Panji & Nadin

Panji & Nadin
Aku mencintaimu


__ADS_3

Sesampainya dirumah, Nadin membuka amplop coklat yang diberikan Panji tadi. Seperti dugaanya isinya memang uang, dan jumlahnya tidak sedikit. Nadin mengirim pesan pada Panji, menanyakan perihal uang tersebut.


Panji menjawab, kalau uang itu adalah gaji Nadin selama dia bekerja dirumahnya.


Selama ini Panji tidak benar-benar ingin meminta Nadin mengganti ongkos perbaikan mobilnya, walau saat itu Panji memang sangat marah dan kesal padanya. Panji hanya ingin memberi Nadin pelajaran, agar dia tidak lagi bertindak seenaknya.


Nadin tidak percaya begitu saja dengan apa yang dikatakan Panji. Dia tidak mau sembarangan menerima uang itu. Dia takut Panji akan semakin bertindak seenaknya kalau dia sampai menerima uang itu.


Jam 4 sore, Nadin dan Doni sudah bersiap menghadiri konser salah satu boyband Korea yang terkenal dan tengah banyak digandrungi.


Konser akan dimulai pukul tujuh malam, tapi mereka sengaja berangkat lebih awal.


Sebelum pergi kesana, Nadin mampir lebih dulu ke rumah Panji. Dia menitipkan amplop pemberian Panji pada satpam. Memintanya memberikan pada Panji kalau Panji kembali.


Setelah itu dia dan Doni berangkat ke tempat tujuan mereka.


Setelah dua jam lebih menunggu, akhirnya konser pun dimulai. Nadin dan Doni sangat antusias dan juga kelihatan sangat senang selama konser berlangsung. Mereka ikut menyanyi dan berjingkrak-jingkrak, bahkan sesekali berteriak memanggil nama idola mereka, hingga suara mereka berdua serak, karena terus berteriak.


Apalagi Nadin dan Doni berada jauh dibelakang, sesuai urutan tiket yang mampu mereka beli. Jam sepuluh malam konser selesai. Mereka semua keluar dari tempat konser.


Nadin dan Doni membeli air mineral untuk membasahi tenggorokan mereka yang terasa sangat kering, setelah itu mereka pulang.


Baru saja Nadin akan naik motor Doni, seseorang mencekal tangannya. Dia tersentak kaget, saat melihat siapa orang yang mencekal tanganya itu.


"Ko Panji.!!! Kata Nadin dengan wajah terkejut.


"Kamu ngapain disini?." Tanya Panji, lalu menatap Doni dingin, bahkan lebih dingin dari udara malam itu.


"Saya...saya.. Ko Panji sendiri ngapain disini?."Nadin balik bertanya.


"Ditanya malah balik nanya. Ikut aku." Kata Panji sambil menarik tangan Nadin.


"Lepasin ko. Kenapa main tarik tangan saya seenaknya. Anda mau bawa saya kemana?."


"Pulang."


"Enggak. Lepaskan saya. Saya gak mau pulang sama ko Panji. Saya mau pulang sama Doni."


"Sejak kapan aku mengijinkan kamu membantahku?."

__ADS_1


"Ko Panji apa-apaan sih? Kenapa seenaknya begini?. Lepaskan saya." Rengek Nadin, sambil terus berusaha melepaskan tangannya dari Panji. Kejadian itu sudah berhasil menarik perhatian orang-orang disana. Mungkin mereka fikir, Nadin adalah pacar Panji yang ketahuan selingkuh oleh Panji.


"Lepassin saya ko. Anda jangan seenaknya." Nadin berhasil melepaskan tangannya. Dia menatap tidak suka pada Panji. Lalu membalikkan badan berniat akan menghampiri Doni sahabatnya yang mematung melihat kejadian didepan matanya.


"Selangkah lagi kamu maju, aku pastikan kamu akan tahu akibatnya." Kata Panji, tapi Nadin tidak menghiraukannya.


"Berhenti kataku atau....."


"Atau apa?." Tanya Nadin dengan lantang sambil berbalik menatap tajam Panji. Dia merasa sangat kesal dengan sikap Panji yang terasa semakin seenaknya. Nadin mengira Panji bersikap seperti itu karena uang yang diberikannya tadi siang, setidaknya itulah yang difikirkan Nadin.


"Atau apa ko?. Apa yang akan anda lakukan?." Tanya Nadin, Panji diam, menatap Nadin sedikit heran.


"Kenapa diam ko?. Maaf jika saat ini saya tidak bisa menuruti ko Panji. Saya tahu, saya memang punya hutang sama ko Panji, tapi bukan berarti anda bisa seenaknya sama saya.


Seenaknya nyuruh-nyuruh dan mengatur saya.


Anda bisa bebas memerintah saya kalau saya sedang bekerja di rumah anda. Tapi sekarang adalah waktu bebas saya. Ini bukan jam kerja, dan anda bukan atasan saya sekarang. Jadi saya mohon anda jangan seenaknya seperti ini.


Oh iya saya hampir lupa, saya tidak bisa menerima uang ko Panji. Saya sudah titipkan uang itu sama satpam dirumah ko Panji." Ujar Nadin, lalu kembali membalikkan badan berniat akan menghampiri Doni, tapi Panji kembali mencekal tangannya.


"Lepassin ko. Saya mohon." Rengek Nadin.


Panji tidak menjawab dan juga tidak melepaskan tangan Nadin. Dia semakin menatap dalam mata Nadin, membuatnya mulai merasakan perasaan itu lagi.


"Aku akan melepaskanmu asal kamu ikut denganku, dan aku tidak suka dibantah."Kata Panji.


"Kenapa saya harus ikut ko Panji?. Saya datang kesini sama Doni, jadi saya juga akan pulang denganya."


"Kamu akan pulang denganku, ayo." Kata Panji kembali menarik tangan Nadin.


"Lepaskan." Cicit Nadin, lalu menggigit tangan Panji


"Aww." Pekik Panji, saat Nadin menggigit tangan Panji. Adam dan Doni terkejut melihat Nadin yang berani menggigit tangan Panji. Namun seketika Adam tersenyum melihat Panji yang seperti orang bodoh dan tidak bisa berbuat apa-apa.


Panji melangkahkan kakinya, menghampiri Nadin, dia menarik tubuh Nadin menghadapkan ke tubuhnya. Nadin terkejut dan sedikit ketakutan, apalagi saat melihat tatapan Panji.


Sepertinya Nadin sudah memancing emosi Panji.


"Apa kamu tidak mengerti juga Nadin? Apa kamu tidak merasakannya?." Tanya Panji, membuat Nadin diam karena tak mengerti apa maksud pertanyaan Panji.

__ADS_1


"Apa maksud anda?."


"Jadi kamu benar-benar tidak mengerti?." Tanya Panji, Nadin menggelengkan kepala perlahan.


"Maafkan aku. Aku tidak bermaksud bersikap seenaknya." Kata Panji, seraya melepaskan tanganya.


Nadin menatap Panji yang juga sedang menatapnya. Nadin mundur perlahan, sebelum akhirnya membalikkan badannya memunggungi Panji yang masih setia berdiri disana. Nadin kembali melangkahkan kakinya.


"Aku cinta kamu Nadin." Ucap Panji dengan lantang, membuat langkah Nadin terhenti seketika.


Adam dan Doni tercengang mendengar pernyataan cinta Panji pada Nadin didepan umum seperti itu. Tapi tidak dengan Nadin. Dia memang sempat terkejut tadi, tapi dia merasa Panji hanya bercanda. Ini bukan pertama kalinya Panji berkata seperti itu.


Woww emezing!! Gue gak nyangka lo bakalan nembak Nadin di depan umum kayak gini Ji. Batin Adam.


"Kamu dengar kan Nadin?. Aku cinta kamu." Panji mengulang kata cintanya.


Nadin membalikkan badannya."Sudahlah ko, anda jangan menggoda saya dengan candaan seperti itu. Ini sama sekali tidak lucu."


"Siapa yang bercanda?. Aku serius.


Aku cinta sama kamu." Tegas Panji


Nadin tercekat. Dia menatap Panji dengan serius, karena masih tidak mempercayai ucapan Panji.


Panji dan Nadin saling berhadapan dan saling menatap dengan tatapan yang berbeda.


Nadin sampai tidak menyadari kalau saat ini Panji sudah semakin dekat dengannya.


Dia meraih tangan Nadin, dan menggenggamnya erat.


"Aku benar-benar mencintai kamu Nadin. Semua yang aku lakukan selama ini, karena aku mencintai kamu. Apa kamu tidak menyadarinya?. Aku meminta kamu datang setiap minggu ke rumahku, itu semua hanya alasan yang aku buat agar aku bisa melihat dan bersama kamu.


Dan aku datang kesini, karena aku ingin bertemu kamu. Aku tidak bermaksud mengatur kamu. Aku hanya ingin selalu bersama kamu, itu saja." Jelas Panji, membuat Nadin terdiam.


Dia tidak tahu apa dia harus percaya atau tidak, Tapi hati kecilnya mengatakan kalau dia memang percaya pada ucapan Panji. Tapi apa mungkin Panji mencintainya?.


.


.

__ADS_1


.


TBC.☘️


__ADS_2