
"Kalau gitu, udah. Kamu jangan nyuci piring lagi." Titah Panji setengah berbisik di telinga Nadin.
Kening Nadin mengerut mencoba mencerna apa maksud perkataan Panji barusan.
"Apa mak..." Nadin tidak meneruskan kata-katanya karena melihat tatapan dan wajah Panji yang semakin dekat dengannya. Perasaanya campur aduk sekarang, jantungnya semakin tak karuan.
Ada rasa takut yang dia rasakan saat itu, walau dia tak menampik ada rasa aneh dalam hatinya yang sulit dia jelaskan dengan kata-kata.
"M-m-maaf ko, saya harus..."
"Harus apa?." Tanya Panji cepat.
"Ma-ma-maaf ko, bisa anda pergi, saya mau nyapu?." Tanya Nadin
"Tidak, aku tidak bisa kemana-mana. Aku mau disini." Jawab Panji dengan senyumnya yang terasa semakin aneh dimata Nadin.
Ko Panji kenapa tiba-tiba genit kayak gini?. Apa jangan-jangan dia mau macem-macemin aku?. Apalagi tidak ada siapa-siapa di rumah ini kecuali kami berdua .Ya Tuhan, aku benci fikiranku. Semoga yang aku fikirkan ini tidak terjadi. Aku harus bisa pergi dari sini, tapi gimana?.
Gumam Nadin dalam hati. Dia takut, dan gugup saat ini, Panji terus saja menatapnya. Nadin sudah membuang muka kesembarang arah, tapi Panji selalu mengikuti kemana arah pandangan Nadin.
"Kenapa kamu tidak memakai tas yang aku berikan?. Apa kamu benar-benar membuangnya?." Tanya Panji.
"Tidak ko. Tas nya ada di rumah saya. Saya pake kok." Jawab Nadin.
"Oh ya?." Tanya Panji sambil terus menatapnya.
Nadin mengangguk.
Apa jangan-jangan karena tas itu, dia sekarang berani kayak gini sama aku. Hahh tuh kan. Gak bisa, aku harus lakuin sesuatu, sebelum dia benar-benar macem-macem sama aku. Aku gak boleh baper dan terlena oleh sikapnya ini.
"Maaf ko, anda jangan seperti ini. Saya bukan perempuan seperti itu."
"Apa maksud kamu?. Dan kenapa kamu terus minta maaf?."
"Saya tahu anda sudah membelikan saya tas mahal, tapi bukan berarti ko Panji bisa seenaknya sama saya. Saya bukan perempuan seperti itu, jadi ko Panji jangan coba macam-macam sama saya. Atau saya juga bisa melakukan hal yang macam-macam sama ko Panji." Tegas Nadin. Kali ini dia memberanikan diri menatap mata Panji, seolah menegaskan kalau dia sungguh-sungguh dengan apa yang dikatakanya.
"Benarkah. Lalu apa yang akan kamu lakukan?." Tanya Panji, yang semakin mendekatkan wajahnya, membuat keberanian Nadin lenyap begitu saja.
Dia kembali membuang mukanya, namun kemudian dengan cepat, dia mendorong tubuh Panji, agar menjauh darinya.
Usahanya berhasil, dia secepatnya berlari, namun Panji masih bisa mencekal tangannya.
"Lepaskan saya ko, saya mohon."
"Kamu jangan takut, aku tidak seperti apa yang kamu fikirkan." Ucap Panji sembari kembali menatap Nadin sambil tersenyum.
"I like you, Nagin." Bisik Panji di telinga Nadin. Lalu berlalu dari sana.
Nadin sempat terkejut, tapi dia meyakinkan dirinya, kalau apa yang dikatakan Panji hanyalah sebuah omong kosong.
Walau Nadin sempat baper, tapi dia yakin Panji tidak sungguh-sungguh dengan ucapannya. Mana mungkin Panji menyukainya. Fikir Nadin.
Iya dia suka sama aku, suka bikin seenaknya dan suka bikin aku kesel. Udah ya hati, gak usah baper, dan gak usah dengerin. Gumamnya dalam hati
Nadin sudah membersihkan dapur dan halaman belakang. sekarang dia akan membersihkan ruang tengah, tapi tiba-tiba dia merasa ragu, karena Panji ada disana, sedang duduk sambil menonton televisi.
__ADS_1
Uhh kenapa sih nontonnya harus disitu?.Dikamarnya kek?.
"Ngapain kamu berdiri disitu?. Cepet kesini, dan bersihkan ruangan ini." Titah Panji. Nadin terperanjat.
Ngapain juga aku harus ragu. Aku kan udah biasa kerja di rumah ini, ketemu siluman Panci yang campur sari.
Nadin membersihkan ruang tengah, walau Panji ada disana. Dia berusaha bersikap seperti biasa walau Panji terus saja memandanginya.
Nadin mengerjakan pekerjaannya dengan cepat. Jam menunjukan pukul 10.30. Nadin berniat akan memasak untuk makan siang, tapi Panji melarangnya.
"Kamu gak perlu masak untuk makan siang. Kita makan di luar."
"Kita?. Maksud ko Panji kita?."
"Ya kita, aku sama kamu."
"Saya ko?. Makasih banyak sebelumnya ko.
Tapi maaf sa...."
"Aku bosen denger maaf kamu. Mending kamu nurut aja, karena kamu gak punya pilihan lain selain itu. Sekarang kamu siap-siap, ganti baju kamu. Ini, kamu pake baju ini. Sebentar lagi kita berangkat." Panji memberikan sebuah paper bag berisi baju pada Nadin, lalu pergi ke kamarnya, meninggalkan Nadin yang terdiam di tempatnya. Dia masih tidak mengerti dengan apa yang dilakukan Panji hari ini.
Walau tidak mau, tapi Nadin tetap menuruti kemauan Panji. Dia mandi, lalu memakai baju yang diberikan Panji. Rok hitam setengah betis, dengan belahan di kedua sisinya, juga crop top berwarna putih, sangat pas dan cocok di pakai oleh Nadin, menambah aura kecantikannya semakin terpancar.
Harus Nadin akui, selera Panji memang sangat bagus. Dia juga sepertinya sangat faham tentang fashion yang cocok untuk gadis seusianya.
Bajunya bagus banget, dan kenapa bisa pas gini ya?. Ah aku lupa, dia kan emang pernah beliin aku baju waktu itu.
Panji menatap Nadin dari atas sampai bawah. Dia sangat suka melihat penampilan Nadin siang itu. Dia juga senang, karena baju yang ia pilih ternyata memang sangat cocok dipakai Nadin.
Setengah dua belas siang mereka berangkat. Panji memakai celana jeans dan kaos tangan panjang berwarna putih, sama seperti Nadin.
Panji membawa Nadin ke sebuah restoran mewah di tengah kota. Panji sudah memesan privat room, sebelum berangkat tadi.
Walau perasaanya tak karuan, Nadin tetap berusaha bersikap setenang mungkin. Ini bukan pertama kalinya dia pergi bersama Panji, tapi entah kenapa saat ini hatinya merasakan sesuatu yang beda dari biasanya.
Panji dan Nadin sedang menunggu makanan mereka. Nadin tahu, saat ini Panji sedang memandanginya. Nadin berusaha mengacuhkannya, dia pura-pura sibuk dengan handphonenya, walau hatinya dagdigdug tak karuan.
"Nadin." Panggil Panji.
"Iya ko. Kenapa?."
"Aku mau tanya sesuatu sama kamu?."
"Silahkan ko."
"Apa hubungan kamu dengan Bily?." Tanya Panji membuat Nadin tersentak.
Dia tidak menyangka Panji akan menanyakan tentang Bily. Dan kenapa dia harus menanyakannya?.
"Bily, Bily siapa maksud ko Panji?."
"Kamu gak usah pura-pura Nadin. Saya yakin kamu tahu Bily yang saya maksud. Apa hubungan kamu dengan dia?. Maksudku apa kalian masih berhubungan?."
Ya Allah apa jangan-jangan ko Panji tahu kak Bily pernah ngajak aku ngobrol waktu itu?. Dan apa dia juga tahu kalau selama ini kak Bily selalu berusaha dekettin aku?. Duuh gimana kalau dia tahu dan menyangka yang tidak-tidak?. Dia pasti tidak mau sampai non Prisa tersakiti.
__ADS_1
"Kenapa diam?. Ayo jawab, apa kalian masih berhubungan?." Tanya Panji lagi.
"Dari mana ko Panji tahu saya pernah berhubungan dengan kak Bily?." Tanya Nadin, Panji terkekeh.
"Apa kamu lupa kejadian di pesta waktu itu?. Kamu lupa apa yang dikatakan bu Ranti padaku tentang kamu dan Bily?. Jadi kamu gak usah pura-pura tidak mengenal Bily, pacar Prisa." Ucapnya.
Ohh iya, kenapa aku bisa lupa.
"Jawab pertanyaanku dengan jujur, kamu nggak usah takut. Aku gak bakal ngapa-ngapain kamu, asal kamu jujur. Aku pernah lihat kalian ngobrol di taman belakang beberapa waktu lalu. Apa yang kalian bicarakan?." Apa kalian?."
"Tidak ko, ini tidak seperti yang ko Panji pikirkan."
"Lalu?."
"Baiklah ko, saya akan menceritakanya. Tapi saya mau ko Panji berjanji, tidak akan mengatakan hal ini kepada non Prisa."
"Oke, aku janji."
"Bener ya."
"Iya. Kamu jangan khawatir, aku tidak akan mengatakanya pada Prisa atau siapapun." Kata Panji meyakinkan Nadin.
Nadin lalu menceritakan semuanya kepada Panji, walau sebenarnya Panji sudah tahu tentang Nadin dan Bily. Yang diinginkan Panji hanyalah mengetahui perasaan Nadin sekarang pada Bily.
Kini Panji tahu kalau ternyata memang Bily masih mengharapkan Nadin dan berusaha mendekatinya, dan dia tidak suka mendengarnya. Selain karena sekarang Bily adalah pacar adiknya Prisa, dia juga merasa cemburu.
"Apa kamu masih mencintai dia?." Tanya Panji.
"Tidak." Jawab Nadin cepat.
"Kamu yakin?."
"Iya, saya yakin. Saya.....saya sudah melupakan apa yang terjadi diantara kami. Itu cuma masa lalu."
"Lalu siapa pacar kamu sekarang?." Tanya Panji
"Saya tidak punya pacar ko. Lagipula saya tidak punya waktu buat pacaran. Ko Panji tahu sendiri kan setiap hari saya kerja. Ini hari minggu aja, saya masih kerja juga."
"Kamu sudah lupa kalau kamu itu pacarku?."Tanya Panji.
"Hehehe, ko Panji bisa aja."
"Kamu tidak lupa kan dengan ucapan kamu sendiri dimobilku?. Kamu bilang kalau aku mending nembak kamu, pasti kamu terima. Dan aku sudah melakukannya, aku nembak kamu jadi pacarku waktu itu."
"Aduuh ko Panji, waktu itu kan saya cuma asal ngomong aja. Saya cuma bercanda ko."
"Tapi aku serius. Kamu itu pacarku. Jadi jangan coba-coba kamu deket sama pria lain, ngerti?.'
"Hehe....ko Panji bisa aja." Balas Nadin.
.
.
.
__ADS_1
🍀🍀🍀
Jangan lupa like, vote dan komentarnya ya🤗