Panji & Nadin

Panji & Nadin
Kamu nggak pernah ciuman ya?


__ADS_3

Hubungan Nadin dan Panji semakin dekat saja sekarang. Setiap malam minggu atau hari minggu mereka selalu pergi berkencan. Rasa cinta diantara keduanya pun semakin tumbuh subur setiap harinya.


Hari minggu ini Panji mengajak Nadin jalan-jalan ke mall. Kali ini mereka pergi bersama Mikha. Mereka sudah seperti satu keluarga kecil yang bahagia. Ayah, ibu dan juga anaknya.


"Aku seneng deh kalo kak Nadin nikah sama om Panji. " Cicit Mikha.


"Mikha ngomong apa sih sayang?. Nggak boleh ngomong gitu ya." Kata Nadin.


"Emang kenapa?."


"Pokoknya gak boleh ya sayang. Janji?. Mikha juga harus janji gak boleh bilang siapa-siapa kalau kita pergi bertiga."


"Iya janji."


Selama ini keluarga Panji mengira Panji dan Mikha pergi bertiga dengan suster Elin, padahal sebenarnya suster Elin menunggu dirumah Panji, karena Panji dan Mikha pergi bersama Nadin, dan suster Elin tidak tahu itu. Dia mengira Panji hanya pergi berdua saja dengan Mikha.


Walau Mikha sering keceplosan menyebut nama Nadin, tidak ada yang curiga sama sekali, mereka menganggap karena Mikha dekat dengan Nadin, jadi dia mungkin hanya salah menyebut nama Elin, menjadi Nadin.


Prisa juga pernah melihat Panji menggandeng mesra tangan seorang gadis di sebuah mall. Dia tidak bisa melihat dengan jelas siapa gadis itu, yang jelas dia bukan Jovanka, tapi dia juga merasa tidak asing melihat sosok gadis itu.


Kak Panji jalan sama siapa?. Kok aku kayaknya gak asing lihat sosoknya.


.....


Hari minggu ini, Panji dan Nadin menghabiskan waktu bersama berdua di rumah Panji, karena dua hari lagi Panji akan pergi, dan kali ini dia akan keluar negeri. Panji tidak tahu berapa lama dia berada disana.


Entah satu minggu, dua minggu atau mungkin juga sebulan. Mereka duduk bercengkrama sambil menonton film diruangan khusus untuk menonton, atau home theater di rumah Panji.


Ahh paling dia cuma mau ngerjain aku. waktu itu aja, dia nggak ngabarin tau-tau udah nemuin aku.


"Aku akan sangat merindukan kamu sayang." Bisik Panji ditelinga Nadin. "Katakan, apa kamu juga akan merindukanku?." Tanya Panji.


"Iya dong, pastinya. Makanya cepet pulang, jangan lama-lama disananya." Jawab Nadin.


Panji menggenggam tangan Nadin.


"Aku janji akan secepatnya menyelesaikan pekerjaanku, biar aku bisa segera kembali."


Nadin tersenyum, lalu dengan cepat memalingkan wajahnya karena dia melihat mulai ada tanda-tanda kemesuman diwajah Panji.


Tangan Panji merangkul bahu sebelah kiri Nadin, merapatkan ke tubuhnya. Dia mencium pipi kanan Nadin dengan lembut, dan perlahan bibir Panji bergerak turun menjelajahi ceruk leher, hingga ke tengkuk Nadin membuat bulu roma Nadin meremang seketika.


"Geli ih." Ujar Nadin sembari berusaha menjauhkan wajah Panji dari tengkuknya.


"Geli apa enak?." Tanya Panji.


"Geli." Jawab Nadin cepat.

__ADS_1


Tapi enak...kata Nadin dalam hatinya.


"Sayang, ada yang mau aku omongin sama kamu?."Kata Panji.


"Apa?." Tanya Nadin.


"Kamu mau kan nikah sama aku?."


"Nikaaah?. Jangan bercanda."


"Aku serius, aku mau nikahin kamu. Kamu mau kan?." Tanya Panji penuh harap.


Nadin tidak tahu apa Panji benar-benar serius atau tidak dengan ucapannya.


"Kenapa diam aja. Ayo jawab. Kamu mau kan nikah sama aku?."


"Nikah secepat ini? Bagaimana mungkin. Kita baru aja berhubungan, masa udah mau nikah. Kita belum benar-benar saling mengenal, dan...."


"Dan apa?."


"Dan....latar belakang keluarga kita sangat jauh berbeda. Apa mungkin kita bisa menikah?."


"Kenapa nggak mungkin?. Aku nggak peduli siapa, bagaimana dan darimana keluargamu. Yang aku tahu, aku cinta sama kamu dan ingin menikah dengan kamu Nad.


Aku tahu mungkin ini terlalu cepat buat kamu, tapi tidak bagiku. Aku sudah mengenal kamu dan sudah yakin kalau kamu adalah calon pendampingku.


Nadin tercekat mendengar kata-kata Panji yang terasa sangat menyentuh hatinya. Iya, dia akui dirinya sekarang memang benar-benar mencintai Panji, dan bahagia menjadi kekasihnya. Tapi Nadin tidak pernah dan tidak berani berfikir tentang pernikahan dengan Panji, yang mustahil menurutnya.


Kalau ditanya apa Nadin mau menikah dengan Panji, tentu saja dia mau, walau mungkin tidak secepat ini. Dia tidak mau menikah sebelum bisa membahagiakan pak Samsudin dan neneknya. Dan perbedaan itu, perbedaan kasta diantara mereka yang sangat jauh, adalah alasan Nadin tidak berani berharap lebih pada Panji.


"Kamu tidak perlu memikirkan apapun, kecuali cintaku, cinta kita. Itu saja." Ujar Panji yang seolah mengerti apa yang sedang difikirkan Nadin.


"Aku sayang kamu." Kata Panji, seraya melingkarkan kedua tangannya dipinggang Nadin, merapatkan tubuh dan memeluknya dengan sangat erat.


Seolah terhipnotis oleh semua ucapan Panji, Nadin tidak sedikitpun berusaha melepaskan pelukan Panji, seperti yang biasa dia lakukan.


Panji dan Nadin saling menatap. Nadin bisa melihat dan merasakan cinta yang tulus di mata Panji, dan semua itu membuat dia mendadak seperti orang gagu, yang tidak bisa bicara. Tak satu kata pun terucap dari mulutnya, karena merasa tersanjung oleh semua ucapan Panji.


Panji mengecup mesra kening Nadin, lalu kedua pipinya. Nadin memeluk Panji dengan erat, dan Panji membalas pelukannya itu, seraya mengecup puncak kepala Nadin.


Rasa cinta dan sayang Nadin pada Panji seketika bertambah besar saat itu.


Perlahan Panji melepaskan pelukannya. Tangannya membelai lembut pipi Nadin, dan kini tangan Panji sudah memegang dagu Nadin, sedikit mengangkat dagu itu ke atas, menghadap tepat ke arah wajahnya.


Panji dan Nadin kembali bersitatap. Wajah mereka semakin dekat, bahkan hidung mereka sudah saling bersentuhan sekarang.


Panji memiringkan sedikit kepalanya, lalu mendaratkan bibirnya di bibir Nadin. Panji mengecup bibir itu, dan kali ini tidak ada perlawanan dari Nadin. Dia membiarkan saja saat merasakan sesuatu yang kenyal dan hangat itu menyentuh bibirnya.

__ADS_1


Perlahan Panji menyapu bibir Nadin dengan lembut, melum*tnya sekilas, lalu melepaskanya. Panji kembali menatap mata Nadin sambil tersenyum. Dia senang karena Nadin tidak menolaknya, dan sepertinya kekasihnya itu menikmati apa yang dilakukannya.


Panji menangkupkan kedua tangannya dipipi Nadin, dan kembali mengecup bibirnya. Membuat bulu roma Nadin semakin meremang, dan jantungnya berdegup kencang tak karuan.


Tidak hanya mengecup, Panji kembali melum*at lembut bibir Nadin yang terasa kenyal dan manis, lebih kenyal dan manis dari permen yupi😊, membuatnya ketagihan, dan terus ******* bibir itu, walau Nadin tidak membalasnya.


Ini adalah ciuman pertama bagi Nadin, Dia diam saja menikmati apa yang dilakukan Panji padanya. Dan Panji sepertinya tahu kalau kekasihnya itu tidak pernah berciuman dibibir, dia semakin senang dan merasa bangga karena dia adalah laki-laki pertama yang mencium bibirnya. Panji melepaskan sejenak ciumanya.


"Kamu gak bisa ciuman ya?." Goda Panji dengan senyum nakalnya.


Nadin refleks mencubit pinggang Panji, karena merasa malu ketahuan tidak pernah berciuman dibibir.


"Masak aja pinter, masa ciuman gak bisa." Goda Panji lagi, membuat Nadin semakin merasa malu. "Makannya kamu harus sering-sering latihan ya. Dengan senang hati aku bakal ajarin kamu sampai pinter." Tambah Panji.


"Enggak mau." Sahut Nadin malu-malu.


"Iya tau, nggak mau sekali kan?."


"iiihhh apaan sih, tau aja." Sahut Nadin yang terlanjur malu.


"Beneran sayang?." Tanya Panji.


"Enggaakk." Jawab Nadin cepat.


Panji tersenyum seraya mencubit sekilas hidung Nadin, karena merasa gemas.


"Ayo kita belajar lagi." Ajak Panji.


"Ayo, tapi sekarang kita belajar masak yuk. Bentar lagi makan siang."


"Kita pesen aja makanan dari luar, nggak usah masak."


"Enggak mau pesen ah, pengen masak sendiri. Lagian udah lama juga nggak masak disini."


"Tapi janji ya, abis masak kita terusin lagi yang tadi." Kata Panji."


"Iya." Sahut Nadin cepat, membuat Panji tersenyum senang.


"Tapi boong." Imbuh Nadin dengan suara pelan.


Mereka berdua lalu menuju dapur.


.


.


TBC☘️☘️☘️

__ADS_1


__ADS_2