Panji & Nadin

Panji & Nadin
Mati Aku!!


__ADS_3

Panji dan Adam keluar melewati lawang kecil diantara pagar seng yang menjadi penyekat, antara proyek dengan jalan yang menuju warkop itu. Lawang kecil itu memang sengaja dibuat oleh para pekerja proyek, untuk memudahkan mereka membeli kopi, atau mie rebus di warkop mak Ebah.


Adam dan Panji duduk, dan memesan dua cangkir kopi jahe, kepada seorang anak remaja laki-laki, yang Adam yakin anak itu adalah adik Nadin. Sedangkan mak Ebah, sedang menggoreng bakwan dan teman-temanya.


"Lan, kamu bawa gorengan ini ke rumah, berikan sama kakak kamu. Dan bilang sama dia, malam ini nggak usah bantuin nenek, suruh dia istirahat saja."


"Iya nek." Jawab Hirlan, lalu dia pergi menuju rumahnya.


Mak Ebah lalu menyajikan bakwan, tahu isi, juga tempe mendoan yang masih panas, beserta cabe rawitnya.


"Gorengannya den, mumpung masih panas."Tawar mak Ebah kepada Panji dan Adam.


"Iya mak, tentu." Sahut Adam.


Panji menatap wajah mak Ebah, lekat. Dia merasa tidak asing dengan wajahnya. Sampai akhirnya Panji ingat, kalau mak Ebah adalah tukang masak dirumahnya dulu, sebelum digantikan oleh bi Sum.


Berarti si Nagin itu, cucunya mak Ebah? Dan bi Sum adalah anak mak Ebah?. Kata Panji dalam hatinya.


Selama ini, Panji memang tidak mengetahui kalau bi Sum adalah anak mak Ebah. Saat mak Ebah berhenti, dia tidak tahu kalau yang menggantikan mak Ebah adalah anaknya sendiri. Hanya keluarganya yang tahu semua itu, karena memang Panji, tidak terlalu peduli apapun yang terjadi dirumah pak Bahtiar waktu itu. Panji hanya tahu, kalau Nadin adalah keponakan bi Sum.


Panji ingin menyapa mak Ebah, tapi dia tidak melakukannya. Dia yakin mak Ebah tidak mengenalinya. Dan menurut Panji, kalau dia menyapanya, pasti dia akan menceritakannya pada Nadin.


Panji memborong semua gorengan mak Ebah, dan memberikan gorengan itu kepada semua pekerja proyek.Mak Ebah sangat senang, begitupun dengan pekerja proyek.


Dan yang lebih senang disini, adalah Panji sendiri. Dia merasa jauh lebih senang setelah melakukan hal kecil itu. Dia senang melihat wajah bahagia mak Ebah, saat dia memborong gorengan juga kopinya.


Panji senang, melihat wajah bahagia para pekerja proyek, saat dia membawakan gorengan dan kopi untuk mereka. Panji tidak menyangka, hal sederhana yang dia lakukan, membuatnya merasa bahagia. Sekarang Panji mengerti arti dari kalimat, "Karena memberi kebahagian, adalah kebahagian", karena dia sudah merasakanya.


...


Di mobil Panji.


Adam tidak mengerti apa yang terjadi pada Panji hari ini. Tapi jujur saja, Adam merasa sangat senang melihat sikapnya tadi. Mungkin saja dia sudah kembali menjadi Panji yang dulu, fikir Adam.


"Lo kenapa nggak ngasih tau gue, kalau pemilik warkop itu, tukang masak dirumah gue, Dam.


"Apa maksud lo Ji?."

__ADS_1


"Lo tau Dam, kalau mak Ebah itu dulunya kerja dirumah gue. Dulu dia juga tukang masak, sama kayak bi Sum."


"Serius lo?. Sori gue nggak tahu. Anak buah gue, nggak bilang. Pantesan aja Nadin pinter masak, ternyata emang keluarganya semua tukang masak." Sahut Adam.


"Ngomong-ngomong, lo masih tega minta ganti rugi sama Nadin Ji?." Tanya Adam.


"Gue udah bilang, gue cuman mau ngasih dia pelajaran, biar dia nggak bersikap seenaknya."


***


Tiga Hari kemudian.


Hari minggu ini, Nadin bisa sedikit bersantai, karena tidak harus pergi bekerja ke rumah Panji. Hari ini dia akan pergi nge-mall bersama sahabat sejatinya, Doni.


Nadin sudah berada dirumah Doni, dia menjadi kelinci percobaan Doni, yang sedang sibuk mewarnai rambut Nadin, dan juga mengaplikasikan sedikit make up tipis ke wajah cantik Nadin.


Dan ternyata hasilnya sangat memuaskan, Nadin sangat menyukainya. Selain pintar menjahit, dan mendesain pakaian, Doni memang sangat berbakat, merias wajah, ataupun menata rambut.


Mereka lalu berangkat. Di jalan gang, mereka berpapasan dengan Irma, yang sepertinya dia juga akan pergi. Irma menatap sedikit sinis, melihat penampilan Nadin saat itu, tapi Nadin tidak terlalu mempedulikanya, dia tetap menyapa saudara sepupunya itu, walau Irma membalas sapaanya dengan ketus.


Mau pergi kemana mereka? Dan kenapa penampilan si Nadin beda dari biasanya?.Jangan-jangan dia sekarang jadi simpenan om-om lagi. Batin Irma.


Saat ini, Doni dan Nadin sedang berada disebuah toko baju branded, karena Doni ingin membeli sweater yang sudah lama diimpikannya. Nadin ikut memilihkan sweater yang cocok untuk Doni. Mata Nadin membulat, saat dia melihat bandrol harga yang tertera di sweater itu.


Mereka berdua sudah selesai, dan kini Doni sedang membayar belanjaannya dikasir. Sedangkan Nadin menunggunya tidak jauh dari meja kasir.


Di toko yang sama, Panji dan Adam juga sedang memilih baju. Tanpa sengaja, Adam melihat sosok gadis cantik beridiri didekat meja kasir, sedang asyik dengan hp nya.


Dia terus memandangi gadis itu, karena menurutnya, gadis itu membuat matanya betah memandang kecantikanya. Namun, lama-lama, Adam akhirnya menyadari, kalau gadis cantik itu ternyata adalah Nadin.


Adam mengucek-ngucek matanya, untuk memastikan penglihatannya. Dia belum benar-benar yakin, kalau gadis yang dia lihat benar-benar Nadin.


"Lo kenapa?." Tanya Panji, yang merasa aneh melihat kelakuan Adam.


"Ji, itu Nadin kan?."


"Mana?."

__ADS_1


"Itu." Adam menunjuk ke arah Nadin, yang kini sudah melangkah pergi bersama Doni, menuju pintu keluar.


"Itu beneran dia kan?. Sama siapa dia, cowoknya kah." Tanya Adam penasaran.


Ohh jadi urusan penting yang dia maksud itu, ini. Dia mau pergi sama cowoknya. Batin Panji.


"Ikut gue." Titah Panji, lalu mereka mengikuti Nadin dan Doni. Panji dan Adam berfikiran sama, kalau laki-laki yang bersama Nadin, itu adalah pacarnya. Apalagi mereka begitu akrab, dan sekilas Panji bisa mendengar, mereka berdua saling memanggil "beb" satu sama lain.


"Dam." Panggil Panji, dan Adam langsung mengerti.


"Nadin." Adam memanggil Nadin, tapi Nadin, tidak mendengarnya. Adam berulang kali memanggil Nadin, dan kali ini Doni mendengarnya.


"Ada yang manggil nama kamu beb." Kata Doni.


"Masa sih? Kok aku nggak denger." Sahut Nadin.


"Nadin...Nadin."


"Tuh..kan."


Nadin menolehkan kepalanya ke belakang, mencari sumber suara. Deggg....Dia sangat terkejut, saat melihat Adam dan Panji ada dua atau tiga meter di belakanganya.


Aduuh gawat!! Kenapa aku harus ketemu dua sejolang itu disini?. Mati aku. Ketauan deh, kalau aku bohong. Duuh pasti nanti ko Panji ngehukum aku kalau gini. Aku harus pura-pura nggak lihat mereka.


Nadin segera mengalihkan pandanganya ke arah lain, seolah-olah dia tidak melihat Adam dan Panji.


"Mana ah, nggak ada. Salah denger kali. Mending kita naik ke lantai selanjutnya yuk. Ada diskon gede-gedean lo katanya disana."Ajak Nadin, sembari menarik Doni. Tapi Nadin terlambat, karena Adam dan Panji sudah semakin dekat dengan mereka. Sekali lagi, Adam memanggil namanya, dan kali ini, Nadin tidak bisa mengelak, karena Doni menyahuti panggilan Adam.


Mati aku.


"Nadin, ini beneran kamu? Kamu cantik sekali, aku kira tadi kamu manekin hidup." Ujar Adam.


"Hehehe." Nadin nyengir kuda, mendengar ucapan Adam.


Panji menatap Nadin dari atas sampai bawah, membuat Nadin semakin salah tingkah. Nadin yakin, Panji pasti marah kepadanya.


Kenapa hari ini dia terlihat cantik?. Kata Panji dalam hatinya.

__ADS_1


"Jadi ini urusan penting yang kamu maksud itu, Nagin?." Tanya Panji, sambil menatapnya dan Doni bergantian.


Tbc🌻


__ADS_2