Panji & Nadin

Panji & Nadin
Ini beneran kamu?


__ADS_3

Resepsi pernikahan David dan Salsa pun tiba. Acara resepsi ini diadakan di hotel mewah milik pak Jonathan di Jakarta. Panji saat ini sudah dalam perjalanan menuju tempat resepsi berlangsung bersama Adam.


Saat tiba disana Panji langsung menuju pelaminan, karena dia berniat akan segera menjalankan rencana yang sudah dia susun sebelumnya.


Panji sudah berada dipelaminan menyalami pak Jonathan dan istrinya, dan sekarang dia akan menyalami David dan Salsa. Panji terpaku beberapa saat, ketika dia melihat mempelai wanita disamping David.


Panji berusaha meyakinkan penglihatannya, karena tidak mengenal pengantin wanita itu. Dia bukan Nadin, tapi orang lain. Panji sangat heran saat itu. Dia turun dari pelaminan, sambil sesekali menatap wajah mempelai wanita dengan penuh rasa heran.


Dia tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Senyum David mengembang, melihat Panji yang keheranan, dan itu membuat Panji semakin penasaran dengan apa yang terjadi. Panji melangkahkan kakinya ke area depan, tepatnya area fotobooth dan galeri foto yang memajang banyak foto-foto David dan Salsa.


Dia tercekat, karena ternyata wanita yang ada difoto itu juga bukan Nadin. Panji mengedarkan pandanganya kesemua penjuru tapi dia tidak menemukan sosok Nadin. Namun tiba-tiba dia merasakan sesuatu yang aneh dalam hatinya, saat melihat sosok perempuan asing yang berdiri disudut ruangan. Panji tahu, dari wanita itu dari tadi terus memperhatikanya.


Lalu dimana Nadin?. Apa dia dalam bahaya?.Tanya Panji dalam hati. Fikiranya semakin tak karuan. Dia tidak tahu apa yang terjadi saat ini.


Ada perasaan lega yang dia rasakan, saat mengetahui istri David ternyata bukan Nadin, tapi disisi lain dia juga merasa cemas dan takut terjadi sesuatu pada kekasihnya.


Dering ponsel disaku celana Panji, membuatnya tersentak dan refleks mengumpat dengan kata-kata kasar. Dia segera merogoh ponsel dari sakunya, karena merasa terganggu oleh suara dering ponselnya sendiri.


Panji menjawab panggilan yang dia sendiri tidak tahu dari siapa. Orang itu menyuruhnya datang ke lantai paling atas dari gedung hotel itu, kalau dia ingin Nadin selamat. Dia juga mengatakan Panji harus datang sendiri.


Tanpa menunggu, Panji langsung melangkahkan kakinya menuju lift, agar cepat sampai dilantai paling atas. Dia segera keluar begitu sampai disana dan mencari nomor kamar yang disebutkan si penelfon tadi.


Panji membuka pintu kamar hotel yang ternyata memang tidak terkunci. Kamar itu sangat gelap, karena tidak ada satupun lampu yang menyala.


Ruangan disana juga sangat luas, tempat tidur dan sofa berada diruangan terpisah.

__ADS_1


Panji masuk, melangkahkan kakinya perlahan dan waspada, karena mungkin saja ini adalah sebuah jebakan yang dilakukan oleh David. Panji sudah berada ditengah ruangan kamar hotel, saat tiba-tiba lampu diruangan itu menyala, bersamaan dengan keluarnya dua orang laki-laki dari dalam kamar, lalu menutup pintu dan menguncinya dari luar.


Mereka mengurung Panji di dalam kamar hotel itu. Panji berteriak, seraya berusaha membuka pintu kamar hotel, namun usahanya sia-sia saja. Panji menelpon Adam, tapi Adam tidak bisa dihubungi.


Dia mengumpat, menggerutu dan memaki dirinya sendiri yang sudah gampang dibodohi. Panji berusaha tetap tenang dalam situasi ini. Dia duduk diatas sofa yang ada diruangan itu, sembari memikirkan cara, agar dia bisa keluar dari sana.


Sesaat kemudian konsentrasinya buyar saat mendengar suara langkah kaki seseorang yang berasal pintu balkon kamar. Panji beranjak dari duduknya, saat suara langkah itu semakin dekat.


Suara langkah kaki itu berhenti di dalam kamar. Panji yang penasaran melangkah maju mendekati pintu kamar. Aroma parfum wanita langsung tercium, saat Panji sudah berada didalam kamar hotel yang masih gelap. Walau keadaan di kamar itu gelap, tapi Panji masih bisa menangkap bayangan seseorang yang berdiri disamping tempat tidur. Sosok itu sepertinya membelakangi Panji.


"Siapa kamu?." Tanya Panji, tapi sosok itu tidak menjawab pertanyaan Panji.


Panji menekan saklar lampu yang ada di samping kiri pintu, hingga dalam sekejap kamar itu pun menjadi sangat terang.


Panji bisa melihat dengan jelas sosok yang berdiri membelakanginya itu. Dia mengenakan coat hoodie panjang berwarna hitam. "Siapa kamu?." Panji mengulang pertanyaanya. Sosok itu berbalik, seraya membuka hoodie yang dipakai dikepalanya.


Ada lelehan air mata disudut matanya, karena dia sangat merasa bahagia bisa melihat lelaki yang dia cintai dan rindukan tepat didepan matanya.


"Nadin." Panggil Panji.


"Koko." Sahut Nadin dengan senyum dan mata yang berkaca-kaca. Dia berlari ke arah Panji dan langsung memeluknya dengan erat, karena sudah sangat merindukan kekasihnya itu. Panji menyambut dan membalas pelukan Nadin tidak kalah eratnya, diapun sangat merindukan kekasihnya.


"Nad? Ini beneran kamu sayang?."Tanya Panji sembari menangkupkan tanganya dikedua pipi Nadin dengan kedua tanganya. Nadin mengangguk sambil tersenyum tapi matanya masih berkaca-kaca karena terharu dan bahagia.


Nadin tidak bisa berkata-kata, karena terlalu bahagia. Panji juga merasakan hal yang sama. Dia sangat bahagia saat ini. Panji menghujani wajah Nadin dengan ciuman lembut dan singkat, lalu kembali memeluk Nadin dengan sangat erat. Air mata kebahagian menetes dipipi keduanya.

__ADS_1


Mereka berpelukan dengan erat, seolah tak ingin melepaskannya. Panji kembali menangkupkan kedua tanganya dipipi Nadin, menatap wajahnya sambil tersenyum tulus dan hangat. Nadin membalas senyum Panji tidak kalah hangatnya.


"Aku sangat bahagia bisa bertemu kamu lagi Nad. Aku sangat merindukanmu sayang." Ucap Panji seraya menatap mata Nadin penuh cinta.


Nadin membalas tatapan Panji sambil tersenyum manis, membuat Panji gemas sendiri melihat senyum manis Nadin yang sudah lama tidak dilihatnya. Tanpa permisi Panji mencium bibir Nadin dengan mesra. Nadin tidak menolak dan membiarkannya, bahkan saat Panji mulai menyesap bibirnya, dia tetap membiarkannya.


Karena tidak ada penolakan dari Nadin, Panji semakin memperdalam ciumannya. Sesekali Panji memberikan gigitan kecil dibibir Nadin, karena gemas pada kekasihnya yang juga tidak membalas ciumanya.


Panji kembali menatap Nadin, sembari tersenyum dan mengangguk-anggukan kepalanya pelan, seolah memberi isyarat pada kekasihnya. "Apa?." Tanya Nadin sembari tersenyum. Nadin sebenarnya mengerti Panji ingin dia membalas ciumanya. "Cium aku." Bisik Panji ditelinga Nadin.


"Enggak mau." Sahut Nadin. Panji pura-pura merajuk, membuat Nadin terkekeh geli.


"Jangan marah. Masa gitu aja marah sih. Kita baru aja ketemu, setelah sekian purnama." Kata Nadin seraya membelai lembut pipi Panji.


Panji tersenyum, lalu memegang tangan Nadin yang sedang membelai pipinya. Setelah itu Panji mencium tangan Nadin tidak kalah mesra. Mereka kembali saling melemparkan senyum manis, lalu Nadin melingkarkan kedua tanganya di leher Panji.


Dengan posisi sedikit berjinjit, Nadin mencium bibir Panji dan mulai memainkanya, membuat Panji sangat senang dan tanpa menunggu lama, Panji pun membalas ciuman Nadin. Mereka berciuman sambil berpelukan dikamar hotel itu, melepaskan semua rasa yang selama ini menyiksa keduanya.


Perasaan bahagia sekaligus lega dirasakan keduanya, setelah saling melepaskan rasa rindu yang selama ini mereka rasakan. Mereka duduk berdampingan disofa. Nadin melingkarkan tanganya dilengan Panji, dan menyandarkan kepalanya dibahunya. Mereka mengenang awal pertemuan dan juga kisah cinta mereka.


Panji menanyakan apa yang sebenarnya terjadi pada Nadin, tapi Nadin tidak mau menceritakannya sekarang. Saat ini dia hanya ingin menghabiskan waktunya berdua bersama Panji.


.


.

__ADS_1


Bersambung🤗


__ADS_2