Panji & Nadin

Panji & Nadin
Jalani saja.


__ADS_3

Nadin dan Doni sudah selesai makan, tapi mereka belum berniat meninggalkan kafe itu. Walau pengunjung lain sudah banyak yang meningalkan kafe, berganti dengan pengunjung yang datang.


Nadin dan Doni saling bertukar cerita, karena mungkin mereka tidak akan sering pergi bersama, kalau nanti Panji sudah kembali.


"Oke selamat malam semuanya!! Terima kasih buat semua yang sudah hadir di sini. Selamat menikmati hidangan makan malam di kafe kami.


Dan barangkali ada diantara para tamu sekalian yang ingin bergabung bersama kami, menyumbangkan suara emasnya, saya tunggu dengan senang hati. Kita nyanyi bareng disini." Kata seorang penyanyi yang mengisi acara di kafe itu.


"Beb tuh denger kan?. Kita sing a song yuk." Ajak Doni.


"Enggak ah, malu."


"Cuek aja. Capcus..." Doni menarik tangan Nadin membawanya menghampiri podium tempat penyanyi dan pemusik berada. Setelah mengatakan kalau dia dan Nadin ingin menyumbangkan suara peraknya, penyanyi itu mempersilahkan mereka berdua bernyanyi.


Para pengunjung kafe acuh tak acuh, saat mereka mendengar ada pengunjung lain yang akan menyanyi. Walau ada beberapa pasang mata yang tertarik melihat gadis cantik tengah berdiri di dekat podium, tapi mereka ragu apa benar gadis itu bisa bernyanyi, apalagi melihat Doni.


Musik mulai mengalun, Nadin mulai menyanyikan sebuah lagu yang sangat dia sukai. Suara Nadin ternyata sangat merdu saat bernyanyi. Sontak hampir semua pengunjung menoleh ke arahnya, dan hanya dengan sekejap mata, dia menjadi pusat perhatian para pengunjung.


Tidak hanya saat bernyanyi, bahkan saat dia turun dari podium dan kembali ke mejanya. Mereka menatap kagum padanya, selain cantik ternyata suaranya juga bagus.


Merasa risih karena banyak yang memperhatikannya, Nadin mengajak Doni meninggalkan kafe, lagipula mereka sudah lama berada disana.


Baru saja keluar dari kafe, Nadin merasakan sesuatu yang bergetar dari tasnya. Ada yang menghubunginya, dan dia adalah Panji, laki-laki yang sudah sangat dia rindukan.


"Hallo!!


"Hallo my sunshine!!. Kenapa lama sekali ngangkat telponya?.Gak tau apa aku udah kangen banget."


"Maaf, tadi..."


"Kamu lagi dimana?."


"Di kafe. Baru selesai makan."


"Kafe mana?. Sama siapa?."


"Kafe xxxxx. Sama Doni."


"Kalau gitu cepet pulang, jangan kelayapan. Setengah jam lagi aku telfon kamu. Kamu harus udah nyampe rumah. Oke."


tut...tut...tut... Panji memutuskan sambungan telfonya.


Nadin berdecak kesal.


Dia sebenernya pacar atau wartawan sih?.


"Sapose beb?." Tanya Doni.

__ADS_1


"Siapa lagi." Jawab Nadin.


"Si Koko ya?."


"Emberr."


"Deseu bilang apa?."


"Nyuruh aku cepet pulang. Kayak udah jadi suami aja."


"Posesif juga ya deseu. Itu artinya deseu bener-bener cinta sama iyey beb. Ya udah cus kita piur." Ajak Doni.


Saat Doni menstater motornya, seseorang menepuk pundak Nadin dan memanggil namanya.


Nadin menoleh ke belakang, kearah orang yang menepuk pundaknya tadi. Dia terkejut melihat orang itu.


"Kak Bily!!."


"Apa kabar Nadin?.."


"Baik kak."


"Akhirnya kita ketemu. Aku sangat merindukanmu Nadin." Ujar Bily


"Maaf kak, saya harus pulang." Sahut Nadin, seraya menghampiri Dony


"Tunggu." Bily mecekal tangan Nadin.


"Tidak, aku tidak akan melepaskanmu. Kita harus bicara."


"Tidak ada lagi yang harus kita bicarakan kak. Sekarang lepaskan saya. Atau saya akan teriak." Ancam Nadin.


"Teriak saja. Aku gak peduli. Aku tidak akan pernah melepaskan kamu, sebelum kita bicara."


"Baiklah, lima menit jadi cepat katakan apa yang mau ka Bily katakan dan lepaskan tangan kak Bily." Kata Nadin.


"Tinggalkan Panji!! Kamu jangan pernah berhubungan dengan dia."


"Apa maksud kak Bily?."


"Kamu gak usah pura-pura Nad, aku tahu kamu berhubungan dengan dia. Tinggalin dia, dia tidak benar-benar mencintai kamu. Dia hanya akan mempermainkan kamu."


Apa? Darimana dia bisa tahu aku dan ko Panji berhubungan?."


"Percaya sama aku Nad, dia tidak mencintai kamu. Tidak ada yang mencintai kamu seperti aku."


"Terimakasih karena kak Bily sudah mempedulikan saya. Kakak gak perlu khawatir, saya bisa jaga diri. Kalaupun benar apa yang dikatakan kak Bily tentang ko Panji, itu bukan urusan kakak. Kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Kakak jangan ikut campur urusan saya."

__ADS_1


"Mengertilah Nadin, aku tidak bermaksud ikut campur. Aku hanya peduli sama kamu. Aku masih cinta sama kamu."


"Sudahlah kak. Apa kakak lupa kakak itu pacar non Prisa?. Jadi jangan pernah deketin aku lagi."


"Kamu harus tahu Nad, aku tidak pernah mencintai Prisa. Dan Prisa juga tidak mencintaiku. Dia mencintai pria lain. Kami hanya korban perjodohan orang tua kami.


Mamaku dan tante Soraya berteman baik. Mereka menjodohkan kami dari kecil. Tapi aku dan Prisa tidak saling mencintai. Prisa tahu aku mencintai kamu, dia mendukung aku untuk mendapatkan cintaku kembali."


Apaaahh?. Mana mungkin.


"Apa kak Bily fikir saya percaya?. Sekalipun itu benar, saya nggak peduli. Maaf kak, tapi saya harus mengatakannya, saya mencintai ko Panji, dan cinta saya untuk kak Bily sudah mati. Jadi kakak jangan pernah dekettin saya lagi."


"Hehh aku gak percaya."


"Terserah kak Bily. Sudah lima menit. Saya permisi." ujar Nadin, sembari melangkahkan kaki menghampiri Doni.


"Dengar Nadin, sekalipun benar kamu mencintai Panji, aku yakin dia hanya akan membuat kamu kecewa. Kamu tahu kalau Panji juga sudah dijodohkan dengan gadis lain?."


"Saya tahu itu kak."


"Kalau gitu sebaiknya kamu tinggalkan dia, sebelum dia mengecewakan kamu."


"Terima kasih sarannya." Kata Nadin lalu benar-benar pergi meninggalkan Bily.


"Gilda beb. Iyey punya apose sih? Sampe didekettin lekong cakra birawa dan tajir melintir macam ko Panji dan kak Bily?. Bahkan si Feri yang terkenal f*ck boy ajijah, ampe tergilda-gilda samsara iyey."


(Gila beb. Kamu punya apa sih? Sampe di deketin lelaki cakep dan tajir melintir kaya ko Panji dan kak Bily? Bahkan si Andre yang terkenal fuckboy aja, ampe tergila- gila sama kamu.)


Nadin memaksakan senyumnya, mendengar pertanyaan Doni. Dia tidak menjawab karena memang tidak mendengar dengan jelas apa yang dikatakan Doni.


Selain karena suara Doni terbawa angin, dan juga suara knalpot motornya yang bising, Nadin juga memikirkan apa yang dikatakan Bily tentang Panji.


Walau Nadin tidak mau mempedulikan ucapan Bily, tapi dia juga tidak menyangkal apa yang dikatakan Bily memang benar.


Mencintai Panji hanya akan membuatnya kecewa. Panji ibaratkan bintang dilangit, dan dia tidak akan mungkin bisa menggapai bintang dilangit bermodalkan gayung.


Nadin sadar siapa dirinya dan siapa Panji. Mereka berdua tidak akan mungkin bisa bersatu, perbedaan diantara mereka terlalu jauh. Nadin tidak mau terluka seperti dulu saat dia menjalin hubungan dengan Bily. Tapi kini dia terlanjur mencintai Panji.


Walau begitu, Nadin bertekad tidak akan tenggelam terlalu dalam lautan cinta bersama Panji. Dia harus mempersiapkan diri dan mentalnya, kalau suatu saat hubungannya dengan Panji berakhir seperti hubungannya dengan Bily dulu. Itulah yang difikirkannya.


Jalani saja Nad. Kamu gak usah fikirin apa yang akan terjadi nantinya. Apa yang akan terjadi biarkan saja terjadi. Kamu ikutin saja alurnya. Buat apa mencemaskan sesuatu yang belum tentu terjadi. Nikmati saja hari ini. Tidak ada seorang pun yang tahu apa yang akan terjadi pada kita esok atau yang lusa.


Batin Nadin.


Sepanjang perjalanan ponselnya terus bergetar. Panji menghubunginya dari tadi, tapi Nadin tidak mengangkatnya. Dia takut Panji marah, kalau tahu dirinya belum sampai rumah. Nadin akan menelponnya begitu dia sampai.


.

__ADS_1


.


TBC☘️


__ADS_2