Panji & Nadin

Panji & Nadin
Aku masih mencintaimu


__ADS_3

"Kenapa ngelihatinnya gitu banget? Kak Bily kenal dia?." Tanya Prisa mengagetkan Bily.


"Ehh..eng-enggak kok. "Jawab Bily.


"Kak Bily yakin gak kenal sama dia?." Tanya Prisa memastikan.


Bily menggelengkan kepalanya, dia tak mungkin mengatakan kalau Nadin adalah mantan pacarnya.


"Masa sih? Padahal dia satu sekolah lho sama kita."


"Oh ya? Pantes aja aku ngerasa pernah ngelihat dia." Ujar Bily, agar Prisa tidak curiga.


"Lalu kenapa dia ada disini?. Kok aku baru ngelihat dia. Apa dia saudara kamu?." Tanya Bily pura-pura.


"Bukan, dia kerja di sini."


"Kerja? Kerja gimana maksudnya?."


Prisa lalu menceritakan tentang Nadin dari A sampai Z, dan kini Bily tahu kalau Nadin adalah pengasuh Mikha.


Lalu apa hubungan dia dengan Panji? Kenapa waktu itu mereka terlihat begitu mesra?. Apa aku tanyakan saja pada Prisa?. Tapi bagaimana kalau dia curiga?." Batin Bily.


"Aku fikir dia istrinya kak Panji."


"Bukan. Kak Panji belum nikah."


Belum nikah tapi sudah punya anak segede itu. Aku makin penasaran.


"Belum nikah tapi kok udah punya anak." Kata Bily berusaha memancing Prisa, dan berhasil. Prisa akhirnya menceritakan kisah Panji dengan detail, dan kini Bily pun tahu setelah kejdian itu, Panji memang tidak pernah pacaran atau memiliki kekasih. Dan kini, dia mencemaskan Nadin. Dia takut mungkin saja Panji memanfaatkannya.


Atau mungkin saja yang dikatakan mama benar?. Nadin mungkin yang menggoda Panji. Ahh tapi itu tidak mungkin. Nadin bukan tipe cewek seperti itu. Aku sangat yakin.


Lalu kenapa dia bisa datang bersama Panji ke pesta malam itu? Bahkan penampilanya sangat berbeda. Aku yakin baju dan tas yang dia pakai malam itu tidak murah.


Darimana Nadin mendapatkan uang sebanyak itu, kalau bukan dari Panji. Apa jangan-jangan Nadin?Enggak !! Stop Bily. Lo harus percaya Nadin nggak seperti itu.


"Kak Bily...Kak!!. Panggil Prisa.


"Ehh iya, ada apa?." Sahut Bily kaget.


"Kok malah ngelamun."


"Enggak kok."


"Daripada ngelamun, mending kak Bily cobain puding mangga ini. Aku yang bikin sendiri lho."


"Oh, ya!! Ya udah aku cobain ya." Ujar Bily.


.

__ADS_1


.


Dikamar Mikha.


Nadin baru saja membawa Mikha dari kamar mandi untuk bersih-bersih, lalu menyuruhnya tidur siang, karena Mikha sudah makan bersama Prisa dan Panji. Dia ingin pergi kedapur, tapi takut Bily masih ada di ruang tamu.


Nadin duduk di sofa kamar Mikha, setelah sebelumnya dia mengunci pintu. Nadin masih tidak percaya dia bertemu dengan Bily, dirumah majikannya. Dan kenyataanya, sekarang ini dia adalah kekasih majikannya sendiri.


Saat Dewi mengatakan kalau Prisa datang bersama pacarnya, Nadin sama sekali tidak menyangka orang itu adalah Bily, mantan kekasihnya yang masih dia cintai.


Kenapa aku harus bertemu lagi dengan dia? Kenapa?. Dan kenapa aku masih saja mencintai dia? Dia sendiri ternyata sudah melupakanku.


Kak Bily, saat aku melihat kamu di pesta, aku fikir kamu juga merasakan apa yang aku rasakan, tapi ternyata aku salah. Kamu sudah mendapatkan pengganti yang jauh segala-galanya dariku.


Aku memang bodoh dan tidak sadar diri, hingga berfikiran kalau kamu mungkin saja masih mencintaiku. Padahal sudah jelas kita itu memang tidak pantas bersama. Aku memang tidak pantas dicintai oleh orang kaya seperti kamu. Kamu memang lebih cocok bersama non Prisa. Kalian sama-sama berasal dari keluarga terhormat, sedangkan aku? Hehh.... Nadin tersenyum getir.


Tak terasa air matanya menetes, saat merasakan hatinya tiba-tiba terasa teriris perih.


Dia menangis disana hingga sesak didadanya terasa berkurang. Matanya kembali sembab. Padahal tadi matanya sudah tidak terlalu sembab, karena dia sudah mengompresnya dengan es batu.


Nadin tidak menyadari kalau ada seseorang yang memperhatikanya dari tadi, melalui kamera pengintai, yang dipasang diam-diam di kamar Mikha, yang terhubung langsung ke ponselnya. Orang itu, siapa lagi kalau bukan Panji, yang memang sengaja memasang kamera itu tanpa sepengetahuan siapapun.


Entah kenapa dia sampai melakukan itu, yang jelas bukan karena dia takut Nadin mencuri, karena bagi Panji Nadin memang seorang pencuri. Iya dia sudah berhasil mencuri simpati dan mungkin juga berhasil mencuri hatinya.


Perasaan Panji tak karuan, melihat Nadin menangis. Dia semakin merasa bersalah karena dia pikir Nadin menangis karena dirinya yang telah kasar tadi malam. Panji belum menyadari kehadiran Bily di rumah pak Bahtiar. Dia tidak tahu kalau Nadin dan Bily sudah bertemu.


Aku harus minta maaf sama dia. Apa aku chat saja? Enggak, sebaiknya aku katakan langsung.


Apa? Minta maaf? Kenapa juga aku harus minta maaf. itu salah dia sendiri.


Salah dia?. Walau dia salah, nggak seharusnya lo marahin dia kayak tadi malem. Dia itu mungkin saja hanya menuruti kemauan Jovanka. Seharusnya lo tanya dulu baik-baik, jangan main marahin dia.


Lo cemen Panji, lo udah menyakiti hati cewek dan membuatnya menangis. Iya, lo harus minta maaf. Dialog Panji dalam hati.


***


Sudah hampir jam 4 sore, tapi Bily masih berada di rumah pak Bahtiar. Dia sengaja belum pulang, karena ingin bertemu Nadin, dan mencari kesempatan agar bisa mengobrol atau paling tidak menyapanya.


Dan kesempatan itu datang juga. Prisa sedang mandi, saat Nadin membawa Mikha ke taman belakang seperti biasa. Kali ini ibu sepuh juga ada disana, namun dia segera masuk karena sudah merasa tidak nyaman dengan udara dingin yang tiba-tiba dia rasakan.


Tinggal Nadin, Mikha dan Bily disana. Tanpa basa-basi, Bily menyapa Nadin, dan Nadin juga membalas sapaan Bily singkat. Bily lalu mengajak Nadin mengobrol. Nadin segera beranjak, tapi Bily mencekal tanganya.


"Kak Bily, apa yang kakak lakukan?. Lepaskan. Nanti non Prisa bisa salah paham."


"Maaf, aku tidak bermaksud kurang ajar. Aku hanya ingin ngobrol sebentar sama kamu, bisa kan?."


"Maaf kak!! Tapi saya di sini sedang bekerja. Saya tidak bisa."


"Sebentar saja, aku mohon."

__ADS_1


"Ada apa? Apa yang mau kakak katakan?."


"Apa hubungan kamu dengan Panji?. Kenapa kamu bisa datang ke pesta dengan dia." Tanya Bily, membuat Nadin tersentak. Dia tidak percaya Bily menanyakan hal itu. Nadin menatap Bily sejenak lalu membuang tatapanya ke sembarang arah.


"Maaf kak, tapi itu bukan urusan kak Bily. Lagipula kak Bily tidak berhak menanyakannya. Kita tidak ada hubungan apa-apa lagi, kak Bily jangan lupa itu."


"Siapa bilang itu bukan urusanku?. Apapun yang berhubungan dengan kamu, itu adalah urusanku. Aku tahu, sekarang ini memang kita tidak ada hubungan apapun, tapi kamu harus tahu Nadin, aku masih peduli sama kamu. Walau kita tidak bisa bersama, aku tidak mau kamu jatuh ke dalam pelukan laki-laki yang tidak tepat."


"Terima kasih karena kak Bily sudah peduli pada saya. Kakak jangan khawatir, saya bisa jaga diri. Saya tahu mana lelaki baik dan mana lelaki yang berpura-pura baik. Kalau tidak ada lagi yang ingin kakak katakan, sebaiknya kakak cepat pergi. Saya tidak mau non Prisa salah paham. Kalau kak Bily memang peduli pada saya, kak Bily tidak akan menyulitkan saya."


"Baiklah, aku pergi sekarang. Aku tidak tahu apa hubungan kamu dan Panji. Tapi aku minta kamu hati-hati dengannya. Aku tahu dari Prisa kalau dia sudah menghamili pacarnya, dan tidak mau bertanggung jawab. Dan kamu sekarang yang mengasuh anaknya.


Jangan sampai dia melakukan itu pada kamu. Aku harap kamu jangan termakan rayuannya, sekalipun dia menawarkan uang yang banyak sama kamu."


Ucapan Bily kali ini benar-benar membuat Nadin tercekat dan juga emosi. Dia merasa Bily sudah merendahkanya.


"Apa serendah itu kak Bily menilai saya?. Apa karena saya ini orang miskin, kakak fikir saya rela melakukan apa saja demi uang, termasuk menyerahkan harga diri saya?. Terima kasih kak, karena kak Bily sudah menyadarkan saya siapa dan bagaimana sebenarnya kak Bily. Terima kasih sudah melukai saya." Kata Nadin dengan mata berkaca- kaca.


"Tidak Nadin, bukan itu maksudku aku hanya mengkhawatirkanmu. Aku mencintaimu Nadin, aku masih sangat mencintaimu."


"Cukup kak Bily. Lebih baik sekarang kak Bily pergi dari sini, dan jangan pernah temui saya lagi. Lupakan semua yang pernah terjadi diantara kita. Anggap saja kita tidak pernah saling kenal." Ucap Nadin lalu mengajak Mikha masuk.


Bily dan Nadin sama-sama meninggalkan taman, hanya saja arah mereka berbeda. Bily sangat senang bisa bertemu dengan Nadin, tapi dia merasa bersalah karena Nadin telah salah paham dan tersinggung dengan maksud baiknya yang mengkhawatirkanya.


Bily memilih pulang setelah sebelumya berpamitan pada Prisa via chat.


Saat Bily sampai di teras depan, dia berpapasan dengan Panji. Mereka saling menatap beberapa detik, sebelum akhirnya saling menyapa. Ada aura persaingan diantara keduanya. Dalam hati, mereka sama-sama mengatakan, "Kamu tidak akan pernah memiliki Nadin."


Tapi di bibir, mereka saling melemparkan senyum walau sekilas, dan seperti tidak ikhlas.


Bily memang masih sangat mencintai Nadin, dan mengharapkannya, walau sekarang dia berpacaran dengan Prisa, di hatinya masih ada Nadin. Dia dan Prisa telah dijodohkan, dan Bily maupun Prisa tidak bisa menolak perjodohan itu.


Panji sempat melihat adegan antara Bily dan Nadin saat di taman tadi. Tadinya dia ingin menghampiri mereka, tapi dia urungkan niatnya, dan memilih jadi penonton setia, walau hatinya sangat tidak suka melihatnya.


Dia tidak suka Bily mendekati Nadin, karena Bily adalah pacar adiknya sendiri, dan yang membuatnya lebih tidak suka adalah karena dia merasa cemburu pada Bily. Apalagi Panji tahu kalau Bily adalah mantan pacar Nadin.


Panji kini mengerti, mungkin saja tadi siang Nadin menangis karena Bily. Kenapa dia bisa tidak ingat kalau Bily adalah mantan pacar Nadin. Dan mungkin saja Nadin menangis karena dia bertemu dengan Bily, dan Nadin tahu kalau Bily sekarang adalah pacar Prisa. Iya mungkin itu sebabnya tadi siang Nadin menangis di kamar Prisa.


Panji semakin gusar. Perasaanya tak menentu. Rasa bersalah, rasa sesal dan juga cemburu, dia rasakan sekaligus. Panji juga takut, kalau Nadin masih mencintai Bily.


.


.


.


TBC❤️


Jangan lupa komen, like dan votenya buat Panji dan Nadin ya dears🤗**

__ADS_1


__ADS_2