat kilatan amarah dimata elang Panji.
"Dengarkan aku, jangan mentang-mentang aku sudah baik padamu, kamu jadi berani padaku."Sergah Panji emosi.
"Apa maksud ko Panji?. Memangnya apa yang sudah saya lakukan? Apa salah saya? Kenapa anda memarahi saya seperti ini?." Tanya Nadin, memberanikan diri.
"Salah kamu? Kamu bertanya apa salah kamu?. Saya tanya sama kamu, dibayar berapa kamu sama Jovanka?."
"Apa maksud ko Panji?."
"Jangan pura-pura." Bentak Panji, kembali mengagetkan Nadin.
"Aku tahu kamu dan Jovanka sengaja merencanakan semuanya kan? Jawab!!
Kenapa dia bisa tahu?
__ADS_1
"Kenapa diam? Aku benar kan? Kalian memang sengaja merencanakan ini semua. Kenapa? Apa karena uang? Berapa dia membayar kamu?. Kalau memang kamu ingin uang, aku bisa memberikannya, kamu tidak perlu melakukan semua ini."
Nadin menatap Panji, karena saat ini dia merasa Panji telah merendahkanya. Air matanya sudah menganak sungai. Rasanya saat ini dia ingin sekali menangis, karena tersinggung dengan ucapan Panji.
"Apa kamu fikir rencana kalian akan berhasil? Tidak Nadin, sama sekali tidak. Kalau aku mau, dari dulu aku sudah bersama Jovanka. Jadi kamu jangan sok-sok an membantu dia, karena aku tidak menyukai gadis itu atau gadis manapun.
Tidak ada seorang pun yang bisa memaksaku. Jadi jangan pernah ikut-ikuttan mereka mendekatkan aku dengan Jovanka, karena semua itu percuma.
Aku ingatkan sama kamu, jangan pernah lagi kamu coba-coba melakukan apa yang sudah kamu lakukan hari ini.
Kalau tidak, kamu akan tahu akibatnya. Dan kamu tahu, aku tidak main-main dengan ucapanku. Ngerti kamu?." Tanya Panji, sambil menatap tajam pada Nadin.
Nadin mengangguk, dan Panji masih menatapnya hingga beberapa detik, sebelum akhirnya dia keluar dari kamar Nadin.
Tangis Nadin pun pecah saat itu. Dia tidak kuat lagi menahan tangisnya. Nadin merasa sakit hati, karena Panji memarahinya dan mendengar semua ucapan Panji.
Niat baiknya yang ingin mendekatkan Jovanka dan Panji, malah berujung kemarahan Panji padanya.
Nadin fikir Panji tidak akan tahu semua rencana yang dia susun bersama Jovanka, tapi nyatanya Panji mengetahuinya. Nadin melupakan sesuatu, dia lupa kalau Panji memang sangat jeli, dan mempunyai "banyak mata".
Nadin tidak menyangka Panji akan semarah ini, bahkan saat mobilnya ia lempar dengan batu, amarahnya tidak sebesar malam ini.
Aku nggak nyangka ko Panji bisa semarah itu? Maafkan saya ko Panji, saya tidak ada maksud apa-apa. Saya mungkin salah, tapi kenapa anda sampai memarahi saya dan terasa merendahkan saya seperti itu?.
Saya tahu anda memang banyak uang, dan saya miskin, tapi bukan berarti saya bisa dengan mudah menerima uang dari anda ataupun nona Jovanka.
Apa sebegitu bencinya anda sama perempuan? Apa anda fikir semua perempuan itu sama seperti mamanya Mikha?. Apapun itu, mulai sekarang aku tidak akan lagi mau berurusan dengan dia.
Lebih baik aku mengindari dia, darpada harus kena marah lagi. Aku akan mengumpulkan uang untuk membayar ongkos perbaikan mobilnya.
Aku tidak mau lagi bertemu dia atau melakukan apapun yang dia katakan, apalagi sampai datang ke rumahnya. Dialog Nadin dalam hatinya.
Panji sudah dikamarnya. Amarahnya belum juga reda. Dia sangat marah pada Jovanka, dan juga pada Nadin. Bukan, sebenarnya dia tidak marah pada Nadin, tapi lebih tepatnya kecewa.
Dia kecewa kenapa Nadin membantu Jovanka. Gadis yang akhir-akhir ini membuatnya merasakan sesuatu dalam hatinya, malah sengaja ingin mendekatkanya dengan gadis yang tidak dia sukai. Tapi apa salah Nadin disini? Apa Nadin tahu kalau Panji saat ini sudah mulai menyukainya, tidak bukan?.
Panji merenungkan semuanya. Ada perasaan menyesal dan bersalah dia rasakan, apalagi saat dia ingat mata Nadin yang berkaca-kaca.
Dia memaki dirinya sendiri yang tidak bisa mengendalikan emosinya.
Maafkan aku Nadin, aku tidak bermaksud kasar. Aku .....aku hanya....aahhh sial.
Malam ini, Panji dan Nadin tidak bisa tidur. Panji yang menyesal dan Nadin yang sakit hati, melewatkan malam minggu yang sangat panjang, menunggu pagi datang.
Tbc❤️
__ADS_1
Jangan lupa komen, vote dan like nya ya🤗