
Hari sabtu ini, Panji membawa keluarga Nadin ke vilanya, dan menginap disana selama satu malam.
Adam memperingatkan Panji agar tetap waspada, karena orang yang membuntuti Nadin sepertinya masih terus mengikuti mereka. Namun sayangnya anak buah Adam dan Panji selalu kehilangan jejak mereka, saat anak buah Panji ingin menangkap atau mencari tahu siapa sebenarnya mereka.
Adam meminta anak buahnya terus berjaga di luar vila. Dia tidak mau ada sesuatu yang tidak diinginkan terjadi pada Nadin atau Panji. Adam menduga kalau orang yang mengikuti Nadin itu mungkin saja ingin mencelakai Nadin atau Panji, karena dia yakin mereka pasti sudah mengetahui rencana Panji yang akan segera menikahi Nadin.
Panji dan keluarga Nadin baru selesai menyantap makan malam. Panji membicarakan rencana pernikahanya dengan Nadin kepada pak Samsudin. Seharusnya keluarga Panji juga ikut terlibat dalam pembicaraan ini. Tapi Panji mengatakan kalau dia tidak mau keluarganya ikut campur urusan pribadinya termasuk tentang pernikahannya.
"Walau bagaimanapun juga, mereka adalah orang tua nak Panji. Mereka berhak tahu dan Nak Panji juga harus meminta restu mereka. Karena terus terang saja, saya sendiri tidak akan mengijinkan nak Panji menikah dengan Nadin sebelum orang tua nak Panji mengetahui atau merestui pernikahan kalian." Ujar pak Samsudin.
"Tentu saja saya akan memberitahu mereka pak. Saya akan membawa dan mengenalkan Nadin sebagai calon istri kepada keluarga saya." Sahut Panji, walau sebenarnya Panji enggan melakukanya.
Tapi pak Samsudin benar, bagaimanapun juga keluarga besarnya harus tahu kalau dia ingin menikahi gadis yang dia cintai tak peduli keluarganya setuju atau tidak, dia sudah bertekad akan menikahi Nadin.
.....
Panji menghubungi Prisa dan meminta dia menyampaikan kepada pak Bahtiar, kalau hari ini dia akan datang mengenalkan calon istrinya.
Prisa sangat terkejut mendengarnya, tapi dia juga senang karena akhirnya kakaknya itu mau membuka hati.
Pak Bahtiar, bu Soraya dan ibu sepuh tidak kalah terkejutnya mendengar berita itu. Pasalnya mereka tidak pernah tahu kalau selama ini Panji berhubungan dengan seorang gadis. Mereka semua tidak sabar ingin segera mengetahui siapa sebenarnya calon istri Panji, terutama bu Soraya.
Dan saat yang ditunggu pun tiba. Panji sudah sampai di halaman rumah pak Bahtiar.
Dia mengajak Nadin turun, tapi Nadin memintanya menunggu sebentar lagi. Dia belum siap, jantungnya tiba-tiba berdegup kencang, dan rasa takut akan keluarga besar Panji yang tidak akan merestui hubungan mereka kembali membayanginya.
"Tenang sayang. Kamu nggak perlu takut. Kita kesini, hanya untuk memperkenalkan kamu sebagai calon istriku. Aku nggak peduli mereka akan memberi kita restu atau tidak, aku akan tetap menikahi kamu." Kata Panji, menenangkan Nadin.
Panji dan Nadin pun turun, melangkahkan kaki menuju pintu masuk. Panji langsung membuka pintu, karena memang pintunya tidak terkunci
Panji mengucapkan salam, dan semua orang yang sudah menunggunya membalas salam Panji. Jantung Nadin semakin berdegup kencang tak karuan, saat dia masuk ke rumah calon mertuanya itu, terutama saat dia melihat bu Soraya dan pak Bahtiar, yang menatap heran melihat kedatangan Panji bersamanya.
Nadin?. Kenapa Panji datang bersama dia?.Batin bu Soraya.
Tak hanya pak Bahtiar dan bu Soraya, tapi juga Prisa dan ibu sepuh. Mereka berdua juga heran kenapa Panji datang bersama Nadin. Apa mungkin Nadin ingin bertemu Mikha, atau Panji sengaja membawa Nadin, karena Mikha ingin bertemu dengannya?. Prisa menduga-duga.
Prisa menatap Nadin, namun sesaat kemudian dia menyapanya dengan ramah.
"Selamat siang, semuanya." Sapa Panji formal.
__ADS_1
"Maaf sudah mengganggu waktu kalian."
"Kamu nggak perlu minta maaf. Kami semua senang kamu datang. Dan kami memang menunggu kedatangan kamu." Kata pak Bahtiar.
"Kak Panji tadi katanya mau ngenalin calon istrinya sama kita, dimana dia?. Aku nggak sabar pengen ketemu dia." Ujar Prisa.
"Prisa benar, kami semua sudah nggak sabar pengen ketemu calon istri kamu." Kali ini pak Bahtiar yang berbicara.
"Kalian menanyakan calon mana calon istriku?. Apa kalian tidak melihat aku datang bersama siapa?. Dia calon istriku, apa kalian tidak melihatnya." Tanya Panji.
"Apa maksud kamu Panji?." Tanya bu Soraya yang belum bisa mencerna ucapan Panji
"Maksud kak Panji, calon istri kak Panji itu Nad..."
"Iya kamu benar Prisa. Nadin...dialah calon istriku yang ingin aku kenalkan pada kalian semua." Terang Panji, membuat semua orang disana terkejut, lalu kompak menatap ke arah Nadin. Nadin tersenyum kikuk. perasaannya benar-benar tak karuan dan juga sangat tegang.
"Kamu serius Panji?. Calon istri yang kamu maksud itu, Nadin?." Tanya pak Bahtiar.
"Iya, Aku serius. Dan kedatanganku kemari selain mengenalkannya aku juga ingin kalian semua merestui hubungan aku dengannya."
Semuanya diam sesaat, karena masih tidak percaya Panji ingin menikahi Nadin, mantan pengasuh Mikha, sampai akhirnya tawa renyah bu Soraya memecahkan keheningan yang tiba-tiba terjadi diruang keluarga pak Bahtiar.
"Apanya yang lucu?." Tanya Panji kesal.
"Nadin, calon istri kamu?. Kamu fikir kami percaya?." Tanya bu Soraya.
"Aku nggak peduli kalian percaya atau tidak. Yang jelas aku sudah datang mengenalkan dan meminta restu kalian. Terserah kalian mau percaya atau tidak.
Aku juga nggak peduli kalian merestui hubunganku dengan dia atau tidak. Aku akan tetap menikahinya." Ujar Panji yang semakin kesal kepada ibu tirinya.
"Apa tidak ada gadis lain yang bisa kamu bayar agar kami semua bisa percaya kebohongan kamu ini?. Kamu lihat, bahkan Nadin sama sekali tidak bisa memainkan perannya dengan baik. Dia terlalu polos dan tidak bisa bersandiwara seperti kamu." Ujar bu Soraya.
"Hehh, siapa yang bersandiwara?." Tanya Panji.
"Sudahlah Panji, kamu fikir aku tidak tahu masalah apa yang terjadi antara kamu dan Nadin?." Sergah bu Soraya.
Panji terkesiap mendengar ucapan ibu tirinya. Dia berfikir kalau mungkin saja yang mengikuti Nadin selama ini adalah orang suruhan ibu tirinya.
"Aku tahu kalau Nadin pernah melempar mobil kamu dengan batu, dan kamu meminta ganti rugi padanya. Tapi, karena Nadin tidak bisa membayar ganti rugi yang kamu minta, kamu minta dia bekerja di rumah kamu setiap hari minggu.
__ADS_1
Dan kamu juga sering memaksa Nadin berpura-pura menjadi kekasih kamu, bahkan membawanya ke pesta, supaya orang mengira kalau dia adalah kekasih kamu. Benar begitu kan Nadin?." Tanya bu Soraya. Nadin tersentak kaget. D
ia tak menyangka bu Soraya akan mengatakan semua itu. Perasaan Nadin semakin tak karuan sekarang. Rasanya dia ingin melarikan diri saja dari rumah itu.
"Kenapa kamu diam saja Nadin?. Saya betul kan?." Tanya bu Soraya.
Prisa, bu sepuh dan pak Bahtiar menatap Nadin yang tertunduk dan sepertinya sangat gugup.
Prisa juga tahu tentang kejadian pelemparan batu itu, karena dia pernah menanyakannya pada Nadin, saat Panji sering membawa Mikha dan Nadin kerumah Panji.
"Jawabanya iya kan Nadin?." Tanya bu Soraya lagi.
"Iya bu, itu benar." Jawab Nadin takut-takut.
Panji tidak tahu darimana ibu tirinya bisa tahu tentang kejadian pelemparan batu itu. Karena kemunculan orang yang mengikuti Nadin, baru beberapa bulan lalu, atau saat dirinya dan Nadin sudah menjadi sepasang kekasih. Sedangkan kejadian pelemparan batu itu sudah lama terjadi. Tapi itu tidak penting sekarang.
Dia kembali fokus pada tujuannya semula.
"Dan saat ini aku sangat yakin kalau Nadin juga dipaksa Panji, untuk berpura-pura menjadi calon istrinya dihadapan kita semua, iya kan Nadin?." Tanya bu Soraya.
"Tidak. Aku tidak memaksanya untuk berpura-pura menjadi calon istriku, karena dia memang calon istriku dan kami akan secepatnya menikah." Terang Panji.
"Oh ya?. Begitukah?."
"Semua yang anda katakan tadi memang benar. Aku memang pernah memintanya berpura-pura menjadi kekasihku, tapi sekarang kami memang sudah menjadi sepasang kekasih yang sesungguhnya. Aku benar-benar mencintainya." Kata Panji meyakinkan.
Kening bu Soraya mengerut. Dia menatap Nadin dan Panji bergantian. Ada yang aneh disini. Dia melihat kesungguhan dimata Panji. Iya bu Soraya tahu Panji tidak bersandiwara.
Tapi mana mungkin Panji bisa jatuh cinta pada Nadin, yang notabene adalah keponakan tukang masak dirumahnya.
Panji adalah orang yang sangat selektif?. Tapi kenapa dia bisa memilih Nadin sebagai calon istrinya. Bukankah selera Panji itu sangat tinggi?. Ini benar-benar tidak bisa dimengerti.
.
.
TBC☘️
Terus dukung Panji dan Nadin ya dears❤️🤗
__ADS_1