
"Kamu tenang aja, bapak kamu gak akan marah, aku jamin. Mending kamu istirahat aja dulu dikamar kita sebelum pulang." Saran Panji.
"Enggak ah. Gimana kalau kita pulang sekarang?.Biar gak kemaleman di jalan?."
"Bentar lagi ya, plis!! Lagian kasian Adam. Dia kan harus istirahat."
"Mas Adam kan udah istirahat tadi. Pulang sekarang ya sayang, besok aku kerja. Kalau pulang terlalu malem, takut bangun kesiangan."Bujuk Nadin.
"Kamu manggil aku sayang kalo ada maunya aja." Sahut Panji
"Gapapa yang penting manggil sayang, ya kaan?."
"Oke kita pulang sekarang. Asal cium dulu." Kata Panji sambil menunjuk pipinya.
Cuupp....Nadin mengecup sekilas pipi Panji.
"Udah. Sekarang pulang." Kata Nadin.
"Masa nyium gitu, yang bener dong."
"Ahh malah drama. Udah ah ayo pulang." Kata Nadin, seraya melangkahkan kakinya meninggalkan Panji. Panji segera mengikutinya. Dia mengajak Adam pulang, tak lama mereka pun meninggalkan vila itu.
Seperti biasanya setiap weekend, jalanan dari puncak menuju Jakarta sangat padat merayap, karena banyaknya wisatawan yang datang ke kawasan puncak.
Karena volume kendaraan yang terus meningkat, polisi lalu lintas menerapkan sistem buka tutup, setiap satu jam sekali. Baik dari arah Bogor menuju Jakarta ataupun sebaliknya. Akibatnya, semua pengendara harus rela menunggu sampai giliran jalur mereka dibuka.
Tak terkecuali ketiga orang yang berada dalam mobil Panji, mereka harus sabar menunggu di dalam mobil. Adam turun sebentar karena merasa bosan.
Tapi tidak dengan Panji yang justru merasa senang dengan situasi ini, karena dia bisa lebih lama berduaan dengan Nadin.
Hujan gerimis yang turun sejak tadi tidak juga reda. Adam kembali masuk kedalam mobil, karena rambutnya mulai basah oleh air hujan.
"Lama amat sih." Ujar Adam, mulai kesal.
"Iya kenapa bisa lama banget ya?.Bisa-bisa kemaleman dijalan kalo gini. Mana besok kerja lagi." Sahut Nadin.
"Kamu gak usah masuk aja besok. Nanti aku bilang sama Sambaru" Ujar Panji pada Nadin.
"Jangan....jangan!! Apa kata karyawan lain nanti."
"Aku yang menggaji mereka semua, jadi kenapa kamu harus pedulikan pendapat mereka."
"Huuh mulai keluar sombongnya."
"Siapa yang sombong?. Itu kenyataan."
"Iya deh iya."
"Jangan pada berantem, malu udah gede. Eh daripada suntuk mending kita tebak-tebakkan." Saran Adam.
"Boleh. Ayo." Sahut Nadin
"Yang bisa jawab dapet hadiah." Tambah Adam.
"Apa hadiahnya?." Tanya Nadin.
"Cium." Timpal Panji. "Yang bisa jawab harus dicium atau nyium orang yang ngasih tebakkan. Gimana deal?." Tanya Panji.
"Jadi maksud lho gue boleh nyium Nadin kalau gue jawab pertanyaan Nadin dengan benar, gitu Ji?. Oke gue setuju." Ujar Adam.
"Nih cium." Panji mengepalkan tangannya ke arah Adam. "Enak aja lo ngomong. Itu cuma berlaku buat gue dan Nadin, tidak buat elo." Terang Panji.
"Terus hadiah gue apaan?. Jangan bilang lo mau nyium gue Ji, atau gue yang nyium elo?. Jangan deh, entar Nadin cemburu lagi." Kata Adam
"Gapapa mas Adam, cium aja. Saya gak akan cemburu sama sekali kok. Eh tapi kalau yang salah harus dihukum ya." Kata Nadin.
"Apa hukumannya?." Tanya Adam.
"Yang salah wajahnya harus dipakein lipstik ini di wajah kalian. deal?."
"Deal." Jawab Adam dan Panji kompak.
"Oke, ayo mulai. Siapa yang mau ngasih pertanyaan pertama?." Tanya Nadin.
"Aku." Kata Panji.
"Silahkan bapak Panji." Sahut Adam.
"Ngemil, ngemil apa yang bikin bahagia?."Tanya Panji.
Adam dan Nadin tampak berfikir, lalu Nadin tertawa kecil saat dia teringat sesuatu.
"Kenapa ketawa?. Kamu tahu jawabannya?."Tanya Panji.
__ADS_1
"Tahu. Pasti ngemil manisan pala, yaa kaaan?." Jawab Nadin dengan senyum dan keyakinannya.
"Tettooottt. Salah." Sahut Panji.
"Salah?? Masa sih salah, emang gak bahagia apa ngemil manisan pala tadi?." Tanya Nadin.
"Bahagia sih, tapi bukan itu jawaban yang aku maksud." Bisik Panji.
"Gue tau" Celetuk Adam. "Ngemil yang bahagia itu, adalah ngemilikkin kamu selamanya. Benerkan?." Sahut Adam.
"Hahh, pinter lo Dam." Kata Panji.
"Gue gitu lho." Ucap Adam.
"Hahhh, bisa aja kalian. Kalau gitu mana hadiah buat mas Adam?. Ayo cepettan, cium mas Adam." Kata Nadin.
"Haaa bener, mana hadiah gue?. Cepettan cium gue Ji, gue udah siap lahir batin." Kata Adam.
"Nyium elo?. Sori lah yaw."
"Eh kok gitu?. Tadi kan kita udah sepakat. Jangan curang ayo cepettan cium mas Adam." Kata Nadin.
"Pasti dia gak berani Nad." Timpal Adam.
"Siapa bilang aku gak berani?. Oke gue cium elo sekarang Dam. Sayang, kamu jangan cemburu ya." Kata Panji pada Nadin.
"Enggak." Sahut Nadin sambil tersenyum.
"Merem lo." Titah Panji pada Adam.
"Siap honey." Sahut Adam.
"Honey...Honey, nenek moyang lo." Kata Panji.
"Cepettan honey." Kata Adam, seraya memejamkan matanya. Panji mendekatkan wajahnya pada Adam. Nadin tersenyum geli melihat kelakuan kekasih dan sahabatnya itu
Cuup....Panji mengecup mesra pipi Adam. Ralat bukan pipi Adam, tapi pipi Nadin.
"Udah." Kata Panji.
"Ihh kok malah nyium aku sih?." Protes Nadin.
Panji mengelak, dia tidak mengakui kalau dia telah mencium Nadin, karena yang dia cium tadi adalah Adam.
"Oke, sekarang giliran gue yang ngasih pertanyaan. Mobil-mobil apa yang bikin degdeggan." Tanya Adam.
"Mobil ko Panji yang aku lempar pake batu. Itu bikin degdeggan banget lo mas Adam, Hahahaaa." Jawab Nadin sambil tertawa.
Panji refleks menoleh kearahnya, membuat tawa Nadin terhenti seketika. Dia sadar sudah menyebut "ko" tadi.
"Hehehe....ampun. Jangan marah ya ganteng."Bujuk Nadin.
"Hemm....bisa aja sih. Tapi jawaban kamu salah Nad. Ayo Ji apa jawaban lo?."
"Mobil cicillan." Jawab Panji.
"Hah salah."
"Mobil tua."
"Mobil mogok."
"Mobil yang gak ada bannya."
"Mobil ambulans.
"Salah!! Gimana? Kalian nyerah?." Tanya Adam.
"iya, nyerah deh."
"Mobil, mobil apa yang bikin degdeggan? Mo bilang cinta takut di tolak." Kata Adam.
"Garing lu." Kata Panji.
"Hahaha bodo amat. Yang penting sekarang kalian berdua harus dihukum. Mana lipstik kamu Nad?. Aku mau lipstikkin tuh bibir ayang beb kamu, biar gak nyosor terus sama kamu." Kata Adam.
Nadin memberikan liptintnya pada Adam, lalu Adam memakaikan liptint itu di bibir Panji, walau Panji terus berusaha menolak.
Adam dan Nadin tertawa melihat bibir Panji sekarang sudah berwarna merah.
"Kamu cantik sekali sayang. Bibir kamu merah merona, kayak abis minum darah perawan." Ledek Adam, membuat Panji sedikit kesal, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa, selain pasrah.
"Ihh bagus tau, kayak opa-opa Korea." Puji Nadin.
__ADS_1
"Sekarang giliran kamu Nad." Kata Adam.
"Sini, biar gue yang pakein." Kata Panji, sembari merebut liptint itu dari tangan Adam. Dia memakaikan liptint itu ke bibir Nadin.
"Bibir kamu kayaknya manis banget deh kalau aku cium." Bisik Panji, saat dia selesai memakaikan liptint itu."
"Merah gak selalu manis, sayang. Cabe aja merah, malah pedes, bukan manis." Sahut Nadin.
"Ayo Nad, sekarang giliran kamu yang beri pertanyaan." Kata Adam.
"Buah-buah apa yang digunakan para pejuang kita dulu saat berperang melawan penjajah?."Tanya Nadin.
"Buah durian." Jawab Adam.
"Salah." Sahut Nadin.
Jawabanku harus bener, biar bisa dapet ciuman kamu. Kata Panji dalam hatinya.
"Kenapa senyam-senyum? Ayo jawab."
"Buah Apel." Jawab Panji.
"Salah."
"Buah tomat."
"Buah busuk."
"Buah mangga."
"Buah d*da, buah z*kar, buah tangan, buah hati."
"Ihh makin ngaco. Udah deh, nyerah aja." Kata Nadin.
"Engggak, aku gak akan nyerah." Sahut Panji dia terus mencoba menjawab, dan jawabannya selalu salah. Akhirnya Panji dan Adam menyerah.
"Jawabannya, buah jambu. Jambu runcing, hahaha."
"Apaan sih Nad?. Mana ada jambu runcing."Kata Adam.
"Ya ada lah. Namanya juga tebak-tebakkan. Karena jawaban anda berdua salah, jadi maaf ya, anda berdua harus dihukum." Kata Nadin lalu memakaikan liptintnya pada Adam, dan Panji. Nadin memakaikan liptint itu dipipi Panji, dan dibibir Adam.
Nadin tertawa melihat wajah tampan Panji yang saat ini terlihat sangat lucu. Kalau saja saat ini mereka bukan sepasang kekasih, mungkin hal ini tidak akan pernah Nadin lihat.
"Kamu tega sama aku sayang." Kata Panji.
"Ini bukan masalah tega atau nggak tega koko sayang, Ini kan udah kesepakatan kita. Jadi ya maaf, dengan terpaksa saya harus menghukum anda." Kata Nadin.
Tak lama kemudian polisi membuka jalur lalu lintas menuju Jakarta. Semua pengendara mulai melajukan kendaraan mereka. Dan kini Mobil Panji sudah berada dijalan tol. Panji mengambil pulpen dari saku jok didepannya. Dia menuliskan sesuatu ditangannya.
"Sayang!! Baca ini?." Pintanya pada Nadin.
"Apa bos?." Sahut Nadin membaca tulisan di telapak tangan Panji.
"Cium aku." Sahut Panji.
"Apa?."
"Cepettan. Tadi kamu sendiri yang nanya apa bos?."
"Ohh jadi tadi suruh-suruh baca cuma modus aja?." Tanya Nadin.
"Namanya juga usaha. Kita kan harus dituntut pinter." Sahut Panji.
"Ayo cepetan cium aku."
"Enggak mau."
"Ya udah aku aja yang nyium kamu kalau gitu."
"Kenapa sih hobi banget cium mencium?."
"Ya wajarlah, aku kan cowok normal. Salah kamu juga sih, kenapa bisa gemessin dan cantik banget, bikin aku pengen nyium kamu terus. Apalagi lihat bibir kamu yang merah begitu."
"Alaah modus." Nadin mengambil tisu basah yang memang selalu ada di mobil Panji, lalu mengusapkanya pada bibirnya.
Begitu juga Adam dan Panji, mereka membersihkan liptint dari wajah mereka , karena sebentar lagi mereka akan sampai.
.
.
TBC❤️
__ADS_1