Panji & Nadin

Panji & Nadin
Menginap


__ADS_3

Malam ini Panji datang ke rumah pak Bahtiar dan mengatakan kalau dia kan menginap.


"Apa?? Kak Panji serius mau nginep disini?."Tanya Prisa yang tak percaya mendengar perkataan Panji.


"Oma denger kan, kak Panji mau nginep disini oma."


"Iya oma denger, dan oma seneng banget dengernya. Akhirnya kamu kembali ke rumah ini."


"Aku cuma nginep oma, aku gak akan tinggal disini. Aku hanya kangen sama Mikha. Aku ingin ketemu dia."


Bilang aja lu kangen sama pengsuh Mikha Ji. Batin Adam.


"Ya sudah sana, kak Panji cepet temuin dia, mumpung Mikha nya belum tidur."


"Kalau gitu gue pulang Ji. Selamat malam oma, Prisa." Pamit Adam.


Panji langsung menuju kamar Mikha, diikuti Prisa.


"Mau kemana kamu?." Tanya Panji kepada adiknya.


"Ke kamar Mikha."


"Ngapain?."


"Aku udah biasa nemuin dia sebelum tidur kok. Kenapa emangnya? Gak boleh?."


Panji tidak menjawab, dan memilih meneruskan langkahnya menuju kamar Mikha.


Jantung Panji tiba-tiba saja berdegup kencang, saat dia sampai di depan kamar Mikha.


Dia seperti seorang pelamar kerja yang akan masuk ruang intervew. Dia tidak mengerti kenapa dengan jantungnya yang tiba-tiba bekerja lebih cepat.


Panji menarik nafas, sembari memegang handel pintu kamar Mikha, lalu membukanya.


Dia melihat Mikha sudah berbaring dikasurnya sembari memeluk boneka yang dibelikan Panji, dan ada Nadin disampingnya sedang duduk membacakan cerita.


Perasaan aneh kembali dia rasakan saat melihat pemandangan di depan matanya. Dia menatap Nadin dan Mikha bergantian. Mereka berdua terlihat seperti seorang ibu dan anak di mata Panji.


Panji tersenyum manis, saat melihat mata Mikha yang sepertinya sudah sangat mengantuk, tapi dia berusaha menahan rasa kantuknya, agar tidak ketinggalan cerita Nadin.


"Mikha sayang, lihat siapa yang datang." Ucap Prisa memecahkan suasana haru yang sedang Panji rasakan.


Nadin dan Mikha terkesiap saat mendengar suara Prisa yang mengagetkan mereka. Terutama Nadin, dia sangat kaget apalagi setelah melihat Panji ada disana.


Mikha bangun, memanggil Panji lalu berlari menghampiri dan memeluknya. Nadin dan Prisa sama-sama tersenyum melihat pemandangan itu.


"Om Panji kok kesini malem-malem begini?."


"Iya, om kangen sama Mikha, makanya om ke sini. Emang Mikha gak kangen sama om?."


"Kangen dong om. Om Panji gak bawa boneka buat Mikha."


"Om gak sempet beli. Tadi om dari kantor langsung ke sini. Om janji besok om ajak Mikha ke mall, kita beli boneka lagi buat Mikha, mau kan?."


"Mau om mau. Asiik." Jawab Mikha kegirangan.


"Kalau gitu, saya permisi non Prisa." Pamit Nadin pada Prisa. Prisa mengangguk. Baru saja Nadin sampai di ambang pintu, suara Panji menghentikan langkahnya.


"Saya minta kamu bikinin susu buat Mikha."Titah Panji pada Nadin.


"Aku udah minum susu tadi om." Ucap Mikha.


"Mikha harus banyak minum susu biar sehat."Balas Panji.

__ADS_1


Nadin menghela nafas, lalu berkata" Baik tuan."


Hahh dia pasti sengaja nyuruh aku bikin susu. Dia bener-bener gak mau rugi. Karena aku gak dateng membersihkan rumahnya, makanya sekarang dia datang kesini. Aku yakin sekali dia bukan hanya ingin menemui Mikha, tapi dia ingin aku membayar hutangnya.


Buktinya baru dateng udah minta aku bikinin susu buat Mikha. Padahal Mikha baru aja minum susu. Uuh siluman panci, kenapa kau kejar-kejar diriku?.Nadin terus saja ngedumel dalam hatinya.


Nadin membawa segelas susu ke kamar Mikha, dan meletakannya di nakas. Ini susunya non Mikha, masih panas, tunggu sebentar lagi.


Dikamar Mikha, tinggal mereka bertiga, karena Prisa sudah kembali ke kamarnya. Nadin berniat akan meninggalkan kamar Mikha, tapi Panji melarangnya. Nadin tidak bisa berbuat apa-apa selain menurut, karena dia memang harus selalu melakukan apapun yang dikatakan Panji.


"Kamu gak boleh pergi, sebelum Mikha tidur."


"Iya ko." Sahut Nadin lemah. Dia sudah kehilangan energinya dan dia juga sudah merasakan kantuk.


Non Mikha, ayo cepettan tidur non. Kasihanilah pengasuhmu ini. Gumam Nadin dalam hati.


Dan sepertinya memang Mikha sudah kembali mengantuk. Dia kembali berbaring di kasurnya, lalu Nadin mengusap-ngusap lembut punggung Mikha, hingga akhirnya anak itu pun masuk ke alam mimpi.


"Apa ko Panji akan tidur di sini?." Tanya Nadin.


"Iya malam ini aku akan menginap disini."


"Kalau gitu, apa boleh saya pergi sekarang?."


"Pergi kemana?." Tanya Panji.


"Saya akan pergi ke bawah, ke kamar bibi saya.


Saya nggak mungkin kan tidur disini, sama ko Panji."


"Siapa bilang aku akan tidur disini?."


"Tadi kan ko Panji yang bilang akan menginap disini."


"Ih siapa juga yang mau tidur sama ko Panji, stroberi mangga tomat. Sori gak minat.


Ko Panji mungkin yang pengen tidur sama saya."


"Stroberi mangga jambu, sori gak mau."


Nadin terkekeh mendengar jawaban Panji.


"Kenapa tertawa, ada yang lucu?." Tanya Panji.


Nadin langsung menghentikan tawanya, karena takut Panji akan marah. Nadin tidak tahu, justru Panji sangat senang melihat tawanya, senyumnya, semuanya. Dia suka semua yang ada pada Nadin.


Apa? Suka? Apa mungkin aku menyukai gadis ini?. Tapi kenapa aku selalu ingin dekat dan melihat dia?. Batin Panji.


Kebisaan banget sih, mandangin aku kayak gitu. Lagian ngapain juga dia masih disini, ganggu istirahat orang aja. Emang dia gak ngantuk apa? . Hus...hus...pergi jauh...jauh sana..hus. Hay siluman ngantuk, datanglah. Merasuklah ke dalam tubuh laki-laki dihadapanku ini, agar dia secepatnya mengantuk dan pergi dari sini.


"Maaf ko, apa ko Panji belum mengantuk?."Tanya Nadin.


"Kenapa? Apa kamu mau ngelonin aku sama kayak kamu ngelonin Mikha tadi?." Jawab Panji, yang sukses membuat Nadin tercekat. Dia tidak percaya dengan apa yang didengarnya barusan.


"Apa? Ko Panji bilang apa barusan?."


"Sudah lewat. Nggak ada siaran ulang."


*Bisa bercanda juga ternyata dia. Tapi emang akhir-akhir ini sikap ko Panji sedikit berubah. Dia tidak sedingin dan sejudes dulu.


Tapi menurut cerita suster Wati, ko Panji itu kan dulunya emang baik, dia berubah dingin karena sakit hati saat kekasihnya ngekhianattin dia.


Apa mungkin sekarang sakit dihatinya sudah sembuh?. Buktinya sikapnya juga sudah baik sama Mikha. Bahkan sikapnya sama aku juga tidak terlalu menyebalkan seperti dulu*.

__ADS_1


"Apa ko Panji mau dibuatkan sesuatu?. Kopi, teh atau soju mungkin?." Tanya Nadin, diiringi senyumnya.


"Aku mau dibuatkan seribu candi, gimana kamu bisa?."Jawab Panji.


Punya selera humor juga ternyata dia.


"Bisa, asal ko Panji sediain dulu bahan-bahannya. Nanti saya buattin."


Malam itu Panji dan Nadin saling bercanda, hingga tak terasa waktu sudah menunjukan hampir jam sebelas malam. Biasanya Nadin sudah masuk ke alam mimpi, tapi karena Panji yang tidak juga pergi dari kamar Mikha, dia sudah kehilangan waktu istirahatnya.


Panji membuat Nadin serba salah, dia tidak nyaman hanya berduaan di kamar Mikha, apalagi sekarang malam semakin larut. Dia ingin pergi darisana, tapi Panji tidak mengijinkanya.


Kenapa sih dia gak pergi-pergi. Gak tau apa aku udah ngantuk banget. Apa dia tidak risih berduaan sama aku disini?. Lagian mau ngapain juga dia disini? non Mikha juga udah tidur.


Itu mata juga kenapa ngeliatin aku kayak gitu terus, bikin gak nyaman aja. Kalau suka bilang aja ko, hahaha.


Tapi kalau di lihat-lihat ko Panji itu ternyata emang ganteng banget sih, gak heran banyak cewek yang suka sama dia. Termasuk cewek yang bernama Jovanka itu.


Tapi kenapa ya ko Panji kok gak mau sama dia?Padahal dia itu kan cantik banget. Apa ko Panji bener-bener udah gak suka sama cewek cantik?.


Kalau bener dia penyuka sesama jenis ah sayang banget, padahal dia ganteng gitu.Tapi kalau bener dia penyuka sesama jenis, Doni pasti seneng banget tuh, hahaha. Dialog Nadin dalam hati.


"Kenapa kamu senyam-senyum sendiri kayak gitu?. Kamu nggak lagi mikir jorok kan?." Tanya Panji.


"Iih ko Panji suudzon aja. Siapa juga yang mikir jorok?. Oh ya ko, apa ko Panji akan tidur di kamar ini?."


"Kenapa? Kamu mau aku tidur disini, sama kamu, gitu?."


"Enggak, bukan gitu ko. Kalau ko Panji mau tidur dikamar ini, saya akan tidur di kamar belakang, sama bibi saya."


"Gak perlu, aku sudah bilang aku tidak akan tidur disini."


Kalau gitu, kenapa gak keluar juga dari sini?.


"Sudah malam, apa ko Panji belum ngantuk?."


"Kalau aku ngantuk, aku pasti akan tidur. Kenapa? Kamu ngantuk?." Tanya Panji.


Nadin mengangguk.


"Ya sudah, tidur sana."


Ishh...menyebalkan. Bagaimana mungkin aku akan tidur, kalau dia masih ada disini. Kalau nanti dia nyip*k aku gimana?.


Panji tersenyum dalam hati melihat wajah kesal Nadin. Dia tahu Nadin sudah mengantuk, dan ingin dirinya segera keluar dari kamar Mikha. Tapi dia merasa tidak ingin pergi. Dia masih betah berada disana.


"Aku bilang tidur.."


"Enggak ko, saya belum ngantuk." Bohong Nadin. "Ko Panji kenapa belum tidur? Emang gak takut kesiangan besok?."


"Kalaupun aku kesiangan siapa yang akan berani memarahiku?. Apa kamu tidak tahu, kalau aku ini atasan tertinggi di perusahaan?."Jawab Panji.


Ciih...mulai besar kepala dia. Jadi atasan aja sombong, dia gak tahu apa atasan di tanah abang di obral seratus ribu tiga potong?.


Siluman Panci....sebenernya apa sih mau kamu? Kenapa gak keluar juga dari sini. Aku harus mencari akal supaya dia segera pergi dari sini.


"Ko Panji."


"Apa?."


"Apa ko Panji merindukan saya?."


Tbc❤️

__ADS_1


Jangan lupa komen, vote dan like ya dears❤️🤗


__ADS_2