
Nadin sangat menikmati pekerjaan barunya sebagai pelayan kafe. Rasanya dia mendapatkan suasana baru yang lebih menyenangkan bekerja di kafe itu. Dan sebenarnya pekerjaanya tidak jauh berbeda saat dia membantu neneknya berjualan di warung.
Bedanya mungkin kalau pengunjung warung neneknya adalah pekerja proyek yang usianya jauh berbeda dengannya, sedangkan pengunjung kafe itu rata-rata anak muda seusianya.
Walau memang tidak selalu anak muda yang datang kesana.Tak jarang para pengusaha atau pekerja kantoran juga datang untuk meeting bersama kliennya, atau sekedar nongkrong di kafe itu, seperti seorang wanita atau ibu cantik yang selalu datang kesana.
Sepertinya dia memang pelanggan tetap di kafe David.Ibu cantik itu sepertinya sudah sangat akraba dengan David, dan para pelayan kafe, kecuali dengan Nadin karena Nadin pelayan baru.
Ibu cantik yang Nadin ketahui bernama bu Ana itu tahu kalau Nadin adalah pelayan baru. Dia tidak segan menyapa Nadin dengan ramah. Menurut rekan kerja Nadin, selain cantik, bu Ana memang sangat baik dan ramah kepada siapapun, tak terkecuali kepada pelayan seperti mereka. Belakangan Nadin tahu ternyata bu Ana adalah pemilik butik tempat Doni bekerja, dan dia adalah mamanya ko David.
"Oh pantes aja, beliau sering datang kesini."Kata Nadin.
Walau baru beberapa kali bertemu dengan bu Ana, Nadin sudah menjadi penggemar beratnya. Dia sangat menyukai wajah dan kulit bu Ana yang cantik dan terlihat awet muda di usia yang sudah bisa dibilang tidak muda lagi.
Selain itu, penampilannya juga sangat modis dan nilai plusnya bu Ana sangat ramah dan sepertinya tidak membeda-bedakan orang atau kasta seperti bu Soraya.
Nadin selalu mencuri pandang saat bu Ana datang ke kafe. Wajahnya memang benar-benar cantik dan aura keibuanya jelas terpancar, membuat mata terasa sejuk memandang.
Melihat wajah bu Ana, Nadin teringat sesuatu. Rasanya dia pernah melihat wajah cantik itu sebelumnya, tapi dimana?. Nadin terus memutar memori diotaknya, sampai akhirnya dia ingat sesuatu saat dia makan malam direstoran bersama keluarganya beberapa waktu lalu.
Nadin baru ingat, kalau bu Ana adalah ibu cantik yang tak sengaja Nadin tabrak waktu itu. Iya, benar itu memang dia. Tapi bu Ana tak mungkin ingat kejadian itu, jadi ya sudahlah, cukup dia saja yang tahu.
Setiap hari, Nadin selalu pulang malam dari kafe bersama Doni, dan juga orang suruhan Panji yang menyamar menjadi pengemudi taksi online. Tapi malam itu Panji dan Adam yang menjemput Nadin.
Setelah pulang dari kantor, Panji dan Adam sengaja datang ke kafe David, hanya untuk menunggu Nadin pulang. Nadin sepertinya merasa risih dengan kehadiran Panji di kafe David, karena dari tadi Panji terus saja memperhatikan gerak-geriknya, membuatnya sedikit gugup dan merasa tidak bebas bergerak.
Sebenarnya Panji sendiri merasa kesal dan tidak suka melihat Nadin bekerja seperti ini. Rasanya dia ingin sekali membawanya keluar dari kafe itu sekarang juga. Apalagi Panji melihat sendiri bagaimana cara para pengunjung laki-laki menatap kekasihnya, bahkan ada yang terang-terangan menggodanya.
Nadin memang terlihat semakin cantik walau hanya mengenakan seragam pelayan khas kafe yang dipakainya. Bahkan bisa dikatakan dia terlalu cantik untuk menjadi seorang pelayan kafe, tak heran jika banyak lelaki yang terus menatapnya.
"Lo mau kemana Ji?." Tanya Adam saat Panji beranjak dari duduknya.
"Gue mau samperin Nadin dan bawa dia pulang. Gue gak tahan liat dia kerja kayak gitu." Jawab Panji.
__ADS_1
"Jangan gila Ji. Lo nggak bisa seenaknya disini. Lo sabar aja, bentar lagi kan ayang beb lo bakal sepenuhnya lo milikkin. Jadi lo bebas deh mau ngapain dia. Lo mau kurung dia seharian di kamar juga silahkan, gak bakalan ada yang ngelarang.
Tapi sekarang lo sabar dulu bro, demi rencana besar lo itu. Lagipula kasian Nadin. Lo bakal bikin dia malu kalau lo ampe bawa dia sekarang. Inget Ji, dia lagi kerja disini, dan elo udah ijinin dia. Suka gak suka, lo tetep harus terima." Ujar Adam.
Panji kembali duduk, walau rasa kesal masih terlihat diwajahnya. Adam melambaikan tanganya, memberi isyarat agar Nadin menghampiri mejanya.
Mereka bersikap selayaknya pengunjung dan pelayan, apalagi David ada disana. Dan entah itu hanya perasaan Nadin atau memang benar adanya, menurut Nadin David terus saja memperhatikannya. Ini memang sesuatu yang wajar, mengingat Nadin adalah pelayan baru. Jadi mungkin saja David sedang menilai cara kerjanya.
"Macchiato latte nya, dua lagi." Kata Adam saat Nadin tiba di meja mereka.
Nadin kembali mencatat pesanan Adam. Walau ini adalah pesanan keduanya, karena tadi mereka memesan minuman yang sama.
"Ada lagi kak?." Tanya Nadin.
"Ada." Kali ini Panji yang menjawab."Tolong bungkusin pelayan yang bernama Nadin, buat dibawa pulang." Imbuhnya. Nadin tersenyum simpul mendengar ucapan Panji.
Jam pulang Nadin pun tiba. Doni sudah pulang lebih dulu, karena malam ini Nadin akan pulang bersama Panji. Malam ini Panji lebih banyak diam tidak seperti biasanya, membuat Nadin merasa heran, dan bertanya-tanya dalam hati.
Dia kenapa diem aja dari tadi?. Lagi sariawan kali ya. Apa dia marah karena kelamaan nunggu aku pulang?. Lagian siapa suruh dia nunggu.
"Yupz. Ada apa Nad?."
"Mas adam kenapa sih diem aja dari tadi?. Lagi sariawan ya?." Tanya Nadin menyindir Panji.
"Ohhh.....belum di cas kayaknya, jadi lemah syahwat...eh." Sahut Adam.
"Lemah syahwat?. Serius mas Adam?. Duuh gimana dong kalau nanti mas Adam nikah, kasian banget istrinya." Balas Nadin.
Panji tetap saja diam, menatap Nadin dengan tatapan yang aneh, entah apa arti tatapannya itu Nadin sendiri tidak mengerti. Tak lama kemudian, mereka kini sudah sampai di depan proyek pembangunan mall, Adam memarkirkan mobil disana.
"Aku turun ya. Makasih udah nunggu dan nganterin."Pamit Nadin saat dia hendak turun. Dia sudah membuka pintu mobil, saat mendengar Panji berbicara. "Siapa yang ngijinin kamu turun?." Tanya Panji.
"Ngapain juga disini kalau cuman diem-dieman." Gerutu Nadin.
__ADS_1
"Tutup pintunya." Titah Panji, Nadin menurut. "Mulai besok aku mau kamu berhenti kerja."
"Berhenti?. Kenapa?."
"Pokoknya kamu harus berhenti, titik."
"Iya, tapi kenapa?."
"Aku nggak suka lihat kamu kerja."
"Ya udah jangan lihat, dan gak usah jemput, daripada bikin koko kesel."
"Oh jadi kamu nggak mau aku jemput, biar kamu bisa bebas ngobrol sama menejer kafe itu, iya?." Panji mulai ngegas.
"Apa?. Bukan gitu ko, jangan salah paham. Maksud aku, aku cuma nggak enak lihat koko nungguin aku pulang kayak tadi. Aku tahu koko juga pasti capek. Lagian tiap hari aku kan di anter pulang sama anak buah koko. Koko bilang sendiri tidak akan menemui aku, sampai hari pernikahan kita."
"Oh jadi kamu seneng kalau aku nggak nemuin kamu, gitu?."
"Ya Allah ko. Kenapa sih jadi negatif thingking kayak gini?. Oke aku minta maaf, kalau aku salah, tapi jangan kayak gini dong. Jangan suruh aku berhenti kerja, baru aja seminggu kerja, masa udah mau berhenti, malu lah ko."
"Kenapa harus malu?. Malu sama siapa?. Sama manajer kafe itu?. Kamu suka sama dia?."
"Apa? Suka?."
Adam tersenyum tipis menyaksikan keributan di antara sepasang kekasih itu. Untuk pertama kalinya dia melihat bagaimana sikap Panji saat sedang terbakar cemburu seperti sekarang. Ini sangat lucu menurut Adam. Panji yang tegas dan berwibawa malam ini terlihat sangat kekanak-kanakan.
"Jangan senyum lo Dam. Gue benci lihat senyum lo." Kata Panji tiba-tiba membuat Adam tersentak. Ternyata rasa cemburu Panji, tidak membuat matanya buta, dan masih bisa melihat senyum Adam. Adam segera turun, membiarkan Panji dan Nadin berdua di dalam mobil.
Nadin menghela nafas, mencoba mengontrol dirinya agar tidak terbawa emosi. Lalu berkata pada Panji." Koko kenapa sih malam ini kok sensi banget?. Cemburu ya sama ko David?."Tanya Nadin seraya memegang dagu Panji, berusaha mencairkan suasana yang mulai tegang.
Panji memalingkan wajahnya dari Nadin, membuat Nadin tersenyum karena merasa lucu melihat sikap Panji yang mirip anak kecil saat sedang merajuk.
.
__ADS_1
.
Bersambung....