
Jam menunjukan pukul delapan malam, saat pasangan pengantin baru itu baru selesai makan malam, dan saat ini mereka sedang bercengkrama di sofa ruang tengah.
Panji mengajak Nadin ke kamar. "Bentar lagi ah, belum ngantuk." Jawab Nadin saat Panji mengajaknya ke kamar. Jantungnya tiba-tiba saja berdetak lebih kencang saat itu, dia gugup tapi berusaha menutupinya.
"Makanya, mumpung kamu belum ngantuk."Balas Panji dengan senyum penuh arti, membuat jantung Nadin semakin berdetak kencang tak karuan.
"Bentar lagi ya, tanggung nih filmnya lagi seru-serunya." Jawab Nadin yang semakin merasa gugup. Panji tersenyum, lalu berbisik ditelinga Nadin. "Kamu takut ya sayang?."
Ya ampun, kenapa dia bisa tahu?.
"Takut?. Takut apa?. Enggak kok." Jawab Nadin menyangkal perasaannya sendiri. Senyum Panji semakin lebar mendengar jawaban Nadin.
"Kalo gitu ayo, buktikan kalo kamu emang gak takut." Tantang Panji, lalu menggendong Nadin ala bridal style, membuat Nadin tersentak kaget dengan apa yang Panji lakukan.
Dia meronta meminta Panji menurunkanya, tapi Panji tidak menghiraukan ocehan Nadin, dia membawa Nadin ke kamar atas, atau kamar utama milik Panji. Sejak mereka ada divila, Panji memang melarang siapapun masuk ke kamar ini.
Mereka berdua kini sudah berada didalam kamar sekarang. Nadin begitu terpukau melihat keadaan kamar yang ternyata sudah di dekor dengan sangat indahnya. Tak hanya indah, suasana romantis begitu terasa saat Nadin berada disana.
Kelopak bunga bertebaran dimana-mana, ada juga bunga tulip, bunga kesukaan Nadin dibeberapa sudut ruangan kamar. Kamar yang sangat indah dan juga wangi, membuat Nadin sangat senang dan sangat menyukai kamar itu. Panji memeluk pinggang Nadin, mendaratkan dagu dibahunya, lalu berkata: "Kamu suka sayang?."
"Saya suka saya suka." Jawab Nadin sambil tersenyum, berusaha menutupi rasa gugupnya dengan candaan.
"Kamu...gemesin banget sih, gigit ya." Ujar Panji, seraya mengeratkan pelukanya, dan menggigit kecil daun telinga Nadin, membuat bulu roma Nadin meremang seketika.
"Aww." Sahut Nadin refleks memegang daun telinganya. Jantungnya semakin berdebar kencang saat ini. Apalagi Panji terus saja menyentuhnya, mencium lembut area wajah dan lehernya. Panji tersenyum saat merasakan debaran jantung istrinya semakin kencang.
"Ayo sayang, kamu udah siap kan?." Bisik Panji.
"Siap apa? Tidur?." Jawab Nadin pura-pura."
"Masa tidur!! Unboxing dong." Kata Panji yang semakin mengeratkan pelukanya dan tersenyum penuh arti. Nadin mengerti apa maksud Panji. Dia semakin gugup.
Panji menatap wajah Nadin yang merona. Dia tahu istrinya itu gugup dan mungkin saja takut.
Panji mendekatkan wajahnya pada Nadin, menatap mata dan bibir Nadin bergantian, dengan senyum yang masih terukir dibibirnya.
Senyum yang mengisyaratkan ajakan untuk melakukan "sesuatu" yang tentu saja Nadin tahu apa maksudnya. Nadin pun tak mengerti kenapa dia bisa setegang ini berhadapan dan berduaan dengan Panji, padahal ini bukan pertama kalinya dia berduaan dengan Panji, tapi mengapa malam ini rasanya sangat berbeda sekali.
Panji mengajak Nadin duduk di sofa yang ada di tepi ranjang besar di kamar itu. Dia mengajak Nadin mengobrol santai, berharap rasa gugup yang dirasakan Nadin sedikit berkurang. Sesekali Panji menggodanya dengan candaan, dan Nadin membalasnya dengan candaan pula.
Suasana pun mencair, Nadin tidak lagi terlihat gugup dan kaku. Mereka membicarakan kisah cinta mereka dari awal sampai akhirnya menikah. Keduanya tersenyum bahagia dan tidak menyangka sekarang mereka sudah resmi menjadi suami istri.
Panji menggenggam tangan Nadin, dan menciumnya dengan penuh perasaan. Panji mencium dahi, pipi, lalu bibir Nadin. Tak hanya mencium, Panji mulai memainkan bibirnya di bibir Nadin, mereka berdua berciuman dengan mata terpejam, menikmati apa yang mereka lakukan.
__ADS_1
Perlahan tangan Panji menyelinap kedalam baju Nadin, mengusap-ngusap lembut pinggang lalu naik ke punggungnya. Nadin merasakan tubuhnya seperti tersengat listrik, saat merasakan tangan Panji memegang dan meremas buah dad*nya.
Dia refleks menepis tangan Panji, tapi tidak berhasil. Tangan Panji seperti sebuah perangko yang menempel lekat didadanya. Nadin pun pasrah dan membiarkanya karena dia sadar dirinya kini seutuhnya milik Panji, suaminya.
Panji semakin berani. Dia mulai membuka satu persatu kancing piyama yang dikenakan Nadin, hingga bagian atas tubuh Nadin bisa ia lihat dengan jelas. Fokus Panji langsung tertuju pada dua gunung kembar yang sebagian masih tertutup bra berwarna soft blue.
Panji tersenyum menatap Nadin, lalu turun menatap belahan dada Nadin yang menyembul ke atas, menampakan pemandangan yang sangat indah dimata Panji.
Dia mendekatkan wajahnya kesana, menciumnya dengan lembut, lalu membenamkan wajahnya disana. Tanganya kembali mengusap punggung Nadin, lalu memegang pengait
Nadin mencekal tangan Panji yang akan membuka kaitan bra-nya, karena dia baru mengingat sesuatu, hampers pemberian ibu mertuanya. Iya dia ingat itu. Nadin meminta ijin pada Panji untuk mengambil hampers yang dia simpan di kamar bawah.
"Aku fikir apa. Udah besok aja kita buka kadonya." Kata Panji.
"Tapi, mama pesen kita harus buka malam ini juga. Aku ambil sebentar ke bawah ya.!!" Ujar Nadin. Panji tidak menjawab. "Ya sayang ya." Rayu Nadin.
"Biar aku yang kebawah, kamu disini aja." Sahut Panji seraya melangkahkan kaki menuju pintu. Langkah Panji terhenti saat dia sampai di ambang pintu." Kamu siap-siap sayang, setibanya aku dari bawah, kamu siap aku eksekusi." Kata Panji lalu keluar menuju kamar bawah.
Nadin tersenyum mendengar ucapan suaminya. Dia mengenakan kembali piyama yang sudah Panji lepaskan dari tubuhnya.
Tak lama kemudian, Panji kembali ke kamar pengantin, membawa hampers pemberian bu Ana, dan memberikanya pada Nadin. Karena penasaran, mereka berdua langsung membukanya.
Panji dan Nadin saling pandang, namun kemudian Panji menyeringai melihat isi hamper itu yang ternyata adalah baju haram. Dia meminta Nadin segera mengenakan baju
Nadin pergi ke kamar mandi, karena akan mengganti bajunya disana, dan Panji menunggunya diranjang besar yang bertabur kelopak mawar merah.
Dia sudah sangat siap melakukan adegan malam pertamanya.
Mama memang pengertian banget. Gumam Panji dalam hatinya. Dia sudah tidak sabar ingin melihat penampilan Nadin mengenakan baju haram itu.
Ceklek....suara pintu kamar mandi terbuka. Senyum Panji melebar karena sebentar lagi dia akan melihat bagaimana penampakan tubuh indah istrinya, setidaknya itulah yang difikirkannya saat itu.
Namun senyumnya itu langsung memudar saat melihat ternyata Nadin masih mengenakan piyamanya, dan baju haram itu masih dipegangnya. "Sayang...kenapa kamu belum pake bajunya?." Tanya Panji. Nadin tersenyum samar seraya menghampiri Panji, dan duduk disebelahnya.
"Aku......aku...." Jawab Nadin ragu.
"Aku apa?. Jangan bilang kamu malu. Kita ini suami istri sekarang, jadi gak ada alasan kamu malu di depan aku."
"Bukan, bukan itu. Aku.....aku kedatangan tamu."Sahut Nadin ragu-ragu.
"Tamu?. Siapa tamu yang dateng malam-malam kayak gini?. Ganggu aja. Udah tau kan pestanya tadi siang, kenapa dateng sekarang?." Ujar Panji yang belum mengerti "tamu" yang dimaksud Nadin.
"Bukan itu maksudnya, tapi...."
__ADS_1
"Tapi apa?."
"Aku...aku dateng bulan."
"Apaaa?? Maksud kamu, kamu..."
"Iya, aku haid."
"Kok bisa?. Jangan bohong, kamu ngerjain aku kan?."
"Enggak!! Beneran aku haid."
"Mana!! Sini aku lihat."
"Ihh apaan sih, malu lah."
"Berarti kamu bohong kan?."
"Serius!! Beneran aku haid, ya walau belum banyak banget sih. Aku baru inget kalo sekarang akhir bulan, jadwal dateng bulan aku."Jelas Nadin
"Jadi gimana malam pertama kita?. Gagal dong!!. Kata Panji kecewa.
"Heehee....maaf!!. Sahut Nadin.
"Yahh.." Panji berdecak.
"Maaf ya!!."
"Ya udah, kita tidur aja." Ajak Panji, menahan kecewa, seraya memegang tangan Nadin, dan menuntunnya untuk berbaring. Mereka sudah berbaring. Panji memejamkan mata dan melingkarkan tanganya diperut Nadin.
"Kamu gak marah kan sayang?." Tanya Nadin.
.
.
.
Bersambung❤️
Hay readers👋Maaf ya baru sempet up lagi🙏
Makasih banyak ya buat semuanya yang udah mampir dan selalu setia🙏🤗
__ADS_1