
Sejak resmi jadian, Panji semakin perhatian pada Nadin. Dia selalu mengirim pesan atau menghubungi Nadin, saat dia ada waktu luang.
Tidak ada yang mengetahui hubungan mereka, kecuali Adam dan Doni.
Mereka saling pandang dan melempar senyum manis saat bertemu di konveksi. Panji juga sering datang ke warung mak Ebah, baik sendiri atau berdua bersama Adam dengan alasan ingin melihat proyek pembangunan mall nya, dan mak Ebah sama sekali tidak curiga.
Hari minggu biasanya Nadin bekerja dirumah Panji. Tapi sekarang, hari minggu mereka habiskan untuk berkencan. Entah itu sekedar nonton dan ngobrol di rumah, ataupun pergi keluar seperti sekarang.
Panji mengajak Nadin jalan-jalan ke mall, tapi Nadin tidak mau. Dia mengajak Panji ke kawasan Ancol."
"Ancol, kamu mau ke Ancol?." Tanya Panji.
"Iya ko." Jawab Nadin.
" Mau ngapain?."
"Ya main lah ko."
"Main kok ke Ancol. Main tuh ke hotel." Kata Panji.
"Main kok ke hotel. Oh iya lupa orang kaya mainnya emang di hotel. Kalau boleh tahu, ko Panji suka main apa dihotel? Sama siapa?."Tanya Nadin.
"Aku gak pernah main ke hotel, karena gak punya temen buat diajak main kesana."
"Kan ada mas Adam yang selalu setia setiap saat kayak re*ona, sama ko Panji."
"Dia gak bisa diajak main. Kalau kamu pasti bisa."
"Saya juga gak bisa ko. Saya lebih suka main ke Ancol dari pada ke hotel. Kita kesana aja ya?."Ajak Nadin
"Boleh, tapi ada syaratnya?." Sahut Panji
"Apa?." Tanya Nadin.
"Ini." Panji menunjuk pipinya.
"Apose?." Kata Nadin
"Apose-apose apa?. Jangan ngomong bahasa planet kayak gitu, aku gak ngerti." Ujar Panji,
Nadin tersenyum
"Malah senyum, lagi." Imbuh Panji.
"Kenapa?. Emang saya gak boleh senyum?."Tanya Nadin.
__ADS_1
"Nggak boleh. Senyum kamu meresahkan."Sahut Panji.
"Meresahkan gimana maksudnya ko?." Tanya Nadin.
"Ya meresahkan pokoknya. Kamu tau Nad, senyum kamu bikin aku gemes. Kamu itu, udah cantik, imut, lucu, idup lagi. Rasanya aku pengen nerkam kamu." Jawab Panji.
"Hahh?? Apa?." Tanya Nadin sambil terkekeh.
Dia tidak menyangka ternyata Panji bisa membuatnya tertawa geli, dengan ucapannya tadi. Sekarang, setelah dia mengenal Panji lebih dekat, dia menemukan sisi lain dari kepribadian Panji. Panji yang pendiam, dan terlihat sangat serius, ternyata punya selera humor juga.
"Kenapa kamu ketawa?. Apa yang lucu?."Tanya Panji.
"Enggak ada." Jawab Nadin, tersenyum simpul.
"Aku bilang kamu jangan senyum. Senyum kamu meresahkan."
"Senyum gak boleh, ketawa gak boleh, terus saya harus gimana? Cemberut? gitu?."
"Silahkan, kalau kamu mau aku terkam."
"Terkam terkam kayak kucing aja." Kata Nadin.
"Jadi gimana, kamu masih mau ke Ancol?."Tanya Panji.
"Iya."
"Syarat apa sih? Masa sama pacar sendiri harus pake syarat-syarattan segala?. Kalo mau ngajak jalan-jalan yang ikhlas dong ko."
"Kamu bener Nad, masa pacaran harus ada syaratnya segala, mana banyak banget lagi syaratnya. Masa aku gak boleh macam-macam sama pacar sendiri. Tapi kalau satu macem boleh kan?." Tanya Panji.
Mata Nadin membelalak mendengar ucapan Panji.
"Ih apaan sih ko?." Tanya Nadin, Panji mengulum senyum.
"Ya udah kita gak usah ke Ancol. Terserah ko Panji mau bawa saya kemana. Seikhlasnya ko Panji aja."
"Kamu yakin terserah aku, mau bawa kamu kemana aja?."
"Yakin. Asal jangan bawa saya ke penghulu ko, saya belum siap." Canda Nadin.
"Oke. Kalau gitu kita ke hotel." Ajak Panji
"Hotel?. Mau ngapain?. Enggak ah jangan ke hotel, saya gak mau." Tolak Nadin yang mulai berfikir yang tidak-tidak saat mendengar Panji akan membawanya ke hotel.
"Tadi kamu bilang sendiri terserah aku mau bawa kamu kemana aja?.Jadi diem, nurut aja."
__ADS_1
"Tapi ko, mau ngapain kita ke hotel?. Jangan macem-macem ko." Ancam Nadin, Panji hanya tersenyum.
Fikiran buruk tentang Panji kembali melintas di benak Nadin, saat dia mendengar Panji akan membawanya ke hotel. Nadin fikir mungkin saja Panji memang benar-benar ayah kandung Mikha. Dia menghamili ibunya Mikha, dan tidak mau bertanggung jawab. Dan sekarang mungkin Panji akan melakukan itu padanya.
Oh tidak, tak semudah itu Ferguso. Aku harus hati-hati. Ternyata laki-laki di dunia ini sama aja. Batin Nadin.
Nadin sudah memikirkan cara agar nanti bisa menghindari Panji kalau dia benar-benar akan berbuat macam-macam padanya. Panji tersenyum melihat Nadin. Dia tahu apa yang sedang difikirkan Nadin.
Sekitar setengah jam kemudian, mereka sampai di tempat tujuan. Nadin menatap Panji heran, sekaligus senang seakan tak percaya dia membawanya ke tempat itu.
"Kenapa?. Muka kamu kok kayak kaget kitu?.Tadi katanya mau ke Ancol, ini kita udah di Ancol harusnya kamu seneng."
"I-iiya tapi tadi kan ko Panji bilang kita."
"Tenang aja, nanti kita pasti ke hotel, habis dari sini. Jadi adil kan, aku nuruttin kamu kesini, kamu juga nuruttin aku ke hotel. Sekarang kamu mau kemana, dufan, sea wold, atau?."
Nadin tersentak mendengar ucapan Panji. Dia fikir Panji tidak akan membawanya ke hotel, tapi nyatanya.
"Enggak...gak jadi kita pulang aja."
"Enak aja pulang, kita baru aja nyampe. Ayo bilang, kamu mau ke mana?."
Karena Panji terus mendesaknya, akhirnya Nadin mengajak Panji ke dufan. Panji mengiyakan, lalu mereka pun masuk.
Panji tertegun saat dia sudah berada disana, tepatnya di depan sebuah komidi putar yang dipenuhi kuda-kudaan tunggangan. Dia ingat masa kecilnya dulu, saat almarhum ibunya membawa dia dan Wily bermain disana. Panji tersenyum pilu mengingatnya.
"Kenapa ko?. Ko Panji mau naik komidi putar?." Tanya Nadin sambil tersenyum, saat melihat Panji diam saja sambil menatap komidi putar itu. Panji membalas pertanyaan Nadin dengan senyumnya.
Nadin lalu mengajak Panji menaiki berbagai wahana ekstrim yang ada disana. Panji menolak, tapi Nadin terus memaksanya.
"Ayolah ko, masa naik kora-kora aja takut. Masa kalah sama Doni, Doni aja berani."
"Kamu jangan banding-bandingin aku sama siluman belut itu. Lagian siapa juga yang takut? Aku nggak takut." Sanggah Panji.
Siluman belut, seenaknya aja ngatain orang. Eh tapi aku juga kan sama, suka ngatain dia siluman panci, hehehe.
Ayo." Panji menarik tangan Nadin, menuju wahana kora-kora lalu menaikinya. Panji menggunakan fasilitas fast track, jadi dia tidak perlu repot-repot mengantri untuk menaiki wahana apapun yang dia mau.
Panji dan Nadin berteriak kencang saat wahana berbentuk perahu besar itu sudah mulai mengayun kencang. Tak hanya teriakan mereka tapi juga semua orang yang menaikinya.
Setelah naik kora-kora Panji mengajak Nadin menaiki wahana ekstrim lainnya, seperti halilintar, dan tornado. Nadin setuju. Dia sangat senang.
.
.
__ADS_1
Tbc🍀