Panji & Nadin

Panji & Nadin
Kedatangan Panji.


__ADS_3

Ting.....satu pesan masuk, dan pesan itu dari Panji. Untung saja saat ini dia sudah dikamarnya.


"Aku butuh penjelasan kamu. Temui aku, besok."


"Maaf ko, tapi saya nggak bisa. Saya nggak diijinin keluar sama bapak saya. Saya mohon pengertiannya. Dan masalah hutang saya, ko Panji jangan khawatir, saya tetap akan membayarnya. Saya minta nomor rekeningnya ko."


"Aku nggak butuh uang kamu. Aku butuh kamu."


"😮??."


"Katakan, kenapa kamu gak bisa dateng ke rumahku?."


"Ceritanya panjang ko. Intinya bapak saya ngelarang saya kemana-mana, apalagi ke rumah ko Panji."


"Alesan."


"Ko Panji denger sendiri tadi bapak saya yang ngomong langsung. Ko Panji mau percaya atau enggak silahkan. Tapi hutang tetep akan saya bayar."


Chat pun berakhir.


Panji menelpon orang suruhannya, meminta dia mencari tahu apa yang terjadi pada Nadin.


Panji yakin ada yang tidak beres disini. Apalagi akhir-akhir ini Panji sering melihat Nadin melamun saat sedang bekerja. Dia sering tidak menyadari kehadiran Panji di konveksi.


..


Satu minggu kemudian.


"Kita mau kemana sih Ji, malam -malam begini?." Tanya Adam.


"Kita ke rumah Nadin?." Jawab Panji.


"Sumpe lo?. Lo serius mau ke rumah Nadin?."


"Kapan gue gak serius?."


"Mi apa?."


"Miyabi, mau lo?."


"Ya Tuhan Ji, sejak kapan lo suka sama Miyabi?. Jangan-jangan elo ama Nadin suka nonton film Miyabi, terus elo praktekin sama Nadin ampe tekdung, dan sekarang lo dateng ke rumahnya buat tanggung jawab."


"Ngomong apaan si lo?."


"Aww." Pekik Adam, saat Panji menjitak kepala Adam."


"Sekali lagi lo ngomong kayak gitu, gue tendang lo dari mobil gue." Ujar Panji


"Becanda Ji. Gitu aja marah. Ya kali aja gitu, lo ada kemajuan mau nonton film Miyabi." Balas Adam


"Kemajuan kemajuan, kemajuan apa?. Perut lo tuh yang kemajuan."


"Iya gue juga heran sama perut gue, makin kesini makin mancung aja."


"Gimana gak mancung, kerjaan lo cuma makan sama tidur. Olahraga dong kayak gua."

__ADS_1


"Gue juga suka kali olah raga." Sahut Adam.


Panji menceritakan pada Adam alasan dia mengajak Adam ke rumah Nadin.


Adam memarkirkan mobil Panji, di area pembangunan mall, karena jalan gang menuju rumah Nadin tidak bisa di lalui mobil.


Malam ini sepertinya tidak ada pekerja yang lembur, hanya ada dua orang satpam, yang bertugas disana.


Selain satpam, ada juga beberapa orang yang menginap di bedeng. Mereka adalah pekerja yang berasal dari luar kota, dan pulang setiap satu atau bahkan dua bulan sekali.


Panji dan Adam melangkahkan kaki melewati seng pembatas antara pembangunan mall dan pemukiman warga. Panji melihat warung mak Ebah juga tutup, padahal jam ditangannya baru menunjukkan pukul delapan malam.


Kehadiran Adam dan Panji sukses mencuri perhatian warga yang masih berkerumun di luar rumah. Mereka saling berbisik, karena baru pertama kali melihat dua manusia tampan itu.


Panji dan Adam sudah sampai di depan rumah Nadin. Adam mengetuk pintu, dan mengucapkan salam.


"Wa alaikum salam." Jawab pak Samsudin, sambil membuka pintu. Pak Samsudin sedikit terkejut melihat Adam dan Panji.


"Maaf, cari siapa ya?." Tanya pak Samsudin.


"Saya kesini mau bicara sama bapak." Jawab Panji.


"Saya??. Kalau saya boleh tahu, anda berdua ini siapa ya?."


"Apa kami boleh masuk?."Tanya Panji.


"Ohh, iya silahkan, silahkan!!


Panji dan Adam masuk lalu mereka duduk.


"Maaf pak, jika kedatangan kami berdua menggangu waktu bapak."


Panji??? Sepertinya nama itu tidak asing. Batin pak Samsudin.


Pak Samsudin memanggil Nadin yang sedang berada dikamarnya, untuk membuatkan minuman untuk Adam dan Panji. Nadin menuruti ayahnya, dia membuatkan dua cangkir kopi dan membawanya.


Nadin belum mengetahui kalau tamu yang dimaksud pak Samsudin adalah Panji dan Adam.


D**eggg**. Nadin sangat terkejut saat dia tahu Panji dan Adam ada dirumahnya. Perasaannya mulai tak tenang. Dia takut Panji benar-benar akan melakukan ancamanya.


"Jadi begini pak, Panji ini adalah atasan Nadin. Dia anak pak Bahtiar, majikan bi Sum dan dulu majikan mak Ebah juga."Jelas Adam.


Pak Samsudin terkejut saat dia tahu siapa Panji. Dia meminta maaf dengan sopan karena dia tahu kalau Panji ini adalah pemilik mall yang sedang dibangun, tempatnya bekerja sekarang.


Itu artinya Panji adalah bosnya juga. Pak Samsudin memanggil mak Ebah, karena bagaimanpun juga Panji adalah anak bekas majikan ibunya, fikir pak Samsudin.


Mak Ebah sama terkejutnya dengan kedatangan Panji. Apalagi saat dia tahu, kalau Panji adalah anak pak Bahtiar, majikannya dulu.


"Jadi aden ini anaknya pak Bahtiar?. Maafin emak ya den, karena gak bisa ngenalin den Panji, padahal den Panji yang jajan di warung emak waktu itu kan?." Tanya mak Ebah.


"Iya mak." Jawab Panji.


"Emak pangling banget. Den Panji makin ganteng. Terakhir emak lihat ko Panji itu waktu masih SMA kalau gak salah."


"Iya, mungkin mak."

__ADS_1


Nadin semakin yakin, Panji benar-benar akan melakukan sesuatu yang buruk pada keluarganya. Matanya nyalang menatap ke arah Panji.


"Kedatangan saya kesini, hanya mau mengklarifikasi atau menjelaskan tentang gosip miring tentang anak bapak, Nadin." Ujar Panji.


"Anak saya?. Memangnya kenapa dengan anak saya?." Tanya pak Samsudin.


"Jadi begini pak, selama ini Nadin itu benar-benar bekerja di rumah saya. Dia tidak seperti apa yang dikatakan orang-orang."


"Apa?? Jadi ko Panji yang dimaksud Nadin itu, anda?." Tanya pak Samsudin yang terkejut.


"Iya."Jawab Panji. "Anak bapak memang harus kerja dirumah saya. Apa bapak tahu alasan kenapa dia harus kerja dirumah saya?." Tanya Panji.


"Memangnya kenapa ko, eh maaf, pak?." Tanya Pak Samsudin.


"Sebaiknya bapak tanyakan saja langsung sama anak bapak."


Sebenernya apa sih mau ko Panji?. Apa dia mau bikin malu aku didepan keluargaku sendiri?


Pak Samsudin menatap Nadin, seolah bertanya dan meminta penjelasan Nadin. Walau ragu dan malu, Nadin menceritakan kejadian pelemparan batu yang dia lakukan pada mobil Panji, hingga menyebakan dia harus bekerja dirumah Panji untuk mempertanggung jawabkan perbuatanya itu, karena saat Panji minta ganti rugi, Nadin tidak bisa membayarnya.


"Saya tidak bermaksud apa-apa pak. Saya cuma tidak mau bapak sekeluarga berfikiran buruk sama anak bapak sendiri. Dia memang benar-benar kerja dirumah saya. Bapak nggak usah dengerin omongan orang tentang anak bapak. Atau kalau perlu, saya akan katakan sama mereka semua."


"Tidak perlu pak, bapak tidak perlu lakuin itu. Saya benar-benar minta maaf atas kelakuan anak saya. Saya tidak tahu kalau anak saya melakukan hal itu. Dan kalau boleh tahu, berapa ganti rugi yang harus dibayar anak saya?."Tanya pak Samsudin


"Sepuluh juta." Jawab Panji. Pak Samsudin tercengang.


"Tapi itu tidak penting sekarang. Anak bapak sudah bekerja dirumah saya selama ini. Jadi saya anggap dia sudah membayar ganti ruginya." Imbuh Panji.


"Saya nggak tahu lagi harus mengatakan apa, selain kata maaf. Atas nama anak saya, saya mengucapkan maaf yang sebesar-besarnya pada pak Panji. Dan kalau seandainya anak saya masih harus kerja dirumah pak Panji, saya tidak keberatan.


Dia memang harus mempertanggung jawabkan perbuatannya. Pak Panji benar, seharusnya saya gak boleh dengerin apa kata orang, dan percaya sama anak saya."


"Bapak tidak perlu minta maaf. Kalau begitu kami pamit." Panji dan Adam pun pulang.


Nadin tidak mengerti sebenarnya apa maksud Panji datang dan mengatakan semua itu pada keluarganya. Yang jelas saat ini pak Samsudin menyuruhnya untuk kembali bekerja di rumah Panji.


Dia bertanya apa Nadin menceritakan tentang gosip miring tentangnya pada Panji, Nadin mengangguk ragu. Dia baru menyadarinya.


Ko Panji tahu dari mana kalau orang-orang disini ngomongin aku?.


Nadin tersadar dari lamunannya saat merasakan ponselnya bergetar. Dia menatap layar ponselnya, ada nama Panji disana. Dia langsung menjawab panggilan itu.


"Hallo."


"Hallo Nadin, kamu tadi denger sendiri kan apa kata bapak kamu?. Kamu boleh kerja lagi dirumahku. Jadi hari minggu nanti nanti aku tunggu kamu."


"Iya, baik ko. Asal ko Panji jawab dulu pertanyaan saya. Darimana ko Panji tahu kalau orang-orang disini gosippin saya?."


"Aku akan menjawabnya nanti dirumah, jadi kamu harus datang, oke?." Pungkas Panji lalu mengakhiri panggilannya.


Ihh nyebelin banget sih. Dasar siluman panci.


.


.

__ADS_1


.


☘️☘️☘️TBC


__ADS_2