Panji & Nadin

Panji & Nadin
Siapa lelaki itu


__ADS_3

Mua itu keluar dari kamar, dan pamit pada Panji, yang ada di ruang tengah bersama Adam, dan Mikha, juga art Panji yang sedang menjaga Mikha.


Panji meminta Adam, segera membawa Nadin keluar dari kamar, karena mereka akan segera berangkat. Adam bergegas, dia masuk dan mendapati Nadin tengah berdiri menatap cermin, membelakanginya.


Adam melangkahkan kakinya, mendekati Nadin dan waww, dia nampak terkejut sekaligus terpesona melihat penampilan Nadin saat itu.


"Nadin!! Ini beneran kamu?." Tanya Adam.


"Mas Adam pikir siapa?." Sahut Nadin.


"Kamu cantik sekali Nadin." Puji Adam


"Emberrr." Seru Nadin.


"Kalau kayak gini bukan ember, tupperware ini mah."


"Sama aja perabotan juga." Ucap Nadin.


Diruang tv, Panji tampak kesal karena orang yang disusul ataupun yang menyusul tidak juga kelihatan batang hidungnya. Dia lalu menyusul mereka ke dalam kamar.


Panji berdiri di ambang pintu, memperhatikan Adam dan Nadin.


"Ehemmm." Suara Panji, membuat kedua orang yang ada didalam kamar menoleh ke arahnya.


Duuhh, mampus gue. Kenapa gue bisa lupa, kalo Panji nyuruh gue bawa Nadin keluar? Batin Adam.


"Gimana Ji, Nadin cantik kan?." Tanya Adam, berusaha mengalihkan perhatian Panji, yang mungkin saja akan marah kepadanya.


Panji mendekati Nadin, matanya sedikit membulat, saat melihat penampilan Nadin. Dia benar-benar cantik, Panji akui hal itu.


Dia(Nadin) gadis sederhana, menjelma menjadi seorang wanita yang sangat cantik, terlihat elegan dan berkelas. Walau dasarnya dia memang sudah cantik, tapi malam ini, dia begitu berbeda.


Seorang Panji saja bisa sampai terkesima, tapi dia memang pintar menyembunyikan rasa kagumnya. Tatapan matanya tetap tajam, setajam pedang pembunuh naga.


Wah...ko Panji ganteng sekali malam ini. Nadin memuji dalam hatinya.


Nadin, dan Panji saling berhadapan. Dia(Panji) masih menatap Nadin, dengan tatapan tajam seperti biasanya, walau dihatinya dia memuji kecantikannya.


"Eh ko Panji. Gimana penampilan saya ko?. Apa saya sudah terlihat cantik?." Tanya Nadin yang mulai sedikit risih dengan tatapan Panji padanya. Panji menjawab pertanyaan Nadin hanya dengan tatapannya.


Ditanya bukanya jawab, malah diem aja, dasar siluman panci. Ahhh....apakah dia terkesima melihat kecantikanku? Hahhha....mana mungkin, dia kan nggak suka sama cewek cantik. Hahhaa.


Panji masih menatap Nadin dari atas sampai bawah.


Segitunya ngeliatin aku, apa dia benar-benar akan menjualku? Ahh tidak...aku gak mau.


"Saya cantik kan ko?." Celetuk Nadin.


"Masih kalah cantik dibandingkan Adam." Sahut Panji. Nadin mengernyitkan alisnya, menoleh ke arah Adam, lalu dia bergididik, dan Adam tersenyum tipis.


"Mana heels kamu? Kenapa kamu tidak memakainya?."Tanya Panji.


"Heels nya ketinggian ko, saya nggak bisa pakenya, takut jatuh."


"Aku bilang pake."

__ADS_1


"Iya...iya."


Nadin menarik tangan Panji dan Adam mendekat kepadanya, kedua lelaki itu tampak terkejut. Mereka bertiga berdiri di hadapan cermin sekarang.


"Hai cermin ajaib!! Katakan, siapa yang paling cantik?." Tanya Nadin pada cermin dihadapannya.


"Jangan buang waktu, dengan pertanyaan konyol seperti itu. Ayo kita pergi." Ajak Panji, sembari menarik tangan Nadin.


Mereka bertiga keluar dari kamar. Nadin melihat Mikha sedang memainkan semua boneka yang dibelikan Panji, dan boneka pemberianya waktu itu. Dia merasa tidak tega meninggalkannya, walau dia melihat ada dua orang wanita yang baru pertama dia lihat.


"Mikha, kak Nadinnya mau pergi sebentar, sama om. Mikha gak apa-apa kan main sama bi Lasmi dan bi Ita dulu?. Om janji, nanti pulangnya om bawain Mikha boneka lagi." Ucap Panji, membujuk Mikha.


"Benelan om?." Tanya Mikha.


"Bener. Jadi boleh kan, om ajak kak Nadin pergi sekarang?."


"Iya om, boleh."


"Anak pintar. Nanti Mikha pengen dibawain boneka apa?."


"Mikha pengen boneka yunikon om. (unicorn)."


"Iya, nanti om beliin." Ucap Panji, lalu dia pergi bersama Nadin dan Adam, setelah Nadin pamit pada Mikha.


Nadin senang dengan sikap Panji kepada Mikha sekarang, walau dia tidak mau Mikha memanggilnya papa atau ayah, setidaknya sekarang dia dan Mikha sudah mulai dekat.


....


Panji membuka pintu mobil belakang, dia meminta Nadin masuk, lalu Panji masuk setelahnya. Mereka duduk bersebalahan. Nadin menggeserkan badannya ke pinggir kaca mobil, memberi jarak antara dirinya dan Panji yang duduk ditengah-tengah.


Duuhh sebenarnya ko Panji mau bawa aku kemana sih? Dan kenapa ko Panji kelihatan ganteng banget malam ini?. Aaahhh...apa sih yang aku fikirkan.


Selama beberapa menit, tidak ada pembicaraan apapun diantara mereka bertiga, sampai akhirnya Nadin membuka percakapan.


"Sebenarnya kita mau kemana sih ko?." Tanya Nadin, ragu-ragu.


"Nanti kamu juga tahu." Jawab Panji.


Nadin menghela nafas, mendengar jawaban Panji yang menurutnya tidak pasti. Adam melirik kaca spion didepanya, dia tersenyum melihat raut wajah Nadin, yang tampak cemas, dan mungkin juga takut.


Jalanan ibukota lumayan macet malam itu. Pandangan Nadin masih setia mengarah ke samping kaca mobil sebelah kananya.


Nadin yang mulai merasa tidak nyaman, meminta ijin Panji untuk membuka kaca mobil, tapi Panji melarangnya.


Nadin merasa sangat kepanasan, didalam mobil yang jelas-jelas ac nya menyala dengan sangat baik. Entah apa yang membuatnya merasa seperti itu, dia sendiri tidak tahu.


Lima belas menit kemudian, mobil mewah Panji memasuki area parkir sebuah hotel berbintang. Adam dan Panji turun, sedangkan Nadin, dia masih duduk ditempatnya. Dia semakin merasa takut, Panji benar-benar akan menjualnya kepada seseorang dihotel ini.


Aku harus kabur, tapi bagaimana caranya?.


"Ayo turun." Titah Panji, setelah dia membuka pintu mobil. Dia mengulurkan tanganya pada Nadin. Nadin menatap tangan Panji yang terulur tepat didepan wajahnya.


Apa-apaan ini? Kenapa dia sok baik kayak gini? Hahh pasti ada maunya.


Nadin turun, tanpa menyambut uluran tangan Panji. Dia berjalan mendekati Adam.

__ADS_1


"Mas Adam ngapain kita ke hotel?." Bisiknya pada Adam.


"Nangkep belut." Jawab Adam, asal bicara.


"Nangkep belut kok dihotel, harusnya kan di rumah sakit." Sahut Nadin.


"Hahaha kamu bisa aja."


Panji mendekati, dan menarik tangan Nadin. Tanpa basa-basi, dia menggandeng tangan Nadin, membawanya masuk menuju ballroom hotel itu.


"Lepasin ko, kenapa ko Panji main pegang tangan orang sembarangan?."


"Ini tangan kamu kan, bukan tangan orang. Sekarang diam, dan turuti saja perintahku. Malam ini kamu harus bersikap seolah-olah kamu itu adalah kekasihku. Kamu mau kan aku mengurangi sepuluh hari masa kerja kamu dirumahku? Jadi lakukan apa yang aku katakan, dan jangan sampai kamu mempermalukanku, ngerti?."


"Apa???."


"Aku tidak suka mengulang kata-kataku."


"ii-i-i-iiiya ko. Saya ngerti." Sahut Nadin.


Panji membawa Nadin masuk ke ballroom hotel itu, tanpa melepaskan tangannya dari tangan Nadin, dan Adam mengikuti mereka dibelakang. Mereka menghadiri sebuah pesta salah satu klien Panji disana.


"Senyum."


"Apa?."


"Aku bilang senyum. Bersikaplah seolah-olah kita adalah sepasang kekasih, seperti yang kamu lakukan saat di mall. Jangan sampai mereka semua curiga, kalau kita cuma berpura-pura, atau sepuluh hari kamu hangus, dan kamu harus menambah ganti ruginya sepuluh hari lagi." Ancam Panji.


Nadin menuruti semua yang dikatakan Panji. Dia berakting memasang senyum manisnya, senyum seperti saat dia bahagia menerima gajinya, membuat beberapa orang disana terpesona melihat senyum manis itu, tak terkecuali Panji sendiri. Dia sempat menatap Nadin yang sedang tersenyum, menimbulkan gelenyar aneh dalam hatinya.


Siluman panci, nyuruh aku senyum-senyum dari tadi, dia sendiri malah gak senyum, dasar aneh.


Semua orang yang hadir menatap tak percaya, melihat Panji menggandeng mesra seorang wanita malam itu, tak terkecuali Jovanka, yang juga hadir disana. Dia menatap Panji dan Nadin tidak suka, dan penuh benci.


Nadin mengedarkan pandangannya, menatap satu persatu orang yang dilihatnya dipesta itu. Dia masih memasang senyum gajianya, yang manis, semanis madu.


Namun, tiba-tiba senyum itu memudar, saat dia melihat sesosok lelaki tampan yang berdiri beberapa meter didepannya. Lelaki itu menatapnya penuh arti. Sorot matanya menyiratkan kebahagian dan kerinduan yang begitu dalam, juga rasa sakit yang dia rasakan secara bersamaan.


Nadin menatap nanar lelaki itu, seakan tak percaya dia bisa melihatnya di pesta itu. Lelaki itu, lelaki yang dia cintai dan tak bisa dia miliki.


Kak Bily. Panggilnya dalam hati


Mereka berdua saling menatap dari kejauhan. Bara api cinta diantara mereka sepertinya, masih menyala. Itu terbukti dari tatapan keduanya saat itu. Nadin merasa senang dan bahagia, bisa melihat Bily malam itu.


Namun kebahagian itu seakan langsung menjauh, saat Nadin melihat orangtua Bily yang juga sedang menatap ke arahnya. Ucapan menyakitkan dan hinaan yang dilontarkan ibunda Bily kepadanya seketika melintas dalam ingatanya.


Matanya mulai berembun, saat dia mengingat semuanya, kisah cintanya dengan Bily, juga semua hinaan orang tua Bily. Panji menoleh saat merasakan pergerakan Nadin, yang melonggarkan gandengan tangannya. Dia mengikuti arah pandang Nadin yang berhenti pada sosok lelaki muda dan tampan yang berada tidak jauh dari mereka.


Siapa lelaki itu? Kenapa mereka saling pandang seperti itu? Apa mungkin..."


Tanya Panji dalam hatinya.


...****************...


Tbc☘️

__ADS_1


__ADS_2