
"Kamu mau kan menerima cintaku?." Tanya Panji.
Nadin diam saja. Rasanya dia tiba-tiba merasa shock dan belum benar-benar yakin mendengar pengakuan cinta Panji.
"Kenapa diam saja?. Apa itu artinya iya?." Tanya Panji sambil tersenyum. Mata Nadin membelalak mendengar pertanyaan Panji, membuat senyum Panji semakin lebar.
"Ayo jawab, kamu mau kan menerima cintaku?."Tanya Panji.
"Saya.....saya...." Nadin terbata.
"Saya apa?.Saya mau?. Iya kan?."
"Maaf ko, saya......saya tidak bisa menjawabnya sekarang."
"Oke, gapapa. Aku akan menunggu jawaban kamu. Sekarang kamu mau kan pulang bersamaku?."
"Maaf ko, saya tidak bisa. Saya akan pulang sama Doni."
"Gapapa beb kalau iyey mau pulang sama ko Panji. Ekeu pulang sendiri." Kata Doni. Nadin melotot pada Doni. Mana mungkin Nadin akan pulang bersama Panji, setelah apa yang terjadi. Perasaanya saat ini benar-benar tidak bisa dia mengerti.
Panji akhirnya membiarkan Nadin pulang bersama Doni. Dan mobil Panji mengikuti mereka dari belakang.
"Ya ampun beb, iyey mimpi apa semalam ditembak sama cowok cakrabirawa model ko Panji?. Kalau ekeu jadi iyey, ekeu pasti langsung iya in." Kata Doni.
"Emang kamu percaya kalau dia beneran cinta sama aku Don?. Aku sendiri gak percaya tuh." Kata Nadin.
"Ekeu sih percaya. Kayaknya deseu serius jatuh cintrong sama iyey. Buktinya deseu sampai ngikutin kita kan?." Jawab Doni. Nadin menolehkan kepala kebelakang, ke arah mobil Panji. Ada rasa yang tidak bisa dijelaskan saat ini.
Apa iya ko Panji jatuh cinta sama aku?. Tapi mana mungkin dia mau mencintai gadis seperti aku, rasanya mustahil. Kata orang aku memang cantik, tapi kayaknya gak mungkin aku disukai orang setampan dan sekaya ko Panji.
Dimobil Panji
"Hebat lo Ji, gak nyangka gue lo ampe nembak Nadin di tempat umum kayak tadi. Salut gue." Ujar Adam.
"Jangan banyak omong, ikutin aja tuh motor siluman belut, jangan sampai kita ketinggallan." Sahut Panji.
"Ya elah mereka kan mau pulang. Kalaupun kita ketinggalan, gue juga tau kali arah jalan ke rumahnya."
"Dam apa menurut lo, Nadin bakalan nerima cinta gue?. "Tanya Panji.
Meneketehe. Kata Adam dalam hati.
"Jawab gue Sadam."
__ADS_1
"Eh sori-sori. Gue gak tau Ji. Tapi kalau gue lihat dari ekspresinya Nadin tadi, kayaknya dia kaget banget , pas lo bilang cinta ama dia. Kayak yang gak percaya gitu."
"Masa sih Dam?."
"Ya itu sih menurut gue, tau deh. Tapi ya wajar aja sih kalau dia gak percaya, mengingat gimana sikap lo ama dia selama ini."
"Emang menurut lo, sikap gue gimana?."
"Ya gitu."
"Gitu gimana?." Tanya Panji penasaran.
"Udahlah Ji. Ngapain juga lo nanya hal gituan. Yang penting lo udah nyatain cinta lo sama si neng siluman ular itu. Mau dia terima lo atau enggak, kita serahkan ama yang diatas. Gue saranin lo banyakin do'a biar Nadin terima cinta lo. Tapi kalau dia nolak lo, lo harus terima dengan lapang dada."
"Enggak, gue gak mau di tolak. Nadin harus terima cinta gue."
"Ya gak bisa gitu dong man."
"Gak ada yang gak bisa dalam kamus gue."
"Iya, iya terserah lo deh pak bos Panji.
Hemm dasar bucin. Dulu aja lo kayak yang benci banget ama cewek, eh sekarang malah ngebet banget.
Sejak Panji menyatakan cintanya, Panji selalu mengirim pesan cinta pada Nadin. Dia juga menanyakan apa jawaban Nadin.
Nadin bingung sendiri. Dia akui Panji memang sangat tampan dan sikapnya selama ini juga baik kepadanya. Tapi tetap saja dia merasa tidak yakin kalau Panji benar-benar mencintainya.
Bukankah selama ini Panji selalu menolak dan seolah tidak peduli pada gadis-gadis cantik yang mendekatinya. Lalu kenapa Panji bisa dengan mudah jatuh cinta padanya, fikir Nadin.
Sabtu malam, Nadin dan Hirlan membantu mak Ebah seperti biasanya. Malam itu mereka tidak terlalu disibukkan oleh pembeli, karena tidak ada pekerja proyek yang lembur. Hanya ada beberapa orang yang sekedar nongkrong sambil menikmati kopi hangat di warung sederhana itu.
Panji dan Adam datang dan memesan kopi disana. Mak Ebah sangat antusias saat dia tahu Panji dan Adam yang memesan kopi. Dia membuatkan gorengan spesial untuk anak majikannya dulu. Sedangkan Nadin, dia sangat terkejut dengan kedatangan Panji.
"Silahkan den." Mak Ebah mempersilahkan dengan sopan dan ramah.
"Terima kasih mak." Sahut Panji.
Mak Ebah mengajak Panji dan Adam mengobrol, Nadin hanya mendengarkan dan sesekali menjawab saat Adam menggodanya. Nadin yang biasanya pintar bicara, mendadak seperti orang gagu, dia salah tingkah tak menentu.
Panji menatap Nadin, tanpa berkata apapun , dia hanya menunjukkan senyum tulusnya pada Nadin.
"Waah lucu sekali kucingnya nek. Itu kucing nenek?." Tanya Adam, saat ada beberapa ekor kucing yang menghampiri mak Ebah.
__ADS_1
" Iya den. Ini kucing peliharaan nenek." Jawab Mak Ebah.
"Bagus sekali kucingnya nek." Timpal Panji."
"Cuma kucing kampung den, lebih bagus kucing yang ada dirumah bapaknya aden."
"Kalau menurut saya sih bagusaan kucing-kucing nenek, kucing asli pribumi. Apalagi kucing yang warnanya merah, saya sangat suka, buat saya ya nek." Kata Panji, sambil menoleh ke arah Nadin.
Kerutan di kening mak Ebah bertambah, saat mendengar ucapan Panji. Karena tidak ada satupun kucingnya atau kucing siapapun yang berwarna merah.
Memang tidak ada kucing mak Ebah yang berwarna merah, karena yang dimaksud Panji bukanlah kucing yang sebenarnya, melainkan Nadin yang malam itu memakai baju merah. Mak Ebah tidak menyadari hal itu.
Nadin menunduk, menatap bajunya yang berwarna merah. Dia baru sadar kalau dirinya memakai baju merah, dan kini dia mengerti yang dimaksud Panji adalah dirinya. Nadin tertunduk sambil mengulum senyumnya,
Bisa aja lo Ji. Kata Adam dalam hati sambil tersenyum.
Tak lama kemudian Panji dan Adam pergi dari sana, dan warung pun tutup.
Sepanjang malam Nadin gelisah, karena besok dia akan ke rumah Panji. Nadin yakin Panji akan menanyakan apa jawabannya. Nadin menghubungi sahabatnya Doni, untuk meminta pendapatnya.
"Ya kalau kata ekeu sih mending iyey terima aja beb, sayang dong lekong kayak gitu disia-sia in."
"Tapi gimana kalau dia cuman mau mainin aku?."
"Aduh beb jadi pewong pinter dikit kenapa?. Ekeu tanya ma iyey, iyey cinta gak sama deseu?."
"Aku juga gak tau beb."
"Ya sutra, iyey terima aja dulu deseu. Urusan dia cinta atau dia cuma mau mainin iyey, itu urusan belakangan. Kalau iyey gak yakin ama perasaan iyey, itu lebih bagus. Jadi iyey terima terima aja. Kalaupun deseu gak beneran cinta ama iyey, iyey juga gak akan sakit hati atau kecewa, ya kan. Kalau deseu cuma mainin iyey, ya iyey mainin dia balik."
"Enggak ah, aku gak mau. Aku takut, dia kan pinter banget. Gimana kalau dia macem-macemin aku?."
"Ya itu iyey yang harus pinter-pinter jaga diri. Udah lah gak usah kelamaan mikir, udah terima aja. Kapan lagi punya pacar cakrabirawa dan tajir melintir kayak deseu. Lagian cuma pacaran kan, bukan merit. Kalau sekiranya nanti iyey gak nyaman atau gimana, iyey tinggal minta putus aja, gampang kan?."
"Entahlah, ya udah makasih sarannya ya Don. Aku fikirin lagi deh."
"Iya sama-sama beb."
Percakapan dua sahabat itu pun berakhir.
.
.
__ADS_1
Tbc ☘️