Panji & Nadin

Panji & Nadin
Ingin menemui


__ADS_3

Sudah tiga hari ini Nadin tidak bertemu Mikha saat jam istirahat. Dan hari ini pun, dia masih tidak bertemu dengannya. Nadin fikir, mungkin Mikha pergi liburan, atau mungkin juga dia bosan bertemu dengannya, atau mungkin saja keluarganya melarang Mikha bertemu denganya.


Ahh sudahlah, kenapa aku harus memikirkannya. Batin Nadin.


Jam istirahat sudah habis, semua karyawan kembali bekerja. Siang ini, Panji akan datang kembali ke sana, tak heran semua karyawan diminta untuk membersihkan dan merapikan area kerja masing-masing.


Belakangan ini Panji memang sering datang kesana, apalagi minggu ini, dia datang dua hari berturut-turut, dan ini kedatangannya yang ketiga.


Sebelum Panji datang, Sambaru memanggil Nadin ke ruangannya. Nadin terkejut dan takut, mungkin saja dia akan dikeluarkan dari sana, walau selama ini, dia merasa tidak melakukan kesalahan apapun, tetap saja rasa takut itu ada dihati Nadin, apalagi beberapa hari ini, Panji sering datang ke sana. Mungkin saja diam-diam Panji ingin mengeluarkannya.


Ketakutan Nadin semakin menjadi, saat dia melihat laki-laki yang Sambaru kenalkan kepadanya sebagai pemilik konveksi. Jantungnya langsung berdebar kencang.


"Jadi kamu yang bernama Nadin?." Tanya lelaki itu, yang Nadin tahu namanya adalah pak Bahtiar, pemilik konveksi ini.


"i-i-iiya pak."


"Kamu nggak perlu takut, saya nggak akan marahin kamu. Saya kesini karena saya ingin meminta kamu menemui cucu saya."


"Maksud bapak?."


"Kamu tahu cucu saya Mikha kan?."


"Iya pak, saya tahu."


"Dengar Nadin, cucu saya Mikha sedang sakit, dan saat ini dia ingin sekali bertemu kamu. Kamu mau kan bertemu dia?. Saya sudah membawanya berobat, tapi sepertinya obat yang dia minum tidak ada reaksi sama sekali. Siapa tahu dengan ketemu kamu, keadaan Mikha bisa lebih baik "


Apa? Mikha sakit? Pantesan aja dia tidak kesini.


"Nadin...Nadin." Panggil Sambaru.


"Ehh iya pak, maaf.!!"


"Pak Bahtiar menunggu jawaban kamu."


"Oh iya pak, saya pasti akan menemui dia nanti, saat pulang."


"Saya ingin kamu menemuinya sekarang juga."


"Tapi saya sedang bekerja pak."


"Kamu jangan fikirkan itu. Apa kamu lupa, kalau saya pemilik konveksi ini?. Sambaru, saya mau bawa Nadin sebentar, kamu urus dilapangan ya!! Cari orang untuk menggantikan Nadin, selama dia menemui cucuku." Perintah pak Bahtiar


"Baik pak.!!


Pak Bahtiar keluar dari ruangan Sambaru, diikuti Nadin dibelakangnya, membuat karyawan lain yang melihat semua itu penasaran dan menduga-duga.

__ADS_1


Kenapa pak Bahtiar membawa Nadin? Apa dia sudah melakukan kesalahan?. Dan masih banyak pertanyaan lain yang bermunculan di benak karyawan.


Saat sedang berjalan menuju rumahnya, pak Bahtiar mengajak Nadin mengobrol. Pak Bahtiar berterima kasih, karena selama ini, Nadin sudah baik kepada cucunya, Mikha.


Nadin tidak menyangka, rupanya Mikha selalu membicarakanya kepada pak Bahtiar.


Ternyata suster Wati bener, pak Bahtiar sangat baik dan ramah, seperti non Prisa, mereka beda banget sama ko Panji.


Untuk pertama kalinya, Nadin menginjakan kaki dirumah mewah pak Bahtiar. Dia sungguh takjub dengan rumah itu. Rumah ini dua atau mungkin tiga kali lipat lebih luas, dari rumah Panji.


Walau begitu, Nadin tidak mau memperlihatkan kekagumannya pada rumah ini. Dia tidak mau, pak Bahtiar atau orang yang ada dirumah itu menyebutnya kampungan.


Saat Nadin datang ke kamarnya, Mikha tampak sangat senang. Dia langsung ceria, walau wajahnya terlihat masih sangat pucat. Mikha meminta Nadin menemaninya, karena dia sangat merindukan Nadin.


Nadin sebenarnya tidak keberatan, tapi saat ini, dia sedang bekerja, dan tak mungkin meninggalkan pekerjaanya terlalu lama.


"Kamu mau kan temani cucu saya? Kamu gak usah fikirin pekerjaan kamu, nanti saya yang akan ngomong sama Sambaru. Dan kamu juga gak perlu takut, karena walaupun kamu tidak kembali ke line, gaji kamu tidak akan dipotong. Kamu tetap akan dianggap bekerja satu hari ful." Ujar pak Bahtiar.


"Iya pak, terimakasih." Jawab Nadin.


"Saya yang seharusnya berterima kasih." Balas pak Bahtiar.


***


Di Gedung Konveksi.


Tidak ada masalah apapun yang dia temukan, selain penumpukan.


Karena target produksi yang semakin tinggi, penumpukan memang selalu ada dihampir semua proses, hanya saja karena cara penyimpanan komponen, ataupun barang lebih rapi dari sebelumya, line pun terlihat lebih rapi.


Selain tidak menemukan masalah, Panji juga tidak menemukan Nadin siang itu, dia tidak melihatnya di proses manapun.


Kemana dia? Apa dia tidak masuk?.Tanyanya dalam hati.


Panji ingin menanyakannya, tapi dia gengsi.


"Bagaimana Sambaru, apa target harian kita bisa tercapai?."


"Sampai saat ini, tidak ada masalah ko. Kita selalu bisa mendapat target harian, kadang output kita lebih dari target."


"Bagus kalau gitu, kakakku pasti akan senang mendengarnya."


"Maaf ko, kalau boleh tahu, kapan ko Wily kembali?." Tanya Sambaru.


"Aku juga belum tahu pasti." Jawab Panji, Matanya masih menjelajah seisi line.

__ADS_1


"Maaf ko, apa ko Panji mencari sesuatu?."Tanya Sambaru.


"Tidak. Apa karyawan kamu banyak yang tidak masuk hari ini?." Tanya Panji.


"Hanya ada dua orang yang tidak masuk ko, dan dua-duanya sakit."


"Siapa? Maksudku bagian apa?."


"Bagian cuting satu orang, sewing satu orang."


Lalu kemana gadis nakal itu? Apa dia ke toilet? Tapi kenapa lama sekali? Apa jangan-jangan dia pingsan?. Batin Panji.


"Apa lo mau gue cari tahu dimana Nadin?." Bisik Adam yang mengerti apa yang sedang difikirkan Panji saat ini.


"Apa maksud lo?. Siapa juga yang nyariin dia?." Sahut Panji, lalu melangkahkan kakinya keluar dari gedung. Sedangkan Adam masih bersama Sambaru.


Dia menanyakan dimana Nadin, tanpa membuat Sambaru curiga. Adam segera menyusul Panji, yang sedang berjalan menuju mobilnya.


"Si gadis nakal ada dirumah bokap lo Ji, dia lagi sama Mikha. Katanya Mikha lagi sakit, dan bokap lo sendiri yang minta dia nemenin Mikha." Kata Adam memberi tahu.


"Siapa yang nanya?." Sahut Panji.


"Ya udah, kalau lo emang gak mau tau. Kemana kita sekarang?." Tanya Adam.


"Kantor." Jawab Panji cepat, lalu mobil pun menuju ke kantor.


....


Sepulangnya dari kantor, Panji meminta Adam mengantarkanya ke rumah pak Bahtiar. Dia beralasan ingin menemui ibu sepuh, neneknya.


Tapi Adam tahu, sebenarnya Panji ingin bertemu Nadin.


Adam juga tidak tahu alasan Panji ingin menemui Nadin, apa karena Panji mulai menyukai Nadin, atau dia hanya ingin menggoda dan membuat Nadin kesal seperti biasanya. Adam tahu, Panji selalu terlihat senang saat dia mengerjai Nadin.


"Lo bisa bawa mobil nggak sih Dam? Lelet bener lo, kayak penyu." Teriak Panji


"Gak sabaran amat sih lo. Nenek lo nggak akan pergi jauh kan? Woles aja bro." Sahut Adam.


Panji terdiam seketika mendengar, ucapan Adam. Dia juga tidak mengerti kenapa dia ingin buru-buru sampai dirumah pak Bahtiar. Apa benar karena dia ingin bertemu Nadin? Tapi kenapa? Kenapa dia ingin bertemu dengannya?.


...


Akhirnya mereka sampai dirumah pak Bahtiar. Panji segera masuk ke rumah itu. Adam tersenyum dari dalam mobil melihat Panji yang terburu-buru masuk. Dia sangat yakin, Panji ingin bertemu Nadin.


"Moga aja Nadin masih ada di sini. Kalau dia udah pulang, gue yakin pulang dari sini, si manusia milenium bakal uring-uringan." Gumam Adam. Dia tidak ikut masuk, dan memilih menunggu di mobil.

__ADS_1


Tbc...🌻


__ADS_2