
Hari minggu pukul setengah tiga sore, Panji mengajak Mikha pergi, dan Nadin tentu saja ikut, karena memang sebenarnya yang ingin Panji ajak pergi adalah Nadin, kali ini mereka pergi bersama Adam.
Panji duduk didepan, di samping Adam. Nadin dan Mikha di jok belakang. Namun baru beberapa meter mobil melaju, Panji pindah ke jok belakang, bertukar posisi dengan Nadin dan Mikha, lalu mereka pergi menuju sebuah butik terkenal.
Setelah sampai dibutik, Panji memilih beberapa dress untuk Nadin, dan meminta Nadin mencobanya. Sedangkan Adam membawa Mikha ke sebuah wahana permainan anak-anak, yang tidak jauh dari butik itu.
"Kenapa saya harus mencoba semua baju ini ko?. Jangan bilang ko Panji mau ngreditin baju ini ke saya. Saya nggak mau. Hutang ganti rugi mobil saja belum lunas." Ujar Nadin.
Panji tidak menghiraukan semua ucapan Nadin. Dia meminta pelayan butik, membantu Nadin mencoba baju yang sudah dia pilihkan.
Nadin tetap menolak, tapi melihat tatapan mata elang Panji padanya, jiwa berontaknya menciut.
Satu persatu Nadin mencoba baju itu, lalu keluar dari kamar ganti, karena Panji harus melihatnya. Ketiga baju yang Panji pilihkan, sangat pas dan cocok dibadan Nadin.
Panji merasa kebingungan menjatuhkan pilihan, dress mana yang paling cocok menurutnya. Tak lupa dia juga memilihkan heels senada dengan dress pilihannya.
Dan akhirnya, pilihan Panji jatuh pada dress berwarna putih, lengan panjang model sabrina, karena menurutnya baju itu yang paling dia sukai.
Pelayan butik mengemas baju itu se-rapi dan secantik mungkin, agar pembelinya tidak kecewa, atau marah-marah. Mereka sudah tahu, bagaimana dan seperti apa karakter seorang Panji Dwitya Prasydia Bahtiar, yang sangat perfeksionis dalam hal apapun. Setidaknya itulah penilaian kebanyakan orang tentang Panji.
"Sebenarnya baju ini buat siapa sih ko?. Buat pacar ko Panji ya?." Tanya Nadin.
"Hemm."
"Emang ko Panji punya pacar?." Tanya Nadin.
"Punya." Jawab Panji.
"Kalau gitu, kenapa ko Panji menyuruh saya mencoba baju itu? Emang pacar ko Panji gak akan marah?."
"Gak akan ada yang berani marah padaku"
S**ombongnya.
Mereka berdua kini duduk menunggu kedatangan Adam dan Mikha. Sesekali Nadin mencuri pandang ke arah Panji. Dia sangat penasaran apa benar kalau Panji punya pacar, atau dia hanya asal bicara.
Karena selama Nadin bekerja dirumah Panji, dia tidak pernah melihat Panji bersama, ataupun berbicara mesra dengan seorang gadis.
Nadin juga masih ingat omongan suster Wati tentang Panji, yang katanya tidak pernah pacaran lagi, sejak berakhirnya hubungan cintanya dengan ibu kandung Mikha.
"Kamu gak usah ngeliatin aku terus, kalau kamu tidak mau jatuh cinta sama aku." Ucap Panji.
"Idihhh...siapa juga yang ngeliatin ko Panji?.Pede amat sih. Lagian saya gak mungkin jatuh cinta sama ko Panji. Ko Panji mungkin yang jatuh cinta sama saya." Sahut Nadin, yang hanya dibalas kerlingan dan senyum miring Panji.
"Ngomong-ngomong, siapa sih pacar ko Panji? Apa perempuan cantik yang waktu itu datang kerumah?."
"Bukan urusan kamu." Ketus Panji.
"Bebbb!!! Suara seseorang mengejutkan Nadin dan Panji. Suara yang tidak asing ditelinga Nadin, suara itu, suara sahabat karibnya, Doni yang kebetulan kerja di butik itu.
__ADS_1
"Doni." Sahut Nadin. Mereka bercipika-cipika ria, lalu Doni menyapa Panji dengan ramah.
"Ya ampyunn ekeu seneng benggeus deh ketumber iyey di sindang." Ucapnya kegirangan. Hay ko Panji!! Apa kabar? Makin bening aja deh, kayak kristal." Sapa Doni pada Panji.
"By the way, anyway bus way, Iyey lagi ngapain di sindan?. Jengong ngemi, kalau diana mawar ketumbar samsara ekeu." Tanya Doni, sambil tertawa kecil.
"Ember beb, deseu mewong ketumbar samsara iyey." Sahut Nadin.
Nadin dan Doni mengobrol dengan bahasa yang sama sekali tidak bisa Panji mengerti, walau begitu Panji tahu, mereka sedang membicarakanya. Apalagi Doni selalu menatap ke arahnya.
Panji membalas tatapan Doni, dengan ekspresi tidak suka. Alisnya mengernyit dan dahinya mengerut, matanya nyalang melihat sikap dan tingkah Doni, yang terus overacting dihadapanya.
Adam sialan, dimana dia? Kenapa lama sekali?.
Maki Panji dalam hatinya.
Tin....tiiinn....Suara klakson mobil yang Adam bunyikan, membuat Panji segera beranjak pergi keluar dari butik. Nadin berpamitan pada Doni, lalu dia menyusul Panji keluar, lalu masuk ke mobil dan pergi dari sana.
"Lama amat sih lo Dam." Cicit Panji.
"Hehe...sori bosku." Sahut Adam.
"Sori...sori. Lo tau Dam, gara-gara lo telat, gue terpaksa harus dengerin obrolan dia dan siluman belut yang gak penting itu." Celetuk Panji.
"Siluman belut?." Tanya Adam heran.
Siluman belut? Siapa maksudnya?. Tanya Nadin dalam hati.
"Kayak gitu gimana maksud ko Panji?."
"Kayak temen kamu yang barusan itu."
"Maksud ko Panji, Doni?."
"Iya dia."
"Jadi maksud lo siluman belut itu dia, Ji?. Emang ngapain dia disana, tadi?. Timpal Adam.
"Dia bukan siluman belut, enak aja. Sembarangan ngatain orang." Ucap Nadin kesal.
"Hahhaha....siluman belut, licin dong chyinnnt..." Sahut Adam, sambil terkekeh.
"Siluman ular temennya emang siluman belut, cocok." Ucap Panji.
"Mending Doni lah licin juga baik, daripada dia, siluman panci, udah kaku, dingin tapi gampang panas." Gumam Nadin.
"Ngomong apa kamu?." Tanya Panji.
"Enggak, sudah lewat." Sahut Nadin.
__ADS_1
Adam tertawa, Nadin meliriknya dengan wajah kesal, tak terima dengan ucapan Panji, dan tawa Adam yang menurutnya sudah menghina sahabat baiknya.
"Kak Nadin." Panggil Mikha.
"Eh..iya sayang." Sahut Nadin, lalu dia menatap wajah Mikha yang terlihat bahagia saat ini. Anak itu menceritakan kepada Nadin, tentang mainan apa saja yang dia naiki bersama Adam, dengan wajah cerianya. Nadin ikut senang melihat Mikha yang kelihatanya sangat bahagia.
Mereka sampai dirumah Panji, sekitar pukul lima petang. Nadin meminta ijin membawa pulang Mikha, tapi Panji tidak mengijinkanya, malah dengan santainya, dia mengatakan kalau malam itu Nadin dan Mikha harus menginap disana, membuat Nadin tercengang. Panji juga sudah memberi tahu ibu sepuh, dan beliau mengijinkannya.
"Sekarang kamu mandi, dan bersiap, kita akan pergi sebentar lagi." Titah Panji pada Nadin.
"Baik ko, saya akan memandikan non Mikha sekarang."
"Aku bilang kamu yang mandi, bukan Mikha."
"Saya? Kenapa saya yang harus mandi?."
"Kamu lupa, kalau malam ini kamu harus ikut aku pergi?. Bukankah kamu mau pengurangan masa kerja sepuluh hari dirumah ini?."
"Ohh...iya...iya saya mau ko. Tapi kalau saya pergi, terus siapa yang nemenin non Mikha?."
"Itu urusanku. Sekarang cepat kamu mandi."Titah Panji.
Nadin menuruti perintah Panji, dia mandi dan memakai pakaianya lagi, karena tidak ada pakaian ganti. Setelah itu, Adam mengatakan kalau sebentar lagi, akan ada seorang mua yang akan merias wajahnya.
Nadin menolak untuk dimake up, namun ancaman Panji membuatnya kalah telak. Dia akhirnya mau menuruti keinginan Panji.
"Sebenarnya ko Panji mau bawa saya kemana sih mas Adam? Kenapa saya harus dimake up segala?. Dia gak berniat menjual saya seperti di sinetron-sinetron kan?."
"Kayaknya sih gitu Nad. Kalau kamu dijual kan lumayan, Panji bisa dapet uang buat gantiin ongkos perbaikan mobilnya."
"Emang saya barang dagangan apa, bisa diperjual belikan seenaknya. Enggak saya gak mau."
"Hahhaaa." Adam tertawa.
Tak lama kemudian, mua yang ditunggu pun datang. Panji memberikan baju yang dia beli tadi, kepada mua itu, dan memintanya memakaikan baju itu pada Nadin, saat dia selesai merias wajah Nadin.
Sebelum dirias, Nadin meminta agar mua itu merias wajahnya dengan make up natural dan tidak mencolok. Sang mua mengiyakan, lalu dia mulai mengaplikasikan berbagai macam make up ke wajah Nadin.
Sebenernya siluman panci itu mau bawa aku kemana sih? Kenapa aku harus di make up segala?. Apa jangan-jangan bener dia mau jual aku, kayak di film-film. Ah tapi masa iya sih.
Waktu menunjukan pukul 7.00 malam kurang sepuluh menit, saat mua itu selesai merias wajah dan rambut Nadin. Dia nampak cantik dengan tampilan make up natural dan tatanan rambut simpel, namun terkesan elegan, sangat cocok dengan baju yang dipakainya sekarang.
"Wahh cantiknya." Puji sang mua pada Nadin.
"Iya ka!! Make up-nya emang cantik. Kakak pinter deh." Balas Nadin.
Nadin berdiri, menatap pantulan dirinya dicermin besar yang ada dikamar itu. Dia tersenyum, karena merasa tidak mengenali dirinya sendiri. Dalam hatinya, Nadin juga memuji penampilannya malam itu.
Hei siapa kamu? Kenapa kamu bisa cantik sekali seperti itu?
__ADS_1
Entah karena aku-nya yang cantik, atau karena mua nya yang pinter ngemake-up, bikin aku jadi pangling kayak gini." Kata Nadin dalam hati.
Tbc☘️