
Empat puluh hari sudah Nadin pergi meninggalkan Panji, dia semakin merindukanya. Panji selalu mengunjungi makam Nadin, saat dia merasakan rindu yang menyiksanya.
Sejak kepergian Nadin, Panji kembali bersikap dingin dan angkuh. Senyum dan tawanya pun seolah ikut terkubur bersama jasad Nadin.
Nadin adalah orang yang mengembalikan senyum dan tawanya, tapi kini dia telah pergi, rasanya tidak ada alasan lagi bagi Panji untuk tersenyum.
Bu Soraya sendiri terbukti bersalah dalam kasus kebakaran yang menyebabkan Nadin sekeluarga meninggal. Dia divonis penjara seumur hidup, karena terbukti sebagai otak dalam pembunuhan berencana.
Hukuman yang diterimanya itu lebih ringan dari tuntutan jaksa yang menginginkan bu Soraya di hukum mati. Bu Soraya sangat shock, mendengar putusan hakim.
Dia tak terima dengan hukuman itu karena dia merasa tidak bersalah dan tidak melakukan apa yang dituduhkan padanya. Dia berteriak -teriak meminta tolong kepada suaminya, tapi pak Bahtiar tidak bisa melakukan apa-apa lagi sekarang.
Semua usaha sudah dia lakukan agar istrinya tidak dipenjara, atau paling tidak, istrinya itu tidak terlalu lama mendekam dipenjara. Tapi semua usahanya sia-sia, hakim sudah memutuskan hukuman untuk istrinya, dan banding yang di ajukan pengacaranya tidak diterima.
Bu Soraya terpaksa harus menghabiskan masa tuanya di dalam penjara. Seminggu pertama dia di dalam penjara, hampir setiap saat dia selalu berteriak minta dikeluarkan dan terus menyebut dirinya tidak bersalah. Sedangkan Jovanka, sudah bebas beberapa waktu lalu.
Sudah satu bulan bu Soraya didalam penjara, sepertinya dia mulai terbiasa. Malam itu dia baru saja akan tidur, namun suara langkah seseorang terdengar mendekat ke arah sel tahanannya.
Suara sepatu pentopel wanita itu terdengar begitu menggema ditelinga. Bu Soraya yakin itu adalah bunyi sepatu petugas wanita yang biasa datang mengecek ke setiap sel tahanan pada malam hari. Dia memejamkan mata, namun tak lama kemudian dia membuka matanya lagi, saat suara sepatu itu berhenti tepat di depan sel nya.
Petugas itu juga mengetuk-ngetuk jeruji besi yang mengurung bu Soraya, dengan kunci atau benda lainya, hingga menimbulkan bunyi yang cukup nyaring di telinga bu Soraya.
Dia bangun dan menoleh kearah suara. Seorang wanita berdiri disana, tapi dia bukan petugas, melainkan seorang wanita dengan pakaian serba hitam, dan pashmina hitam yang dia kenakan tanpa disematkan didagu.
Bu Soraya menautkan kedua alisnya, karena merasa tidak mengenal wanita itu. Dia fikir mungkin saja wanita itu bukan ingin menemuinya. Namun saat dia memanggilnya, bu Soraya tersentak kaget dan tidak percaya mendengar suara wanita itu. "Tidak mungkin, itu pasti bukan dia." Gumam bu Soraya.
Wanita itu tertawa, dan kembali menyapa bu Soraya dan menanyakan kabarnya, dengan nada mengejek. Bu Soraya berteriak mengusir wanita itu, namun wanita itu tidak juga pergi. Bu Soraya terus berteriak membuat petugas dan penghuni sel terganggu. Petugas menghampiri sel bu Soraya, dan menyuruhnya diam.
"Tolong usir wanita itu dari sini." Teriak bu Soraya.
__ADS_1
"Wanita mana maksud anda?. Jangan mengada-ngada. Dan jangan bikin keributan lagi. Kalau tidak, kami akan memindahkan anda ke penjara bawah tanah." Ancam petugas itu.
Bu Soraya diam terpaku ditempatnya mendengar ucapan petugas. Apa petugas itu tidak melihatnya?. Dia juga heran, karena wanita itu tiba-tiba menghilang.
Namun saat petugas pergi, wanita itu kembali muncul dan tersenyum miring ke arah bu Soraya. Bu Soraya tersentak, dan mengusirnya lagi.
"Pergi kamu dari sini. Kamu sudah mati. Pergi!!. Teriak bu Soraya. Dia sangat ketakutan. Suaranya bergetar dan badannya berkeringat. Dia benar-benar ketakutan.
Kejadian itu sering dia alami selama di penjara, namun tidak ada yang percaya padanya termasuk suaminya, pak Bahtiar. Mereka menyebut bu Soraya hanya berhalusinasi, karena menurut petugas ataupun penghuni sel lain, mereka tidak pernah sekalipun melihat ada sosok perempuan yang datang kesana.
"Mungkin itu hantu wanita yang lo bunuh. Makan tuh, dia sekarang gentayangan minta pertanggung jawaban lo." Ejek salah satu napi disana.
....
Panji memerintahkan Adam membangun kembali rumah mak Ebah yang terbakar, dan sekarang bi Sum yang berjualan di warung mak Ebah. Panji selalu menyempatkan diri datang ke warung itu, hanya sekedar untuk mengenang kebersamannya bersama Nadin.
Panji tersenyum saat dia ingat kebersamaan mereka di bangku warung, atau saat dirumahnya. Walau Nadin sudah pergi, bayangan dan semua kenangan indahnya tak pernah meninggalkan Panji.
Sudah hampir dua bulan dia berada di Surabaya. Selain karena urusan bisnis, alasan Panji masih berada di Surabaya adalah karena seorang gadis yang dia lihat di lobi hotel tempatnya menginap beberapa hari yang lalu.
Gadis cantik yang sangat mirip dengan almarhum kekasihnya, Nadin. Walau hanya sekilas tapi Panji bisa melihat dengan jelas wajahnya. Mereka benar-benar sangat mirip, hanya warna kulit dan warna rambutnya saja yang berbeda.
Panji sangat penasaran dengan gadis itu. Diam-diam dia mengikutinya, sampai gadis itu naik kedalam sebuah mobil bersama temannya, lalu meninggalkan hotel.
Hatinya bergetar melihat gadis itu, dia seolah melihat Nadin, tapi itu tidak mungkin. "Nadin sudah pergi, jadi gadis itu bukan Nadin. Dia hanya mirip saja dengannya." Gumam Panji meyakinkan dirinya sendiri.
Malam ini Panji dan Adam sedang menghadiri acara resepsi pernikahan salah satu kliennya di sebuah hotel mewah di Surabaya. Panji dan Adam sedang menikmati hidangan di meja vip, saat terdengar suara seseorang menyanyikan sebuah lagu dengan sangat merdu.
Ada sesuatu yang aneh dalam hati Panji saat mendengar lagu itu. Entah kenapa Panji merasa lagu itu seperti ditujukan untuknya. Tidak biasanya dia begitu menghayati lagu yang sedang dinyanyikan itu, Panji tidak pernah semelow ini. Karena penasaran, Panji menoleh ke arah podium, dimana sang penyanyi itu berdiri sekarang.
__ADS_1
Deggggg....Jantung Panji tiba-tiba berdegup sangat kencang, melihat sang penyanyi. Dia....gadis itu, gadis yang dia lihat di lobi hotel beberapa waktu lalu.
Gadis yang mirip dengan kekasihnya Nadin. Panji tertegun melihat penampilan wanita itu. Dia merasa benar-benar sedang melihat Nadin. Gadis yang memakai gaun panjang tanpa lengan berwarna hitam itu, sangat mirip dengan Nadin.
Rasanya Panji ingin berlari menghampiri gadis itu, menatapnya dari dekat, untuk meyakinkan dirinya kalau dia bukanlah Nadin yang sudah pergi.
Panji kembali duduk ditempatnya, saat gadis itu turun dari podium. Tapi tatapannya tidak sekalipun lepas darinya.
"Lo lihat kan Dam?." Tanya Panji
"Iya, gue lihat." Sahut Adam
"Gue pernah denger, katanya kita itu punya tujuh kembaran didunia ini."
"Lalu, menurut lo, apa ada orang semirip itu di dunia ini?." Tanya Panji.
"Apa mungkin Nadin punya saudara kembar?."
"Tidak Ji, Nadin anak pertama dan dia tidak punya saudara kembar. Satu-satunya saudara dia adalah Hirlan."
"Gue minta secepatnya lo selidikin gadis itu. Lo cari tahu asal-usulnya, sebelum kita kembali ke Jakarta." Titah Panji, tatapannya tidak lepas dari gadis itu.
"Oke." Sahut Adam.
Salah satu kilen Panji menghampiri Panji. Dia menyadari kalau Panji dari tadi memperhatikan gadis cantik yang sangat mirip dengan Nadin.
"Namanya Salsa, dia calon menantu pak Jonathan." Ucap sang klien tiba-tiba, membuat Adam dan Panji terkejut.
.
__ADS_1
.
Bersambung....