Panji & Nadin

Panji & Nadin
Bertukar posisi.


__ADS_3

"Aku serius Nadin. Aku....."Ucapan Panji terpotong, karena kedatangan pelayan yang membawakan pesanan mereka.


Mereka lalu menikmati makan siangnya. Nadin menyelesaikan makannya dengan cepat, agar bisa secepatnya pulang, tapi Panji malah makan dengan santainya dan juga lama.


Setelah selesai makan, Panji mengantarkan Nadin pulang. Dia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang cenderung pelan.Sesekali Panji menoleh ke arah Nadin, sembari melemparkan senyumnya.


"Kamu mau beli apa buat nenek kamu?." Tanya Panji.


"Enggak, saya gak mau beli apa-apa." Jawab Nadin.


Panji memarkirkan mobilnya di sebuah toko kue, lalu mengajak Nadin turun. Dia meminta Nadin mengambil kue yang dia suka. Nadin mengatakan kalau dia tidak suka kue, tapi Panji tetap membelikannya kue.


Panji tahu Nadin berbohong. Dia tahu Nadin sangat menyukai red velvet cake dan juga black forest. Dia juga membelikan eskrim vien*t*a kesukaan Nadin.


Nadin menolak pemberian Panji, tapi Panji memaksa Nadin menerimanya.


"Sampaikan salam saya buat nenek kamu ya." Kata Panji sebelum Nadin turun.


"Iya ko saya pasti akan sampaikan. Terima kasih banyak ya, sudah membelikan saya kue, dan juga baju ini."


"Cuma itu?." Tanya Panji.


"Oh iya sampai lupa, makasih juga makan siangnya." Kata Nadin.


"Hanya makasih?." Tanya Panji, Nadin mengernyitkan alis karena tak mengerti apa maksud pertanyaan Panji.


"Sudahlah, ayo cepat turun." Titah Panji.


Nadin pun turun dari mobil Panji. Dia mengetuk kaca mobil Panji saat dia ingat sesuatu.


Panji membuka kaca jendela penumpang.


"Ada apa?.Kamu mau ikut ke rumahku lagi?."Tanya Panji.


"Hehe, saya belum mengucapkan terima kasih karena ko Panji sudah mengantarkan saya pulang. Terima kasih ya." Ucapnya. Panji hanya tersenyum lalu pergi dari sana.


Nadin menatap mobil mewah Panji sampai mobil itu menghilang dari pandangannya. Dia tidak menyangka kalau dia bisa sering menaiki mobil semewah itu. Mobil mewah kesayangan Panji yang pernah dia lempar dengan batu.


Nadin tersenyum, malu pada dirinya sendiri saat teringat kejadian itu. Dia ingat marahnya Panji dan saat Panji meminta ganti rugi padanya.


Nadin sudah sampai dirumahnya. Keluarganya berkumpul siang itu, Irma juga ada disana.


Dia menatap penuh selidik pada Nadin. Apalagi saat dia melihat baju yang dikenakan oleh Nadin.


Irma tahu harga baju itu tidak murah. Sangat tidak mungkin orang seperti Nadin sanggup membelinya. Kalaupun sanggup, Irma yakin Nadin tidak akan mau membeli baju semahal itu. Mengingat Nadin yang penuh perhitungan dan hemat dalam mengeluarkan uang.


Nadin menyimpan kue dan eskrim pemberian Panji di meja. Dia mengajak nenek, bapak dan adiknya juga Irma menikmati eskrim dan kue itu.

__ADS_1


"Kakak abis gajian ya?." Tanya Hirlan.


"Enggak, kue ini dari majikan kakak. Dia nyuruh kakak bawa kue ini, karena dirumahnya gak ada yang makan. Daripada dibuang kan sayang, ya udah kakak bawa aja." Bohong Nadin.


Dia terpaksa berbohong, karena takut keluarganya akan berfikir macam-macam tentangnya, apalagi Irma ada disana.


"Emang kamu kerja dimana Nadin?. " Tanya Irma.


"Di komplek xxxxxxx." Jawab Nadin.


"Kerja apa?."


"Beres-beres rumah kadang sama masak juga. Saya kerja disana satu minggu sekali. Ya lumayan lah buat nambah-nambah uang jajan."


Irma tidak percaya begitu saja. Dia yakin Nadin berbohong, termasuk cerita Nadin tentang kue tadi. Dia yakin Nadin menyembunyikan sesuatu. Dia mulai berfikiran buruk pada Nadin.


Jangan-jangan si Nadin habis kencan ama om-om lagi. Batin Irma menduga-duga.


Irma mengajak Nadin ngobrol di kamar. Dia mengeluh karena sering keteteran saat kerja di konveksi. Dia juga memperlihatkan tangan kanannya yang kapalan dan kasar, gara-gara bekerja menggunakan gunting terus-terussan.


"Kak Irma sabar ya, mungkin belum terbiasa. Saya dulu juga gitu, sering keteteran, dan diomeli bu Ratna. Tangan saya juga kapalan, tapi lama-lama kapalannya sembuh sendiri."


"Tapi sekarang kerjaan kamu enak kayaknya, cuma nganter-nganter benang sama jarum doang. Apa bisa kalau kita tukeran posisi?." Tanya Irma. Nadin menatap Irma dengan perasaan sedikit kesal dihatinya, karena merasa Irma menyepelekan pekerjaannya.


"Jujur aja ya kak, kalau bisa milih, saya mending buang benang daripada jadi distribusi. Kalau kak Irma mau, nanti saya coba bilang sama bu Ratna. Mudah-mudahan aja kita bisa tukeran posisi."


"Iya, saya serius."


"Oke, makasih ya Nadin. Kalau gitu aku pulang dulu."


Irma lalu pulang dengan wajah sumringah. Mak Ebah membekali Irma dengan kue yang dibawa Nadin.


"Bawa ini untuk kamu dan Devi." Kata Mak Ebah.


"Makasih nek." Ujar Irma, lalu pulang.


Kak Irma, belum tahu dia jadi distribusi itu gak semudah yang dia pikirkan. Tapi biar deh, dia nyobain, biar tahu gimana rasanya. Batin Nadin.


Nadin merebahkan diri dikasurnya, mencoba tidur siang itu, tapi matanya tidak juga terpejam. Ingatannya melayang pada kejadian yang baru saja dia lewati hari ini. Kejadian dirumah Panji, juga sikap Panji yang terasa sedikit baik namun cenderung genit.


Ko Panji kenapa ya akhir-akhir ini beda banget?.


Apa dia suka sama aku?. Dan tadi apa dia bilang, aku dan dia pacaran?. Hahh masa orang pacaran kayak gitu, gak indah banget.


Waktu itu kan dia ngancem mau menggal kepala aku, terus aku bilang mending dia nembak aku, masa kayak gitu aja udah disebut pacaran.


Gak usah geer deh Nadin, ya jelaslah dia cuma bercanda. Mana mungkin dia nganggep kamu pacarnya. Iya dia nganggep kamu pacar, pacar yang bisa dia suruh-suruh seenaknya.

__ADS_1


Dan kenapa juga dia bisa tahu kalau aku ngobrol sama kak Bily?. Mulai sekarang aku harus lebih hati-hati. Dia kayaknya selalu mantau aku.


Buktinya dia tahu semua tentang aku, termasuk kue itu. Ah iya, kenapa dia bisa tahu kalau aku suka redvelvet sama blackforest?. Ini gak mungkin kebetulan? Dia pasti mata-matain aku dan keluargaku.


Batin Nadin.


....


Senin siang.


Para pekerja konveksi sedang menikmati makan siang. Irma menanyakan pada Nadin tentang pertukeran posisi yang mereka bicarakan kemarin.


"Saya tadi udah bilang sama pak sambaru kak."


"Terus apa katanya?."


"Tadi dia malah balik nanya kenapa. Saya jawab kalau saya gak sanggup, dan dia bilang, kalau dia percaya sama saya. Dan katanya kalau terus gonta-ganti orang, jadinya dia harus ngajarin dari awal lagi."


Irma nampak kesal mendengar jawaban Nadin. Dia nekat menemui bi Sum di dapur dan meminta ibunya untuk berbicara pada Sambaru.


Bi Sum menjawab kalau dia tidak bisa dan tidak punya hak melakukan apa yang diminta oleh Irma. Masalah pekerjaan di konveksi dia tidak mungkin ikut campur. Anaknya sudah diterima kerja saja bi Sum sudah sangat bersyukur.


"Kalau ibu gak mau, ngelakuin apa yang ku minta, aku lebih baik keluar dari sini. Aku gak mau terus-terussan buang benang bu. Lihat tanganku sampai kapalan dan kasar gini, ibu gak kasihan sama aku?."


"Kamu sabar nak, namanya juga kerja. Kamu jangan keluar dari sini, nyari kerja sekarang susah. Dan ibu akan sangat malu sama pak Sambaru kalau kamu sampai keluar dari sini, kamu baru aja masuk."


"Tapi tanganku gak sampai kayak gini waktu aku kerja di salon. Dan ibu lihat tangan Nadin, tangannya gak kayak tanganku. Dia udah biasa kerja kasar, tapi aku enggak bu. Kalau ibu memang gak mau aku keluar, ibu lakuin apa yang aku mau." Pungkas Irma, lalu kembali ke konveksi.


Bi Sum hanya mengelus dada. Dia tidak mau Irma sampai keluar, tapi dia juga tidak mau melakukan apa yang Irma minta. Namun pada akhirnya, walau malu bi Sum tetap melakukan apa yang diminta anaknya. Dia rela memohon pada Sambaru agar Nadin dan Irma bertukar posisi. Karena tidak tega, pak Sambaru pun mengiyakan permintaan bi Sum.


Esoknya pak Sambaru memanggil Nadin dan Irma ke ruangannya, untuk membicarakan pertukaran posisi diantara mereka. Pak Sambaru menjadikan Irma distribusi, dan Nadin kembali buang benang.


Irma sangat senang mendengar hal itu, begitupun Nadin. Namun sebelumnya, Nadin harus mengajari Irma apa saja yang harus dilakukan Irma sebagai distribusi.


Mereka akhirnya bertukar posisi. Irma awalnya senang, namun lama-lama, dia mulai dibuat pusing, saat turun barang tidak sesuai putaran dan tidak klop dengan po size. Untung saja hari itu Panji tidak datang ke konveksi, mungkin karena dia sibuk dikantornya.


Irma meminta bantuan Nadin, dan Nadin membantunya, dia menjelaskan sampai Irma mengerti. Jam pulang telah tiba, semua karyawan sudah pulang, kecuali Irma. Dia harus membuat laporan turun barang hari itu.


Irma mulai panik, karena dia menemukan kesalahan jumlah dalam data turun barang yang ia pegang. Dia tidak tahu harus meminta bantuan pada siapa, karena Nadin juga sudah keluar dari gedung.


Untungnya pak Sambaru mengerti. Irma distribusi baru, dia tidak memarahi Irma. Sambaru hanya menegurnya, dan memberi kesempatan tiga hari pada Irma. Kalau dalam waktu tiga hari Irma tidak ada kemajuan, maka dia harus kembali bertukar posisi dengan Nadin.


.


.


.🍀🍀🍀

__ADS_1


Jangan lupa like, vote dan komentarnya.


__ADS_2