Panji & Nadin

Panji & Nadin
Satu alasan lagi


__ADS_3

Setelah Panji tahu kalau gadis yang melempar mobil mewahnya adalah karyawan Wily, yang tidak langsung adalah karyawannya juga, seminggu tiga kali dia sengaja datang ke konveksi. Selain inspect, Panji juga ingin sedikit memberi pelajaran kepada gadis yang bernama Nadin itu.


Dia sengaja datang tanpa memberitahu Sambaru atau Ratna lebih dulu, karena Panji yakin, akan banyak masalah yang ia temukan. Seperti dugaanya, dia menemukan banyak masalah disana.


Penumpukan dimana-mana, juga lingkungan yang berantakan menjadi konsen utama Panji, namun sayangnya semua itu tidak terjadi di area kerja Nadin. Tidak ada penumpukan dan area kerjanya juga bersih dan rapi.


Panji selalu mencari celah agar bisa menghukum atau memarahi Nadin, tapi sampai saat ini, dia tidak juga menemukan alasan untuk memarahinya, karena Nadin bekerja dengan baik dan dia juga tidak pernah keteter.


Nadin juga tidak terlihat gugup seperti waktu itu, saat Panji berdiri memperhatikannya saat sedang bekerja. Dia seolah menganggap Panji tidak ada dan tetap enjoy dengan pekerjaanya.


Bukan Panji namanya, kalau dia tidak bisa menemukan cara untuk mengusik kenyamanan orang yang dia anggap telah merugikannya.


"Hey kenapa gunting kamu nggak diikat?." Tanya Panji tiba-tiba, membuat Nadin tersentak kaget sekaligus bingung dan tak mengerti apa maksud pertanyaan Panji. Tidak hanya Nadin, bu Ratna yang saat itu ada disana juga sama tidak mengerti apa maksud bosnya.


"Kamu dengar apa yang saya katakan?." Tanya Panji.


"Saya dengar p-p-pak...eh ko?." Sahut Nadin.


"Kalau gitu katakan, kenapa gunting kamu tidak diikat?." Nadin semakin bingung, karena dia masih tidak mengerti maksud pertanyaan Panji.


"Ada apa ko Panji?."Tanya Sambaru yang baru mengetahui kedatangan Panji.


"Saya tanya sama operator kamu, kenapa guntingnya tidak diikat?." Jawab Panji


"Maaf ko, maksud ko Panji diikat bagaimana?."Tanya Sambaru yang juga tidak mengerti maksud Panji.


Dasar Sambaru bodoh!! Kenapa kamu harus bertanya seperti itu?. Batin Panji.


"Apa kamu lupa kalau saya pernah menginstruksikan, semua operator harus mengikat guntingnya?." Tanya Panji.


Kapan ko Panji mengatakan hal itu? Perasaan aku gak pernah denger dia bilang gitu.


Kata hati Sambaru dan bu Ratna. Mereka saling pandang seolah bertanya, Apa kamu pernah mendengar ko Panji mengatakan itu?.


Tentu saja Panji tidak pernah mengatakan hal itu sebelumnya. Aturan mendadak itu dia buat hanya alasan untuk mengomeli Nadin.


"Jadi kalian semua lupa dengan aturan yang saya berikan?.


Baiklah saya akan ingatkan sekali lagi. Saya minta semua operator wajib mengikat guntingnya, gunting apapun itu, termasuk gunting catrek yang dia gunakan ini." Ujar Panji sembari mengambil gunting catrek milik Nadin.

__ADS_1


"Saya tidak mau ada yang celaka gara-gara gunting. Kalau gunting ini tidak diikat, bisa saja gunting ini jatuh dan mengenai kaki, atau anggota tubuh lainya. Dan kamu, (Panji kembali menunjuk Nadin) saya tahu kamu ceroboh.


Saya pernah lihat kamu nyimpen gunting ini disaku belakang celana kamu. Harusnya kamu tahu itu adalah tindakan ceroboh dan bodoh. Apa kamu tidak berfikir kalau gunting itu bisa melukai kamu, saat kamu duduk?." Tanya Panji pada Nadin.


*Apa segitu jelinya mata pak Panji, sampai-sampai dia tahu aku sering menyimpan gunting disaku belakang celanaku? Apa dia punya indera ke enam? Jangan-jangan dia juga tahu warna celana dalamku lagi, xixixi.


Atau jangan-jangan dia sering dateng kesini, karena sengaja ingin nyari-nyari kesalahanku, biar dia bisa puas marahin aku?. Kalau bener berarti pak Panji tidak ada bedanya sama si kuda nil. Huuh menyebalkan*.


Nadin mengambil gunting catrek yang Panji simpan dimejanya, karena dia akan kembali membuang benang dengan gunting itu. Seketika Panji menatap Nadin dengan begitu tajamnya, hingga terasa menusuk dada Nadin, dan seolah akan membunuhnya saat itu juga.


Nadin terkesiap dan takut, hingga tangannya tak sengaja menjatuhkan gunting catrek miliknya. Gunting itu meluncur,dan tepat menancap disepatu kulit mahal milik Panji.


aduuhh....mati aku. Kenapa guntingnya harus jatuh dan mendarat disepatu pak Panji sih?.Gumam Nadin dalam hati.


Gunting yang masih sangat tajam itu, berhasil membuat sepatu pantofel kulit mahal Panji sobek. Walaupun cuma sobek sedikit, tapi sukses membuat Nadin, pak Sambaru dan bu Ratna tersentak dan panik bersamaan. Mereka tidak tahu akan semarah apa bos mereka.


Seringai jahat Panji muncul dalam hatinya.Kena kamu, gadis nakal.


"Maafkan saya ko!! Saya gak sengaja." Ucap Nadin penuh penyesalan, wajahnya terlihat sangat panik.


"Kamu yakin, kamu nggak sengaja?." Sarkas Panji, membuat semua yang ada disana semakin panik, terutama Nadin.


Panji merasa menemukan satu alasan lagi untuk membuat Nadin membayar ganti rugi kepadanya.


"Kalian lihat kan, karena kecerobohan pemiliknya yang tidak mau mengikat gunting ini, sepatu saya yang harus menjadi korban, untung saja gunting ini tidak mengenai kaki saya. Sekarang kalian faham kan, kenapa gunting harus diikat?." Tanya Panji.


"Faham ko."


Baguslah. Dan Sambaru, saya mau kamu turunin poin operator ini ke dasar. Dia sudah terang-terangan tidak menuruti aturan saya. Dari tadi saya bilang, gunting harus diikat, dia malah dengan sengaja bekerja tanpa mengikat guntingnya." Tukas Panji sembari berlalu dari sana dengan tersenyum puas didalam hati. Akhirnya dia berhasil dengan rencananya memberi Nadin pelajaran.


Apa turun poin? Baru aja poinku naik, masa udah langsung turun lagi.


Panji menghentikan langkahnya dan memutarkan badan, lalu kembali menghampiri Nadin. Panji kembali tersenyum dalam hati, saat melihat kening Nadin berkerut. Panji senang melihat wajah bodoh Nadin saat itu. "Kamu dalam masalah besar sekarang, Nagin." Ucapnya pelan, namun penuh penekanan, lalu benar-benar berlalu darisana, diikuti Adam dan pak Sambaru.


Mereka bertiga naik ke lantai dua gedung itu menuju ruangan pak Sambaru. Dari sana Panji bisa dengan jelas melihat seluruh isi gedung, termasuk juga Nadin yang sedang bekerja. Seringai jahatnya terukir, saat dia melihat Nadin dari atas. Dia benar-benar senang dan puas hari ini.


...


Sebenaranya apa maksud ucapan pak Panji tadi? Kenapa dia mengatakan aku dalam masalah besar sekarang? Apa dia benar-benar akan mengeluarkan aku gara-gara gunting itu? Ahh tidak, jangan sampai itu terjadi. Aku sudah nyaman dan betah kerja disini. Eh bukan betah, maksudku butuh. Tapi kalau dia sampai bener ngeluarin aku, aku bilang saja aku tidak akan mampu membayar uang ganti rugi itu. Dan kenapa sih pak Panji panggil aku Nagin? Emang dia fikir aku siluman ular.

__ADS_1


Jam istirahat pun tiba. Semua karyawan keluar untuk makan siang. Nadin melihat Mikha dan suster Wati sudah menunggunya di kursi taman belakang seperti biasa.


Nadin tidak langsung menghampiri Mikha, karena dia akan makan siang terlebih dahulu di tempat yang disediakan. Nadin baru menghampirinya, saat dia selesai dengan makan siangnya.


Mereka berdua semakin akrab sekarang. Panji dan Adam yang baru saja keluar dari gedung konveksi, berjalan menuju rumah pak Bachtiar, melihat sekilas keakraban mereka. Tatapan tidak suka jelas terlihat dimata Panji, saat melihat Nadin, apalagi melihat Mikha.


Mikha gadis kecil yang tidak berdosa sepertinya tahu dan mengerti kalau Panji tidak suka kepadanya. Senyum ceria Mikha memudar seketika berganti rasa takut saat melihat tatapan tajam mata Panji.


Ya Allah ternyata benar, sepertinya pak Panji memang tidak menyayangi Mikha, dia malah terlihat seperti membencinya. Kok ada sih ayah seperti itu di dunia ini? Kasihan sekali kamu Mikha.


Seandainya saja kamu jadi adiknya kakak, kamu pasti tidak akan diperlakukan seperti ini. Kakak yakin kamu akan merasakan kasih sayang seorang ayah, seperti yang kakak rasakan dari bapak kakak.


Kata Nadin dalam hati.


Kenapa mereka sepertinya sangat akrab? Hahh baguslah, kalian berdua sepertinya memang diciptakan untuk membuat masalah denganku.


Batin Panji.


Panji memang tidak menyukai Mikha. Baginya, Mikha adalah bukti pengkhianatan yang dilakukan Vanesa, kekasih yang dulu begitu dia cintai. Namun rasa cinta yang begitu besar itu, kini berganti rasa benci yang jauh lebih besar dari rasa cintanya.


Panji benar-benar murka, saat keluarga Vanesa mengirimkan Mikha ke rumah keluarga besarnya, dan meminta Panji mengurus juga membesarkan Mikha, padahal jelas-jelas anak itu bukan darah dagingnya. Dan yang lebih membuat Panji murka, karena tidak ada satupun anggota keluarga yang percaya kepadanya.


Bagaimana tidak, selama ini keluarga besarnya tahu, hubungan Panji dan Vanesa yang selalu terlihat lengket dan mesra. Mereka berdua tidak segan-segan memperlihatkan kemesraannya dihadapan semua orang.


"Didepan kita semua aja mereka udah terang-terangan berani mesra-mesraan, apalagi kalau mereka cuma berdua. Aku sih nggak heran kalau mereka berdua melakukan perbuatan itu." Kata bu Soraya, waktu itu. Dan semua keluarga Panji sepertinya membenarkan ucapan bu Soraya.


Tangan panji tiba-tiba mengepal, saat ingatanya kembali ke masa itu. Masa-masa paling menyakitkan dalam hidupnya, selain kematian almarhumah ibunya. Panji refleks meninju jok mobil yang ada didepannya, membuat Adam yang sedang anteng dengan kemudinya terlonjak kaget.


"Astagfirullaah, Panji apa-apaan sih lo?.Ngagetin gue aja."


Panji tidak menjawab, sudah biasa bagi Adam. Adam melirik spion didepannya, melihat bayangan panji yang duduk bersandar di jok belakang, dia memejamkan mata dengan sebelah tangan yang memegang kepala, persis seperti seorang model iklan sakit kepala, kalau menurut Adam.


Adam tahu betul apa yang sedang difikirkan bosnya saat ini. Ini selalu terjadi setiap Panji bertemu atau melihat Mikha


"Apa sih yang lo fikirin Ji? Jangan bilang lo lagi mikirin sepatu lo." Ujar Adam. Panji membuka mata, mendengar ucapan Adam. Ekor matanya menatap sepatu yang sedikit sobek tadi.


"Gue mau lo cari informasi tentang gadis itu."


"Buat apa? Lo kan udah tahu dia kerja di konveksi keluarga lo. Dan dia juga udah mau bayar ganti rugi."

__ADS_1


"Lakukan saja apa yang aku perintahkan."Titah Panji.


"Siaaap bos Panji." Sahut Adam.


__ADS_2