Panji & Nadin

Panji & Nadin
Makasih Nadin


__ADS_3

Nadin berdiri di depan pintu masuk rumah Panji. Jantungnya berdetak kencang sejak tadi, mengingat Panji yang pasti akan meminta jawaban darinya.


Tenang Nadin. Anggap saja ko Panji tidak pernah mengatakan .....cinta sama kamu.


Walau Nadin sudah mempunyai jawaban untuk Panji, tetap saja dia merasakan perasaan yang tak menentu, dan jantungnya semakin berdegup kencang.


Nadin sudah masuk ke rumah Panji, karena tadi pintu rumahnya tidak terkunci. Nadin mengedarkan pandanganya kesemua penjuru rumah, tapi dia tidak melihat Panji.


Ahh aman. Mudah-mudahan aja dia pergi. Atau mungkin dia belum bangun? Tapi kalau dia belum bangun, kenapa pintunya kebuka tadi?. Ahh jangan-jangan bener, dia pergi sama mas Adam. iya aku harap gitu.


Nadin melihat ada piring dan gelas kotor di meja makan. Nadin yakin piring dan gelas itu bekas Panji sarapan. Dia juga melihat ada beberapa potong sandwich dan sisa nasi goreng dipiring yang ada dibak cuci.


Nadin membereskan meja makan lalu mencuci piring dan gelas kotor tadi. Dia melamun memikirkan kemana Panji pergi, sampai dia tidak menyadari kalau saat ini Panji sudah berdiri dibelakangnya. Dia menyimpan dagunya dibahu Nadin.


"Kamu udah dateng." Bisik Panji, membuat Nadin sangat terkejut.


"Astagfirullah ko Panji, bikin kaget aja." Kata Nadin dengan wajah kagetnya. Panji hanya tersenyum tanpa dosa.


"Makannya jangan ngelamun. Aku gak kemana-mana kok." Kata Panji, Nadin tersentak.


Apa dia tahu apa yang aku fikirkan, atau cuma kebetulan saja?. Tanya Nadin dalam hati.


"Ko Panji mau sarapan?.Sebentar saya siapkan."


"Aku sudah sarapan tadi."Sahut Panji.


"Kalau gitu, apa ko Panji mau saya buatkan sesuatu?."


"Tidak. Aku tidak mau. Aku hanya mau jawaban kamu sekarang. Kamu mau kan terima cintaku?." Tanya Panji.


"Saya.....saya.....saya."


"Saya?."


Ayolah Nadin, kenapa kamu lemah begini. Katakan saja, jangan takut. Batin Nadin.


"Saya....Saya mau ko." Kata Nadin ragu.


"Mau apa?." Tanya Panji.


"Saya mau nerima ko Panji."


"Benarkah?. " Tanya Panji memastikan.


"Iya ko, tapi ada syaratnya." Kata Nadin


Panji tersenyum.


"Apa?. Apa syaratnya? Katakan!!.


"Ko Panji harus janji tidak akan macam-macam sama saya."


"Macam-macam gimana maksudnya?."


"Ya gitu, jangan macam-macam."


"Iya gitu gimana, aku gak ngerti. Coba tolong kamu jelaskan." Kata Panji dengan senyumnya.


"Masa ko Panji gak ngerti."

__ADS_1


"Enggak. Macam-macam itu kan banyak artinya."


"Ko Panji jangan melakukan kontak fisik sama saya, misalnya nyium saya apalagi lebih dari itu."


Panji terkekeh.


"Lalu?."


"Ko Panji harus janji akan merahasiakan hubungan kita."


"Kenapa?."


"Saya tidak mau orang berpikiran buruk sama saya. Terutama karyawan konveksi."


"Bukankah seharusnya kamu bangga bisa jadi kekasih bos kamu sendiri."


"Tidak, saya tidak berfikir seperti itu."


"Oke. Ada lagi?."


"Saya mau tanya dan ko Panji harus jawab dengan jujur. "


"Tentu."


"Apa ko Panji benar-benar mencintai saya?."


"Menurut kamu?."


"Saya tidak tahu, makannya saya nanya. Bukan apa-apa ya ko. Saya hanya tidak mau ko Panji hanya ingin mempermainkan saya."


"Aku tidak pernah dan tidak berniat mempermainkan siapapun, apalagi kamu Nadin. Demi Tuhan aku mencintai kamu. Aku sangat mencintai kamu. Kamu satu-satunya wanita yang sanggup membuat aku merasakan cinta lagi, setelah sekian lama hatiku seperti mati rasa dan tidak percaya pada yang namanya cinta."


"Aww, sakit ko. Saya sudah bilang kan, ko Panji jangan melakukan kontak fisik. Ini udah pelanggaran pertama."


"Kalau ada yang pertama berarti ada yang kedua kan?." Tanya Panji dengan senyum nakalnya.


"Enggak ada."Jawab Nadin.


"Oke aku janji gak akan ada kontak fisik, tapi kalau meluk boleh kan?."


"Enggak boleh."


"Megang tangan"


"Enggak."


"Nyium."


"Enggak."


"Tidur bareng." Goda Panji


Mata Nadin membola, Panji tertawa.


"Kenapa? Cuma tidur kan, gak ngapa-ngapain, masa gak boleh."


"Ya enggak lah."


"Kalau semua gak boleh, terus kita ngapain aja?." Tanya Panji.

__ADS_1


"Ya banyak, ngobrol misalnya."


"Kalau cuma ngobrol aku gak perlu punya pacar, setiap hari aku juga ngobrol sama Adam, sama bi Lasmi, sama bi Ita, juga sama nenek kamu."


Nadin tertawa kecil. Dia menemukan sisi lain dari Panji, yang ternyata tidak sedingin seperti biasanya. Mungkin benar kata suster Wati, kalau sifat Panji berubah hanya karena rasa kecewanya dulu.


"Kalau gitu kenapa ko Panji gak pacaran sama mereka aja?."


"Emang kamu gak cemburu?."


"Enggak, saya bukan tipe cewek yang cemburuan."


Panji tersenyum menatap Nadin, dan tanpa permisi, dia langsung memeluknya. Nadin berontak, tapi Panji tidak melepaskannya.


"Ko Panji lepassin, jangan seperti ini ko."


"Aku gak akan lepassin kamu. Plis Nadin, biarin aku meluk kamu kayak gini. Kamu tahu, aku bahagia sekali hari ini, semua karena kamu. Makasih banyak Nadin."


Nadin yang awalnya terus berusaha melepaskan pelukan Panji, kini membiarkan saja Panji memeluknya. Dia bisa merasakan kebahagian yang dirasakan Panji, dan memang sepertinya Panji itu orang yang kesepian. Dia tidak tega melepaskan pelukan Panji, selain itu Nadin juga merasa nyaman dengan pelukan itu. Perlahan dia meletakkan kedua tangannya di punggung Panji.


"Iya sama-sama ko." Balas Nadin, sambil mengusap punggung Panji pelan dan ragu.


Acara pelukan berakhir. Panji bertanya apa Nadin sudah sarapan?. Nadin menggelengkan kepala.


Panji meminta Nadin duduk, dan dia menyediakan sarapan untuk Nadin. Dia bersikap begitu manis pagi itu, membuat rasa itu semakin Nadin rasakan.


Nadin mulai luluh dan percaya kalau Panji memang benar-benar mencintainya. Apalagi selama ini dia tidak pernah berbuat kurang ajar, padahal mereka hanya berduaan di dalam rumah. Kalau memang Panji berniat melakukan yang tidak-tidak, sudah dari dulu dia melakukannya, fikir Nadin.


Hari itu Nadin tidak melakukan pekerjaan rumah ataupun memasak. Dia dan Panji hanya mengobrol, saling mengakrabkan diri dan saling mengenal lebih dekat.


Mereka saling bertukar cerita. Nadin memang sangat penasaran dengan kisah hidup Panji. Selama ini dia hanya tahu sekilas dari suster Wati, dan hari itu Nadin mengetahui lebih banyak tentang Panji, termasuk tentang almarhumah ibunya yang begitu dekat dengannya.


Nadin tahu Panji memang merasa kesepian sejak ditinggalkan selama-lamanya oleh ibu kandungnya. Nadin juga tahu, Panji tidak begitu dekat dengan pak Bahtiar, ayahnya.


Panji kecewa pada ayahnya pada saat dia memutuskan menikah lagi, padahal meninggal almarhumah ibunya belum genap 40 hari. Dan semenjak menikah lagi, pak Bahtiar jarang sekali, bahkan seperti tidak memperhatikannya, karena dia lebih mementingkan istri barunya.


Panji dan Wily belajar hidup mandiri sejak ditinggal ibunya. Mereka lebih dekat dengan para art, dibanding dengan ayah dan ibu tirinya.


Nadin merasa prihatin dan terenyuh mendengar cerita Panji. Dia merasa benar-benar merasa beruntung mempunyai ayah seperti pak Samsudin yang begitu menyayangi dan memperhatikannya dan Hirlan.


Kini Nadin mengerti alasan kenapa pak Samsudin tidak mau menikah lagi, walau dia dan keluarganya selalu menyuruhnya menikah lagi.


Karena keasyikan mengobrol, mereka tidak menyadari kalau jam makan siang sudah tiba.


Panji mengajak Nadin makan diluar, untuk merayakan hari jadian mereka. Sepanjang perjalanan, Panji tidak bisa menyembunyikan senyum diwajahya.


Dia benar-benar bahagia. Aura kebahagian memancar diwajah Panji, membuat Panji semakin terlihat tampan, dimata Nadin dan juga dimata orang-orang yang melihatnya.


Sejak turun dari mobil, sampai masuk restoran, Panji tidak melepaskan tangannya dari tangan Nadin, dan Nadin juga membiarkannya, karena dia sendiri merasa senang dengan apa yang dilakukan Panji padanya. Apalagi kalau dia melihat wajah tampan Panji yang meruntuhkan pertahanan dan juga membuatnya lupa pada syarat yang dia buat sendiri, ditambah sikap manis Panji yang membuatnya semakin luluh.


Ko Panji ganteng banget, sikapnya juga so sweet banget. Aku bakal nyesel kalau nolak dia.


Gumam Nadin dalam hati.


.


.


TBC☘️

__ADS_1


__ADS_2