
Dikantor Panji.
Panji baru saja menyelesaikan semua pekerjaanya. Dia melihat jam ditanganya menunjukan pukul sebelas siang. Cepat sekali dia menyelesaikan pekerjaanya hari itu. Rasanya hari ini semangatnya memang sangat menggebu-gebu. Hingga pekerjaanya bisa selesai dengan cepat.
Sambil menunggu jam makan siang dia memandang ke luar jendela kantornya.Tiba-tiba senyumnya mengembang saat dia teringat sesuatu. Iya, dia ingat kejadian tadi pagi, saat dia melihat Nadin hanya menggunakan handuk yang panjangnya tidak sampai setengah pahanya.
Juga wajah merah dan terkejut Nadin, saat dia menyadari hal itu. Semua itu sangat lucu, menggemaskan dan sangat menggoda dimata Panji.
Baru kali ini dia merasakan kembali perasaan seperti ini kepada seorang wanita, setelah hampir lima tahun, dia seperti mati rasa. Panji ingat betul bagaimana putih dan mulusnya kulit Nadin, terutama dibagian-bagian yang selama ini selalu tertutup.
Kulitnya yang putih alami, dan sepertinya belum pernah terjamah oleh tangan nakal laki-laki, masih jelas membayang-bayanginya. Walau selama ini dia sering melihat paha mulus wanita-wanita di luaran sana, bahkan Jovanka, juga karyawati dikantornya banyak yang memakai rok mini, memperlihatkan kaki dan pahanya yang mulus, tapi dia tidak merasakan apa yang di rasakannya tadi pagi dan saat ini.
Ada sedikit pikiran nakal yang terlintas dalam benak Panji saat ini. Saat dia ingat semua itu. Bagaimanapun Panji adalah laki-laki dewasa dan normal. Dia mengakui, kalau dia mengagumi tubuh Nadin yang dia lihat hanya berbalut handuk putih.
Ya Tuhan apa yang aku fikirkan?. Kenapa aku membayangkan yang tidak-tidak tentang gadis itu?.
"Ehmmm..." Suara deheman Adam menyadarkan Panji dari lamunannya.
"Eloo? Lo udah dua kali ngagetin gue Sadam."
"Sori-sori. Gue gak maksud ngagettin lo. Mana berani. Lagian kenapa juga lo ngelamun. Nggak seperti biasanya lo Ji."
"Jangan sok tau. Siapa juga yang ngelamun."Sanggah Panji.
Lalu mereka pergi untuk makan siang.
🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼
Hari sabtu.
Seperti apa yang dikatakanya, hari ini Panji kembali menjemput Mikha dan Nadin. Kali ini, Panji datang seorang diri tanpa Adam. Ibu sepuh dan Prisa sangat senang, dengan perubahan sikap Panji kepada Mikha.
Sekarang Panji selalu menjemput dan mengajak Mikha menginap dirumahnya.
Walau sebenarnya Prisa merasa curiga terhadap perubahan sikap kakaknya, tapi dia tidak terlalu memikirkan kecurigaanya, yang penting hubungan Panji dan Mikha menjadi baik, itu sudah membuatnya bahagia.
Panji membawa Mikha ke taman bermain, lalu membelikannya banyak boneka, membuat Mikha sangat senang, begitu juga dengan Nadin. Dia senang melihat tawa ceria Mikha. Mereka lalu pulang ke rumah Panji.
Tanpa di duga, Panji menitipkan Mikha kepada art nya, lalu dia meminta ijin Mikha untuk membawa Nadin pergi. Mikha mengangguk, membuat Panji senang.
Anak pintar. Batin Panji.
Nadin ingin protes, saat Panji membawanya ke luar dan menyuruhnya masuk ke mobil. Tapi percuma, dia tahu Panji tidak bisa di bantah, apalagi olehnya.
"Ko Panji mau bawa saya kemana lagi?." Tanya Nadin.
"Nanti kamu juga tahu." Jawab Panji.
"Kenapa kita cuma pergi berdua?. Kemana mas Adam?." Tanya Nadin.
Panji tidak menjawab pertanyaan Nadin. Dia hanya meliriknya sekilas.
"Ditanya bukannya jawab, malah diem aja. Orang kaya emang seenaknya. Apa aku emang gak berhak bertanya sama orang kaya? Apa mereka gak mau menjawab pertanyaan orang miskin seperti aku?." Gerutu Nadin.
__ADS_1
Sampailah mereka disebuah salon kecantikan. Panji meminta pegawai salon mendandani Nadin sesuai keinginanya. Dan Nadin menurutinya tanpa bertanya apa-apa. Dia tidak mau bertanya, karena pasti jawaban Panji tidak akan memuaskan, dan hanya membuat gondok di hatinya.
Setelah kurang lebih satu jam, akhirnya Nadin telah selesai didandani. Dia keluar menghampiri Panji yang menunggunya.
Mata Panji sedikit membola melihat penampilan Nadin kali ini yang terlihat semakin cantik, bahkan lebih cantik dari penampilannya seminggu yang lalu.
Panji juga terlihat sangat tampan dengan setelan jas yang dipakainya, membuat Nadin sedikit mengagumi ketampanan Panji malam itu.
Panji membawa Nadin ke mobilnya. Lalu pergi meninggalkan salon, menuju ke tempat tujuannya. Nadin ingin bertanya mau dibawa kemana dirinya malam itu, tapi dia tahan keinginanya itu, sampai akhirnya Panji sendiri yang mengatakan kemana mereka akan pergi.
"Kita akan menghadiri pesta pernikahan salah satu klienku. Aku mau kamu kembali berpura-pura menjadi pacarku, seperti minggu lalu." Kata Panji.
"Apa? M-m-maksud saya, kenapa ko Panji harus selalu berpura-pura? Apa ko Panji benar-benar tidak punya pacar yang bisa ko Panji bawa ke pesta?. Kenapa ko Panji harus membawa saya dan repot-repot mengeluarkan banyak uang untuk membeli baju mahal dan mendandani saya seperti ini?."
"Kamu gak perlu tahu. Lagipula aku tidak repot. Bukan aku yang mendandani kamu kan, tapi pegawai salon itu."
"Iya ko saya tahu, tapi kan...."
"Sudahlah, lakukan saja apa yang aku perintahkan. Aku akan kembali mengurangi masa kerja kamu sepuluh hari, kalo kamu mau menuruti semua yang aku katakan."
"Beneran ko?."
"Hem."
"Oke siap-siap ko. Saya pasti akan menuruti apapun yang ko Panji katakan." Ucap Nadin sumringah.
"Kamu yakin, kamu akan menuruti apapun yang aku katakan?." Tanya Panji memastikan.
"Yakin ko." Jawab Nadin mantap.
Mereka sudah sampai di tempat tujuan mereka. Nadin dan Panji turun dari mobil. Kali ini Panji tidak menggandeng tangan Nadin, melainkan merangkul pinggang Nadin dengan begitu erat. Nadin menatap Panji, seolah ingin protes dengan apa yang di lakukan Panji.
"Kamu sudah bilang akan menuruti apapun yang aku katakan dan lakukan bukan?. Tenang saja, aku tidak akan macam-macam. Aku hanya takut kamu terjatuh dan mempermalukanku di depan orang banyak." Modus Panji. Dan Nadin hanya bisa pasrah menuruti Panji. Lagipula dia sudah berjanji akan menuruti apapun yang dikatakan Panji. Tapi bukan ini maksud Nadin. Dia terjebak oleh ucapannya sendiri.
Panji dan Nadin berjalan di atas red karpet yang tergelar dari pintu masuk menuju tempat pesta. Nadin begitu terpukau melihat dekorasi pesta yang begitu mewah. Mungkin ini memang pesta pernikahan seorang artis atau orang kaya raya di negara ini.
Semua tamu undangan yang datang juga sepertinya memang orang-orang kaya raya.Tangan Panji masih setia melingkar dipinggang ramping Nadin, saat banyak mata menatap ke arah mereka.
Panji meminta Nadin yang mulai merasa risih, untuk tetap tersenyum, dan bersikap seolah-olah mereka adalah sepasang kekasih.
Panji dan Nadin sudah naik ke pelaminan, menyalami kedua mempelai, lalu turun dan bergabung bersama rekan kerja Panji yang juga di undang di pesta itu.
Mereka tidak hentinya memuji Panji dan Nadin yang terlihat serasi. Panji dan Nadin hanya tersenyum, mendengar pujian demi pujian yang mereka dapatkan. Dan untuk pertama kalinya, Nadin melihat senyum Panji malam itu. Walau cuma sebentar, tapi senyuman Panji sukses membuat Nadin terpesona.
Ya Allah ko Panji ganteng banget kalo senyum kayak gini. Puji Nadin dalam hatinya.
Malam itu sepertinya Panji memang sangat berbeda. Dia lebih ramah dan murah senyum. Dia juga tidak bersikap dingin seperti biasanya, membuat Nadin merasa senang dengan sikap Panji malam itu.
Ko Panji bener-bener orang yang gak bisa di tebak. Batin Nadin.
Di pesta malam itu, Nadin dan Panji kembali bertemu dengan bu Ranti, tapi kali ini tanpa Bily. Hanya bu Ranti dan suaminya yang hadir. Dia menundukan kepalanya , saat melihat Panji dan Nadin berjalan melewatinya.
Panji sengaja menarik pinggang Nadin agar lebih mendekat kepadanya, saat mereka melewati bu Ranti, juga Jovanka, yang juga hadir disana bersama kedua orang tuanya.
__ADS_1
Panji menyapa kedua orang tua Jovanka, dan mengenalkan Nadin sebagai kekasihnya kepada mereka. Kedua orang tua Jovanka saling pandang, dan tersenyum kikuk, saat itu. Mereka merasa kehilangan kesempatan untuk menjadikan Panji sebagai menantunya.
Sedangkan Jovanka, dia kembali menatap Nadin penuh benci, apalagi saat melihat tangan Panji yang tidak pernah lepas dari pinggang Nadin, membuatnya semakin panas melihat kemesraan itu.
"Maaf om, tante, kami permisi. Yuk sayang."Ajak Panji kepada Nadin.
Apa? Sayang? Aku gak salah denger?. Batin Nadin. Dia geli sendiri mendengar Panji memanggilnya sayang.
Panji dan Nadin lalu meninggalkan pesta dan pulang. Sepanjang perjalanan, mereka diam. Sesekali Nadin menolehkan pandangannya ke arah Panji, yang kelihatan bahagia malam itu. Walau keadaan di mobil memang agak gelap, tapi Nadin masih bisa melihat aura kebahagian di raut wajah Panji.
Kenapa dia?
"Ko..ko Panji." Panggil Nadin.
"Iya. Ada apa?."
"Ko Panji baik-baik saja kan?."
"Apa maksud kamu?. Jelas aku baik-baik saja. Kalo aku sakit, pasti aku di rumah sakit sekarang." Jawab Panji
"Ko Panji kenapa senyum-senyum sendiri? Ada yang lucu?." Tanya Nadin.
"Siapa yang senyum sendiri?."
Gak mau ngaku lagi. Jelas-jelas aku lihat dari tadi dia senyam-senyum sendiri. Dasar orang aneh. Apa dia udah berhasil manas-manasisin mantanya di pesta tadi ya?. Sama kayak aku waktu manas-manassin si Feri.
"Kamu gak usah ngeliatin aku terus, kalau kamu gak mau jatuh cinta sama aku."
"Idiiih ko Panji geer banget. Siapa juga yang ngeliatin ko Panji." Sanggah Nadin, lalu menolehkan pandanganya ke kaca mobil yang ada di hadapannya.
Panji tersenyum.
"Kamu yakin kamu gak jatuh cinta sama aku, Nadin?."
Ehh kenapa dia hari ini? Tumben bener manggil nama aku. Tapi kok jadi agak genit sih?.
"Enggak ko Panji. Saya gak jatuh cinta sama ko Panji."
"Kenapa kamu gak jatuh cinta sama aku?. Banyak orang yang bilang aku ini tampan dan mapan. Kamu nggak mau?."
idiih kenapa sih dia narsis banget kayak gini? Salah minum obat apa? Atau jangan-jangan semua ini gara-gara nggak ada mas Adam? Ah iya jangan-jangan bener gara-gara mas Adam gak ada disini, makanya dia ngelantur ngomongnya.
"Hey, aku bertanya sama kamu."
"Ko Panji emang ganteng sih, tapi maaf, ko Panji bukan tipe saya."
"Oh ya? Lalu tipe cowok kamu seperti apa? Jangan bilang kamu suka cowok seperti Adam."
"Bukanlah. Mas Adam juga bukan tipe saya."
"Lalu lelaki seperti apa tipe idaman kamu?."Tanya Panji.
Tbc❤️
__ADS_1
Jangan lupa ,like, vote dan komentarnya ya 🤗