
Irma yang penasaran menanyakan tentang panji pada ibunya yang hari itu sedang libur. Sekarang dia tahu semua tentang Panji dan keluarga pak Bahtiar, majikan ibunya.
Dia juga tahu tentang Nadin yang pernah menjadi pengasuh Mikha, anak Panji. Iya bi Sum mengatakan demikian pada Irma.
Karena masih penasaran dengan sosok Panji, Irma mencari tahu lebih banyak tentang Panji di internet. Matanya membulat saat dia melihat foto Panji dengan jelas di internet. Ada rasa sesal dalam hatinya karena dia menolak tawaran ibunya untuk bekerja dikonveksi milik majikan ibunya.
Dia berfikir, kalau saja waktu itu dia menerima tawaran ibunya, mungkin saja sekarang ini dia yang dekat dengan Panji, bukan Nadin.
Irma keluar dari kamarnya menghampiri bi Sum, yang sedang merapikan baju gantinya yang besok akan dia bawa ke rumah pak Bahtiar.
"Bu, aku mau kerja di konveksi." Ujar Irma pada bi Sum.
"Apa?."
"Aku mau kerja di konveksi. Kenapa ibu kok kayaknya kaget gitu?." Tanya Irma.
"Kenapa tiba-tiba kamu mau kerja di konveksi, nak?. Bukannya kamu bilang kamu tidak mau kerja disana?."
"Itu dulu, sekarang aku mau bu."
"Iya tapi kenapa tiba-tiba kamu mau?."
"Ibu gimana sih? Bukannya selama ini ibu sendiri yang selalu menawari aku kerja disana?. Harusnya sekarang ibu senang. Lagipula aku bosan jadi pengangguran. Sambil menunggu panggilan kerja, aku bisa kan kerja dulu di konveksi bos nya ibu?. Ibu bisa kan masukkin aku kerja disana?."
"Bukannya ibu gak seneng nak, tapi masalahnya tidak semudah itu ibu bisa bawa kamu kerja disana."
"Kenapa gak bisa?. Si Nadin aja ibu yang bawa, kenapa ibu gak mau bawa aku?. Baru juga kemarin ibu nawarin aku."
"Iya kemarin ibu memang nawarin kamu, karena ibu tahu dari pak Sambaru, kalau dia butuh karyawan baru, tapi sekarang udah gak ada lowongan."
"Aku gak mau tahu, pokoknya ibu harus bisa bawa aku kerja disana. Ibu jangan pilih kasih, Nadin aja bisa, masa aku anak sendiri gak bisa."
"Bukan begitu nak. Tapi sekarang memang sedang tidak ada lowongan. Coba saja kalau kemaren kamu gak nolak tawaran ibu."
"Ibu bisa kan bilang sama mereka, minta supaya mau nerima aku disana."
"Tapi ibu malu kalau....."
"Bu...kenapa sih ibu selalu saja gak mau nuruttin kemauan aku?. Ibu kayaknya lebih sayang sama Nadin dibanding aku anak kandung ibu sendiri."
"Bukan begitu nak, tapi ibu...."
"Alah sudahlah, pokoknya aku gak mau tahu ya bu. Ibu harus bisa bawa aku kerja di konveksi itu." Pungkas Irma lalu meninggalkan ibunya.
Bi Sum mengusap dadanya pelan. Dia bukannya tidak mau membawa Irma, tapi dia malu pada Sambaru. Sudah beberapa kali bi Sum meminta Sambaru menerima anaknya, tapi Irma nya sendiri tidak pernah datang.
Selain itu dia takut Irma tidak akan betah kerja disana dan keluar begitu saja. Kalau itu terjadi yang malu tentu saja bi Sum sendiri yang membawanya. Dan hati kecilnya merasa ada yang aneh dengan Irma yang tiba-tiba ingin kerja di konveksi, setelah dia bertanya banyak hal tentang Panji. Walau bi Sum berusaha menyangkal, hatinya tetap merasa ini semua ada hubungannya dengan Panji.
.
Dua hari kemudian.
__ADS_1
Bi Sum memberanikan diri menemui Sambaru saat jam makan siang. Walau malu, bi Sum langsung mengatakan maksudnya. Menurut Sambaru, saat ini memang tidak ada lowongan di konveksi, karena beberapa hari yang lalu dia sudah menerima beberapa orang karyawan baru.
"Sebenarnya saat ini tidak ada lowongan bi Sum, tapi baiklah, besok bi Sum bawa dia kemari. Tapi dia harus di tes menjahit, apa dia bisa?. Ya minimal dia bisa mengoperasikan mesin jahit, formalitas saja, karena nantinya dia juga gak bakalan saya suruh ngejahit. "
"Alhamdulillaah, terima kasih banyak pak Sambaru. Pak Sambaru gak perlu khawatir, kebetulan anak saya bisa ngejahit, ya walaupun gak pinter."
"Sama-sama. Saya lakukan ini semata cuma karena bi Sum lho. Lagian saya yakin anak bi Sum bisa bekerja dengan baik seperti Nadin."
"Iya pak, Insya Allah anak saya akan bekerja dengan baik."
Bi Sum sangat senang karena Sambaru mau membantunya. Dia langsung mengabari Irma, dan menyuruhnya datang besok membawa surat lamaran lengkap.
Irma bersorak dalam hatinya. Dia sangat senang karena dia akan bekerja di konveksi yang dia kira Panji lah bos tetap disana.
Dia fikir dia bisa bertemu dan melihat wajah tampan Panji setiap hari, dan mungkin saja dia bisa mendekatinya(Ngarep.com).
...
Dikantor Panji.
Panji sedang berdiri di dekat jendela kantornya, saat Adam masuk ke dalam ruangan Panji.
"Ini berkas yang lo minta." Kata Adam, sambil menyerahkan sebuah map berwarna biru muda pada Panji.
Panji membuka map itu dan membacanya dengan serius.
"Ji, gua boleh tanya sesuatu?." Tanya Adam.
Panji menolehkan pandanganya pada Adam.
"Apa?."
"Menurut lo?." Panji balik bertanya.
"Kalau menurut gue, iya. Lo suka sama dia."
Panji tersenyum.
"Sok tau lo."
"Alah ngaku aja deh. Lo suka kan sama Nadin, kalau enggak ngapin lo repot-repot nyuruh orang selidikin masa lalunya dia?.Maksud gue mantan pacarnya dia."
"Lo lupa kalau dia pacar Prisa, adik gue?.Gue harus cari tahu siapa laki-laki yang deket sama adek gue sendiri, dan memang kebetulan dia mantan pacarnya, siluman ular itu."
"Alaahh ngeles aja lo."
"Gue nggak ngeles, emang itu kenyataanya kok."
"Jadi beneran nih lo gak suka sama Nadin?."
"Enggak." Jawab Panji cepat.
__ADS_1
"Bener nih?." Tanya Adam memastikan.
"Ya udah kalau gitu, berarti gue boleh kan deketin dia?. Lo tau Ji, sebenernya gue itu suka sama dia. Menurut gue, dia itu gadis yang istimewa.
Dia cantik, baik, gak matre, pekerja keras, periang, sayang keluarga, pinter masak, pinter beresin rumah, pinter jaga anak waah pokoknya calon istri idaman." Ujar Adam dengan senyum yang mengembang dibibirnya.
Panji tersentak mendengar perkataan Adam. Dia tidak suka mendengar Adam menyukai Nadin, gadis yang sudah berhasil mencairkan gunung es di dalam hatinya.
Mana mungkin dia akan membiarkan Adam mendekati gadis yang dia sukai. Bersaing dengan Adam? Kenapa tidak? Adam memang sahabat baiknya, tapi Panji akan menganggap Adam atau siapapun yang mendekati Nadin sebagai saingannya.
"Oh jadi lu suka sama Nadin?. Kalau gitu kita taruhan. Siapa yang akan Nadin pilih, lo atau gue?."
"Lhoo...lhoo kenapa juga gue harus taruhan ama elo. Lo kan gak suka sama dia. Jangan bilang lo mau ngerjain dia Ji."
"Lo bener Dam. Gue emang gak suka ama dia. Gue.... gue jatuh cinta ama dia."
"Apaaaahhh?. Lo jatuh cinta sama dia?. Ahh bulshit.!! Gak percaya gue. Paling lo cuman mau mainin dia doang."
"Masa bodo lo mau percaya apa enggak, tapi gue benerran jatuh cinta sama dia." Tegas Panji, sembari menatap ke arah luar jendela kantornya.
"Lo serius Ji?. Lo jatuh cinta sama dia?.Lo yakin?
"Gue gak perlu ulangi kata-kata gue kan Dam?.Dan sekarang lo saingan gue."
"Jadi lo mau ngekhianatin cinta kita yang sudah terjalin selama bertahun-tahun ini Ji?. Lo tega Ji." Ujar Adam dengan suara bergetar seperti orang yang akan menangis. Alis Panji mengernyit, mendengar ucapan Adam barusan.
"Kenapa Ji, Kenapa?. Apa karena gue gak bisa hamil dan kasih lo anak?." Tambah Adam. Panji bergidik.
"Lo gila Sadam." Ucapnya seraya melemparkan map yang ia pegang ke arah Adam.
"Hahaha. Ketauan kan lo sekarang. Gue juga tahu sebenernya lo itu suka sama Nadin. Sok-sok an gak mau ngaku lo." Kata Adam
"Gue bilang gue gak suka ama dia, tapi gue cinta ama dia, lo budeg apa?." Balas Panji.
"Gue seneng akhirnya lo bisa jatuh cinta lagi Ji. Cuman gue gak nyangka aja lo bisa jatuh cinta sama Nadin, orang yang udah ngelempar mobil kesayangan lo.
Pantes aja lo pengen dia dateng ke rumah lo, jadi ini alasannya, ternyata lo udah jatuh cinta sama dia."
"Iya, dan lo gak akan pernah menang saingan ama gue."
"Hahha, ampun bang jago. Ya deh, mending gue mundur teratur. Gue tau diri kok, mana mungkin gue saingan ama bos sendiri. Lagian gue tadi bohong kok, gue sengaja ngomong kayak gitu cuman mancing lo doang." Jelas Adam.
"Sialan lo. Lo fikir gua ikan."
"Ya elo sih gak mau ngaku. Lagian lo itu kan pinter Ji, masa iya sih lo nggak bisa nyium kebohongan gue tadi. Kenapa? Apa karena jatuh cinta lo ngedadak belet Ji?."
"Sialan lo Sadam."
.
.
__ADS_1
TBC ❤️
Jangan lupa like, vote dan komentarnya ya 🤗