Panji & Nadin

Panji & Nadin
Makan malam


__ADS_3

"Kamu cari tahu siapa orang yang mengirim dia, dan apa tujuannya?."


__________________


"Pastikan orang itu tidak berbuat macam-macam atau menyakiti wanitaku. Kalau sampai itu terjadi, kamu tahu kan apa yang harus kamu lakukan?."


___________________


"Bagus. Aku tunggu informasi kamu selanjutnya."


__________________


Percakapan Panji dengan orang suruhannya, melalui sambungan telepon.


"Apa mungkin dia orang suruhan Bily?." Tanya Adam, saat Panji sudah mengakhiri panggilannya.


"Bukan." Jawab Panji.


"Terus siapa lagi?. Lo tahu sendiri kalau si Bily pernah nyuruh orang buat mata-matain Nadin."


"Gue tahu.Tapi kali ini bukan dia."


"Apa mungkin nyokap tiri lo yang udah ngirim orang itu?."


"Siapapun dia, yang jelas dia lebih profesional dari orang kita. Gue minta lo secepatnya dapatkan informasi tentang siapa orang itu."


"Oke."


Lagian biasanya juga gue yang ngelakuin semuanya Ji. Urusan Nadin aja, lo bertindak sendiri. Hemm cinta....cinta.


....


Sudah hampir satu bulan Panji di luar negeri, dan belum ada tanda-tanda dia akan segera pulang. Nadin selalu berharap Panji tiba-tiba datang memberi kejutan seperti waktu itu, tapi sayang itu tidak juga terjadi.


Hari ini Nadin gajian, dia mengajak keluarganya makan disebuah restoran yang lumayan terkenal dijakarta. Pak Samsudin, mak Ebah dan Hirlan sangat senang dan merasa terharu karena Nadin membawa mereka kesana.


Nadin sudah memesan makanan yang diinginkan keluarganya.


"Kak, kakak nggak salah ngajak kami makan disini?. Makanan disini kan mahal-mahal. Emang kakak punya uang?." Tanya Hirlan.


"Kamu ini. Ya kakak punya uang lah, kalau tidak mana mungkin kakak ngajak kalian kesini."


"Ya aku sih cuma mastiin aja. Aku nggak mau sampai harus cuci piring, gara-gara kita nggak bisa bayar makanan disini."


"Bisa aja kamu. Udah, kamu nggak usah takut. Kakak baru gajian kan, dan kamu tahu gaji bulanan kakak naik. Ditambah bonus enam hari kerja, jadi adalah buat bayar makan disini. Pak Samsudin dan mak Ebah hanya menyimak pembicaraan kedua adik kakak itu.


Pesanan pun datang, mereka lalu menyantap makan malam pertama kalinya direstoran itu.


Dari kejauhan seorang wanita cantik tersenyum walau senyumnya itu seperti meledek, saat melihat Nadin dan keluarganya sedang menikmati makan malam mereka. Dia adalah Jovanka yang kebetulan sedang makan disana bersama kedua orang tuanya.

__ADS_1


Hebat juga dia, bisa makan di restoran ini. Emang dia punya duit? Batin Jovanka.


Makan malam mahal keluarga Nadin selesai. Nadin membayar di kasir, dan keluarganya menunggu di luar. Nadin sedikit terkejut saat kasir itu menyebutkan nominal yang harus dia keluarkan untuk membayar makan malam mereka.


Dia memang tahu harga makanan direstoran itu mahal-mahal, hanya saja Nadin tidak menyangka dia harus membayar hampir lima puluh persen dari gajinya. Tapi tak mengapa demi membahagiakan keluarganya, dia ikhlas.


Nadin berjalan keluar restoran, sambil memperhatikan struk pembayaran makan malam tadi, hingga tak sengaja dia menabrak seseorang yang sama-sama baru keluar dari restoran.


Nadin tersentak kaget, dan langsung meminta maaf.


"Maaf bu!!. Saya nggak sengaja." Ucap Nadin dengan wajah terkejut dan sedikit takut.


"Tidak apa." Sahut ibu itu lemah lembut, membuat Nadin tertegun. Selain suaranya, wajahnya juga sangat cantik, dan penampilannya terlihat sangat modis dan elegan. Sepertinya dia memang orang kaya dan berkelas, itulah yang di fikirkan Nadin.


Dan memang benar, ibu cantik tadi masuk kedalam mobil mewahnya yang Nadin tahu harga mobil itu sangat mahal. Selain itu, sang sopir juga membukakan pintu untuknya sembari menunduk hormat. Nadin yakin ibu tadi memang benar-benar seorang sultan yang kaya raya.


Kalau ibu cantik tadi menaiki mobil mewahnya, lain halnya dengan Nadin dan keluarganya yang pulang menaiki taksi online yang sudah menunggu dari tadi. Tapi Nadin sudah sangat bersyukur dengan semua itu.


Walau dalam hatinya dia juga ingin sekali seperti orang lain, yang lebih darinya dalam hal ekonomi. Nadin berharap suatu saat dia tidak lagi melihat bapaknya bekerja menjadi buruh bangunan. Nadin ingin sekali punya uang, agar bisa memberikan modal usaha untuk bapaknya itu.


.....


Satu minggu kemudian.


Doni mengajak Nadin ke kafe itu lagi. Selain dia ingin nongki-nongki cantik dikafe itu, Doni sekarang punya motif dan alasan lain datang kesana, yaitu David. Doni ingin melihat David, sang manager kafe.


Dan keinginanya itu terkabul. Dia melihat David disana, dan bonusnya David juga menyapa mereka dengan ramah. Senyum David dengan lesung pipinya membuat dia semakin terlihat menarik dan tampan dimata Doni.


" Ahhh...ekeu sukaesih pokonya beb." Kata Doni penuh kekaguman. Nadin terkekeh mendengar ucapan dan melihat ekspresi Doni, yang terus menatap David penuh kekaguman.


"Iyey suka, tapi deseu belum tentu." Ujar Nadin.


"Duuh gimana ya caranya supaya deseu sukaesih samsara ekeu?. Apose ekeu pelet ajijah ya?." ( Duuh gimana caranya ya supaya dia suka sama aku?. Apa aku pelet aja ya)." Ujar Doni.


"Hahaha...gilingan. Jengong iyey." Sahut Nadin.


"Boleh gabung?." Tanya seseorang membuat Doni dan Nadin menoleh ke arah suara.


Mata Nadin membulat, saat dia tahu siapa pemilik suara yang tak lain adalah Panji, kekasih yang sudah sangat dirindukannya. Nadin kembali dibuat terkejut dengan kedatangan Panji yang lagi-lagi tidak memberi tahukan kepulanganya. Rona bahagia seketika terpancar dari wajahnya.


"Aww.......wong koko udin polo." Kata Doni.


Panji menarik kursi lalu duduk disamping Nadin. Dia tersenyum menatap wajah Nadin yang juga sangat dia rindukan. Mereka saling pandang tanpa sepatah katapun keluar dari mulut keduanya.


"Beb, lele iyey udah polo, kok malah didiemin sih?. Cumi kek.". (Beb, cowok kamu udah pulang kok malah didiemin, cium kek)." Bisik Doni.


"Ssttt....sttttt....stttt." Adam memberi kode pada Doni agar dia pindah dari meja itu. Doni mengerti, dia beranjak lalu duduk di meja Adam.


"Ehh, siapa suruh lo duduk disini." Tanya Adam.

__ADS_1


"Abisnya gak ada lagi meja yang kosong mas Adam. Tenang aja mas, ekeu gak gigit kok. Lagian mas Adam bukan selera ekeu, ekeu gak berminat." Kata Doni


"Anjayyy......kasar." Sahut Adam.


"Hay!! Sapa Panji pada Nadin.


"Hay!! Sahut Nadin.


"Aku kangen." Bisik Panji, seraya menggenggam tangan Nadin, membuatnya tersipu malu.


"Pindah yuk." Ajak Panji.


"Kemana?." Tanya Nadin.


"Kemana aja. Yang penting pindah dari sini. Disini aku nggak bisa nyium kamu." Goda Panji.


Mata Nadin membelalak, tapi bibirnya tetap tersenyum.


"Yuk." Panji membawa Nadin keluar dari kafe, tanpa melepaskan genggaman tangannya. Adam dan Doni menyusul mereka, setelah sebelumnya membayar makanan dan minuman pesanan Doni dan Nadin.


"Beb, ekeu polo duluan. Met hapy- hapy ya beb."Kata Doni.


"Kamu pulang naik apa Don?." Tanya Nadin, karena hari itu Doni tidak membawa motor.


"Gampang lah." Sahut Doni.


"Sayang, Doni boleh ikut kita kan?. Kasian dia pulang sendiri." Kata Nadin merayu Panji


"Boleh, lagian kalau dia ikut, Adam gak akan kesepian." Jawab Panji, membuat Nadin tak percaya sekaligus senang.


"Makasih." Kata Nadin tersenyum manis.


Adam tidak percaya saat Nadin mengatakan kalau Doni akan ikut bersama mereka. Dia heran kenapa bisa Panji mengijinkan Doni ikut naik ke mobilnya.


Kok bisa Panji ngijinin siluman belut itu ikut. Hahh bener bucin nih si Panji. Dia nurut -nurut aja ama siluman ular. Hemmm....cinta.


Mereka sudah berada didalam mobil Panji. Nadin dan Panji duduk dijok belakang, dan Doni disamping Adam.


"Mimpi apa ekeu semalam, bisa naik mobil orang kaya." Kata Doni.


"Jangan norak deh lo." Kata Adam.


"Jangan galak-galak Dam sama calon jodoh."Goda Panji.


"Calon jodoh?? Ih amit-amit jabang baby. Mending gue ditembak kompeni daripada berjodoh sama dia." Sahut Adam.


Mobil melaju meninggalkan kafe. Panji juga tidak tahu akan membawa Nadin kemana, yang jelas dia hanya ingin bertemu dan bersama dengan kekasihnya, melepaskan rasa rindu yang selama ini menyiksanya.


.

__ADS_1


.


TBC☘️


__ADS_2