Panji & Nadin

Panji & Nadin
Tamu istimewa


__ADS_3

Tiga hari menjelang pernikahan.


Keluarga Nadin sedang bersiap-siap, karena besok mereka akan berangkat ke puncak. Panji semakin memperketat penjagaan di sekitar rumah Nadin, untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. Karena Panji tahu, orang yang mengawasi Nadin masih terus mengikuti dan memantaunya.


Sore itu sekitar jam enam petang, atau ba'da maghrib, keluarga mak Ebah kedatangan tamu istimewa. Awalnya mereka tidak mengenali tamu itu, karena dia memakai penutup kepala, kaca mata hitam dan masker.


Dia menenteng sebuah tas bermerk terkenal, yang harganya berkisar puluhan juta. Perasaan Nadin langsung tidak enak melihat wanita itu.


Wanita itu membuka kacamata dan maskernya, lalu memperlihatkan wajahnya kepada keluarga Nadin. Semua nampak terkejut, saat tahu ternyata dia adalah bu Soraya.


Kedatangannya ke rumah Nadin tak lain hanyalah untuk meminta Nadin dan keluarganya tidak meneruskan acara pernikahan itu. Dia menawarkan sejumlah uang yang sangat besar dan sebagai balasannya dia meminta Nadin dan keluarganya pergi jauh.


"Saya tidak peduli kalian mau kemana, yang penting kalian, khususnya kamu Nadin, jangan pernah lagi menampakkan diri dihadapan Panji." Ujar bu Soraya.


"Maaf bu Soraya, tapi kami tidak bisa mengabulkan keinginan ibu. Kami tidak akan kemana-mana. Jadi silahkan ambil kembali uang ibu dan bawa pulang saja." Jawab pak Samsudin.


"Kenapa? Apa uang yang aku berikan masih kurang?."


"Ini bukan masalah uang bu Soraya, tapi ini....."


"Ohh aku ngerti sekarang. Jadi kalian nolak uang pemberianku, karena kalian semua fikir akan bisa mendapatkan uang lebih mudah dan lebih banyak dengan menikahkan gadis ini dengan Panji, gitu kan?. Hahh jangan mimpi."


"Maaf bu, tapi kami tidak seperti itu."


"Alah udah lah gak usah munafik. Saya tahu, kamu sengaja kan mengumpankan anak gadis kamu itu pada Panji, supaya dia nikahi anak kamu?. Tapi kok, Panji mau-maunya sih sama gadis kayak kamu. Udah miskin, gak punya harga diri lagi. Jangan-jangan benar kalau kalian sudah mengguna-gunai Panji. Atau memang kamu sudah ..........


"Cukup bu, jangan menghina keluarga kami lagi. Kami memang miskin, tapi kami tidak serendah itu. Dan anak saya tidak pernah menggoda apalagi mengguna-gunai nak Panji. Kalau kedatangan ibu kemari hanya untuk menghina keluarga kami, atau meminta kami pergi, sebaiknya ibu pergi saja, dan bawa semua uang ibu, karena kami tidak akan melakukan apa yang ibu minta."Tegas pak Samsudin.

__ADS_1


"Kamu berani ngusir saya?. Kamu fikir kamu siapa hehh?. Jadi orang miskin aja belagu, apalagi kalau kaya. Kalian orang miskin memang tidak tahu malu dan tak punya harga diri sama sekali. Aku tahu tujuan kalian sebenarnya hanya harta Panji kan?.


Jangan kalian fikir aku akan diam saja. Aku tidak akan biarkan kalian mendapatkan apa yang kalian mau." Kata bu Soraya, lalu dia mendekati Nadin."Dan camkan ini baik-baik gadis miskin, sekali lagi aku ingatkan sama kamu Nadin, jauhi Panji atau kamu akan menyesal. Aku tidak segan-segan melenyapkan keluarga kamu, kalau kamu masih nekat menikah dengannya, ingat itu." Ancam bu Soraya, lalu dia pergi dengan wajah kesal.


Dia melangkahkan kaki menyusuri gang sempit, sambil terus mengumpat Nadin dan keluarganya. Untungnya petang itu tidak ada orang atau tetangga Nadin yang nongkrong di teras rumah mereka.


Karena terus mengumpat, bu Soraya tidak memperhatikan jalan, hingga dia tidak menyadari ada lubang di depannya, dan saat dia melewati lubang itu kaki kirinya terperosok masuk kedalam got. Dia berteriak, dan melemparkan kompan bekas yang ada didepannya.


Tidak ada yang menolong bu Soraya karena suasana disana saat itu benar-benar sepi. Untungnya sang sopir yang menunggu bu Soraya di ujung gang, mendengar teriakan majikannya. Dia segera menghampiri dan menolong majikannya. Mereka pun pergi dari sana.


Bu Soraya masih terus mengumpat, memaki dan menghina Nadin saat dia sudah berada dalam mobilnya. Dia benar-benar tidak mau Panji dan Nadin menikah, karena rencananya bisa berantakan. Kalau mereka benar-benar menikah, maka bu Soraya berfikir harus menyiapkan rencana lain, untuk mencapai tujuanya.


...


Pak Samsudin, Nadin ataupun mak Ebah tidak berkata apapun saat bu Soraya sudah pergi. Mereka hanya saling diam, dan saling menatap, tanpa sepatah katapun keluar dari mulut masing-masing.


Pak Samsudin merasa terhina dan sakit hati mendengar kata-kata hinaan yang keluar dari mulut bu Soraya, tapi dia tidak mau menunjukan rasa sakit yang dia rasakan pada Nadin dan ibunya.


Setelah anak buahnya memberi tahu, kalau bu Soraya datang ke rumah Nadin, Panji menelpon Nadin, menanyakan apa yang dilakukan bu Soraya disana. Nadin mengatakan segalanya pada Panji, karena Panji terus mendesaknya.


Panji sangat emosi mendengar apa yang Nadin katakan tentang bu Soraya. Rasanya ibu tirinya itu semakin berani, sok berkuasa dan tidak tahu malu.


Panji ingin mendatangi ibu tirinya itu, tapi tidak sekarang, dia akan melakukannya, saat dia sudah menikah dengan Nadin. Saat ini Panji tidak mau merusak moodnya.


Malam itu Panji memilih menghabiskan waktu mengobrol dengan kekasihnya Nadin, via panggilan video, sampai larut malam. Mereka membicarakan tentang pernikahan mereka dengan penuh rasa bahagia dan sepertinya sudah tidak sabar menunggu lusa tiba.


Nadin mengakhiri percakapan mereka lebih dulu, karena dia mendengar suara pintu kamar pak Samsudin terbuka. Walau suara pintunya sangat pelan, tapi Nadin masih bisa mendengarnya dengan jelas, mungkin karena suasana malam yang hening dan sepi, membuat suara sekecil apapun bisa tertangkap oleh telinganya.

__ADS_1


Sepertinya pak Samsudin dari kamar mandi, karena tak lama kemudian pintu kamarnya terdengar tertutup kembali. Nadin melihat jam di hpnya, sudah menunjukan pukul dua dini hari. Lalu dia pun tidur. Begitupun dengan Panji disana, dia juga sudah masuk ke alam mimpi sekarang.


Jam lima pagi Panji sudah bangun, dan bersiap akan olah raga pagi sebentar, sebelum dia pergi menjemput Nadin dan keluarganya. Panji mengecek ponselnya yang ternyata lobet dan langsung mati. Dia lupa mengecas hpnya, setelah semalam dia dan Nadin mengobrol di telepon.


Saat Panji keluar dari kamar, dia dikejutkan oleh kehadiran Adam yang sudah berdiri didepan pintu kamarnya.


"Ngapain lo disini? Jam berapa ini?. Tumben lo udah dateng pagi buta kayak gini?. Lo bukan mau numpang tidur atau numpang mandi disini kan Dam?." Tanya Panji karena melihat Adam yang masih memakai kaos oblong dan celana boxer yang biasa dia pakai saat tidur.


"Ikut gue Ji?." Ajak Adam.


"Ikut? Kemana?. Ke kamar mandi?." Sahut Panji.


"Kenapa lo nggak bisa dihubungi?. Gue ama Roy dari tadi ngehubungin lo, tapi gak nyambung-nyambung."


"Roy?. Ada apa Dam?. Apa yang terjadi?. Apa dia udah berhasil nangkep orang itu?."


"Nanti gue jelassin. Tapi sekarang lo cepettan ikut gue."


"Kemana?." Tanya Panji, Adam tidak menjawab, malah menarik tangan Panji membawanya ke luar. Panji yang penasaran bertanya pada Adam ada apa dan mau kemana mereka. Biasanya Adam tidak seperti ini saat Panji bertanya padanya.


Adam memberikan ponselnya pada Panji, menunjukan sebuah video yang dia terima dari anak buahnya, Roy, lalu Panji memutar video itu. Panji terperangah, matanya membola setelah dia melihat rekaman video itu. Tubuh dan lututnya tiba-tiba terasa gemetar, dan lemas, Fikirannya pun langsung kacau.


"Cepet kita kesana." Ajak Panji, lalu masuk kedalam mobil.


Adam menekan pedal gas mobilnya sangat dalam,dan mobilpun melaju sangat kencang, agar cepat sampai di tempat tujuan mereka. Panji nampak sangat gelisah, takut dan tidak tenang setelah melihat video itu. Dia ingin secepatnya sampai disana.


.

__ADS_1


.


Bersambung.☘️


__ADS_2