Panji & Nadin

Panji & Nadin
Merasa bersalah


__ADS_3

Nadin sedang berjalan kaki menuju rumahnya sendirian, karena Panji dan Adam sudah kembali ke kantor. Dia pulang membawa hati yang sangat berbunga-bunga. Wajahnya terlihat bahagia dan sangat ceria.


Saat sampai dikamar, Nadin mengecek ponselnya. Dia melihat banyak notif disana, salah satunya dari aplikasi chatnya.


Nomor itu lagi. Ya nomor yang sama yang selama beberapa hari ini selalu mengirimkan pesan ancaman padanya, siapa lagi kalau bukan calon ibu mertuanya, bu Soraya.


"Saya sudah peringatkan kamu agar menjauh dari Panji. Tapi rupanya kamu malah semakin berani ngelunjak sama saya. Kamu belum tahu siapa saya gadis miskin. Baiklah kalau itu mau kamu.


Saya akan tunjukan siapa saya sebenarnya. Agar kamu sadar dan nggak ngelunjak lagi. Tunggu saja. Setelah ini saya yakin kamu akan menyesal sudah berani melawan saya."


Isi pesan dari bu Soraya siang itu. Nadin memang selalu membacanya tapi tak pernah sekalipun dia membalasnya. Ada rasa cemas dalam hati Nadin saat membaca pesan bu Soraya. Dia takut bu Soraya benar-benar akan melakukan sesuatu yang buruk padanya atau keluarganya.


Dia ingin memberi tahu Panji tentang ancaman bu Soraya, tapi dia urungkan niatnya itu, karena dia takut membuat masalah baru antara bu Soraya dan Panji. Dia akan mengatakannya kalau dia memang merasa benar-benar terancam.


...


Jovanka sudah berada dalam sel tahanan. Dia disambut oleh tatapan tajam tiga orang perempuan penghuni sel yang terus memperhatikannya dari atas sampai bawah. Jovanka semakin ketakutan.


Dia mengedarkan pandangannya menjelajahi ruangan yang luasnya bahkan lebih sempit dari kamar mandinya. Tidak ada apapun disana selain tikar yang menjadi alas duduk dan mungkin juga alas untuk tidur. Sebab dia tidak melihat ada kasur atau bantal.


"Ada anak baru nih." Kata salah satu wanita itu.


"Hehh anak baru. Sini.!! Panggil yang satunya.


Jovanka diam saja.


"Ehh belagu juga lo. Sini gua bilang." Titahnya mulai nyolot. Karena takut Jovanka menurut. Dia menghampiri wanita yang usianya mungkin tidak jauh dengan ibunya, hanya saja wanita itu terlihat tidak terawat, dengan rambut bergelombang yang dibiarkan terurai dan acak-acakkan, juga badannya yang bau apek, membuat perut Jovanka langsung terasa mual.


Seperti yang sering dilihatnya di sinetron atau acara tv, siang itu Jovanka merasakan bagaimana rasanya menjadi penghuni lapas baru yang dibuli oleh penghuni lapas lama.


Walau dia tidak disiksa secara fisik, tapi tetap saja dia merasa menderita dan terhina, karena harus melayani ketiga wanita senior dilapas itu.


Dalam hati dia memaki, mengumpat dan menyumpahi ketiga wanita itu juga Panji dan Nadin yang membuatnya seperti ini.


Aku harus keluar darisini secepatnya. Aku nggak sudi jadi budak wanita-wanita gila ini.


....


Malamnya sepulangnya dari kantor, Panji kembali ke kantor polisi, karena dia ingin menemui Jovanka.

__ADS_1


Senyuman ejekan kembali terlihat dibibir Panji saat dia melihat ekspresi ketakutan dan tertekan di wajah Jovanka.


Melihat Panji, Jovanka langsung memohon Panji mencabut laporannya agar dia bisa segera bebas. Jovanka berjanji tidak akan mengulangi perbuatanya dan akan meminta maaf pada Nadin, dia menyesal melakukan semua itu


"Benarkah? Kamu menyesal Jo?."


"Iya Panji. Aku sangat menyesal. Aku mohon bebaskan aku dari sini."


"Sori Jo!! Tapi penyesalan kamu terlambat. Aku gak akan biarin kamu keluar dari sini, sampai aku menikah dengan Nadin." Kata Panji saat beranjak dari sana.


"Kamu gak akan pernah menikah dengannya Panji, aku bersumpah." Teriak Jovanka, Panji berbalik dan menoleh.


"Hehh, kita lihat saja nanti." Balas Panji


"Aku tidak akan membiarkannya Panji, kamu dengar itu."


Langkah Panji terhenti mendengar ucapan Jovanka, lalu dia kembali menghampirinya.


"Memangnya apa yang bisa kamu lakukan?." Tanya Panji sembari membelai rambut Jovanka, lalu dengan cepat dia menarik rambut itu cukup kuat, membuat Jovanka meringis kesakitan.


"Lepaskan!! Sakit Panji, aww." Pekik Jovanka.


"Sakit kan Jo?. Ini juga yang Nadin rasakan saat itu. Dia meminta dan memohon kamu melepaskannya, apa kamu melepaskanya?. Tidak kan. Aku bisa saja membalas kamu bahkan lebih menyakitkan dari ini, tapi aku tidak sebodoh kamu Jo. Aku tidak mau mengotori tanganku.


Kemana perginya polisi wanita ini saat Panji menarik rambutku? Apa dia sengaja meninggalkan kami. Tanya Jovanka dalam hati.


...


Siang itu Nadin sedang membantu mak Ebah diwarung, saat melihat adiknya Hirlan sudah pulang dari sekolah. Ini baru jam setengah sebelas siang, tapi kenapa dia sudah pulang. Biasanya dia pulang jam satu atau setengah dua.


Saat Nadin bertanya, adiknya itu menjawab kalau dia disuruh pulang oleh wali kelasnya, karena Hirlan sedang tidak enak badan. Nadin dan mak Ebah nampak cemas, namun Hirlan mengatakan dia baik-baik saja, dan hanya butuh istirahat.


Jam istirahat proyek tiba, seperti biasa warung mak Ebah sudah ramai oleh pekerja proyek yang makan disana, termasuk juga pak Samsudin.


Setelah selesai makan semua pekerja kembali ke proyek, tapi pak Samsudin masih diam di bangku warung, dan mengatakan tidak akan kembali bekerja.


"Apa bapak sakit?." Tanya Nadin.


"Bapak baik-baik saja." Jawab pak Samsudin.

__ADS_1


"Lalu kenapa bapak tidak kembali ke proyek?."


"Bapak berhenti kerja, Nad?."


"Apa? Berhenti? Maksud bapak?."


"Bapak nggak akan kerja lagi di proyek. Bapak di pecat."


"Di pecat?. Tapi kenapa bapak di pecat?. Apa bapak melakukan kesalahan?."


"Iya, bapak sudah melakukan kesalahan. Kesalahan yang sangat besar." Kata pak Samsudin seraya melangkahkan kakinya menuju rumah.


Nadin tidak tahu kesalahan apa yang diperbuat bapaknya, sampai dia harus dipecat.


Karena penasaran Nadin menanyakannya saat pak Samsudin sudah terlihat tidak capek.


Dia terkejut saat tahu kalau bapaknya dipecat oleh bu Soraya, calon mertuanya. Dia datang ke proyek mencari dan memecatnya langsung dihadapan para buruh. Tak hanya itu, dia bahkan menghina pak Samsudin habis-habisan.


Tidak ada yang berani menghentikan bu Soraya, karena mereka tahu dia adalah ibu dari pemilik pembangunan mall itu. Walau sebenarnya bu Soraya tidak berhak memecat pak Samsudin karena hanya mandor atau pemborong bangunan disana yang berhak memecatnya.


Tapi bu Soraya menegaskan kalau dirinya adalah pemilik bangunan mall yang sedang mereka kerjakan, jadi dia tidak mau pak Samsudin bekerja disana.


"Sekarang kamu sudah lihat kan Nad, keluarga nak Panji terang-terangan tidak menyetujui hubungan kamu dan anaknya. Bapak terima dia menghina bapak, tapi bapak nggak bisa terima jika mereka menghina kamu. Jadi bapak minta lebih baik kamu akhiri hubungan kamu dengan nak Panji. Bu Soraya benar, kita tidak pantas dan tidak sederajat dengan mereka."


Nadin tertunduk lemas mendengar ucapan bapaknya. Dia tidak menyangka bu Soraya benar-benar melakukan ancamannya. Apa yang harus dia lakukan sekarang? Apa dia harus memberi tahu Panji tentang ini?.


Tidak...rasanya tidak. Karena kalaupun dia mengatakanya pada Panji, semua itu tidak akan merubah apapun, kecuali kemarahan Panji dan bu Soraya. Panji akan semakin membenci bu Soraya, dan bu Soraya akan semakin membencinya.


Disaat bersamaan Hirlan keluar dari kamar memberikan sebuah surat dari kepala sekolahnya. Pak Samsudin membaca surat itu, isi surat itu mengatakan kalau Hirlan sudah dikeluarkan dari sekolah mulai hari ini. Dia tidak boleh lagi bersekolah disana.


Hirlan juga tak mengerti kenapa dia tiba-tiba dikeluarkan dari sekolahnya. Padahal selama ini dia termasuk anak yang baik dan masuk sepuluh besar.


Hirlan tidak pernah ada masalah dengan pihak sekolah ataupun teman-temanya. Dia sangat terpukul dengan keputusan pihak sekolah, mengingat beberapa bulan lagi dia akan mengikuti ujian akhir sekolah.


Nadin semakin lemas. Dia tahu dan yakin semua ini perbuatan bu Soraya. Nadin sangat merasa bersalah kepada bapak dan adiknya. Dia menangis sendiri dikamarnya.


Apa dia benar-benar harus mengorbankan keluarga demi cintanya pada Panji?. Apa dia se-egois itu?. Tidak, dia tidak mau keluarganya tersakiti. Tapi bagaimana dengan cintanya pada Panji?.


.

__ADS_1


.


Bersambung......


__ADS_2