Panji & Nadin

Panji & Nadin
Malam pertama part 2 ( Tamat)


__ADS_3

Aku gak marah, cuma gondok aja." Jawab Panji dengan mata terpejam.


Nadin tersenyum sambil menatap wajah suaminya yang begitu dekat dengan wajahnya. Dia merasa kasihan dan sedikit bersalah, tapi dia juga tidak bisa berbuat apa-apa. Nadin mengecup pipi Panji dengan penuh rasa sayang.


"Sayang, berapa hari kamu dateng bulan?." Tanya Panji.


"Biasanya sih 6 hari atau seminggu." Jawab Nadin.


"Hemmmhh lama banget." Balas Panji.


"Sabar ya, gak lama kok."


"Aku sih bisa sabar, tapi yang dibawah yang gak sabar."


"Yang dibawah?." Tanya Nadin, heran.


"Ini." Seru Panji seraya membawa tangan Nadin menyentuh sesuatu dibawah sana


Nadin kaget saat tanganya menyentuh sesuatu keras itu. Dia refleks menjauhkan tanganya darisana.


Panji mencium pipi Nadin perlahan turun ke lehernya. Hasratnya semakin memuncak saat dia melihat pegunungan milik Nadin yang begitu ranum dan indah.


Tanpa basa-basi, Panji langsung menyusuri pegunungan indah itu membuat hasrat keduanya tak tertahan, tapi mereka sadar mereka tidak boleh melakukan adegan selanjutnya, karena keadaan Nadin. Tapi bagaimanapun ini harus dituntaskan, kalau tidak Panji bisa migran seharian.


Panji pergi ke kamar mandi dan menuntaskannya disana. Panji harus menerima kenyataan di malam pertama yang indah dia tidak bisa menikmati tubuh Nadin sepenuhnya.


...


Esok paginya Panji dan Nadin baru saja menyantap sarapan pagi yang disiapkan oleh bi Neneng. Setelah sarapan Nadin membantu membereskan piring dan merapikan meja makan, sedangkan Panji terlihat menghubungi seseorang.


Dia menelpon Adam memintanya menunda keberangkatan Panji keluar negeri untuk rencana bulan madunya bersama Nadin.


Dua hari kemudian, Adam datang ke vila untuk menjemput pasangan pengantin baru yang belum melakukan adegan malam pertama mereka. Panji memutuskan akan kembali ke Jakarta untuk menyelesaikan pekerjaanya, sebelum dia berangkat bulan madu.


Sepanjang jalan Adam menggoda mereka, karena Panji sengaja mengumbar kemesraan didepannya.


"By the way, gimana malam pertama kalian?. Cerita dikit dong." Goda Adam.


"Lo yakin mau denger cerita malam pertama kami Dam?." Sahut Panji.


"Yakinlah. Ayo dong cerita, itung-itung bagi pengalaman biar nanti gue tahu jalan dan gak kesasar pas malam pertama." Sahut Adam


"Kalo kesasar gampang mas Adam, tinggal buka maps aja." Timpal Nadin.

__ADS_1


"Gue saranin sama lo, mending lo cepettan merit, biar tau gimana rasanya surga dunia Dam, iya kan sayang." Ujar Panji berbohong. Dia tidak mungkin mengatakan kalau dia belum melakukan malam pertama mereka, karena Nadin sedang kedatangan tamu. Bisa-bisa Adam mengejeknya.


"Oh ya Nad, ini buat kamu." Kata Adam seraya memberikan sebuah paper bag, berisi kotak kecil.


"Apa ini mas Adam?." Tanya Nadin.


"Itu kado dari aku. Aku lupa belum kasih kado buat kamu. Bukalah."


Nadin membuka kotak kecil yang ternyata isinya adalah obat merah dan kapas, membuat Nadin keheranan.


"Mas Adam gak salah ngasih kado?. Kok isinya beginian." Tanya Nadin.


Adam tertawa, dan mengatakan kalau obat merah dan kapas itu memang untuknya.


"Aku sengaja kok ngasih obat merah sama kapas itu, biar luka kamu cepet kering." Ujar Adam sambil tertawa.


'Luka apa maksud mas Adam?." Tanya Nadin.


"Luka robek, hahhha. Aku tau ukuran Panji pasti gede kan?. Jadi "anu" kamu pasti robek. Gimana Nad suami kamu kuat gak?. Tahan lama gak?." Tanya Adam dengan tawanya.


"Iih mas Adam ngomong apa sih?. Lagian mas Adam kok bisa yakin bener kalau "itu" nya suami aku gede?. Emang mas Adam pernah lihat?. Atau jangan-jangan....."


"Jangan-jangan apa?." Timpal Panji.


"Eh iya gua lupa, kenapa sih Ji kok rencana bulan madu kalian diundur segala?." Tanya Adam.


"Gue pengen sebelum gue bulan madu, semua pekerjaan gue selesai, biar gue bisa tenang menikmati bulan madu kami." Bohong Panji.


"Hemmm....kok gue gak percaya ya." Sahut Adam.


"Emang gue fikirin." Balas Panji.


Lima hari kemudian, Panji dan Nadin sudah berada di Bandara. Mereka akan pergi bulan madu ke negeri sakura, lalu ke negeri kincir angin, karena Nadin memang ingin mengunjungi negeri penghasil bunga tulip itu.


Mereka terlihat sangat bahagia. Panji tidak pernah melepaskan genggaman tanganya dari tangan Nadin.


Sesampainya di negeri sakura, mereka langsung chek in di hotel yang sudah dibooking sebelumnya, setelah beristirahat sejenak, mereka makan malam, dan jalan-jalan sebentar mengelilingi kota Tokyo, lalu kembali ke hotel tempat mereka menginap sekitar pukul sembilan malam waktu setempat.


Panji membersihkan diri lebih dulu dan mengganti pakaiannya, lalu kemudian Nadin. Panji berdiri dibalkon kamar hotel menikmati pemandangan dan udara malam kota Tokyo, sampai dia tidak menyadari kehadiran Nadin yang sudah berdiri cukup lama dibelakangnya.


"Masuk yuk, dingin." Ajak Nadin seraya melingkarkan kedua tanganya dipinggang Panji, membuat sang empu terkejut. Panji membalikkan badan, dan dia kembali dikejutkan oleh pemandangan indah didepan matanya, membuatnya terkesima.


Nadin berdiri mengenakan baju haram pemberian mertuanya, menampilkan tubuh indahnya dihadapan Panji, walau dia sangat malu saat itu. Panji masih setia memandangi tubuh Nadin penuh kekaguman dan senyum sedikit nakal.

__ADS_1


"Ayo masuk." Ajak Nadin sedikit menarik tangan Panji, tapi tubuh Panji seperti terkunci ditempatnya.


"Sayang....kamu cantik banget." Puji Panji.


"Iya tau, aku emang cantik, karena yang ganteng itu kamu." Jawab Nadin.


"Sayang....tamu kamu udah pergi?. Maksudku... kamu udah gak dateng bulan?." Tanya Panji


"Menurut kamu?." Nadin balik bertanya.


"Tapi tadi kamu bilang, kamu masih...."


"Aku bohong tadi. Sebenernya haidku udah selesai, jadi......" Nadin tidak menyelesaikan kata-katanya, melihat wajah bahagia Panji yang semakin mendekat ke wajahnya, dan dalam sekejap langsung menyambar bibirnya.


Nadin membalas ciuman Panji. Mereka berciuman dibalkon kamar hotel. Tangan Panji mulai menjelajahi tubuh Nadin yang berbalut baju haram tipis dan transfaran.


Panji menggendong Nadin, menidurkanya diranjang, lalu kembali melanjutkan aktifitas panasnya. Cukup lama Panji dan Nadin saling bercumbu, sebelum melakukan "kegiatan" yang lebih panas.


Panji tidak ingin buru-buru melakukannya, walau sesuatu dibawah sana sudah terasa sangat berat dan mendesak. Panji menatap wajah Nadin yang memerah, dia tahu istrinya sudah sangat terangsang. "Kamu siap sayang?." Tanya Panji, Nadin mengangguk pelan.


Panji senang karena apa yang dia nantikan akan segera terjadi malam ini. Perlahan dia mengarahkan miliknya ke dalam inti tubuh Nadin, hingga akhirnya dia berhasil menerobos pertahanan akhir Nadin. Malam ini Panji merasakan nikmatnya surga dunia untuk pertama kali.


Ada kepuasan dan kebanggaan dalam hati juga perasaan yang tidak bisa Panji lukiskan dengan kata-kata. Panji mersa bahagia karena dia benar-benar lelaki pertama yang menyentuh Nadin, dan bisa memiliki jiwa raga Nadin seutuhnya.


Panji mengecup kening dan mengusap air mata disudut mata istrinya, lalu keduanya tersenyum tulus. Panji berterima kasih pada Nadin, lalu mereka saling berpelukan tanpa mengenakan pakaiannya kembali.


Malam ini adalah malam yang sangat indah bagi Nadin dan Panji, dan malam-malam selanjutnya tentu saja akan sangat jauh lebih indah bagi mereka berdua.


.


.


.


*****TAMAT*****


Hay semuanya cerita Panji dan Nadin, untuk sementara selesai sampai disini ya🙏Insya Allah kita lanjuttin lagi kalau banyak pembacanya😁🤣.


Terima kasih banyak buat yang udah selalu setia mampir di cerita ini, ataupun cerita-cerita othor yang lainya. Jangan lupa mampir dicerita othor selanjutnya ya.🤗Berhubung bulan puasa sudah didepan mata, othor juga gak ada job wedding, jadi punya banyak waktu untuk menghalu🤭


Oiya, sebagai bentuk rasa terima kasih othor atas apresiasi para readers, othor akan adain give away buat para pembaca setia semuanya. Othor akan umumin dicerita terbaru othor ya,❤️


Makasih banyak semuanya, lopyu😘😘

__ADS_1


__ADS_2