
Tak lama kemudian, mereka tiba dirumah Panji. Mereka semua turun dan masuk kedalam rumah, setelah bi Lasmi membukakan Pintu.
Bi Lasmi terlihat keheranan melihat Panji datang tidak hanya dengan Adam, tapi juga dengan Nadin dan seorang lelaki yang baru pertama dia lihat. Yang lebih membuatnya heran adalah majikannya itu menggandeng mesra tangan Nadin seperti sepasang kekasih yang saling jatuh cinta.
Nadin dan bi Lasmi saling menyapa. Nadin terlihat canggung, dan sedikit malu pada bi Lasmi. Bi Lasmi menduga-duga, mungkin saja selama ini Nadin pura-pura bekerja dirumah itu, padahal sebenarnya dia dan Panji adalah sepasang kekasih.
Atau mungkin juga, Nadin sudah menggoda Panji, tapi rasanya itu tidak mungkin. Ah sudahlah, bi Lasmi memilih tidak memikirkannya.
Dia pergi kedapur, bermaksud akan membuatkan minum untuk Panji dan yang lainya, tapi Panji melarangnya, karena mereka akan menikmati makanan dan minuman yang mereka bawa.
Mata Doni menjelajah seisi rumah Panji, yang sangat membuatnya terkagum-kagum. Ini pertama kalinya dia masuk ke dalam rumah Panji, dan dia sangat betah berada disana."Kapan ya ekeu punya rumania kaya gindang?." Gumamnya.
Nadin membuka cup berisi makanan yang dia beli.
"Apa ini?." Tanya Panji.
"Ini namanya cimol bonjot, cobain deh enak banget." Kata Nadin.
"Jadi tadi kamu bela-belain ngantri lama cuman buat beli ginian?." Tanya Panji.
"Emang kenapa?. Ini enak tau, nih cobain dulu."Kata Nadin.
"Enggak...nggak...nggak, aku gak mau."
"Kelihatanya enak tuh." Timpal Adam.
"Ini memang enak mas Adam. Mas Adam harus coba." Kata Nadin.
Adam mencoba memakan cimol itu, rasanya memang enak, asin, gurih dan pedas ditambah aroma daun jeruk menambah cita rasa dari cimol itu.
"Enaakk. Tapi huhh pedes banget" Kata Adam.
"Masih lebih pedes omongan tetangga sih kalau menurut saya." Sahut Nadin.
"Mas Adam tahu, sudah sejak lama saya ingin makan cimol ini berdua dengan kekasih saya, di taman saling suap-suapan, aahh romantisnya. Its my dream mas, its may dream.
Setelah mendengar perkataan Nadin, Panji akhirnya mau memakan cimol itu, karena Nadin menyuapinya. Ini pertama kalinya dia memakan cimol.
"Gimana?. Enak kan?."
"Lumayan. Dibilang enak enggak, dibilang gak enak juga enggak. Pantes aja harganya murah." Jawab Panji. "Jauh lebih enak bibir kamu, manis dan kenyal. Ini gak terlalu kenyal, dan pedes banget." Imbuh Panji.
Nadin terkekeh.
"Makanan mahal juga belum tentu enak. Tergantung selera. Selera orang kan beda-beda." Sahut Nadin.
__ADS_1
Acara makan cimol pun selesai. Panji membawa Nadin ke lantai atas.
"Awas lo Ji, entar ada setan lewat." Kata Adam.
"Gak mungkin lah, setannya juga lagi duduk di sini." Sahut Panji, seraya melangkahkan kaki menuju lantai atas bersama Nadin.
"Sialan lo, ngatain gue setan. Kalau dia, iya bener setan." Gumam Adam menunjuk Doni.
Panji dan Nadin duduk berdua di sofa yang ada di lantai atas. Selain saling melepaskan rindu, Panji tampaknya membicarakan sesuatu yang serius pada Nadin. Dia mengutarakan keinginannya yang ingin secepatnya menikahi Nadin.
Nadin tergugu, dia tidak bisa menjawab saat Panji bertanya apa dia sudah siap menikah dengannya. Jujur saja dia belum siap. Nadin memang mencintai Panji, tapi untuk menikah sepertinya ini terlalu cepat.
Nadin bertanya pada Panji kenapa dia ingin cepat-cepat menikahinya, padahal hubungan mereka baru berjalan beberapa bulan saja. Bagi Nadin menikah adalah keputusan besar yang benar-benar harus difikirkan dengan matang.
"Apa penting bagi kamu alasan kenapa aku ingin secepatnya menikahi kamu?." Tanya Panji.
"Hemm." Nadin mengangguk.
"Kalau kita menikah aku bisa bebas ngelakuin apapun sama kamu kan?. Kita bisa ketemu tiap hari, makan dan tidur bersama, juga bisa nyium kamu tiap hari bahkan lebih sari itu."Sahut Panji dengan senyum genitnya.
"Ohh jadi cuma karena itu?. Tanya Nadin.
Panji tersenyum, seraya menggenggam tangan Nadin.
"Gombaal." Sahut Nadin.
"Aku serius Nad. Aku benar-benar ingin menikah dengan kamu. Aku ingin kamu jadi istriku." Kata Panji meyakinkan Nadin.
Nadin juga sebenarnya yakin dan percaya kalau Panji benar-benar ingin menikahinya, tapi entah kenapa hatinya mengatakan kalau dia belum siap dan juga merasa takut. Banyak hal yang dia takutkan diantaranya restu keluarga Panji.
"Kamu mau kan Nad?." Tanya Panji.
"Iya, tapi tidak sekarang. Aku....aku belum siap. Aku takut." Jawab Nadin.
"Takut?. Apa yang kamu takutkan?."
"Banyak. Banyak hal yang harus difikirkan dan juga aku takutkan. Menikah itu bukan akhir dari suatu hubungan tapi awal dari hubungan itu sendiri. Menikah hanya sekali seumur hidup, apa koko yakin mau menghabiskan sisa hidup koko sama aku?.
Apa koko akan tetap mencintai aku kalau nanti wajah dan tubuhku berubah jelek setelah menikah?. Apa koko siap menerima kekurangan, atau sifat jelekku?." Pertanyaan yang diucapkan Nadin memang terdengar klasik, tapi memang itu yang saat ini mengganjal dalam hatinya.
"Apa cuma itu yang kamu takutkan Nad?."
"Masih ada."
"Apa?."
__ADS_1
"Restu orang tua dan keluarga besar ko Panji. Aku takut mereka semua tidak akan merestui hubungan kita. Bagaimanapun juga status sosial kita sangat jauh berbeda."
"Aku tidak suka kamu mengungkit hal itu Nad. Aku nggak peduli status sosial atau apapun itu." Panji menyela ucapan Nadin.
Panji terus meyakinkan Nadin. Nadin diam saja, karena percuma baginya menjelaskan panjang lebar, karena Panji juga tidak mau mendengarkan ataupun mengerti ketakutan yang dirasakannya.
Hatinya berkata, kalau keluarga Panji tidak akan merestui hubungan mereka, terutama bu Soraya. Entah ini hanya ketakutanya saja atau sebuah firasat.
Panji dan Adam mengantarkan Nadin dan Doni pulang. Tidak hanya mengantarkan, tapi Panji juga ingin menemui pak Samsudin untuk mengutarakan keinginanya melamar Nadin.
Nadin tersentak, saat mendengar ucapan Panji pada bapaknya itu. Dia tak menyangka Panji akan mengatakan semuanya hari itu juga. Tak hanya Nadin yang terkejut, tapi juga mak Ebah. Dia tak menyangka anak mantan majikannya ternyata mencintai cucunya.
Tak berbeda dengan Nadin, pak Samsudin juga menanyakan keseriusan Panji juga kecemasannya akan hubungan Panji dan Nadin, mengingat status sosial diantara mereka.
Tapi akhirnya Panji berhasil meyakinkan pak Samsudin dengan susah payah. Panji pamit, dan berjanji akan datang lagi melamar Nadin dengan resmi, setelah Nadin siap.
Sepeninggal Panji, pak Samsudin dan mak Ebah menanyai Nadin tentang hubungan dan kesiapannya untuk menikah, jawaban Nadin tetap sama, dia belum siap, dan pak Samsudin mengerti.
Dia tidak akan memaksa Nadin, atau menghalanginya, walau sebenarnya dalam hati, pak Samsudin juga tidak yakin dengan hubungan mereka. Dia merasakan ketakutan seperti yang dirasakan anaknya, tentang restu kedua orang tua Panji.
...
Sejak malam itu, Panji sering datang kerumah Nadin. Dan lambat laun, hubungannya dengan Panji diketahui oleh orang-orang disekitar tempat tinggal Nadin. Mereka kembali bergosip, walau kali ini gosip yang beredar bukan gosip miring seperti waktu itu.
Kabar yang berhembus menyebutkan kalau Nadin adalah gadis yang sangat beruntung, karena berpacaran dengan seorang pria kaya raya dan juga sangat tampan, bukan om-om seperti gosip yang beredar sebelumnya. Ini kenyataanya, karena mereka memang sering melihat bahkan berpapasan dengan Panji.
Kabar tentang Nadin yang berpacaran degan seorang pria tampan juga sudah sampai ke telinga Irma, membuat telinga dan hatinya terasa panas. Tapi Irma juga penasaran ingin tahu siapa pacar Nadin yang katanya tampan dan juga kaya.
Apa mungkin laki-laki yang pernah aku lihat waktu itu?. Tanya Irma dalam hatinya, saat dia mengingat pernah berpapasan dengan Panji, tapi dia tidak tahu kalau lelaki itu adalah Panji.
....
Hampir tiga bulan lamanya, Panji terus berusaha meyakinkan Nadin, hingga akhirnya hatinya luluh dan dia mengatakan siap menikah dengan Panji. Panji sangat bahagia mendengarnya.
Dia memeluk dan mencium kening Nadin seraya mengucapkan terima kasih, membuat Nadin ikut terharu dan bahagia melihat kebahagian kekasihnya, Panji.
Panji yang dingin, berubah hangat bahkan lebih hangat dari sinar matahari pagi, dan semua itu karena dirinya, karena cintanya.
.
.
TBC🍀🍀☘️
Jangan lupa like, komen, vote dan favoritnya ya🤗
__ADS_1