
"Itu....itu rumah.......ko Panji Nov?." Jawab Nadin
"Apa? Rumah ko Panji?."
"Ssstttt, kamu bisa gak sih ngomongnya jangan keras-keras?."
"Maaf Nad, habisnya aku kaget banget. Kamu ngapain ke rumah ko Panji?."
"Aku akan cerita sama kamu, tapi kamu janji ya gak bakalan ceritain ini sama siapapun juga. Kalau enggak, nanti ko Panji sendiri yang akan kasih kamu pelajaran." Ancam Nadin.
"Iya...iya, aku gak akan ceritain sama siapapun kok, tenang aja. Aku gak mau sampai berurusan sama ko Panji." Balas Novi.
Nadin menceritakan semuanya pada Novi dari A sampai Z. Kini Novi tahu kalau setiap hari minggu Nadin memang datang ke rumah Panji untuk membersihkan rumahnya, sebagai pertanggung jawabannya pada Panji.
"Gila kamu Nad, berani banget kamu ngelempar mobil ko Panji, pake batu lagi."
"Aku kan udah bilang, kalau waktu itu aku lagi kesel banget sama si Nina. Lagian aku juga gak tahu kalau ternyata pemilik mobil itu anak pemilik konveksi ini. Aku juga nyesel banget ngelakuin itu.
Gara-gara masalah itu, aku jadi gak punya waktu libur. Makannya kamu jangan ceritain masalah ini sama siapapun, kalau kamu gak mau berurusan sama ko Panji kayak aku. Kamu tau sendiri kan gimana ko Panji itu?."
"Iya...aku janji. Aku gak mau sampai kehilangan waktu libur kayak kamu.
Oh ya Nad, bukan itu aja, mereka juga bilang kalau kamu itu udah ngegoda pak Sambaru, makannya dia naikkin jabatan kamu."
"Apa?. Mereka ngomong gitu?. Terus apa lagi?."
"Mereka juga bilang, kalau kamu itu anak pelakor."
"Apaaaahhh??."Nadin tercekat, mendengar dirinya disebut sebagai anak pelakor. Itu artinya mereka menyebut ibunya seorang pelakor, dan Nadin tak terima.
"Siapa, siapa yang menyebarkan fitnah itu Nov?. Siapa orang yang memfitnah almarhumah ibuku?. Aku gak terima mereka menjelek-jelekkan almarhum ibu." Tanya Nadin yang mulai emosi.
"Sabar Nad, kamu jangan emosi. Maaffin aku. Aku gak maksud bikin kamu emosi."
"Katakan Nov, siapa orang yang udah nyebarin gosip ini?."
"Aku juga gak tahu, siapa orang yang pertama nyebarin gosip ini."
"Aku gak tahu kamu percaya atau tidak, yang jelas semua gosip itu tidak benar."
"Iya Nad, aku percaya kok sama kamu."
Sejak tahu dirinya digosipkan, Nadin mulai mencari tahu siapa orang yang sudah menyebarkan gosip miring tentang dirinya.
Dia tergugu saat tahu orang yang menyebarkan fitnah itu adalah saudara sepupunya sendiri, Irma. Nadin tidak percaya begitu saja, tapi setiap orang yang dia tanya, mengatakan kalau memang Irma yang menyebarkan gosip itu.
Nadin pergi ke toilet, dan menangis disana. Dia sungguh sakit hati mengetahui semuanya. Awalnya dia ingin mengacuhkan gosip tentang dirinya, tapi dia tidak suka dan tidak rela mendengar orang menjelekkan almarhum ibunya, dan Irma sepupunya sendiri yang menyebarkan gosip itu.
Sabtu sore, Nadin mendatangi Irma di rumahnya. Dia menanyakan langsung pada Irma kenapa dia tega menyebarkan gosip yang tidak benar tentang dirinya dan ibunya.
Awalnya Irma mengelak, namun akhirnya dia mengakuinya.
"Kenapa kamu harus marah, kalau memang kamu tidak merasa jadi simpenan om-om?."
"Justru karena aku tidak merasa, makannya aku marah. Dan bukan karena itu saja, kenapa kak Irma bilang kalau ibuku pelakor?."
"Dia memang pelakor. Kamu tahu, ibu kamu yang sudah menyebabkan bapak dan ibuku bercerai. Mentang-mentang dia lebih cantik dari Ibuku, dia berani menggoda bapaku."
"Tidak, itu tidak benar. Ibuku tidak seperti itu.
__ADS_1
Justru bapak kak Irma yang hampir saja melecehkan ibuku, semua orang juga tahu itu."
" Tahu apa kamu?. Waktu itu kamu masih bocah ingusan. Bapakku tidak mungkin melakukan itu, kalau ibu kamu tidak menggodanya."
"Terserah kak Irma mau bicara apa. Kejadian itu sudah lama berlalu, kenapa kak Irma mengungkitnya lagi?. Aku datang kesini cuma mau tanya, kenapa kak Irma tega nyebarin gosip yang bener tentang aku dan ibuku?. Apa salahku?. Kalau memang aku ada salah aku mohon kak Irma maaffin aku."
"Kamu mau tahu apa salah kamu?. Salah kamu itu kenapa kamu harus ada didunia ini, dan jadi sepupuku. Asal kamu tahu, aku benci kamu Nadin. Kamu selalu saja membuat aku merasa tersisih. Nenek, ibu, semua orang, bahkan ditempat kerja sekalipun, selalu saja kamu yang mereka perhatikan."
"Tapi itu bukan salahku kak, aku..."
"Aku tahu kamu lebih cantik dari aku, tapi bukan berarti kamu bisa mendapatkan segalanya. Dengar Nadin, mulai sekarang aku gak akan biarin kamu terus-terusan menang dari aku.
Aku capek terus mengalah dan berpura -pura baik sama kamu. Aku nggak peduli kita saudara sepupu, aku gak akan biarin kamu bahagia, ingat itu. Sekarang kamu pergi dari sini, aku muak lihat muka kamu." Irma mengusir Nadin dari rumahnya.
Nadin tidak menyangka Irma ternyata membencinya. Dia tidak tahu kesalahan apa yang dia perbuat sampai-sampai Irma begitu membenci dirinya.
Pantas saja selama ini sikap Irma selalu sinis padanya. Dia bersikap baik hanya pada saat ada sesuatu yang dia harapkan dari Nadin.
Kalau saja Irma itu orang lain, mungkin Nadin tidak akan mempedulikannya, tapi Irma adalah saudara sepupunya. Rumah mereka juga dekat, dan mereka juga bekerja ditempat yang sama. Apa yang akan dia katakan kepada keluarganya, seandainya mereka tahu hubungan dia dan Irma tidak baik.
Gosip tentang Nadin tidak hanya menyebar di konveksi, tapi ternyata gosip itu sudah menyebar dilingkungan tempat tinggal Nadin hingga sampai ke telinga neneknya, mak Ebah dan juga Hirlan.
Mak Ebah tidak percaya dan tidak terima cucunya digosipkan jadi simpanan om-om. Tapi dia juga mulai mempertanyakan apa setiap hari minggu, cucunya itu benar-benar bekerja?. Dia tidak bermaksud meragukan cucunya, tapi dia juga takut kalau gosip tentang cucunya itu benar.
"Kak, apa kakak tahu kalau orang-orang disini banyak yang gosippin kakak?." Tanya Hirlan.
"Enggak. Emang mereka gosipin apa ?." Tanya Nadin.
"Katanya kakak itu jadi simpenan om-om, dan setiap hari minggu kakak pergi ke rumahnya. Itu gak bener kan kak?." Tanya Hirlan.
"Astagfirullaah. Kamu denger dari siapa Hirlan?. Tentu saja itu gak bener. Kamu percaya kan sama kakak?."
"Aku percaya kok sama kakak. Kakak gak mungkin kayak gitu. Aku juga heran kenapa mereka bisa gosippin yang enggak-enggak tentang kakak."
"Apa bapak sama nenek juga denger gosip ini?."
"Nenek kayaknya udah denger, kalau bapak aku nggak tau."
"Kalaupun mereka denger, kakak harap mereka gak percaya gosip itu."
...
Gosip tentang Nadin akhirnya sampai ke telinga pak Samsudin. Dia geram, mendengar kabar tidak mengenakan tentang anak gadisnya.
Dia percaya anaknya tidak mungkin seperti itu, tapi jujur saja dia juga takut kabar itu benar. Mengingat akhir-akhir ini, Nadin memang selalu memakai barang-barang bermerk, yang dia tahu harganya sangat mahal.
Malam itu pak Samsudin menanyakan kebenaran gosip yang ia dengar pada Nadin, dihadapan mak Ebah dan juga Hirlan. Nadin tentu saja menyangkal gosip itu, karena memang semua itu tidak benar.
"Kalau bapak boleh tahu, sebenarnya setiap hari minggu itu, kamu kerja dimana?."
"Nadin kan sudah bilang, kalau Nadin kerja dirumah ko Panji pak."
"Kalau gitu mulai sekarang bapak minta kamu berhenti kerja disana."
"Tapi pak, Nadin gak bisa berhenti kerja disana, sebelum..."
Aku gak mungkin bilang kalau aku punya hutang sama ko Panji.
"Sebelum apa?. Bapak mohon sama kamu, nak. Kamu berhenti kerja disana. Bapak gak mau orang berfikiran buruk tentang kamu."
__ADS_1
"Bapakmu benar. Sebaiknya kamu gak usah kerja lagi disana. Lagipula, apa kamu gak capek kerja terus tiap hari?." Timpal mak Ebah.
"Tapi pak, kalaupun Nadin berhenti, orang-orang tetap akan menggosipkan Nadin."
"Pokoknya bapak mau kamu berhenti, titik. Mulai besok kamu gak boleh kerja lagi. Kalau perlu bapak sendiri yang ngomong sama majikan kamu."
"Jangan pak, biar Nadin aja yang ngomong."
"Kalau gitu bapak mau kamu hubungi majikan kamu sekarang. Kamu punya nomornya kan?."
Nadin mengangguk.
Duuh gimana ini.
Nadin menghubungi Panji, dihadapan keluarganya. Dan pak Samsudin meminta Nadin mengaktifkan loud speaker hpnya.
Panggilan terhubung namun tidak ada jawaban. Nadin mencoba sekali lagi, dan akhirnya Panji menjawab panggilannya.
"Hallo Nadin, ada apa? Tumben kamu telepon. Kamu ka....."
"Hallo ko." Nadin langsung memotong ucapan Panji. Dia takut Panji bicara yang tidak-tidak.
"Ada yang mau saya sampaikan sama ko Panji."
"Apa?."
"Saya nggak bisa kerja dirumah ko Panji lagi."
"Apa kamu bilang?."
"Hallo!! Maaf pak, saya dengan ayahnya Nadin."
Pak Samsudin merampas hp Nadin, membuat Nadin sangat terkejut sekaligus takut.
Tidak hanya Nadin yang terkejut, tapi juga Panji.
"Iya pak. Ada yang bisa saya bantu?."
"Begini pak, sebelumnya saya minta maaf. Saya hanya mau mengatakan kalau mulai minggu besok anak saya tidak bisa lagi bekerja dirumah bapak."
"Maksudnya, dia mau berhenti?."
"Iya pak, anak saya mau berhenti kerja di rumah bapak. Saya harap bapak mengerti."
"Iya, tapi kenapa tiba-tiba dia mau berhenti?."
"Maaf pak, tapi saya gak bisa jelaskan alasanya sama bapak. Sekali lagi saya minta maaf.
Atas nama anak saya, saya mengucapkan terima kasih. Selamat malam!!."
Pak Samsudin mengakhiri panggilannya, lalu mengembalikan ponsel Nadin.
.
.
.Tbc☘️☘️☘️
Jangan lupa like, vote dan komentarnya ya❤️
__ADS_1