
Malam ini Panji dan Nadin kembali saling berkirim pesan, walau Nadin tidak se-antusias biasanya. Nadin juga tidak menceritakan kalau dia dipecat dari konveksi, karena dia takut Panji akan bertengkar dengan pak Bahtiar dan bu Soraya. Dia putuskan tidak akan mengatakan apapun. Kalaupun nanti Panji tahu, dia akan mengatakan kalau dirinya mengundurkan diri.
Nadin lupa kalau mata Panji selalu mengawasi dirinya. Hingga tak butuh lama bagi Panji untuk mengetahui kabar itu. Kabar tentang dirinya sudah tidak lagi bekerja dikonveksi.
Pantas saja semalam dia sangat berbeda.
Panji bisa merasakan sikap Nadin yang beda dari biasanya saat mereka berkirim pesan. Bahkan Nadin menolak panggilan suara ataupun panggilan video dari Panji. Kini dia tahu alasan kenapa Nadin tidak seceria biasanya tadi malam.
Saat Panji bertanya, Nadin beralasan kalau dia sudah jenuh bekerja dikonveksi dan ingin mencari pekerjaan baru.
"Kalau gitu udah, kamu gak usah kerja lagi. Sebentar lagi kita akan menikah, aku mau kamu dirumah aja." Kata Panji.
"Tapi kan..."
"Tidak ada tapi-tapi. Apa kamu lupa kalau aku tidak suka dibantah?."
"Tapi kan sekarang udah gak jaman dirumah aja. Covid nya udah gak ada."
"Ehhh...kamu makin pinter ngejawab aja. Aku samperin ke rumah kamu sekarang juga."
"Samperin sini kalo berani. Udah dulu ya, bentar lagi jam istirahat. Aku mau bantu nenek di warung. Selamat siang dan jangan lupa sholat dzuhur."
"Kamu nggak ngingettin aku makan siang?."
"Enggak usah diingetin kalau urusan makan mah, pasti inget sendiri."
"Tapi aku mau kamu ingetin aku."
"Hemm...iya deh, jangan lupa makan siang ya sayang. Udah ya."
"Kok kayak nggak ikhlas gitu ngomong sayangnya."
"Aduuh udah jangan drama."
"Ehh jangan ditutup dulu, sun nya mana?."
"Jangan macem-macem deh, disini ada nenek. Udah ya nanti sambung lagi. Selamat makan siang sayang."Pungkas Nadin. Dan percakapan pun berakhir.
Senyuman selalu mengambang dibibir keduanya, setelah percakapan atau chat mereka berakhir.
__ADS_1
Selang beberapa detik kemudian, ada lima pesan masuk sekaligus di hp Nadin, yang dia kira itu dari Panji, namun ternyata bukan. Pesan itu dari nomor baru yang tidak ada dikontaknya.
Nadin segera membuka dan membacanya. Dia tersentak saat membaca isi pesan yang berisikan sebuah peringatan atau ancaman untuknya yang dia yakin pengirimnya adalah bu Soraya. Karena disana disebutkan dia bisa melakukan hal yang lebih dari sekedar mengeluarkan dia dari konveksi, kalau Nadin masih saja menemui dan tidak menjauhi Panji.
Dia menarik nafas panjang, mencoba menenangkan hatinya yang mulai merasa gelisah.
Nadin berusaha tidak memikirkan isi pesan itu, dengan menyibukkan diri membantu mak Ebah, melayani para pekerja yang makan siang di warung sederhana milik neneknya sampai jam istirahat habis.
Mereka semua kembali bekerja, kecuali dua orang laki-laki yang masih duduk disana menikmati kopi hitam yang baru saja dibuatkan oleh Nadin. Nadin dan mak Ebah baru pertama kali melihat kedua lelaki itu.
Lelaki berperawakan tinggi besar, memakai celana, jaket juga kacamata hitam itu terlihat berwajah sangar, layaknya seorang depkolektor. Nadin semakin gelisah dan takut melihat kedua orang itu.
"Abang bukan orang sini ya?." Nadin memberanikan diri bertanya kepada dua lelaki itu.
"Kenapa?. Apa kami mengganggu?." Salah satu dari mereka balik bertanya.
"Ohh...ti-ti-tidaakk bang. Bukan begitu. Soalnya saya gak pernah lihat abang sebelumnya. Saya baru pertama kali lihat abang, hehe." Sahut Nadin dengan senyum yang dipaksakan. Padahal dalam hatinya dia ketakutan, dan terus saja mengumpati dirinya sendiri yang berani bertanya pada kedua lelaki itu yang mungkin saja mereka tersinggung dan marah.
"Kami memang baru pertama kali ngopi diwarung ini. Tapi kami sering datang kesini."
"Ohh gitu. Abang punya saudara disini?."
"Kami kerja disini."
Kedua lelaki itu langsung meninggalkan warung mak Ebah setelah sebelumnya membayar kopinya. Warung pun sepi sekarang. Nadin membereskan piring dan gelas kotor, lalu mencuci dan menyimpanya lagi ke tempat semula.
Dia baru saja menyelesaikan pekerjanya saat seorang wanita cantik datang kesana menariknya ke luar dari dalam warung dengan tiba-tiba, membuat Nadin dan mak Ebah sangat terkejut. Apalagi setelah tahu kalau orang yang menariknya itu ternyata Jovanka.
Nadin berusaha melepaskan dirinya dari cengkraman Jovanka yang terus saja berteriak mengumpat dan menghinanya habis-habissan.
"Dasar lu wanita miskin tak tahu malu, berani-beraninya elu godain Panji dan bohong ama gue. Dasar rubah betina, munafik lo. Gue gak akan lepasin lo gitu aja. Gue gak akan biarin lo dapettin Panji." Sarkas Jovanka, tanpa melepaskan tanganya dari rambut Nadin.
"Tolong lepaskan cucu saya nona. Apa yang nona lakukan?.Nona menyakiti cucu saya." Kata mak Ebah dengan wajah panik melihat cucunya kesakitan akibat ulah Jovanka.
"Diam. Ibu nggak usah ikut campur. Ini urusan saya dengan dia."
Nadin tidak tinggal diam. Dia terus berusaha melepaskan cengkraman tangan Jovanka dirambutnya, hingga akhirnya dia berhasil. Tapi Jovanka kembali menariknya lagi dan kali ini bahkan lebih kuat, membuat Nadin semakin meringis kesakitan.
Mak Ebah berteriak minta tolong, namun sayangnya saat itu sangat sepi. Tidak ada satupun orang yang mendengar teriakannya. Selain karena suara mak Ebah tidak terlalu kencang, suara bising dari proyek pembangunan mall seolah meredam suara mak Ebah.
__ADS_1
Jovanka sepertinya belum puas menumpahkan amarahnya pada Nadin, setelah dia tahu semuanya dari bu Soraya. Dia sangat marah, dan benci pada Nadin, dan nekat mendatanginya siang itu. Entah dia tahu dari mana alamat Nadin.
Mak Ebah hanya menangis melihat cucunya diperlakukan seperti itu.
"Lo fikir lo cantik? Lo fikir lo pantes dapettin Panji hehh?. Jangan mimpi deh lo. Lo tuh gak pantes, gue yang pantes." Cerca Jovanka lalu mendorong tubuh Nadin sekuat tenaganya, hingga dahi dan pipinya membentur sudut bangku kayu di depan warung mak Ebah, membuat dahi dan pipi Nadin memar dan lecet. Nadin kembali meringis kesakitan, tapi sepertinya Jovanka masih juga belum puas.
Dia kembali menarik rambut Nadin dan menghinanya lagi.
"Bahkan lo gak bisa ngelawan gue. Gue peringatin sama lo, tinggalin Panji, atau gue nggak segan-segan bikin cacat wajah lo, yang sok cantik ini. Atau lo mau, gue bikin nenek-nenek itu menderita disisa hidupnya."
"Tidak....tidak nona Jovanka, jangan lakukan itu saya mohon."
"Kalo gitu jauhi Panji, kalo lo masih sayang sama keluarga lo." Ancam Jovanka seraya menarik rambut Nadin lebih kuat, membuat Nadin kembali merasakan sakit.
"Lepaskan dia." Ucap seorang lelaki sembari mendorong Jovanka dengan kasar. Suara berat dan tegas itu membuat Jovanka dan Nadin terkesiap.
Ada dua orang laki-laki bertubuh tinggi besar dihadapan mereka. Lelaki yang sama yang tadi membeli kopi di warung mak Ebah.
"Siapa kalian?. Berani-beraninya kurang ajar dan ikut campur urusanku."
"Anda yang sudah berani kurang ajar dan menyakiti nona itu. Jangan salahkan kalau setelah ini, anda akan mendapatkan masalah besar."
"Kalian ngancem aku?. Hehh, kalian fikir kalian siapa?. Aku gak takut sama ancaman kalian."
"Kami tidak peduli anda takut atau tidak. Yang jelas kami sudah memperingatkan anda nona. Sekarang sebaiknya nona pergi sekarang juga, sebelum kami berbuat kasar."
"Siapa elo?. Berani-beraninya ngusir aku."
"Baik kalau itu mau anda Nona." Kata salah satu lelaki itu, lalu menarik paksa Jovanka menjauh dari sana. "Lepaskan aku brengsek." Makinya
"Sekarang pergi darisini, sebelum gue berbuat lebih dari ini. Dan jangan lo berani macam-macam sama gadis itu, kalau lo tidak mau ada dalam masalah. Atau mungkin saja lo sudah berada dalam masalah." Ujar lelaki berbadan tegap itu, lalu meninggalkan Jovanka.
"Apa maksud lo brengsek?." Teriak Jovanka, yang tak dihiraukan oleh lelaki itu.
"Siapa sebenarnya mereka?. Kenapa dia membela gadis miskin itu?. Apa mungkin mereka saudaranya si Nadin?." Gumam Jovanka.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung.......