
Nadin duduk dibangku warung bersama mak Ebah yang kelihatnya masih sangat shock dengan kejadian yang baru saja terjadi. Kedua lelaki tadi juga ada disana. Mak Ebah sangat berterimakasih kepada kedua lelaki itu.
"Anda terluka nona, sebaiknya ikut kami ke rumah sakit. Luka anda harus segera diobati." Kata lelaki itu.
"Tidak perlu. Ini hanya luka kecil. Nanti saya obati sendiri. Sebenarnya anda berdua ini siapa?. Kenapa tiba-tiba datang dan menolong saya?. Bukankah tadi anda berdua sudah meninggalkan tempat ini?." Tanya Nadin.
"Kebetulan kami belum jauh tadi, saat mendengar teriakan nenek. Ayo, kami antar berobat."
"Saya bilang tidak usah."
"Tolonglah nona, ikut kami supaya kami tidak kena marah."
"Kena marah?. Apa maksudnya? Siapa yang akan marah?."
"Saya rasa anda juga tahu dan mengerti siapa orang yang saya maksud."
"Ko...Pan- ji?."
"Betul nona. Dan saya mohon nona ikut kami berobat, kalau tidak kami berdua pasti akan dapat masalah besar."
"Baiklah, tapi tidak perlu kerumah sakit. Kita ke klinik yang tidak jauh dari sini saja." Kata Nadin. Dia tidak mau kedua lelaki itu dimarahi Panji.
Mereka berempat lalu pergi ke klinik yang letaknya tidak terlalu jauh dari sana. Sebenarnya ini terlalu berlebihan bagi Nadin, karena luka diwajahnya tidak terlalu parah menurutnya.
Luka Nadin sudah di obati. Dia diberi obat untuk menghilangkan luka lebam dipipi dan dahinya akibat membentur sudut bangku tadi, lalu mereka pun pulang.
..
Dirumah, mak Ebah menanyakan siapa sebenarnya wanita tadi yang sudah berbuat kasar kepada Nadin.
"Dia itu gadis yang selama ini ngejar-ngejar dan sangat mencintai ko Panji nek."
"Dasar gadis tak tahu malu. Bisa-bisanya dia melakukan semua ini pada kamu hanya karena lelaki yang dia cintai tidak mencintainya. Dia fikir ini salah kamu, kalau tuan Panji sampai jatuh cinta sama kamu."
"Sudahkah nek, jangan bahas lagi hal ini. Dan nek, Nadin mohon sama nenek, nenek jangan ceritain masalah ini sama bapak ya nek."
"Kenapa?."
"Nadin nggak mau bapak khawatir. Ya nek, nenek janji kan gak akan bilang sama bapak?.
"Baiklah, nenek gak akan bilang sama bapak kamu."
__ADS_1
"Makasih nek." Ucap Nadin lalu dia pergi ke kamar. Berbaring dikasur bututnya, merenungkan semua yang terjadi. Baru dua hari saja hubunganya diketahui keluarga Panji, dia sudah mendapatkan dua kejadian tidak menyenangkan dalam hidupnya. Entah apa lagi yang akan terjadi setelah ini.
Belum lagi ancaman bu Soraya yang selalu dikirimnya via chat.Apa mungkin ini pertanda kalau aku memang tidak boleh menikah dengannya?. Apa aku harus menjauhinya?.
Nadin bersyukur karena tadi siang tidak ada yang melihat kejadian memalukan itu. Karena kalau saja ada orang atau tetangga yang melihatnya, sudah bisa dipastikan dia akan jadi buah bibir para tetangga dan bisa saja berita itu sampai ke telinga pak Samsudin.
Dia tidak mau pak samsudin sampai mengetahui kejadian ini. Nadin berharap semoga hari ini bapaknya itu kerja lembur, agar dia tidak melihat luka lebam diwajahnya.
"Brengs*k." Umpat Panji yang geram saat dia melihat rekaman video yang memperlihatkan kejadian Jovanka menarik dan mendorong Nadin hingga membentur sudut bangku.
Wajahnya berubah merah seketika, matanya menyala, bahkan asap sudah keluar dari kedua telinganya. Sepertinya dia akan berubah jadi siluman sekarang.(Canda siluman ✌️).
"Dasar bodoh, kenapa mereka malah merekam kejadian ini?. Harusnya mereka menolong Nadin. Dan menghajar Jovanka. Dasar anak buah bodoh.
Tunggu. Tapi bukan mereka yang mengirim video ini. Ini bukan nomor mereka. Lalu nomor siapa?. Apa mungkin ini nomor baru mereka?.'Gumam Panji.
Panji menekan nomor asing yang mengirim rekaman video itu, tapi nomornya sudah tidak aktif.
"Sial."
Panji lalu menghubungi anak buahnya. Begitu tersambung Panji langsung mencerca dan memberondong anak buahnya dengan berbagai pertanyaan.
"Maafkan kami bos. Kami ngaku salah, kami siap menerima hukuman apapun. Kami juga tidak jauh-jauh dari nona Nadin, tapi tadi kami kebelet dan pergi nyari toilet. Pas kami kembali kejadianya sudah kayak gitu. Tapi bos tenang aja, nona Nadin udah diobatin. Tadi kami bawa dia ke klinik."
"Maaf lo bilang?. Gampang sekali lo minta maaf. Aku tanya, kenapa kalian gak langsung jauhin perempuan gila itu dari Nadin?. Kenapa kalian malah merekamnya?. Lo taro dimana otak lo?."
"Apa maksud bos?. Kami tidak merekam apapun. Begitu kami datang, kami langsung menjauhkan nona Jovanka dari nona Nadin."
Lalu siapa orang yang merekam dan mengirimkan videonya padaku?.
"Aku minta kalian tetap awasi dan jaga Nadin. Jangan sampai kejadian seperti ini terulang lagi. Ngerti kalian?."
"Siap bos."
Panggilan pun terputus.
Panji segera menghubungi Nadin, tapi Nadin tidak mengangkat panggilan darinya. Panji mencoba lagi beberapa kali tetap tidak ada jawaban dari Nadin.
Panji mengirimkan pesan, tapi Nadin juga tidak membaca pesannya. Dia tidak sabar ingin mengetahui keadaan Nadin. Kalau saja siang ini tidak ada meeting penting, Panji sudah pergi menemui Nadin saat ini juga.
...
__ADS_1
Sore harinya, pak Samsudin baru saja pulang bekerja dari proyek. Dia dan buruh lainya kebetulan tidak lembur hari itu. Pak Samsudin baru saja selesai membersihkan diri. Dia lalu makan dan beristirahat sebentar, sampai adzan maghrib pun berkumandang.
Pak Samsudin melaksanakan sholat maghrib, lalu setelah itu dia memanggil Nadin, karena ingin menanyakan apa jawaban keluarga Panji. Karena waktu itu Nadin tidak mengatakanya dengan jelas.
Nadin bingung sendiri. Kalau dia menemui pak Samsudin, bapaknya itu akan melihat luka diwajahnya, dan pasti akan bertanya kenapa. Tapi kalau dia tidak menemuinya, alasan apa yang harus dia katakan.
Dia putuskan untuk pura-pura tidur saja. Iya itu adalah ide bagus menurutnya. Tapi sayang Nadin tidak bisa menjalankan idenya itu, karena Panji datang mengacaukan rencananya untuk berpura-pura tidur.
Mau tidak mau Nadin keluar menemui Panji dan Adam. Panji yang sangat mengkhawatirkan Nadin, langsung menanyakan keadaan juga luka di wajahnya.
"Memangnya apa yang terjadi?. Kenapa wajah kamu bisa terluka?." Tanya pak Samsudin.
"Oh ini pak, tadi....tadi Nadin jatuh diwarung, iya tadi Nadin jatuh dan membentur bangku." Jawab Nadin berbohong.
"Kenapa kamu bisa sampai terjatuh?." Selidik pak Samsudin.
"Mungkin Nadin udah gak sabar pengen dinikahkan dengan Panji pak." Celetuk Adam.
"Hehehhe...nak Adam bisa saja. Kalau gitu bapak permisi sebentar. Kalian silahkan saja. lanjutkan ngobrolnya." Pamit pak Samsudin.
Panji dari tadi memperhatikan luka di wajah Nadin. Amarah didadannya semakin menjadi-jadi. Rasanya Panji ingin menemui Jovanka malam ini juga.
"Apa ini sakit?." Tanya Panji, seraya mengusap pelan luka diwajah Nadin."
"Enggak." Jawab Nadin singkat.
"Kalau gitu aku pulang sekarang ya, kamu istirahat saja. Besok aku kesini lagi. Jangan takut dan jangan fikirkan apapun, kecuali cinta kita. Tidak akan ada lagi yang bisa menyakiti kamu atau keluarga kamu. Aku janji."
Nadin hanya mengangguk.
"Aku sayang kamu." Bisik Panji di telinga Nadin, saat meninggalkan rumahnya.
Nadin tersenyum simpul mendengar ucapan Panji. Dia sangat bahagia mendengarnya tapi entah kenapa hatinya kembali berdenyut nyeri, dan air matanya pun menetes begitu saja.
Mungkin dia takut ancaman bu Soraya dan juga Jovanka. Dia ingin bersama Panji, tapi dia juga tidak mau sampai mengorbankan keluarganya. Walau Panji mengatakan tidak akan ada lagi yang bisa menyakitinya dan keluarganya, dia tetap saja merasa takut.
.
.
Bersambung☘️☘️
__ADS_1