
"Lalu lelaki seperti apa tipe idaman kamu?." Tanya Panji.
"Saya mau lelaki yang sifatnya seperti bapak saya. Baik, setia dan penyayang. Dia setia dan memperlakukan istrinya dengan baik, dan sangat menyayangi anak dan keluarganya."Jawab Nadin.
"Cuma itu?. Aku rasa banyak sekali lelaki seperti itu di dunia ini."
"Enggak ko, saya rasa sebaliknya. Justru sekarang jarang sekali lelaki seperti itu."
"Semua lelaki juga bisa seperti itu, kalau mereka mendapatkan pasangan yang juga memiliki sifat seperti itu."
"Mungkin. Tapi lelaki yang seperti bapak saya, rasanya sudah sangat jarang ditemui. Oh ya ko, apa boleh saya bertanya sesuatu?."
"Tanya saja?."
"Tapi anda janji anda tidak akan marah."
"Hari ini mood aku sedang baik, jadi aku tidak marah."
"Yakin?."
"Katakan saja cepat, sebelum aku berubah pikiran."
"Kenapa ko Panji sepertinya tidak menyayangi non Mikha?. Padahal non Mikha itu anak yang sangat lucu dan pintar." Tanya Nadin takut-takut, dan Panji diam.
Aduuh gawat. Jangan-jangan dia marah lagi. Lagian ini bibir kenapa juga ember banget sih. Pake nanya-nanya hal pribadi lagi.
"M-maaf kalau saya sudah lancang. Tapi anda sudah janji gak akan marah kan ko?. Ya sudah anggap saja saya tidak pernah menanyakannya." Ucap Nadin.
Nadin memaki dirinya dalam hati, yang sudah lancang menanyakan hal ini pada Panji. Mungkin karena malam itu dia merasa Panji tidak bersikap dingin, dan Nadin merasa lebih akrab, jadi dia berani bertanya seperti itu. Nadin menyesal sekarang, karena mungkin saja dia telah menyinggung majikannya.
"Kalau aku bilang Mikha bukan anak kandungku, apa kamu akan percaya?." Suara Panji tiba-tiba membuat Nadin refleks menatap ke arahnya.
"Katakan Nadin, apa kamu akan percaya?."Tanya yang masih memandang lurus kedepan. Nadin diam sambil menatap mata Panji yang tiba-tiba terlihat sendu, pandangannya seperti kosong dan melayang entah kemana.
Dia bisa melihat dari mata Panji, sepertinya mata itu ingin bercerita tentang beban berat yang selama ini tersimpan dalam hati Panji. Nadin tidak mengerti, kenapa tiba-tiba dia merasakan hal itu.
"Kenapa kamu tidak menjawab pertanyaanku Nadin? Aku tahu kamu pasti tidak akan percaya bukan?. Memang tidak ada yang percaya padaku." Ucap Panji dengan suara berat.
"Kalo ko Panji tidak keberatan, saya mau mendengarkan cerita tentang Mikha."
Kenapa kamu begitu peduli pada Mikha? Bahkan ibu kandungnya sendiri tidak peduli padanya. Batin Panji.
"Kamu gak keberatan kan kalau kita berhenti dulu disini?." Tanya Panji.
Tumben pake nanya segala. Biasanya juga dia melakukan apapun yang dia mau.
__ADS_1
Panji memarkirkan mobilnya di dekat taman kota yang mulai sepi. Lalu dia dan Nadin turun dari mobil, dan duduk di bangku taman. Malam itu Nadin tidak merasa canggung, atau kesal pada Panji. Sebaliknya dia merasa prihatin dan sedikit iba, entah karena apa.
Panji mulai menceritakan kisah cintanya dulu dengan Vanesa, sampai akhirnya tiba-tiba Vanesa hamil dan mengatakan kalau anak yang dikandungnya itu adalah anak Panji, padahal Panji merasa tidak pernah melakukan hubungan badan dengan Vanesa.
Panji menceritakan segalanya pada Nadin secara detail, padahal Nadin bukan siapa-siapanya. Dia hanyalah seorang pengasuh, dan tukang beres-beres mingguan dirumahnya. Tapi dia tidak ragu menceritakan kisah hidupnya pada Nadin, yang hanya orang asing.
Nadin tidak tahu harus bagaimana. Tapi entah kenapa hatinya merasa percaya pada cerita Panji. Dia sendiri tidak tahu kenapa, tapi itulah yang dirasakannya.
"Itulah alasan kenapa selama ini sikapku kurang baik pada anak itu. Karena setiap kali aku melihat dia, mengingatkanku pada pengkhianatan Vanesa."
"Saya ngerti ko."
"Tidak Nadin, kamu tidak akan mengerti apa yang aku rasakan. Kamu tidak akan tahu bagaimana rasanya saat merasa sendiri, karena keluarga kita tidak ada satupun yang berdiri bersama kamu, saat kamu sedang dalam masalah. Sebaliknya, mereka malah menjauhi kamu dan menyalahkan kamu, padahal kamu tidak bersalah. Tidak ada satupun keluarga kamu yang percaya kepadamu. Kamu tahu rasanya diperlakukan seperti itu oleh keluargamu sendiri?."
"Mungkin karena mereka melihat bagaimana mesranya ko Panji dengan mamanya Mikha, makanya mereka menyangka kalau anda berdua pasti akan melakukan hal yang lebih jauh, seandainya hanya berduaan."
Panji diam.
"Maafkan saya kalau saya lancang. Tapi menurut saya Mikha tidak bersalah, dan tidak pantas dibenci. Dia hanya anak kecil yang tidak berdosa. Ko Panji boleh membenci mamanya Mikha, karena sudah mengkhianati ko Panji, tapi apa salah Mikha?
Kenapa ko Panji membencinya?. Walau dia bukan anak ko Panji, tidak ada salahnya kan memperlakukan dia sebagaimana mestinya. Mungkin saja Tuhan ingin ko Panji merawat, membesarkan dan menyayangi Mikha.
Anggap saja ibadah ko. Pahalanya besar kan, kalo kita mau mengurus dan membesarkan anak?. Ko Panji bisa lihat sendiri, bahagianya Mikha saat ko Panji membelikanya boneka. Hal kecil seperti itu saja sudah membuat dia sangat senang."
"Aku tidak membencinya, aku hanya...."
Panji menatap wajah Nadin yang sedang tersenyum ke arahnya dengan perasaan yang tidak bisa dia lukiskan. Senyum Nadin begitu manis. Wajahnya semakin terlihat cantik, jauh lebih cantik dari sinar bulan purnama malam itu. Tidak hanya itu dia juga merasa kagum dengan pemikiran Nadin tentang Mikha. Panji merasa Nadin lebih dewasa dari usianya.
Kenapa dia menatapku seperti itu? Apa dia tersinggung dengan semua yang aku katakan tadi?.
Nadin segera memalingkan wajahnya , saat dia bersitatap dengan Panji. Dia takut Panji benar-benar marah kepadanya. Apalagi melihat tatapan mata Panji saat itu.
Kenapa dia terus menatapku? Ko Panji benar-benar orang yang aneh dan sulit di tebak.
Panji masih menatap Nadin yang terlihat salah tingkah, karena ulahnya. Dia tersenyum dalam hati melihatnya.
"Jangan pandangi saya terus ko, kalau ko Panji tak mau sampai jatuh cinta sama saya." Ucap Nadin.
"Siapa yang pandangin kamu? Geer banget."Sahut Panji.
"Oh ya ko, ngomong-ngomong mas Adam kemana? Tumben dia gak ikut sama kita?. Eh maksud saya sama ko Panji."
"Dia ada urusan penting katanya."
"Urusan apa?."
__ADS_1
"Mana aku tahu."
"Apa mungkin dia ngapelin pacarnya ya?."
"Mungkin aja."
"Emang ko Panji gak cemburu?."
"Apa maksud kamu?."
"Hehehe...enggak ko becanda, jangan marah ya, nanti cepat tua. Eh lupa ko Panji kan emang udah tua." Gumam Nadin, diiringi tawanya.
Panji tidak tersinggung sama sekali mendengar ucapan Nadin. Sebaliknya, dia semakin gemas kepada Nadin. Diam-diam dia terus mencuri pandang ke arahnya bahkan saat ini, saat mereka dalam perjalanan pulang. Selama di dalam mobil Panji terus menatap Nadin yang terlihat semakin cantik.
Sampai akhirnya Panji ketahuan oleh Nadin saat sedang memandanginya, tapi sepertinya Nadin tidak merasa aneh atau punya pikiran lain tentang Panji yang ketahuan sedang memandangnya.
"Kenapa ko Panji mandangin saya terus? Oh saya tahu, ko Panji pasti terpesona kan dengan kecantikan saya?." Canda Nadin.
"Iya setelah aku lihat-lihat ternyata kamu cantik juga kalau di dandanin kayak gini." Sahut Panji.
"Iya lah pasti, siapapun orangnya, kalau pake baju bagus dan mahal, juga didandanin kayak gini pasti bakallan kelihatan cantik. Dan ko Panji juga kalau didandanin kayak bapak saya, pake baju butut, sandal jepit terus narik gerobak, saya yakin ko Panji juga gak akan kelihatan setampan dan sekeren sekarang."Ucap Nadin lalu terkekeh. Panji hanya menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Nadin.
"Berarti kamu mengakui kalau aku ini tampan kan?."
"Iya lah ko Panji emang tampan, masa saya mau bilang ko Panji cantik."
Panji tersenyum simpul mendengar ucapan Nadin.
"Ya Allah mimpi apa ya saya semalam, sampai-sampai bisa melihat keajaiban dunia ke sembilan?." Ujar Nadin
"Keajaiban dunia ke sembilan? Maksud kamu?."Tanya Panji tak mengerti.
"Itu senyum ko Panji. Saya baru lihat lo, ko Panji tersenyum seperti tadi. Dan ko Panji kelihatan jauh lebih tampan, saat tersenyum seperti itu." Ucap Nadin memuji Panji. Membuat senyum Panji semakin lebar saja. Dia merasa sangat senang saat mendengar Nadin memujinya seperti itu.
"Kenapa tiba-tiba langit kelihatan begitu indah ya malam ini? Ya Tuhan, ternyata senyum ko Panji yang membuat malam ini semakin indah." Imbuh Nadin menggombali majikannya. Panji semakin dibuat gemas oleh Nadin. Rasanya dia ingin mencubit hidung Nadin saat itu, tapi dia tidak berani melakukannya.
Dia tetap menjaga image nya di depan Nadin. Walau sebenarnya saat ini, dia merasa sudah kehilangan sedikit image nya dihadapan Nadin.
Malam ini Panji memang sengaja menyuruh Adam libur dan tidak menemaninya ke pesta, karena dia hanya ingin pergi berdua dengan Nadin. Dengan begitu dia bisa bebas melakukan apapun kepada Nadin tanpa harus mendengar ejekan dari Adam.
Dia tidak ingin kehilangan image nya di depan Adam. Walau sebenarnya Adam sudah mencium bau-bau modus Panji. Dia sepertinya mengerti kalau Panji memang hanya ingin pergi berdua dengan Nadin.
Tapi Adam senang dengan hal itu, karena dia bisa menikmati malam minggunya tanpa Panji. Selain itu dia juga senang karena mungkin saja Panji memang menyukai Nadin, walau dia tidak benar-benar yakin.
Dan sejak malam itu, hubungan Mikha dan Panji semakin dekat dan sangat akrab. Panji benar-benar memperlakukan Mikha dengan baik. Dia sadar kalau Mikha hanyalah anak kecil yang tidak berdosa, yang harus dia sayangi, walau dia bukan anak kandungnya. Bukankah mengurus dan membesarkan anak termasuk ibadah?.
__ADS_1
Tidak hanya dengan Mikha, tapi hubunganya dengan Nadin pun semakin terasa dekat. Walau terkadang Panji tetap bersikap dingin, saat dihadapan Adam atau orang lain. Panji sekarang sering tersenyum sendiri. Apalagi saat dia mengingat kejadian dimana dia melihat Nadin yang hanya memakai handuk.
TBC❤️