
Panji masuk kedalam rumah pak Bahtiar, saat Dewi membukakan pintu. Dewi menyapa tuannya itu dengan ramah, Panji membalas sapaan Dewi, hanya dengan anggukan kepala.
Dia lalu melangkahkan kakinya menuju tangga yang ada diruang keluarga. Namun, saat baru saja dia menaiki anak tangga kedua, tiba-tiba dia menghentikan langkahnya, dan kembali turun.
Dewi yang ingin pergi ke dapur, merasa sedikit heran melihat sikap Panji kali ini. Panji berdiri memandangi tangga yang menghubungkan lantai satu dan lantai dua rumah itu. Dia tidak percaya apa yang baru saja akan dilakukannya tadi.
Dia berniat akan pergi ke kamar Mikha. Padahal selama ini, dia tidak pernah melakukannya. Panji belum pernah sekalipun menginjakan kakinya di kamar Mikha.
"Apa anda perlu sesuatu tuan?." Tanya Dewi sebelum dia pergi ke dapur.
"Tidak." Sahut Panji.
"Dewi." Panggil Panji
"Iya tuan."
"Kenapa sepi sekali disini?."
"Ibu sama bapak pergi tuan, baru saja. Non Prisa belum pulang, kalau ibu sepuh, beliau ada dikamarnya. Anda mau bertemu dengan beliau? Apa perlu saya panggilkan?."
"Panji." Suara seseorang yang memanggil Panji. Suara itu milik ibu sepuh, neneknya.
"Oma." Sahut Panji, lalu dia mencium tangan keriput milik neneknya. Keduanya terlihat senang, terutama ibu sepuh. Dia senang melihat cucunya datang, tanpa membawa amarah, seperti beberapa waktu lalu. Mereka berpelukan dan saling bertanya kabar.
Sesaat kemudian, pandangan Panji mengarah ke anak tangga yang ada disebelah kirinya, saat dia mendengar suara langkah kaki, yang sedang menuruni anak tangga. Panji sangat yakin, kalau Nadin adalah pemilik langkah itu, dan keyakinannnya terbukti benar. Dia melihat Nadin bersama suster Wati.
Ada rasa lega dihati Panji saat itu. Entahlah dia sendiri tidak mengerti apa yang dirasakan hatinya. Tiba-tiba rasa itu dia rasakan, saat melihat Nadin.
Apa aku merindukannya? Tidak, aku tidak merindukannya, bagaimana mungkin? Aku hanya merasa ingin melihatnya, dan hatiku merasa lega setelah melihatnya. Dialog Panji dalam hatinya.
Berbeda dengan Panji, Nadin justru nampak sangat terkejut saat dia melihat Panji. Apalagi Panji terus saja menatapnya, seperti sebuah busur panah yang dia lepaskan tepat ke jantungnya.
Ko Panji!! Aduuh kenapa sih aku harus ketemu dia disini?. Dan itu matanya kenapa harus ngeliatin aku kayak gitu?. Apa dia nggak suka ngelihat aku ada dirumah ini?Batin Nadin
Nadin dan suster Wati sudah berada dilantai satu, bersama Panji, dan ibu sepuh. Ibu sepuh menanyakan keadaan Mikha pada suster Wati, dan dia juga berterimakasih kepada Nadin, karena Nadin sudah mau menemani Mikha, cicitnya. Nadin lalu pamit, pada ibu sepuh.
"Kamu pulang naik apa nak?." Tanya ibu sepuh.
__ADS_1
"Naik ojol bu." Sahut Nadin.
"Jangan naik ojol, ini sudah hampir maghrib, biar kamu dianter supir aja ya. Suster Wati, kamu suruh pak Komar nganterin Nadin, kasian sebentar lagi gelap."
"Tidak usah bu, terima kasih. Saya naik ojol aja, tanggung, saya sudah pesen."
"Masih bisa dibatalin kan?."
"Saya tidak enak bu."
"Ya sudah kalau gitu, kamu hati-hati ya. Maaf ya kalau Mikha sudah ngerepotin kamu."
"Tidak kok bu. Kalau gitu saya permisi, Assalamualaikum." Nadin pamit dari sana, dia sempat melirik Panji sekilas, lalu segera menundukan kepalanya, karena Panji masih menatapnya seperti tadi. Nadin tidak tahu, kenapa Panji terus menatapnya seperti itu, membuatnya sangat tidak nyaman.
Suster Wati mengantarkan Nadin sampai ke gerbang depan, atau gerbang utama rumah pak Bahtiar. Ini baru pertama kalinya bagi Nadin, karena biasanya dia pulang lewat gerbang belakang. Adam yang ada didalam mobil Panji ingin menghampiri Nadin, tapi dia urungkan niatnya, karena ada suster Wati disana.
"Saya pulang ya suster Wati."
"Iya, hati-hati dijalan. Dan terimakasih banyak ya Nadin."
Waktu sudah menunjukan pukul 5.48 sore, tak heran langit sudah mulai gelap. Nadin segera memesan ojol lewat aplikasi di hpnya, karena tadi, sebenarnya dia berbohong pada ibu sepuh. Dia sama sekali belum memesan ojol.
Sudah lima menit, tapi belum ada satupun ojol yang nyaut. "Pada kemana sih mereka? Gak butuh uang apa?." Gumam Nadin yang kesal karena tidak ada ojol yang menyahuti pesanannya.
"Apa aku naik angkot aja ya? Ah iya mending naik angkot aja. Lagian kalo dari sini ke jalan raya kan lebih deket, dibanding kalo lewat gerbang belakang." Nadin terus bergumam, sembari melangkahkan kakinya. Senyumnya melebar, saat dia sampai dipinggir jalan raya.
Nadin baru saja akan mencegat sebuah angkot, saat tiba-tiba sebuah mobil berhenti tepat di hadapanya, membuat Nadin sangat terkejut.
"Mau kemana neng?."
"Mas Adam!! Bikin kaget orang aja."
"Masa gitu aja kaget, ayo masuk!!.
"Enggak ah mas, makasih. Saya naik angkot aja."
"Jangan naik angkot, bahaya, udah malam. Ayo masuk, aku anterin kamu sampe rumah."
__ADS_1
"Lebih bahaya lagi kalo saya ikut mobil ini."
"Jangan banyak omong, cepat masuk." Teriak Panji, membuat Nadin terkesiap. "Kamu dengerin saya kan? Ayo cepettan masuk." Titahnya.
Ini teko panci kenapa suka seenaknya aja kalo merintah?. Gak kebayang deh kalau aku punya suami kayak dia. Iihhh....amit-amit.
Nadin akhirnya masuk, dan duduk disebelah Adam, seperti biasanya. Wajahnya terlihat sangat kesal, karena sikap Panji. Sedangkan Adam hanya mengulas senyum tipisnya, melihat wajah Nadin yang cemberut seperti anak curut.
"Kamu mau kemana Nadin?." Tanya Adam
"Baghdad." Jawab Nadin cepat, Adam refleks menoleh kearahnya, lalu dia tertawa.
Petang itu, Nadin tidak banyak bicara. Entah kenapa, dia merasa kalau Panji terus memperhatikanya, sejak dirumah pak Bahtiar, hingga saat ini. Walaupun dia ada dibelakangnya, Nadin merasa mata Panji masih menatap ke arahnya.
Nadin berfikir, mungkin saja Panji marah, atau tidak suka saat Panji melihatnya ada dirumah pak Bahtiar, apalagi dia tahu kalau Nadin sudah menemani Mikha.
Kenapa juga aku harus ketemu dia sih? Apa tadi pak Panji nemuin Mikha? Aku harap semoga dia memang nemuin Mikha. Dan apa mungkin, pak Panji marah, gara-gara aku nemenin Mikha, dan ninggalin kerjaanku? Tapi itu kan bukan salahku. Ahhh lagian ngapain juga aku harus mikirin hal ini sih. Bodo amat dia mau marah atau enggak.
Tak lama kemudian, mereka sampai di depan pembangunan mall Panji. Nadin turun disana, tak lupa, dia berterima kasih kepada Adam dan Panji, lalu masuk ke sebuah gang kecil yang ada disebelah pembangunan mall, menuju rumahnya.
Panji dan Adam masih ada disana, mereka masuk ke area proyek, karena Panji ingin melihat sudah sejauh mana proyek pembangunan mall-nya. Kebetulan ada beberapa tukang dan buruh yang kerja lembur malam itu, mereka sedang melakukan pengecoran di lantai empat.
Pak Samsudin adalah salah satu buruh yang selalu ikut lembur. Tapi saat itu, Adam dan Panji, tidak mengenali orang yang bernama Samsudin. Yang mereka tahu, ayah Nadin adalah salah satu buruh yang bekerja disana, tanpa tahu wajah orang itu.
Panji melangkahkan kakinya, kesisi belakang pembanguna mall. Dari sana dia bisa melihat pemukiman warga. Panji tahu, salah satu rumah disana, adalah rumah Nadin. Dan Kini, pandangan mata Panji, berhenti disebuah tempat, yang dia kira itu adalah warung kopi milik nenek Nadin.
Panji mengajak Adam kesana."Ngapain?." Tanya Adam
"Ngopi lah. Masa ngegym." Sahut Panji.
"Serius?? Lo mau ngopi disana?. Lo yakin?."
"Bawel lo. Banyak nanya, kayak wartawan."Sahut Panji lalu turun dari sana, dan Adam mengikutinya. Adam seperti tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Panji mengajaknya ngopi di warkop sederhana itu.
Sebenernya lo kenapa sih Ji, akhir -akhir ini lo jadi aneh?. Tanya Adam dalam hati.
Tbc🌻
__ADS_1