Panji & Nadin

Panji & Nadin
Gagal misi


__ADS_3

"Udah. Jangan makan lagi." Kata Nadin, sambil menahan tangan Panji.


"Kenapa?." Tanya Panji keheranan.


"Jangan dipaksa kalau gak suka." Jawab Nadin.


"Enggak ah, kamu modus ya biar aku gak jadi nyium kamu. Aku akan tetep makan manisan ini." Kata Panji


"Segitunya ya, gara-gara pengen nyium." Sahut Nadin.


"Biarin. Yang penting nyium kamu." Balas Panji sembari mengarahkan sendok berisi manisan pala ke mulutnya. Dia kembali memejamkan mata, dan mengernyit karena menahan rasa asam, pahit dan sepet dalam mulutnya.


Namun, semua rasa itu tiba-tiba menghilang tidak lagi dia rasakan, saat merasakan sesuatu yang kenyal dan hangat menempel dipipi kanannya. Panji tahu benda kenyal apa yang menempel dipipinya itu. Bibir....iya itu adalah bibir.


Bibir Nadin menempel mesra dipipinya. Dia tak percaya, Nadin mencium pipinya. Rasa hangat yang dia rasakan di pipi, menjalar sampai kehatinya, membuatnya sangat bahagia.


Seketika tangannya menyentuh pipi tempat dimana baru saja bibir hangat Nadin mengecup pipinya. Jantungnya langsung bekerja lebih keras.


Apa yang Panji rasakan saat ini benar-benar tidak bisa dia lukiskan, yang jelas dia sangat bahagia. Apalagi dia sudah lama tidak merasakan sentuhan lembut seperti ini dari seorang wanita.


Sebaliknya dengan Nadin, yang merasa sangat malu dengan apa yang telah dia lakukan. Dia mencium Panji. Benar dia berani menciumnya. Dia belum pernah melakukan ini sebelumnya kepada mantan-mantanya dulu, tapi kenapa pada Panji dia mau melakukannya?.


Apasih yang aku lakuin?. Duuh malunya. Jangan sampe dia berfikiran yang aneh-aneh tentang aku, gara-gara aku nyium dia.


Gapapa Nadin tenang. Cuma nyium doang gak akan bikin kamu hamil.


Emang sih tapi masalahnya aku yang nyium dia, bukan dia yang nyium aku.


Panji tersenyum bahagia menatap Nadin yang terlihat sangat malu. Dia terus menatapnya penuh arti. Aura bahagia jelas terpancar diwajah Panji.


"Jangan ngeliatin terus. Malu." Kata Nadin, sembari memalingkan wajahnya dari Panji.


Tanpa permisi Panji memeluk Nadin, mendekapnya dengan sangat erat.


"Makasih sayang. Aku seneng banget." Kata Panji saat dia memeluk Nadin. Perlahan namun pasti, Nadin pun membalas pelukan Panji. Mereka saling berpelukan di sofa itu cukup lama.


Belum ada tanda-tanda Panji akan melepaskan pelukannya. Nadin juga sepertinya masih betah menikmati pelukan hangat Panji.


"Aku sayang kamu, Nad." Bisik Panji ditelinga Nadin, membuatnya merinding disko, mendengar ucapan Panji.


"Apa kamu juga sayang aku?." Tanya Panji, kembali berbisik ditelinga Nadin.


Nadin menganggukkan kepala, membuat Panji semakin mengeratkan pelukannya. Kemudian, Panji perlahan melonggarkan pelukannya ditubuh Nadin. Dia menatap wajah Nadin sebentar lalu mencium keningnya.


Mata Nadin terpejam begitu saja saat Panji mengecup keningnya. Setelah itu Panji mengecup mesra pipi kanan dan kiri Nadin, bergantian.

__ADS_1


Bibir Panji masih menempel dipipi Nadin, perlahan bibir itu bergeser makin ke bawah mendekati bibir Nadin. Bulu romanya makin meremang, dan jantungnya makin berdegup kencang.


Nadin tahu, apa yang akan Panji lakukan selanjutnya. Dia pasti akan mencium bibirnya.


Dia pasti akan mencium bibirku. Oh tidak. Aku tidak mungkin menyerahkan bibirku secepat itu. Cukup pipi dan keningku saja, tidak untuk bibir. Kata Nadin dalam hatinya.


Bibir Panji sudah semakin dekat dengan bibir Nadin. Kurang dari satu senti bibir mereka akan bertemu, namun Nadin segera memalingkan wajahnya, membuat Panji terlihat kecewa karena misinya gagal. Dia tidak putus asa, dan akan mencobanya lagi.


Panji menarik pelan dagu Nadin, mengarahkan wajah Nadin ke wajahnya. Mereka bersitatap beberapa detik. Mata Panji menatap mata dan bibir Nadin bergantian sambil mengulas senyum penuh arti.


Jempol tangannya mengusap-usap lembut bibir Nadin, membuat jantung Nadin berdegup semakin kencang. Hatinya berdebar-debar.


Nadin tidak menampik, dia juga menyukai saat Panji menciumnya. Dan dia juga penasaran ingin merasakan bagaimana rasanya berciuman dibibir, karena dia belum pernah melakukannya.


Dulu saat pacaran dengan Bily, Bily hanya pernah mencium pipinya saja. Menurut cerita yang dia dengar dari teman-teman sekolahnya dulu, ciuman dibibir itu sangat indah dan juga "enak." Itulah yang Nadin ingat dari cerita teman sekolahnya.


Mereka sering mengejek, dan memanas-manasi Nadin agar dia mau berciuman dengan Bily. Tapi Nadin tidak pernah terpancing oleh teman-temanya itu. Bukan tidak mau, tapi hati kecilnya mengatakan tidak, jangan, jangan lakukan itu.


Seperti juga saat ini, walau sebelah hatinya penasaran dan menginginkannya, tapi sebelah hatinya yang lain mengatakan jangan.


Saat ini Panji masih mengusap pelan bibir Nadin dengan jempol tangannya, sambil tersenyum, dan mengangguk sesekali. Nadin mengerti, Panji meminta ijin untuk mencium bibirnya.


Nadin menggelengkan kepala sambil tersenyum, membuat senyum Panji memudar seketika dan senyum Nadin melebar karena merasa lucu melihat ekspresi Panji.


Nadin diam terpaku saat itu, dia ingin memalingkan wajahnya tapi Panji menahan wajah Nadin dengan tangannya.


Baru saja bibir Panji akan menyentuh bibir Nadin, ponsel Panji berdering dengan kerasnya. Membuat kedua orang yang akan berciuman itu tersentak kaget, dan misi Panji kembali gagal.


Panji berdecak kesal karena gagal mencium bibir Nadin. Sedangkan Nadin hanya bisa tersenyum melihat wajah kesal kekasihnya yang menurutnya sangat lucu.


Kekesalan Panji semakin bertambah, saat melihat siapa yang menghubunginya. Dia, bu Soraya, ibu tiri yang tidak disukainya. Panji tidak menjawab panggilan itu, walau bu Soraya terus menghubunginya.


"Telpon dari siapa?.Kenapa gak diangkat?." Tanya Nadin.


"Nggak penting." Sahut Panji lalu menekan mode pesawat di ponselnya.


"Saat ini nggak ada yang lebih penting dari kamu dan ini." Panji menunjuk bibir Nadin.


"Boleh ya?. Sekalii aja." Rengek Panji yang terdengar seperti anak kecil di telinga Nadin.


"Enggak, kalau udah sekali biasanya ada yang kedua kali dan seterusnya."


"Enggak ada, Aku janji cuma sekali aja, udah. Tapi nanti setengah jam kemudian, sekali lagi."


"Tuh kan." Sahut Nadin.

__ADS_1


Baru saja Panji akan melancarkan misi percobaanya yang ketiga, tiba-tiba saja bi Neneng datang memberi tahukan kalau makan siang sudah siap, membuat misi ketiga Panji kembali gagal. Dia sangat kesal pada bi Neneng saat itu.


"Iya bi, terima kasih." Sahut Panji,


Nadin tersenyum meledek Panji.


"Anda belum beruntung pak." Kata Nadin, meledek Panji.


"Aku bisa melakukannya sekarang."


"Udah tiga kali gagal, itu artinya udah game over. Udah ah yuk makan, udah laper banget nih." Ajak Nadin. Panji hanya bisa menurut, lagipula dia juga sudah merasa lapar. Mereka makan siang, setelah sebelumnya membangunkan Adam.


Selama makan, Panji terus saja bersikap mesra pada Nadin, membuat Nadin merasa malu pada Adam. Walau berulang kali Adam menyindir Panji, sepertinya Panji tidak peduli.


"Dasar budak cinta. Kemana menghilangnya bapak Panji yang berwibawa, dan jaim itu?." Tanya Adam.


"Sepertinya hanyut terbawa derasnya arus sungai cinta." Sahut Panji.


"Slebewww. Kamu denger kan Nad?. Udah kayak penyair aja sekarang dia." Balas Adam.


"Udah sayang, ayo habiskan makanan kamu. Biar kita bisa mesra-mesraan lagi." Ujar Panji. Nadin membelalakkan matanya ke arah Panji.


"Jangan melotottin aku kayak gitu, aku makin gemes sama kamu. Nih mending makan lagi, aku suappin , aaa". Panji mengarahkan sendok ke mulut Nadin.


"Ayo buka mulut kamu, sebelum aku minta kamu buka yang lain."


"Ihhh, mulai genitnya."


"Dunia milik kalian berdua deh, gue cuman kambing congek yang numpang makan doang. Kalian ngapain bangunin gue sih? Mending gua tidur, daripada melihat kealayan dan kebucinan bapak Panji." Kata Adam.


"Eh ada kambing, kita bikin sate aja yuk." Canda Nadin.


"Jangan sayang, mending kita cari kambing betina, terus kawinin biar berkembang biak." Sahut Panji.


Nadin dan Panji tertawa kecil


"Tertawalah kalian, aku senang melihat kalian bahagia, hemm." Kata Adam.


.


.


TBC☘️


Jangan lupa like, vote dan komentarnya untuk ko Panji dan Nadin ya🤗🙏

__ADS_1


__ADS_2