Panji & Nadin

Panji & Nadin
Kenapa minta maaf


__ADS_3

Bebarapa hari kemudian, bu Soraya menemui Nadin saat jam istirahat. "Apa benar setiap hari minggu kamu bekerja di rumah anak saya?." Tanyanya


"Benar bu." Sahut Nadin


"Apa selama kamu bekerja disana, anak saya pernah membawa seorang gadis, atau mungkin kamu pernah melihat dia bersama seorang gadis?."


"Tidak pernah bu. Selama saya kerja disana, tidak ada yang datang selain mas Adam, dan nona Jovanka, itupun baru dua kali saya melihat nona Jovanka dirumah ko Panji."


"Dengar Nadin, mulai saat ini saya minta sama kamu, apapun yang terjadi di rumah anak saya, atau mungkin kamu lihat anak saya membawa seorang gadis, saya minta kamu katakan sama saya."


"Maaf bu, tapi sepertinya saya tidak bisa melakukan apa yang ibu minta."


"Kenapa?. Kamu takut saya menyuruh kamu cuma-cuma, tanpa imbalan?."


"Tidak bu, bukan begitu. Tapi saya sudah tidak lagi bekerja di rumah anak ibu. Kemarin adalah hari terakhir saya kerja. Ko Panji bilang, saya nggak perlu datang lagi ke rumahnya, karena hutang saya sudah lunas." Jawab Nadin berbohong.


"Sudah jam satu, maaf bu saya harus kembali bekerja." Nadin kembali ke gedung konveksi, meninggalkan bu Soraya seorang diri dibangku taman.


Nadin tidak habis fikir bu Soraya menemuinya hanya untuk mengatakan hal itu. Secara tidak langsung, dia ingin Nadin memata-matai Panji.


Hari minggunya Nadin dan Doni sudah berada disebuah mall yang biasa mereka kunjungi, dan dia bertemu dengan Prisa yang saat itu bersama Bily. Nadin terlihat semakin cantik dimata Bily. Iya, pasti Panji sekarang yang membiayai kehidupan Nadin, begitu fikir Bily. Padahal Nadin membiayai dirinya dengan hasil kerja kerasnya sendiri, selama bekerja di konveksi.


Setelah saling bertegur sapa, mereka pergi ke tempat tujuan masing-masing.


"Nadin, tunggu!! Kata Prisa.


"Ada apa non Prisa?."


"Jangan panggil aku non, Prisa saja. Bisa kita bicara sebentar?."


"Maaf, tapi sepertinya saya nggak bisa. Saya dan Doni masih ada urusan." Sahut Nadin.


"Kalau gitu, aku minta nomor hp kamu, boleh?." Kata Prisa. Nadin sebenarnya tidak mau memberikan nomor hp nya, tapi dia tidak enak. Akhirnya Nadin memberikan nomor hp nya pada Prisa.


"Makasih ya." Ucap Prisa.


"Sama-sama." Balas Nadin.


Seminggu kemudian, Prisa mengirim pesan pada Nadin, mengajaknya bertemu karena dia bilang ada hal yang penting yang harus dia sampaikan pada Nadin.


Nadin menolak dengan berbagai alasan, tapi Prisa terus mendesaknya. Akhirnya Nadin setuju bertemu Prisa di kafe, dekat butik tempat Doni bekerja, kebetulan dia dan Doni sedang di berada di kafe itu.


Prisa datang sendiri sore itu. Dia mengajak bicara empat mata dengan Nadin, Doni mengerti dan pindah ke meja lain.

__ADS_1


Prisa mengatakan pada Nadin kalau dia tahu tentang kisah cintanya dan Bily. Dia juga menjelaskan kalau dirinya dan Bily memang tidak saling mencintai, dia tak ingin Nadin salah paham tentang dia dan Bily.


"Aku minta maaf sama kamu, kalau hubunganku dan Bily membuat kamu sakit hati. Aku gak bermaksud begitu. Kami tidak saling cinta, dia mencintai kamu, dan aku juga mencintai cowok lain." Ujar Prisa.


"Kenapa harus minta maaf?. Saya sama sekali tidak merasa sakit hati melihat kak Bily dan non Prisa berhubungan. Iya benar, saya dulu memang mencintainya, tapi itu masa lalu. Sekarang saya sudah melupakannya, dan saya juga sudah menemukan pengganti kak Bily, yang jauh lebih mencintai saya dan saya juga mencintainya. Jadi non Prisa tidak perlu merasa nggak enak apalagi minta maaf sama saya."


"Kamu yakin kamu udah melupakan Bily?."


"Iya. Saya sudah mengubur kisah cinta saya dengan kak Bily."


"Tapi, Bily masih sangat mencintai kamu Nadin."


"Entahlah, yang jelas saya sudah tidak mencintainya."


"Tadinya aku hanya ingin membantu Bily dan kamu supaya kalian bisa melanjutkan hubungan kalian lagi."


"Terima kasih banyak, tapi non Prisa tidak perlu melakukan itu."


"Nadin !! Bisa kan kamu gak panggil aku non?. Kita ini seumuran, dan teman satu sekolah, jadi gak usah panggil aku non, panggil namaku saja."


"Hehe iya, baiklah. Tadinya saya hanya menghormati non.....eh, Prisa sebagai anak majikan saya dan bibi saya."


"Teman?." Prisa mengulurkan tangannya.


Walau ragu, Nadin menyambut uluran tangan Prisa. Mereka pun resmi berteman sekarang.


Nadin, Prisa dan Doni resmi menjadi teman. Mereka menghabiskan waktu bertiga di kafe sore itu, hingga akhirnya Prisa meninggalkan kafe lebih dulu, karena ibunya menyuruh dia pulang.


Doni dan Nadin mengira menjadi Prisa itu sangat menyenangkan, tapi nyatanya semua tidak seperti apa yang dibayangkan mereka. Walau bergelimang harta, ternyata hidupnya tidak benar-benar merasa bahagia, entah karena dia kurang bersyukur atau memang dia merasa kesepian dan tertekan.


Doni dan Nadin masih betah berlama-lama disana. Karena selain nyaman, harga makanan ataupun minuman dikafe itu sangat bersahabat dan pas dengan kantong mereka. Jadi, mereka berdua tidak perlu ragu, kalau seandainya mereka melakukan repeat order selama berada disana.


Nadin yang memang hobi menyanyi, kembali naik ke podium dan bernyanyi disana, tanpa merasa ragu dan malu seperti waktu itu. Dia bernyanyi menyanyikan lagu rindu untuk Panji dengan sepenuh hati. Dia tak peduli apapun yang difikirkan orang-orang yang ada di kafe, karena dia tidak mengenal mereka semua, fikirnya.


Nadin juga tidak peduli seandainya ada orang suruhan Panji yang mengikutinya. Belakangan ini dia memang sering merasa ada orang yang mengikutinya, dan dia fikir itu pasti orang suruhan Panji, dan orang itu tadi juga mengikutinya sampai ke kafe, hanya saja saat ini dia tidak melihatnya lagi.


Entah itu hanya perasaanya saja atau memang orang itu pandai menyembunyikan diri. Ya sudahlah, selama dia tidak melakukan hal yang merugikannya, Nadin tidak mau ambil pusing. Saat Doni dan Nadin akan pulang, seseorang menghentikan langkah mereka.


"Maaf, siapa ya?." Tanya Nadin.


"Kenalkan, namaku David. Manager kafe ini. Bisa kita bicara sebentar?." Jawab seorang laki-laki tampan berkulit putih, dan berwajah oriental, yang usianya mungkin sama atau lebih muda satu atau dua tahun di bawah Panji.


"Ada apa ya?." Tanya Nadin.

__ADS_1


"Bisa kita bicara di dalam?." Tanya David.


"Bisa....bisa..." Kali ini Doni yang menjawab.


"Apaan sih Don, main bisa-bisa aja. Tadi kamu ngajak aku cepet-cepet pulang." Bisik Nadin.


"Duuh beb, ekeu jadi males piur kalo lihat lele bening kayangan kristal gindang." Sahut Doni.


"Ayo!! Silahkan!! Ucap David. Nadin dan Doni pun kembali masuk ke dalam kafe. Rupanya David menawari Nadin mengisi acara di kafenya. Dia ingin Nadin menyanyi disana.


"Tadi, saat kamu bernyanyi banyak orang yang saya kira tertarik dan menyukai suara kamu. Dan saya juga pernah lihat kamu nyanyi waktu pembukaan kafe ini, benarkan?." Tanya David.


"Iya, bener." Jawab Doni.


"Jadi apa jawaban kamu?. Kamu mau kan menjadi penyanyi tetap di kafe ini?."


"Maaf pak, bukan saya nolak tawaran bapak, tapi saya nggak bisa. Setiap hari saya kerja dari pagi, dan pulang sore. Jadi saya nggak bisa terima tawaran bapak."


" Kamu bisa datang kesini, setelah kamu pulang kerja, gimana?."


"Maaf pak, sepertinya saya tetep nggak bisa."


"Baiklah kalau gitu, aku juga gak bisa maksa kamu. Ini kartu namaku, siapa tahu kamu berubah fikiran. Dan terima kasih untuk waktunya." Kata David.


"Iya sama-sama pak." Sahut Nadin lalu meninggalkan kafe itu.


"Beb kenapa sih gak terima aja tawaran tadi? Lumayan kan buat nambah-nambahin uang jajan. Iyey juga bisa cuci mata tiap hari.


Ekeu baru tau, kalau manager kafe itu se cuco itu. Tau gitu, tiap hari ekeu datangin."


"Capek lah Don, lagian aku kan harus bantuin nenek jualan. Dan kalau urusan cuci mata, aku udah punya yang lebih cuco dari manager kafe tadi."


"Embeerr."


"Tuh kan aku jadi inget dia."


"Lalu kapan si koko polo?." (lalu kapan si koko pulang).


"Aku nggak tau. Dia juga nggak ngasih tau."


"Ya sutra. Sabrina ajijah beb."


.

__ADS_1


.


TBC☘️


__ADS_2