
"Aku tidak tanya kamu mau atau tidak, yang jelas sekarang kamu adalah pacarku. Dan aku mau kamu datang kerumahku, hari minggu lusa jam 9.00 pagi."
"Tidak mau." Sahut Nadin cepat.
"Kamu jangan lupa, nasib keluargamu ada ditanganku, Nagin."
"Apa maksud anda nasib keluarga saya ada ditangan anda? Memangnya anda ini Tuhan?."Tanya Nadin, membuat Panji kesal.
"Adam." Seru Panji. Adam yang mengerti maksud bosnya, lalu menjelaskan segalanya pada Nadin, sampai Nadin tahu dan mengerti.
Nadin tidak percaya apa yang dia dengar. Dia semakin menyesali semua perbuatannya sekarang.
"Tapi kenapa anda menyuruh saya datang kerumah anda? Anda tidak berniat macam-macam kan?." Tanya Nadin.
"Datang saja kalau kamu dan semua keluargamu tidak ingin kehilangan pekerjaan. Ingat baik-baik, semua nasib keluarga kamu ada ditanganku. Aku bahkan bisa membuat kamu kehilangan tempat tinggal kamu, jika kamu tidak datang. Dan aku tidak main-main dengan ancamanku. Jadi datanglah, kalau kamu memang sayang keluargamu."
"Baiklah pak Panji, saya pasti datang, saya janji. Tapi saya mohon anda jangan lakukan itu."
"Baguslah. Kamu harus datang tepat waktu, dan ingat, aku tidak suka menunggu."
Adam menurunkan Nadin di pinggir jalan tepat di depan proyek pembangunan mall itu.
Sepertinya pak Panji tidak main-main dengan ancamannya. Dia bahkan menurunkanku disini. Berarti dia memang tahu semua tentang hidupku, termasuk alamat rumahku.
Tapi kenapa dia ingin aku datang kerumahnya? Jangan-jangan dia....." Ohh tidaaak!
Nadin bergumam dalam hati. Dia memikirkan kemungkinan terburuk yang akan dilakukan Panji kepadanya. Nadin takut, mungkin saja Panji akan memintanya melakukan sesuatu yang akan membuatnya hamil, seperti yang dilakukannya kepada ibunya Mikha.
Sepanjang malam, dan setiap hari Nadin hanya memikirkan permintaan Panji, yang memintanya untuk datang ke rumah pribadinya.
Dia tidak ingin kesana, tapi dia takut dengan ancaman Panji. Nadin takut, Panji benar-benar akan memecat bi Sum, juga memecat pak Samsudin dari proyek.
Dan yang lebih dia takutkan adalah saat Adam mengatakan Panji akan menggusur warung neneknya, juga membuat adiknya Hirlan dikeluarkan dari sekolah. Dan yang paling parah, Panji akan menggusur tempat tinggal Nadin yang ada dibelakang proyek pembangunan mall itu.
Nadin tahu, Panji bisa melakukan apa saja, karena dia berkuasa dan banyak uang. Tanah tempat berdirinya pembangunan mall itu, dulunya juga adalah tanah warga yang sudah dibeli oleh perusahaan Panji. Dan saat ini hanya tinggal beberapa rumah yang masih ada disana, salah satunya adalah rumah Nadin.
****
Minggu, jam 5.00 pagi.
Setelah sholat subuh, Nadin memilih tidur kembali, karena dia sangat mengantuk. Tadi malam dia pulang kerumah pukul 12 malam dan baru bisa tertidur pukul 2.00 dini hari.
Sialnya, Nadin bangun kesiangan pagi itu. Saat dia membuka mata, waktu sudah menunjukan hampir pukul setengah sembilan pagi. Tidak ada yang membangunkannya, karena mak Ebah dan Hirlan sedang ada di pasar, sedangkan pak Samsudin pasti sudah diproyek sekarang. Walau hari minggu pekerja proyek tidak libur, karena jatah libur mereka adalah hari jum'at.
Nadin bergegas mandi, dan berganti pakaian
Dia menyisir asal rambutnya. Saat dia akan mengoleskan krim wajah, Nadin mengurungkan niatnya itu. Dia berfikir akan tampil sejelek mungkin, agar Panji tidak mau menyentuhnya. Dia lalu berangkat menuju rumah Panji. Panji sudah mengirim alamat rumahnya, via chat.
__ADS_1
Walau takut Panji mungkin akan berbuat macam-macam, Nadin tetap datang, demi keluarganya. Dia tidak mau mereka menderita gara-gara kesalahanya.
Jam 9.00, Nadin masih diangkot, mungkin akan butuh waktu 30 menit bahkan lebih untuk sampai dirumah Panji.
Ting...Sebuah pesan masuk, Nadin sangat yakin itu pesan dari Panji. Dan dia benar, itu adalah pesan dari Panji yang menanyakan keberadaanya. Nadin segera membalas pesan itu, dia mengatakan kalau dirinya masih diangkot dan terjebak macet, tapi sepertinya Panji tidak percaya, lebih tepatnya dia tidak peduli. Panji tidak mau mendengar alasan apapun dari Nadin.
Sepanjang perjalanan, Panji terus mengirimi pesan ancaman kepada Nadin. Tapi Nadin tidak menghiraukan pesan itu. Nadin kesal kepada Panji, yang terus saja mengiriminya pesan. Dan tepat pukul setengah sepuluh, Panji menelpon Nadin.
"Hallo.!!
"Dimana kamu? Kamu jangan coba-coba mempermainkan aku."
"Siapa yang mempermainkan anda? Saya beneran kejebak macet. Kenapa sih pak Panji sepertinya tidak percaya? Atau pak Panji sudah sangat merindukan saya ya, iya? Pak Panji sudah tidak sabar melihat wajah saya yang manis?."
"Kamu benar sekali, aku sudah tidak sabar menunggu kamu. Aku sudah siapkan kejutan yang manis untuk kamu. Makannya cepettan datang."
Jantung Nadin langsung berdetak kencang, saat mendengar semua ucapan Panji. Nadin berpikir mungkin saja apa yang dia pikirkan itu benar-benar akan terjadi.
Apa aku harus menukar harga diriku hanya karena uang sepuluh juta dan sebuah sepatu pantofel? Apa aku serendah itu di mata pak Panji?.
Aku harus cari cara supaya pak Panji ilfil melihatku. Dengan begitu dia tidak akan mau menyentuhku. Nyesel aku tadi mandi, padahal mending tadi aku nggak usah mandi, biar dia makin ilfil. Batin Nadin.
Nadin lalu turun dari angkot, dia harus berjalan kaki menuju alamat komplek perumahan Panji. Dia berjalan dengan tergesa dan hampir setengah berlari. Bukan karena takut Panji akan memarahinya, tapi Nadin hanya ingin membuat badanya berkeringat, untuk membuat penampilannya semakin terlihat buruk dimata Panji.
Singkat cerita, dia pun sampai didepan rumah mewah Panji. Tidak sulit mencari rumahnya, karena rumah Panji tidak jauh dari gerbang utama komplek. Dia sudah berdiri didepan gerbang rumah Panji, dan langsung memencet bel yang ada di dinding pagar. Seorang satpam menghampirinya.
"Neng Nagin kan?." Sahut satpam itu. Kening Nadin berkerut, mendengar satpam itu memanggil namanya.
"Nama saya Nadin pak, bukan Nagin."
" Ohh...maaf!! Ayo masuk neng!! Den Panji sudah menunggu neng dari tadi." Kata satpam, sambil membuka pintu gerbang.
"Terima kasih pak.!!
"Neng langsung masuk saja, pintu rumahnya tidak dikunci."
"Iya baik pak."
Nadin melangkahkan kakinya menuju rumah itu, dia membuka pintu utama rumah yang terlihat mewah, kokoh dan juga sangat tinggi.
Nadin masuk dengan ragu dan takut, walau matanya sudah lebih dulu menjelajah isi ruangan dari pada kakinya. Untuk sesaat, Nadin begitu terpukau melihat indahnya rumah mewah berlantai marmer itu.
Lantainya bening banget, aku bahkan bisa melihat pantulan diriku dilantai ini. Kapan ya aku bisa punya rumah kayak gini?.
Katanya dalam hati.
Rumah Panji memang tidak sebesar rumah pak Bahtiar, tapi rumah ini tetap saja terlihat begitu megah dan mewah dimata Nadin. Selain itu rumahnya juga sangat nyaman.
__ADS_1
Semua furniture, hiasan, juga pernak-pernik lainya tertata rapih dan terlihat sangat bersih. Tak heran, karena Panji memang orang yang sangat me-nomor satukan kebersihan.
Nadin masih berdiri ditempatnya, mengagumi isi rumah Panji, hingga dia tidak menyadari kalau sang pemilik rumah sudah berdiri dibelakang, memperhatikannya dari tadi.
"Ehmm..."Suara deheman Panji, menyadarkan Nadin dari kekagumannya akan rumah Panji.
Pak Panji. Kata Nadin dalam hati, lalu dia berbalik.
Mereka berdua berhadapan sekarang. Panji menatap wajah dan penampilan Nadin yang sangat tidak enak dilihat. Wajahnya kusam, dengan rambut yang acak-acakkan, juga terlihat keringat diwajah dan lehernya. Alis Panji mengernyit, melihat semua itu.
Menurut Panji, penampilan Nadin tidak ubahnya seperti pengemis yang sering dia lihat di jalan. Nadin senang melihat ekspresi Panji, yang sepertinya sangat jijik melihatnya. Rencananya berhasil, pikir Nadin.
"Kamu." Ucap Panji
"Hay pak Panji! Saya sudah datang. Sekarang katakan, anda ingin saya melakukan apa?. Bukankah pak Panji sudah tidak sabar menunggu saya?."
"Kamu habis ngemis dimana?." Sarkas Panji.
Apa? Ngemis? Kurang ajar sekali dia ngatain aku pengemis. Hemmm...tapi rapopo, aku seneng, yang penting dia gak akan macem-macemin aku.
"Tadi saya..."
"Gak penting. Aku tidak mau tahu urusan kamu. Kamu tahu ini jam berapa?."
"Jam sepuluh pak."
"Itu artinya kamu terlambat satu jam, dari waktu yang aku berikan sama kamu. Kamu akan dapat hukumannya nanti. Sekarang kamu cepettan mandi. aku tidak mau rumah ini kotor dan banyak kuman gara-gara kamu yang jorok itu."
"Tapi saya udah mandi kok pak, nih cium?."Nadin mendekati Panji, sembari mengulurkan tangan kanannya ke arah Panji. Panji menepis tangan Nadin sedikit kasar.
"Gak sopan kamu. Cepetan mandi sana. Aku nggak mau kamu bawa virus ke rumah ini." Tukas Panji
"Ya ampun pak Panji segitunya banget. Saya sudah katakan saya sudah mandi tadi. Pak Panji tenang aja, saya nggak punya penyakit menular dan nggak bawa virus." Sahut Nadin dengan senyum bahagia. Dia yakin Panji tidak akan mau menyentuhnya.
"Aku bilang mandi, atau kamu aku cemplungin ke sumur biar mati sekalian."
"Iya baik, saya akan mandi. Tapi pak Panji yang mandiin yah." Sahut Nadin, sambil tersenyum dengan genit. Mata Elang Panji menatap tajam mata Nadin, membuat senyum Nadin menguap seketika seperti embun pagi yang terkena sinar matahari.
"Oke, kalau kamu nggak mau mandi, terserah. Sekarang ikut aku."
"Kemana?." Awas aja kalau dia bilang ke neraka.
Panji tidak menjawab, dia terus melangkahkan kakinya, menuju bagian belakang rumahnya, dan Nadin mengikutinya.
Tbc🌻
Like , vote, komen dan, Favorittin yes🤗
__ADS_1