
Panji menatap wajah merah Nadin dengan senyum nakalnya. Mata Nadin membelalak melihat senyum Panji, yang terasa mengejeknya. Panji semakin gemas. Kali ini dia mencium pipi nadin dan turun menjelajahi ceruk leher hingga tengkuknya.
Sepertinya Panji memang sangat tahu titik-titik sensitif kelemahan wanita. Buktinya saat ini pertahanan Nadin juga semakin lemah, membuat dia tersenyum menang dalam hati.
Panji menarik tengkuk Nadin perlahan, dia kembali mendaratkan bibirnya dibibir Nadin, kali ini Nadin berusaha menghindar, tapi tangan Panji sudah lebih dulu menahan kepala Nadin yang berusaha menghindari bibirnya.
Akhirnya bibir mereka kembali bertemu dan Panji tidak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk kembali menyesap manisnya bibir Nadin.
Lama-lama Nadin juga membalas ciuman Panji, hingga mereka berdua hanyut terlena dalam adegan ciuman itu. Sepertinya Nadin benar-benar lupa apa tujuan dia datang kesana, dia terlena dalam sentuhan lembut Panji.
Ciuman yang lembut dan mesra itu pun semakin lama semakin memanas. Bahkan tangan Panji sudah menyelinap masuk kedalam kaos yang dipakai Nadin, mengusap lembut pinggang, lalu naik perlahan ke punggung Nadin, dan terus bergerak maju kedepan hingga hampir menyentuh dua gundukan kembar milik Nadin.
Seperti mendengar suara petir, otak Nadin langsung bekerja saat merasakan tangan Panji sudah hampir mencapai gundukan kembarnya. Dengan cepat, Nadin menarik tangan Panji, dan menepisnya sedikit kasar. Dia juga mengakhiri ciuman panas mereka. Ini tidak benar, aku harus secepatnya pergi dari sini.
Nadin menatap Panji sesaat, lalu melangkahkan kakinya, tapi Panji kembali mencekal tanganya.
"Lepaskan aku. Aku harus pergi."
"Sudah ku bilang aku tidak akan pernah melepaskanmu." Kata Panji seraya memeluk Nadin. "Maafkan aku Nad. Aku kelepasan tadi. Aku janji aku gak akan mengulanginya.
Katakan Nad. Ada apa sebenarnya? Kenapa kamu bohong sama aku?.Apa yang terjadi?. Aku tahu kamu juga mencintai aku kan?." Tanya Panji, seraya menatap mata Nadin.
Nadin benar-benar sudah melupakan tujuanya datang ke rumah Panji, hanya karena ciuman maut Panji.
Mata Nadin berkaca-kaca dia langsung memeluk Panji, dan air matanya pun tumpah dalam pelukan hangat itu. Panji mencoba menenangkan Nadin perlahan, lalu menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.
Nadin mengatakan pada Panji kalau pak Samsudin ingin hubungan diantara mereka berakhir, demi kebaikan semuanya. Nadin juga tidak mau karena hubunganya dengan Panji, membuat keluarganya harus menderita.
"Lalu bagaimana denganku?. Apa kamu tega membuat aku menderita?." Tanya Panji.
"Koko masih bisa mencari gadis lain yang sederajat dengan keluarga koko."
"Tidak, aku tidak mau. Aku hanya mau kamu, bukan yang lain. Dengar Nad, kamu harus percaya sama aku. Aku akan meyakinkan bapak kamu agar merestui hubungan kita. Aku sudah siapkan semuanya untuk kamu. untuk pernikahan kita. Jadi jangan pernah berfikir untuk mengakhiri hubungan kita, kalau kamu tidak ingin aku membujang selama-lamanya."
"Jangan bicara seperti itu, nggak baik."
"Lebih tidak baik kalau aku tidak bisa mendapatkan kamu. Aku mohon kamu jangan pernah sekalipun berfikir untuk mengakhiri hubungan kita. Kita saling mencintai, jadi kita harus hadapi apapun bersama.
Aku sudah tahu apa yang terjadi pada keluarga kamu. Dan kamu tenang saja, sebentar lagi nenek kamu bisa kembali berjualan di warungnya. Hirlan juga bisa kembali bersekolah disekolahnya yang lama."
"Benarkah?." Tanya Nadin sumringah. Panji mengangguk.
__ADS_1
"Atau kalau kamu mau, aku bisa memasukkan Hirlan ke sekolah yang jauh lebih baik dan lebih bagus dari sekolahnya yang dulu."
"Tidak...tidak, tidak usah. Sekolah Hirlanyang lama juga sangat bagus. itu sudah lebih dari cukup."
"Dan untuk bapak kamu, atau untuk bapak mertuaku, aku tidak akan biarkan dia kembali bekerja di proyek. Aku sudah siapkan sesuatu untuknya."
"Apa?."
"Ada deh pokoknya. Dan untuk kamu, maksudku kita, aku sudah siapkan tiket bulan madu untuk kita berdua."
"Bulan madu?."
"Iya...bulan madu. Kamu tahu kemana?."
"Enggak....katanya kalau kita nikah kita akan bulan madu divila."
"Iya tentu saja, aku akan membawa kamu kesana. Kita akan menikah, dan melakukan malam pertama kita disana." Goda Panji. Membuat Nadin merona.
"Lalu bagaimana dengan pak Bahtiar dan bu Soraya?."
"Aku sudah katakan aku tidak peduli mereka mau merestui kita atau tidak, aku akan tetap menikahi kamu."
"Tapi...."
Apa aku harus katakan tentang ancaman bu Soraya?.
"Ada apa Nad, katakan!!
Nadin akhirnya menceritakan tentang ancaman bu Soraya pada Panji, setelah tadi Panji berjanji tidak akan marah. Tapi nyatanya amarah Panji tidak bisa dia tahan saat membaca pesan ancaman dari bu Soraya. Panji meminta Nadin menscreenshot pesan yang dikirim oleh bu Soraya lalu mengirimkan padanya.
"Kamu jangan takut dan jangan hiraukan nenek sihir itu. Dan aku minta apapun yang terjadi, kamu katakan padaku. Jangan pernah sembunyikan apapun dariku apalagi ancaman seperti ini?."
"Bukankah biasanya koko selalu tahu apa yang terjadi padaku?."
"Tidak semua aku bisa tahu Nad. Karena aku hanya mengawasi kamu dari kejauhan. Aku nggak bisa seratus persen mengawasi kamu. Aku nggak bisa mengawasi kamu saat kamu mandi, atau ganti baju."
"ihh dasar."
"Sekarang katakan kamu mencintaiku."
"Enggak mau."
__ADS_1
"Katakan atau aku cium kayak tadi mau?."
"Kayak apa?."
"Kayak tadi, saat aku kelepasan."
"Tadi koko udah janji gak akan ngulangi hal itu lagi."
"Ya kalau aku ngulang lagi, aku tinggal janji lagi kan?." Sahut Panji, Nadin terkekeh.
Nadin lalu pulang bersama Hirlan, dan Panji menyusul bersama Adam. Panji meyakinkan pak Samsudin dengan susah payah, agar dia mau merestui pernikahannya dengan Nadin. Melihat usaha dan niat Panji pak Samsudin pun luluh. Dia memberikan restunya.
Hanya saja Panji mengatakan kalau dia dan Nadin mungkin tidak akan bertemu sampai waktu pernikahan mereka tiba, agar bu Soraya mengira hubungan Nadin dan Panji sudah benar-benar berakhir. Panji sendiri tidak takut pada bu Soraya, dia hanya ingin melindungi keluarga Nadin. Mereka setuju.
Sebelum pulang, Nadin mengatakan keinginanya untuk bekerja, dengan alasan dia merasa bosan dirumah. Awalnya Panji menolak, tapi akhirnya Panji setuju, dengan syarat dia bekerja hanya sebelum mereka menikah.
Setelah itu Panji tidak akan mengijinkan Nadin bekerja. Lagipula, kalau Nadin bekerja, bu Soraya mungkin akan benar-benar percaya kalau mereka sudah benar-benar tidak berhubungan.
...
Nadin memutuskan untuk mencari pekerjaan lagi, karena ingin membantu keuangan keluarganya. Walau Panji selalu mentransfer sejumlah uang yang cukup besar ke rekeningnya, Nadin tidak berani memakainya satu rupiah pun uang itu.
Dia masih ingat dengan David yang menawarinya pekerjaan untuk bernyanyi di kafenya. Nadin akan mencobanya, semoga saja David mau menerimanya.
Hari itu juga Nadin pergi ke kafe David, ditemani Doni yang baru saja pulang bekerja dari butik yang letaknya bersebrangan dengan kafe David.
Tanpa basa-basi Nadin langsung menanyakan tawaran David waktu itu, sayangnya lowongan untuk menyanyi di kafenya sudah terisi.
Nadin sedikit kecewa, tapi tak apa. Dia bisa mencari pekerjaan di tempat lain.
"Tunggu Nadin."
"Iya ko."
"Kebetulan kami disini sedang membutuhkan seorang pelayan wanita, kalau kamu mau kamu bisa bekerja disini sebagai pelayan." Tawar David.
"Saya mau ko. Tentu saja saya mau." Ucap Nadin kegirangan.
"Oke kalau gitu kamu bisa bekerja mulai besok." Jelas David.
Nadin dan Doni sangat senang karena tempat mereka bekerja berdekatan, jadi mereka bisa bertemu setiap hari. Doni juga punya alasan untuk sering-sering berkunjung ke kafe, untuk melihat pujaan hatinya, ko David.
__ADS_1
Orang suruhan Panji masih setia mengawasi Nadin, hanya saja orang yang mengawasi Nadin itu, selalu berganti-ganti agar tidak ada yang mencurigai mereka.
Bersambung....