
Setelah sampai di Jakarta, Panji dan Adam mengantarkan Nadin sampai ke rumahnya.
Pak Samsudin berterimakasih pada Panji, lalu Panji dan Adam pun pulang.
Pak Samsudin akui Panji adalah lelaki yang baik, walaupun dia kaya, dia tidak sombong dan jumawa. Dan dia sepertinya lelaki yang bertanggung jawab. Tapi tetap saja rasa cemas dan khawatir ada dalam hatinya. Dia takut Panji hanya ingin mempermainkan anaknya.
Flashback.
Panji memang sudah menemui pak Samsudin dan mengajaknya bicara secara langsung saat di proyek beberapa waktu lalu, sebelum dia berangkat ke Surabaya.
Waktu itu Panji mengatakan segalanya pada pak Samsudin. Dia mengatakan kalau dia mencintai anaknya, Nadin. Dan mereka memang sudah menjalin hubungan.
Pak Samsudin sangat terkejut mendengar pengakuan Panji. Dia tidak percaya Panji bisa jatuh cinta pada anaknya.Pak Samsudin merasa takut, Panji hanya ingin mempermainkan Nadin.
Panji dan Nadin terlahir dari kasta yang berbeda, rasanya sangat mustahil bagi pak Samsudin seorang Panji yang kaya raya, dan tampan bisa jatuh cinta pada anak gadisnya, yang berasal dari keluarga miskin. Itu semua hanya ada di sinetron-sinetron, fikir pak Samsudin.
Panji menyakinkan pak Samsudin kalau dirinya benar-benar jatuh cinta pada Nadin. Dia sama sekali tidak peduli dengan perbedaan status diantara mereka.
"Saya benar-benar mencintai anak bapak, tanpa memandang status atau asal-usulnya. Yang saya tahu saya jatuh cinta pada seorang gadis cantik, pintar dan juga baik. Masalah harta atau apapun yang bapak katakan tadi, itu memang benar.
Saya memang memiliki segalanya, jadi saya tidak perlu pendamping yang berasal dari keluarga kaya, karena nantinya saya yang akan menghidupi istri dan anak-anak saya bukan?. Dia kaya atau miskin, tidak ada bedanya bagi saya, karena mencari nafkah tetaplah tugas seorang lelaki, bukan begitu pak?." Ujar Panji.
"Itu semua memang betul pak Panji. Tapi apa pak Panji tidak malu nantinya kalau orang-orang di luar sana tahu anda berhubungan dengan seorang gadis miskin seperti anak saya?. Tanya pak Samsudin.
"Kenapa saya harus malu?. Ini hidup saya. Kebahagian saya, saya yang menjalani dan merasakannya bukan orang lain. Lagipula saya tidak peduli apa kata orang."
Panji terus berusaha meyakinkan pak Samsudin, hingga akhirnya dia pun percaya, walau belum sepenuhnya.
Panji berterima kasih dan berjanji akan menjaga Nadin. Dia tidak akan melukai atau mengecewakan Nadin ataupun kepercayaan yang diberikan pak Samsudin kepadanya.
Dia juga meminta pak Samsudin agar tidak mengatakan pada Nadin kalau dia menemuinya. Pak Samsudin mengerti, dia merahasiakan pembicaraannya dengan Panji pada Nadin dan mak Ebah.
Saat ini hanya dirinya yang tahu hubungan Nadin dan Panji, walau sebenarnya Hirlan juga sudah mengetahuinya.
Flashback off.
***
__ADS_1
Jam 12.30 di sebuah restoran.
Tiga orang wanita paruh baya sedang menikmati makan siang, sambil mengobrol. Mereka adalah bu Soraya, bu Ranti (mama Bily), dan bu Laras (mama Jovanka).
Ketiga wanita yang masih terlihat cantik diusianya yang bisa dibilang sudah tidak terlalu muda itu, sedang membicarakan perjodohan anak-anak mereka.
"Eh iya hampir lupa. Kamu tahu nggak, kalau anak tiri kesayangan kamu itu pernah bawa seorang gadis miskin ke pesta?." Tanya bu Ranti pada bu Soraya.
"Maksud kamu, Panji?." Sahut bu Soraya.
"Iya dia."
"Oh ya, kapan?."
"Beberapa waktu lalu. Kalau nggak salah, waktu kamu dan suami kamu pergi ke mekkah."
" Kamu tahu darimana kalau dia gadis miskin?."
"Ya jelas aku tahu lah, gadis itu kan pernah pacaran sama Bily. Kamu tahu gadis seperti apa dia? Dia dekettin Bily, cuman mau morottin Bily doang, makannya aku cepet-cepet larang Bily berhubungan dengan gadis itu. Eh malah sekarang dia dekettin anak kamu. Dan kamu tahu, saat aku coba ngasih tahu Panji, kalau gadis itu cuma mau morottin dia, eh anak kamu malah belain dia."
"Siapa nama gadis itu?." Tanya bu Soraya.
"Nadin?."
"Iya, Kamu kenal dia?." Tanya bu Ranti.
"Eng-ng-nggak. Aku cuma kaget aja."
"Kamu bisa sebuttin ciri-ciri gadis itu?."
Bu Ranti lalu menyebutkannya. bu Soraya tersentak kaget, karena ciri-ciri yang disebutkan bu Ranti sama persis dengan Nadin yang dia kenal. Nadin keponakan bi Sum, yang pernah menjadi suster pengasuh Mikha.
Nadin??Apa mungkin Panji mau pergi bersama gadis itu?. Tapi mana mungkin?. Aku harus cari tahu.
Bu Laras hanya mendengarkan pembicaraan bu Ranti dan bu Soraya. Dia memang tahu kalau Panji tidak menyukai anaknya. Dia juga pernah bertemu dengan gadis yang di maksud oleh bu Ranti, saat dipesta.
Bu Laras memang menyukai dan menginginkan Panji jadi menantunya, tapi dia tidak pernah memaksa Panji, bu Soraya lah yang berambisi menjodohkan Jovanka dan Panji. Bu Soraya dan bu Laras adalah sahabat sekaligus saudara sepupu, jadi Jovanka adalah keponakan bu Soraya.
__ADS_1
"Lagian kamu kenapa sih ngebet banget pengen jodohin Panji sama Jovanka?. Kamu tahu sendiri kan Panji tidak menyukai anakku." Kata bu Laras.
"Kamu ini gimana sih Laras?. Udah jelas anak kamu sangat tergila-gila sama Panji. Kamu harusnya dukung aku dan anak kamu dong. Emang kamu nggak mau punya menantu seperti Panji. Dia itu udah ganteng, mandiri, kaya raya pula. Kamu mau tahu berapa harta pribadi milik dia?." Tanya bu Soraya.
"Iya aku tahu, tapi masalahnya dia kan tidak menyukai Jovanka."
"Itu bukan masalah. Kamu lihat saja, cepat atau lambat, Panji akan jatuh kedalam pelukan Jovanka." Pungkas bu Soraya.
...
Bu Laras menceritakan tentang pembicaraannya dengan bu Soraya dan bu Ranti tadi siang. Dia kembali meyakinkan Jovanka agar tidak lagi mengejar-ngejar Panji, karena menurut bu Laras Panji itu mencintai gadis lain.
"Ingat Jo, kita ini perempuan. Kamu jangan terlalu agresif sama laki-laki, apalagi dia tidak menyukai kamu, dan sudah mencintai gadis lain. Sebagai sesama perempuan mama minta kamu jangan merusak kebahagian perempuan lain."
"Aduuh mama ngomong apa sih?. Siapa yang ngerusak kebahagian orang lain?. Denger ya mah, aku tuh tahu kali cewek bernama Nadin yang mama maksud. Aku juga pernah lihat dia di pesta. Dan asal mama tahu, dia bukan cewek yang dicintai Panji. Panji tuh cuman manfaattin dia aja kok mah."
"Manfaattin?. Manfaattin gimana maksud kamu?."
Jovanka lalu menceritakan apa yang dia tahu dari Nadin waktu itu, pada bu Laras.
"Oh gitu. Kasian juga ya gadis itu. Tapi kamu tahu dari mana semua itu?." Tanya bu Laras.
"Aku tahu dari orangnya lah mah, dari Nadinnya sendiri. Percaya deh sama aku, Panji itu belum punya pacar, dia cuma mau bikin aku cemburu. Makannya mama do'ain aku dong, biar aku bisa dapetin Panji secepatnya."
"Mama akan selalu mendoakan yang terbaik buat anak-anak mama." Pungkas bu Laras.
Esoknya Jovanka menemui bu Soraya. Dia menjelaskan tentang Nadin padanya. Bu Soraya sekarang mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
"Oh jadi gitu ceritanya Jo?. Ya iya lah tante juga gak percaya kalau Panji bener-bener mau sama gadis seperti Nadin. Ya walau tante akui wajah Nadin emang cantik, tapi tetep aja dia gak cocok dan gak mungkin masuk kedalam kriteria wanita idaman Panji.
Panji itu pinter dalam segala hal, masa iya sih dia mau memilih gadis biasa seperti Nadin"
"Iya tante benar. Panji emang pinter, makannya dia bisa manfaattin Nadin buat manas-manassin aku." Pungkas Jovanka.
.
.
__ADS_1
TBC❤️
Jangan lupa like, vote dan komentarnya ya