
Panji segera turun saat mobil berhenti dihalaman rumah pak Bahtiar. Dia masuk dan langsung mencari keberadaan ibu tirinya yang saat itu sedang ada diruang makan bersama anggota keluarga lainya, menikmati sarapan pagi.
Semua terkejut melihat Panji datang sepagi ini. Prisa menyapanya, tapi Panji seolah tidak peduli dan tidak mendengarnya. Tatapan dan langkah Panji masih tertuju pada ibu tirinya yang duduk di dekat pak Bahtiar.
Tatapan penuh marah dan kebencian, seperti ada kilatan api yang menyala dimata Panji.
Tanpa basa-basi, Panji menarik baju bu Soraya dan memakinya dengan penuh amarah."Dasar wanita iblis!! Pembunuh." Cerca Panji.
Semua yang ada disana terperangah melihat apa yang dilakukan Panji.
Pak Bahtiar berusaha menjauhkan Panji dari istrinya, namun tenaganya tidak bisa mengalahkan tenaga Panji yang beberapa kali lipat lebih kuat dibanding dengannya, apalagi saat ini dia sedang dikuasi amarah yang begitu besar, membuat tenaganya jauh lebih kuat. Adam membantu pak Bahtiar menjauhkan Panji dari bu Soraya, sebelum Panji benar-benar kalap dan nekat.
Panji meronta saat Adam berhasil menjauhkan dia dari ibu tiri yang sangat dia benci itu.
"Lepassin gue Adam. Gue gak akan biarin iblis itu hidup. Gue harus bunuh dia." Ujar Panji.
"Sabar Ji, tahan emosi lo. Jangan bertindak bodoh. Kita belum punya bukti apapun saat ini. Lagipula kalaupun benar ibu tiri lo yang ngalakuin ini semua, dengan membunuhnya tidak akan menyelesaikan masalah."
"Apa yang kalian bicarakan?. Kalian berdua menuduh istriku pembunuh?. Jaga bicara kalian." Kata pak Bahtiar.
"Wanita itu memang pembunuh." Ucap Panji penuh benci.
"Panji!! Jaga bicara kamu. Sopan lah sedikit. Bagaimanapun juga dia ibu kamu." Kata pak Bahtiar.
"Dia bukan ibuku. Aku tidak sudi punya ibu pembunuh seperti dia. Dia, istri papa tercinta sudah membunuh calon istriku dan juga semua keluarganya. Aku harus membalasanya." Kata Panji seraya kembali berusaha menarik bu Soraya, tapi Adam dan pak Bahtiar menghalanginya.
Semua yang ada diruang makan terkejut mendengar apa yang dikatakan Panji. Calon istri dan keluarganya terbunuh, itu artinya Nadin dan keluarganya meninggal karena dibunuh. Prisa melongo tak percaya mendengar kabar itu, begitupun ibu sepuh.
"Jangan sembarangan bicara kamu Panji. Aku bukan pembunuh." Sangkal bu Soraya.
"Kamu memang bukan yang membunuh mereka, tapi kamu yang menyuruh orang untuk membunuh mereka, benar kan?. JAWAB??."Sarkas Panji yang semakin emosi.
"Apa maksud kamu Panji?. Sebenarnya apa yang terjadi?." Tanya pak Bahtiar yang belum mengerti dengan apa yang terjadi.
__ADS_1
Adam lalu menceritakan apa yang terjadi kepada Nadin dan keluarganya. Mereka terkejut dan merasa prihatin mendengar kabar tragis itu. Bu Soraya sendiri terlihat bengong beberapa saat, sampai teriakan Panji yang terus menyebutnya pembunuh menyadarkannya.
Bu Soraya terus menyangkal tuduhan yang dilontarkan Panji kepadanya.
"Cukup Panji!! Berhenti menuduh dan menyebut dia pembunuh. Hanya karena ibumu tidak menyukai Nadin, bukan berarti kamu bisa menuduhnya sembarangan.
Bukti apa yang kamu punya hingga kamu begitu yakin kalau ibumu membunuh Nadin dan keluarganya. Bisa saja itu hanya kecelakaan.
Kebakaran didaerah padat penduduk seperti itu memang sudah sering terjadi. Jadi jangan sembarangan menuduh tanpa bukti." Ujar pak Bahtiar.
"Oh jadi papa mau bukti. Oke!! Aku akan buktikan kalau memang dia adalah pelakunya. Dan aku akan kirim dia ke penjara, begitu bukti-bukti itu berhasil aku kumpulkan. Dan harus papa tahu, wanita itu tidak sebaik yang papa kira."
"Apa maksud kamu Panji?." Celetuk bu Soraya.
"Jangan pura-pura bodoh. Atau kamu mau aku mengatakan segala kebusukan kamu disini?." Tanya Panji.
"Kebusukan apa?. Aku tidak mengerti."
"Seharusnya kamu berterimakasih pada Nadin, karena dialah aku bisa menerima dan menyayangi cucu kamu, sekalipun dia bukan anak kandungku."
"Kalian semua harus tahu kenapa waktu itu dia bersikeras ingin Mikha tinggal dirumah ini. Itu semua bukan karena dia ingin aku bertanggung jawab, karena Mikha memang bukan anak kandungku. Tapi karena Mikha memang cucu kandung perempuan itu (Panji menunjuk bu Soraya).
Papa harus tahu, ayah kandung Mikha yang sebenarnya adalah Ferdi, anaknya istri papa tercinta." Ujar Panji, membuat semua orang kembali terkejut, tak terkecuali dengan bu Soraya sendiri. Dia tidak tahu bagaimana bisa Panji mengetahui semua itu.
"Jangan sembarangan bicara kamu Panji." Kata bu Soraya, sedikit panik. Panji tersenyum miring.
"Kamu fikir selama ini aku tidak tahu apa-apa. Aku tahu semuanya, aku tahu semua masa lalu kamu. Papa harus tahu, sebelum menikah dengan papa, dia sudah memiliki seorang anak laki-laki bernama Ferdi.
Dia adalah hasil hubungan gelapnya dengan seorang lelaki beristri dan laki-laki itu tidak mau bertanggung jawab dan malah mencampakannya begitu saja. Ferdi lah yang menghamili Vanesa.
Mereka berdua berhubungan dibelakangku, dan wanita ini malah menyalahkanku dan meminta aku bertanggung jawab atas perbuatan yang sama sekali tidak aku lakukan. Dia ingin aku megakui cucunya sebagai anakku hanya karena harta."
"Tidak pah, itu tidak benar. Dia bohong." Sangkal bu Soraya.
__ADS_1
"Papa bisa cek sendiri, kemana larinya uang bulanan yang papa berikan untuk Mikha, juga uang bulanan yang papa berikan pada istri papa itu. Dia gunakan uang itu untuk menghidupi anak lelakinya yang tidak berguna. Yang kerjanya cuma bisa mabuk-mabukkan dan main perempuan."
"Cukup Panji, hentikan sandiwara kamu."
"Selama ini aku sudah cukup diam, dan memang tadinya aku tidak mau mengatakan semua ini pada siapapun. Tapi kamu!! Perbuatan kamu yang memaksa aku mengatakan semuanya, dan tunggu saja, sebentar lagi kebenaran lainnya akan terungkap. Bersiaplah, karena sebentar lagi kamu akan menyusul Jovanka di penjara."Ancam Panji lalu meninggalkan rumah pak Bahtiar.
Pak Bahtiar diam menatap bu Soraya, seolah bertanya apa yang dikatakan Panji itu benar?. Istrinya memiliki seorang anak dan bu Soraya tidak mengatakan semua itu kepadanya. Dulu bu Soraya mengaku kalau dia adalah seorang janda kembang yang ditinggal mati oleh suaminya. Tak hanya pak Bahtiar, tapi ibu sepuh dan Prisa, mereka juga seperti ingin tahu kebenaran itu.
Bu Soraya berkilah dan tidak mengakui semuanya. Dia mengatakan semua ini hanya akal-akalan Panji saja. Tapi kali ini pak Bahtiar meragukan kata-kata bu Soraya, dan hatinya mengatakan kalau Panji tidak berbohong. Dia pergi begitu saja, meninggalkan ruang makan.
...
Disisi lain, saat ini Panji merasakan sesak didadanya sedikit berkurang setelah mengatakan kebenaran yang selama ini dia pendam sendiri. Namun rasa itu kembali dia rasakan saat dia ingat apa yang terjadi pada kekasihnya.
Dunia kembali runtuh menimpanya, membuatnya merasakan rasa sesak dan sakit yang teramat sangat. Apalagi setelah petugas forensik itu menyatakan kalau semua korban kebakaran itu memang Nadin dan ke tiga anggota keluarganya yang lain, yaitu pak Samsudin, mak Ebah dan Hirlan.
Ke empat jenazah akan dimakamkan hari itu juga. Panji dan Adam sudah berada di pemakaman, begitu juga dengan bi Sum, Irma, Devi dan keluarga Nadin yang datang dari Jawa.
Ke empat jenazah dimakamkan saling berdampingan. Irma juga merasakan kesedihan saat ini. Walau dia mengatakan tidak ingin lagi melihat Nadin, dia tidak pernah menginginkan kematian Nadin.
Isak tangis keluarga dan para tetangga mengiringi pemakaman satu keluarga itu. Panji pun tak kuasa menahan air matanya saat peti jenazah Nadin dan keluarganya dimasukkan ke dalam liang lahat, dan tanah merah mulai menutupi liang lahat itu.
Panji menatap foto Nadin yang terlihat begitu cantik dengan senyum manisnya. Air matanya kembali menetes, karena dia masih tidak bisa menerima kenyataan kalau dia tidak akan lagi melihat senyum manis Nadin secara langsung. Dia tidak bisa mendengar canda tawa dan tidak akan bisa menggodanya lagi.
Kenapa kamu tega pergi secepat ini Nad?. Kamu tega ninggalin aku sendirian.
Aku tidak akan pernah melupakanmu. Walau kamu sudah pergi dari dunia ini, kamu tidak akan pernah pergi dari hatiku. Aku sangat mencintai kamu. I love you so much.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung😢