Panji & Nadin

Panji & Nadin
Seblak Tulang.


__ADS_3

Satu minggu setelah pertemuannya dengan Nadin di mall, hari minggu ini Panji benar-benar meminta penjelasan Nadin, tentang alasannya tidak datang bekerja minggu lalu. Panji bertanya pada Nadin, seperti seorang polisi yang sedang mengintrogasi seorang penjahat, membuat Nadin sangat kesal.


Apalagi saat Panji mengatakan kalau dia ingin Nadin membuatkanya masakan spesial yang belum pernah dia coba sebelumnya, sebagai ganti rugi, karena Panji sudah membayar makananya dan Doni waktu itu.


Nadin memutar otaknya ratusan kali, berfikir keras, makanan apa yang harus dia masak untuk Panji. Karena Nadin yakin, orang seperti Panji pasti pernah mencoba semua makanan atau masakan apapun.


Dia melihat isi kulkas, ada sayuran, daging juga masih banyak bahan makanan lainnya. "Apa aku tanyakan sama mas Adam aja ya? Aku yakin dia tahu makanan apa yang belum pernah si teko panci itu coba." Gumam Nadin saat dia sedang mengepel.


"Hey Nagin!! Ngapain kamu komat-kamit kayak gitu? Jangan bilang kamu lagi ngobrol sama gagang pel itu." Tanya Panji yang saat itu sedang memperhatikan Nadin.


Ini teko panci, ngapain merhatiin aku terus sih? Jangan-jangan dia benar-benar ngefans sama aku.


"Hey Nagin, kenapa diam?.Jawab pertanyaanku."


"Enggak ko, saya lagi nyanyi. Ko Panji mau dengar?." Jawab Nadin sekenanya.


"Selesaikan saja pekerjaan kamu, dan lakukan apa yang aku minta secepatnya, ngerti?." Titah Panji sembari melangkahkan kakinya menuju sofa tuang tv. Dia duduk disana dan menyalakan televisi.


Ting....tong....bel rumah Panji berbunyi. Nadin yang baru saja selesai mengepel, bergegas membuka pintu, karena dia yakin orang yang datang adalah Adam.


Tumben mas Adam pencet bel segala, biasanya juga dia langsung masuk. Apa mungkin pintunya dikunci sama ko Panji?. Kata Nadin dalam hati, sembari melangkah menuju pintu.


Ceklek....Nadin membuka pintu dengan senyum dibibirnya, karena merasa Adam datang disaat yang tepat. Tapi senyum itu tiba-tiba memudar, saat dia melihat orang yang datang bukanlah Adam, melainkan seorang wanita cantik, yang belum pernah dia lihat sebelumnya. Nadin diam terpaku menatap wanita di hadapannya, karena dia merasa terpesona dan kagum melihat penampilan wanita itu.


"Siapa kamu?." Tanya wanita itu.


"Saya Nadin."


"Ngapain kamu disini? Mana Panji?."


"Saya lagi ker....."


"Siapa sayang?." Suara Panji tiba-tiba memotong ucapan Nadin, yang belum menyelesaikan kalimatnya, sembari merangkul pinggangnya cukup erat. Membuat Nadin dan wanita itu terkejut, dan refleks menatap Panji.


"Oh kamu Jo. Ngapain kamu kesini?. "Tanya Panji dengan wajah datarnya.


"Siapa perempuan ini Panji?." Tanya Jovanka.


"Siapapun dia, apa urusan kamu?." Jawab Panji, yang semakin mengeratkan rangkulanya dipinggang Nadin.


Nadin berusaha melepaskan diri, tapi Panji mengancam dan mencubit pinggang Nadin, menyuruhnya diam, dan mengikuti apa yang dia katakan.

__ADS_1


"Saya....aww..." Pekik Nadin, merasakan sakit bercampur sedikit geli, saat Panji mencubit. pinggangnya. Tadinya Nadin ingin mengatakan kalau dia sedang bekerja dirumah itu.


"Diam atau aku akan meminta ganti rugi 10 kali lipat." Bisik Panji, dengan nada mengancam, membuat Nadin diam seketika.


"Ohh, jadi perempuan ini salah satu peliharaan kamu? Hahh...ternyata kamu benar-benar munafik Panji. Apa yang aku dengar tentang kamu selama ini, ternyata tidak benar.


Kamu bukanlah laki-laki dingin yang tidak suka didekati wanita, kamu sama saja dengan laki-laki brengsek diluar sana, yang suka bergonta-ganti wanita."


"Kamu benar Jo. Sekarang kamu sudah tahu seperti apa aku bukan? Jadi sebaiknya kamu segera pergi dari sini. Kamu sudah mengganggu kesenanganku."


"Kamu ngusir aku Panji?."


"Pergi atau aku panggil satpam."


"Oke, aku akan pergi. Tapi ingat, aku tidak akan pernah berhenti ngejar kamu, sampai aku bisa dapetin kamu." Kata Jovanka. Dia menatap Nadin penuh benci sebelum akhirnya dia pergi.


Nadin segera melepaskan rangkulan tangan Panji dipinggangnya, tapi Panji masih menahan tangannya disana.


"Lepasin ko, anda jangan mengambil kesempatan dalam kesempitan." Kata Nadin seraya berusaha melepaskan rangkulan tangan Panji dipinggangya. Panji menatap wajah Nadin sekilas, sebelum akhirnya dia menghentakan tangannya sedikit kasar, lalu kembali ke ruang tv.


Dasar orang aneh, tadi meluk seenaknya, sekarang pergi gitu aja. Emang dasar panci bocor.


Kata suster Wati, ko Panji itu jarang bicara, jarang bicara apanya? Orang bawel gitu, dibilang jarang bicara.


"Saya minta mulai saat ini, pak Jali jangan pernah membiarkan wanita tadi masuk, tanpa seijin saya. Saya tidak mau sampai dia menginjakan kakinya disini, apalagi sampai dia masuk, mengerti?." Panji mengultimatum satpamnya, lewat sambungan telpon.


"Baik, ko." Jawab satpamnya.


Nadin segera pergi ke dapur, untuk membuat masakan yang Panji minta. Dia masih memikirkan makanan apa yang harus dia masak, sampai akhirnya ting...ide itu muncul dikepalanya. Dia tersenyum, sembari menyiapkan semua bahan yang dia perlukan untuk memasak makanan itu.


"Aku yakin ko Panji belum pernah nyobain makanan ini. lagian aneh-aneh aja sih dia, pake acara minta dimasakin makanan yang belum dia coba segala, apa maksudnya? Mentang-mentang aku punya hutang, dia seenaknya aja minta ini, minta itu. Mana tadi main peluk sembarangan lagi, didepan wanita itu.


Ahh pasti wanita itu berfikir yang enggak-enggak. Tadi aja dia bilang aku peliharaan ko Panji, emang kucing apa pake dipelihara segala? Tapi mending kucing sih, dipelihara, dikasih makan, di elus-elus, dibawa ke salon hewan juga, daripada aku. Yang ada aku disini tuh kerja paksa, bukan dipelihara.


Capek iya, digaji enggak. Ahhhh mana masih lama lagi aku disini." Gerutu Nadin saat dia sedang memasak.


"Kamu masak sambil komat-kamit, jangan-jangan kamu sedang membacakan mantra pada masakan itu, untuk melet aku, iya?." Suara Panji tiba-tiba mengagetkan Nadin, membuatnya terkesiap.


"Ya Allah ko, ngagetin aja. Kalau saya kena serangan jantung gimana?."


"Paling kamu end."

__ADS_1


"Kalau saya end, gimana hutang-hutang saya? Apa ko Panji akan merelakannya?."


"Jangan banyak omong, mana makananku?."


"Sebentar lagi siap, lima menit lagi."


Panji duduk di meja makan, sambil memainkan hpnya.


"Silahkan." Ucap Nadin, sembari meletakan makanan yang dia buat dihadapan Panji. Aroma bumbu masakan yang tajam begitu menusuk indera penciuman Panji. Dia menatap masakan itu dengan ekspresi yang tidak bisa diartikan.


"Apa ini?." Tanya Panji.


"Itu seblak tulang ko. Saya sangat yakin ko Panji nggak pernah nyobain seblak tulang kan?."


"Tulang? Kamu nyuruh saya makan tulang?. Emang kamu fikir saya anj*ng?."


"Bukan gitu ko, ini bukan tulang buat anj*ing, ini enak lho, cobain dulu, dikit aja."


"Kamu ngehina saya dengan masakan ini?."


"Siapa yang ngehina? Saya beneran masak ini spesial buat ko Panji. Kalau ko Panji nggak suka, saya masakin yang lain"


"Nggak perlu, selera makanku sudah hilang, lihat tulang ini."


"Ada apa sih ribut-ribut ?." Tanya Adam yang tiba-tiba ada disana.


Nadin menawarkan seblak tulang itu pada Adam, awalnya Adam menolak, tapi Nadin meminta Adam mencicipinya, Adam menurut walau ragu, namun akhirnya seblak tulang itu dia makan dan habiskan bersama Nadin.


"Nggak nyangka ternyata seblak tulang buatan kamu ini enak banget Nadin."


"Ya enaklah, makanya jangan langsung nolak aja mas Adam, baru tau kan kalau seblak tulang itu rasanya enak. Mpok Aning, tetangga saya aja jualan seblak tulang laku banget, tiap hari warungnya rame pembeli."


"Oh ya? Enak mana sama seblak buatan kamu?." Tanya Adam.


"Enak ini sih sebenarnya, saya bikin ini spesial pake cinta, sesuai permintaan ko Panji, eh dianya malah gak mau." Jawab Nadin.


Waktu sudah menunjukan setengah dua belas siang. Nadin meminta ijin pulang, karena semua pekerjaan di rumah Panji sudah selesai, dan sekarang Panji dan Adam akan pergi.


Adam mengajak Nadin ikut bersama mereka, Nadin setuju, lumayan ngirit-ngirit ongkos, fikirnya.


Siapa sangka, Panji melarang Adam menurunkan Nadin, saat mereka melewati jalan menuju rumahnya. Panji memaksa Nadin ikut bersamanya.

__ADS_1


"Mau dibawa kemana saya?." Tanya Nadin.


"Diam." Sahut Panji.


__ADS_2