
Rasa cemas, khawatir, takut dan gelisah dirasakan Panji saat ini. Tak hentinya dia berdo'a dalam hati berharap Nadin dan semuanya baik-baik saja. Dia ingin cepat-cepat sampai di rumah Nadin.
Berkali-kali Panji menyuruh Adam menambah kecepatan mobilnya, padahal Adam sudah melajukan mobil dengan kecepatan di atas rata-rata, tapi bagi Panji laju mobil itu terasa begitu lambat. Panji terlihat frustasi, pikiranya sangat kacau, hatinya sangat tidak tenang, dan panik. Panji ingin menghubungi Nadin, tapi dia membawa ponselnya.
"Kenapa semua ini bisa terjadi?. Dan kenapa lu gak ngehubungin gue Dam?." Teriak Panji kesal.
"Gue tadi udah bilang, gue dan Roy udah hubungin lo berkali-kali, tapi hp lo gak bisa dihubungi."
"Roy? Sebenernya dia bisa kerja gak sih Dam?. Gue udah bayar dia mahal, tapi kenapa?. Kenapa bisa kayak gini kejadiannya?." Adam diam saja.
"Kalau terjadi sesuatu sama Nadin dan keluarganya, awas aja kalian." Kata Panji. Sebenarnya Adam juga merasakan kekhawatiran yang sama dengan Panji, tapi dia harus tetap tenang, apalagi dia sedang mengemudi.
Mereka sudah sampai di area parkir pembangunan mall Panji. Panji langsung turun, dan melangkahkan kakinya dengan tergesa, apalagi saat melihat kumpulan asap berwarna hitam dilangit yang mulai terang.
Panji mempercepat langkahnya, saat dia melihat beberapa mobil damkar, dan mobil polisi berjejer di area belakang bangunan mall. Suara sirine terdengar menggema dipagi itu, membuat telinga Panji terasa sakit.
Ya Tuhan, semoga Nadin dan keluarganya baik-baik saja. Do'a Panji dalam hatinya, seraya mempercepat langkahnya.
Kepulan asap hitam dan bau benda terbakar, menyambut kedatangan Panji saat dia masuk kedalam gang menuju rumah Nadin.
Panji semakin panik, saat melihat warga yang banyak berkerumun di sekitar rumah Nadin. Diantara mereka ada juga yang ikut membantu petugas damkar memadamkan api.
Panji terperangah saat melihat pemandangan yang sangat memilukan di depan matanya. Rumah mak Ebah, atau rumah yang ditempati oleh kekasihnya sudah rata dengan tanah. Rumah dan isinya, semuanya hancur lebur tak tersisa, dilahap si jago merah. Yang tersisa hanyalah puing-puing dari bangunan yang sudah sebagian menjadi arang.
Polisi juga sudah memasang police line disekitar tempat kejadian, agar warga tidak mendekat. Dua rumah disamping kiri dan kanan rumah mak Ebah juga ikut terbakar, namun kedua rumah itu masih bisa diselamatkan.
Panji diam terpaku beberapa saat, sampai dia ingat pada Nadin. Dia ingin menemui kekasihnya itu. Panji berharap Nadin dan keluarganya baik-baik saja. Dia berteriak memanggil nama Nadin berulang-ulang, namun tidak ada jawaban.
Panji melihat bi Sum dan Irma ada diantara kerumunan para warga. Dia lalu menghampiri mereka, untuk menanyakan keadaan Nadin dan keluarganya. Perasaan Panji semakin tidak enak saat melihat wajah bi Sum yang terlihat shock juga air mata dipipinya.
__ADS_1
Saat Panji bertanya bi Sum juga tidak menjawabnya, dia malah menangis histeris. Irma menenangkan ibunya. Dia juga terlihat menangis, hanya saja tidak sehisteris bi Sum.
"Dimana Nadin dan keluarganya, Irma?." Tanya Panji pada Irma.
"Mereka.....mereka..." Ucap Irma sembari terisak.
"Dimana mereka?." Tanya Panji lagi.
"Mereka tak tertolong. Mereka meninggal."Jawab Irma dengan bercucuran air mata.
"Enggak.... gak mungkin, kamu pasti bohong."Sanggah Panji tak percaya dengan apa yang diucapkan Irma. Panji menghampiri polisi yang masih memasang police line, dan menanyakan keadaan penghuni rumah yang sudah habis terbakar itu.
Bagai disambar petir, saat polisi itu mengatakan bahwa penghuni rumah semuanya tidak selamat dalam tragedi kebakaran itu. Keempat penghuni rumah dipastikan meninggal dunia dalam keadaan yang mengenaskan. Tubuh mereka semua gosong dan tidak dapat dikenali.
"Tidak pak. Bapak pasti berbohong ?. Mereka tidak mungkin meninggal." Sanggah Panji.
"Maaf pak, tapi kami mengatakan yang sebenarnya. Semua penghuni rumah meninggal dunia. Kami turut berduka cita."
Disaat bersamaan, dua orang petugas melewati Panji, membawa satu kantung terpal berwarna kuning bertuliskan kantong jenazah, diikuti petugas lainnya membawa kantong yang sama.
Mereka akan membawa kantong jenazah itu ke dalam mobil ambulans lalu membawanya ke rumah sakit, untuk dilakukan pemeriksaan jenazah, atau identifikasi oleh tim forensik.
Panji menahan mereka, karena ingin melihat sendiri jasad korban yang menurut mereka itu adalah Nadin dan keluarganya. Awalnya petugas tidak mengijinkan, namun akhirnya mereka membiarkannya.
Jantung Panji rasanya akan terlepas dari dadanya, saat melihat keempat kantong jenazah itu. Dia membuka kantong terpal berwarna kuning itu, dan melihat sendiri jasad yang ada di dalamnya.
Jantungnya berdebar kencang, saat melihat jasad yang hangus terbakar dan benar-benar susah dikenali. Kakinya lemas, pandanganya sedikit kabur, dan tubuhnya pun terasa limbung. Nafasnya tiba-tiba terasa sesak, karena merasa bumi telah runtuh dan menimpanya. Matanya memanas, dan mulai berembun.
"Tidak...tidak mungkin. Nadin tidak mungkin meninggal. ini bukan dia, kalian pasti bohong."Teriak Panji seraya menarik kerah seragam salah satu polisi.
__ADS_1
Adam menarik Panji dari polisi itu, dan malah dia sendiri yang menjadi sasaran amukan Panji, yang masih tidak percaya dan tidak terima dengan kenyataan di depan matanya.
Panji meneriaki Adam, mencaci, menyalahkan bahkan memukulnya. Adam diam saja menerima perlakuan Panji, karena menurutnya apa yang dikatakan Panji memang benar. Dia bodoh dan lalai, hingga kejadian mengerikan ini bisa terjadi.
Adam mengerti perasaan Panji saat ini. Dia pasti sangat terpukul kehilangan orang yang sangat dia cintai dengan cara tragis seperti ini, padahal hari pernikahan mereka tinggal dua hari lagi.
Polisi menjauhkan Adam dari Panji."Tenang pak, tenang!! Kami mohon jangan buat keributan disini. Kami semua sangat mengerti kesedihan bapak." Ujar polisi itu.
Bagaimana mungkin Panji bisa tenang setelah apa yang terjadi pada calon istrinya. Dia harus kehilangan calon istrinya dengan cara tragis seperti ini. Tidak, bagaimana mungkin dia bisa tenang.
Walau dia masih belum menerima dan tidak ingin mempercayai apa yang terjadi dan berharap semua ini hanyalah mimpi buruk, tetap saja ini adalah kenyataan pahit yang harus dia terima.
Panji meminta pada polisi untuk secepatnya mengadakan penyelidikan tentang kebakaran ini. Dia sangat yakin kebakaran ini bukan sebuah kecelakaan, tapi ada unsur kesengajaan. Dan dia yakin orang dibalik kejadian ini adalah ibu tirinya.
Apalagi semalam Nadin mengatakan kalau bu Soraya datang mengancamnya dan keluarganya. Tangan Panji mengepal, wajahnya sudah semakin memerah karena amarah yang berkobar didadanya. Rasanya dia ingin sekali menghajar wanita bergelar ibu tirinya itu, sekarang juga.
Panji berjalan menuju mobil dengan tergesa, dan Adam mengikutinya. Panji membanting pintu mobil dengan kerasnya. Perasaanya sudah tidak menentu sekarang. Hatinya hancur dan sangat sakit, bahkan lebih sakit dibandingkan saat dia tahu pengkhianatan Vanesa dulu.
Dia tidak menyangka kejadian tragis ini bisa terjadi pada Nadin yang sebentar lagi akan menjadi istrinya. Dia terlihat sangat kacau memukul jok kemudi yang ada didepannya, mengusap kasar wajahnya, dan mengacak rambutnya frustasi.
Sakit dan sesak yang Panji rasakan semakin menjadi, dia sudah tidak kuat menahan rasa itu. Panji luruh. Dia menangis dengan kedua tangan yang dia tutupkan ke wajahnya. Rasanya sangat sakit harus kehilangan wanita yang benar-benar dia cintai. Rasa sakit yang sama yang dia rasakan dulu, saat kehilangan almarhum ibunya.
Untuk pertama kalinya Adam melihat Panji menangis seperti itu. Dia ikut menittikan air mata, karena selain merasa iba dan prihatin, Adam juga bisa merasakan sakit yang dirasakan Panji.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung😢